FAZER LOGINI was three months pregnant when our enemies ambushed me on a private drive in Manhattan’s East Side. A bullet punched through the window. Glass buried itself in my shoulder. With the last bit of strength I had, I hit the Moretti family’s encrypted distress signal and called my husband, Adrian Moretti, for help. He didn’t come. Later, I found out he had pulled the Moretti family’s best trauma surgeon and security detail away that night to stay with his old flame, Evelyn Langdon. She had just lost her husband. She was carrying his child. She said a nightmare had left her gasping for air. I lost our baby in the emergency room. When I woke up, the first thing I saw was Evelyn’s new post. [Some people don’t need to ask. He’ll still drop everything and come running. Thank you, A. You always know what I need most.] In the photo, Adrian was kneeling by her bed, fastening the ruby necklace around her throat. The same necklace he had promised me for our tenth anniversary. I didn’t cry. I didn’t make a scene. I called Professor Clark. “Professor, I’ll take the classified seat at the Artemis Northern Institute. Start the Black Ice Protocol. Wipe my public identity as soon as possible.”
Ver maisPintu rumah diketuk dengan tidak sabarnya. Aline sudah tahu siapa yang dari tadi mengetuk.
Wanita ini masih bergelut mengurusi kedua anaknya dan satu lagi anak mertua yang sedang menyantap sarapan. Sepertinya suara ketukan keras itu tak membuatnya bergeming. "Ervin! Jangan diambil seperti itu!" Aline segera mengambil tangan mungil anaknya yang berusia 3 tahun itu. Ervin mulai lagi mengacak-ngacak sarapan. Saat tangannya diambil, maka Ervin memprotes. Belum lagi Edwin yang tak sabar untuk berangkat ke sekolah. Mana makanan dalam kotak bekal yang sudah disusun oleh Aline malah tumpah berceceran karena ulah Ervin. Aline menghela nafas. Ia berusaha tetap tenang. Ia tidak boleh menjadi gila hanya karena hal seperti ini. Segera ia memisahkan kedua anaknya dan menyusun kembali isian di kotak bekal Edwin sambil sesekali melayani suaminya di meja makan. Pintu diketuk lagi. Ya, Tuhan! Aline sampai lupa membuka pintu saking repotnya. Sudah bisa ditebak wajah menyeramkan seperti apa yang muncul ketika pintu dibuka nanti. Aline setengah berlari membuka pintu rumah. "Wa'alaikum salam. Masuk, bu." Aline masih terengah. Puri mendesis kesal. Kuku tangannya sampai memerah gara-gara menantunya ini begitu lama membuka pintu. "Lama sekali!" Gerutunya kesal. "Maaf, bu.." Aline jadi tak enak hati. Baru saja ingin menyauti permintaan maaf Aline sudah terdengar lengkingan suara menangis. Aline kembali tergopoh-gopoh masuk ke kamarnya. Ternyata anaknya yang bungsu, Envier menangis karena terkejut tangannya digigit oleh Ervin. "Ini rumah atau kapal pecah!!" Aline bisa mendengar teriakan itu. Tapi mana bisa ia meladeni celotehan mertuanya di luar. Dia harus mengurusi Envier dulu. Tangannya memerah akibat gigitan Ervin. "Sarapan, bu." Tawar Alan dengan wajah datar. Dia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang diwarnai oleh tiga anak laki-laki yang aktif. "Gak nafsu!" Puri mendengkus. Bagaimana mau makan jika meja makan berantakan. Makanan bekas Edwin tadi masih berceceran. Belum lagi yang di atas meja akibat Ervin mengelap bekas makanan sembarangan. Alan bangkit dari duduknya. Mengambil tas dan kunci mobil. "Edwin, Ayo!" Serunya pada si sulung. "Aku berangkat dulu, bu." Alan menghampiri ibunya dan menyaliminya dengan takzim. Ia lalu ke kamar berpamitan dengan istrinya. Setelah Alan dan Edwin pergi. Rumah sedikit tenang. Envier yang masih berusia satu tahun itu didudukan di playmate ruang TV. Ervin juga. Tapi tetap diawasi karena kakak keduanya ini suka kumat jahilnya. "Ibu mau sarapan? Aku ambilkan, ya.." tawar Aline ramah padahal dia sudah kelelahan. Tenaganya terkuras habis di pagi hari. "Nggak usah, lah." Puri mengibaskan tangan. "Ibu kesini cuma mau bilang hari minggu nanti ulang tahun anaknya Sarah." "Oh, ya? Dimana bu?" "Di restoran cepat saji. Anak-anakmu di undang." "Baik, nanti mereka akan datang." Jawab Aline. "Ingat! Cuma anak-anakmu saja yang di undang." Puri kembali menegaskan. Aline mengangguk. "Baik, bu. Aku mengerti." Aline mencoba tersenyum walau hatinya tercabik. Sudah 7 tahun pernikahan. Tapi, Aline merasa dirinya belum diterima sepenuhnya oleh keluarga suaminya. Setiap ada acara keluarga, Aline tak pernah di undang. Yang diundang pasti hanya anak-anak. Entah itu acara pernikahan, ulang tahun, sunatan. Pokoknya Aline tidak diundang. Jikapun diundang, kehadiran Aline tak pernah dianggap. Awalnya Aline merasa rendah diri, tapi kelamaan dia jadi terbiasa. Apalagi Alan suaminya terkesan tak pernah membelanya. "Ooeekk!" Aline menutup mulut. Astaga. Dia mual sekali. Aline berlalu ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ah, ini ulah asam lambungnya yang naik. Pagi ini karena sibuknya mengurus anak dia belum sarapan dan baru meminum kopi sedikit. Pantas saja jika sakit maagnya kumat. "Kamu hamil lagi?" Puri menatap Aline curiga. Aline menyeka bibirnya dengan tissue. "Tidak, bu." "Awas ya kalau kamu hamil lagi! Lihat si Envier aja baru bisa berjalan. Masa mau kebobolan terus? Mau sampai kapan?" Puri mulai berceramah lagi. Dua tahun sekali pasti menantunya ini hamil. Dan yang keluar selalu calon pemain bola. Makanya rumah seperti kapal pecah dibuatnya. "Iya, bu." Aline hanya tertunduk. Dia jadi tak enak hati. "Pikirkan juga masa depan mereka. Kalau kamu hamil lagi, bayangkan pengeluaran mereka di masa depan. Biaya hidup, sekolahnya, kuliahnya itu semua menggunakan uang. Apalagi hanya Alan yang bekerja sendirian." Sambung Puri yang belum selesai berceramah. "Satu lagi.. pakai baju bagus walaupun cuma di rumah. Rambutnya di sisir rapi. Jangan asal cepol. Sumpah, ibu pikir tadi pembantu! Ternyata itu kamu." Ingin menangis saja rasanya Aline. Entah sindiran atau nasehat rasanya tetap saja hati Aline tercabik. Tapi ia tahan perasaannya seraya menggigit bibir. "Baik, bu. Terima kasih sudah mengingatkan." Suara Aline tergetar. "Sudah, ibu pulang dulu." Puri bangkit dari duduknya. Menghampiri kedua cucunya dan mengecup keduanya dengan penuh kasih sayang. "Ervin, jaga adikmu. Jangan kamu jahili terus!" "Siap, eyang!" Ervin tersenyum manis. Selanjutnya giliran Aline yang menyalimi mertuanya dengan takzim. "Hati-hati dijalan, bu." Puri hanya berdeham. Hari minggu tiba, ketiga jagoan Aline sudah siap berangkat ke pesta ulang tahun. Hari ini mereka memakai pakaian yang senada berwarna merah dengan telah memegang satu masing-masing kado. Kurang lebih, Aline mengerti sikap keluarga dari suaminya yang memang menyukai kemewahan dan suka hidup berlebih-lebihan. "Sudah siap?" Tanya Alan kepada tiga jagoannya. "Siap!" Edwin dan Ervin menjawab serempak. "Kamu serius gak ikut?" Alan beralih kepada istrinya. Aline menggeleng sambil tersenyum. "Kalian saja. Aku mau beres-beres rumah." Alan mengangguk. "Jangan merepotkan. Jangan menyusahkan. Edwin, jaga adik-adikmu ya!" Titah Aline kepada para jagoan. Keempatnya berlalu meninggalkan rumah untuk merayakan pesta ulang tahun. Ya, ini kesempatan untuk Aline membereskan rumah yang seperti baru kalah berperang. Sesuai kesepakatan dengan Alan. Mereka memang tidak menyewa asisten rumah tangga. Jadi semua pekerjaan di handle oleh Aline. Setelah berberes, dia bisa menarik pinggangnya sedikit untuk rebahan. Sebelum ketiga jagoannya pulang dan kembali berperang. Sampainya di restoran cepat saji. Edwin dan Ervin langsung bergabung bersama sepupunya yang lain sedangkan Envier diambil alih Puri. Alan bertegur sapa dengan keluarganya yang hadir. "Aline gak datang?" Tegur Sarah yang punya acara. "Aline sibuk di rumah." Jawab Alan seadanya. "Padahal semua keluarga kumpul disini. Kenapa dia gak pernah ikut?" "Aline memang begitu." Jawab Alan lagi yang tidak mau memperpanjang masalah. Padahal Alan tak tahu saja kalau istrinya ini ingin sekali ikut bergabung di acara keluarga suaminya. Tapi apa daya, inilah nasib dari istri yang tak diinginkan..Adrian stared at Caesar’s hand on my shoulder as if he had finally seen everything he had lost.He opened his mouth, but no sound came out.In New York, he had once been the youngest head of the Moretti family, used to being obeyed and used to me waiting for him to look back. Here in the North, on Caesar’s ground, he was nothing.“No,” I said.I stepped forward. Snow landed on the hem of my dress and melted into cold dots.“Adrian, you don’t need to tell me about Evelyn’s death, the Commission’s punishment, or the fall of the Moretti family.”He looked at me urgently. “I just wanted you to know I paid for it.”“That’s what you owed yourself,” I said. “Not what you paid back to me. You hate Evelyn now because she lied to you and cost you your family, your child, and me. But during those three distress calls, she wasn’t the one who rejected them.”Adrian’s lips lost all color.“The first time, I was trapped in a car with bullets and glass around me. You didn’t come. The second time, I wa
Three years later, the Artemis Northern Institute announced a neuro-regeneration breakthrough that shook the world.The project lead was Dr. S. V.No one knew her full name, and no one knew where she came from. She appeared only at the most important academic conferences and the highest-level medical projects, calm and exact, like a scalpel tempered in ice water.That was me.For three years, I gave everything to the lab. The nerve pain left by the gunshot, the damage from the miscarriage, and the shadow of a ten-year marriage were all taken apart piece by piece and turned into papers, patents, and clinical protocols.I was no longer anyone’s wife. I belonged to myself.On the night of the breakthrough announcement, the institute hosted a celebration at a castle hotel in northern Norway. Snowlight reflected against the glass dome as scholars, investors, and members of the northern families lifted glasses in congratulations.I wore an emerald dress and finished the last part of my speec
The Moretti Commission called an emergency meeting at dawn.Every seat around the long table was filled. The elders and district heads who had once feared Adrian now looked at him with disappointment and caution.The Grand Elder projected the evidence I had sent onto the screen.Medical dispatch records. Security withdrawal orders. Transfers between Evelyn and a Blake family middleman. The timestamp of Adrian shutting off my spousal emergency access. Recordings of my three distress calls.Every item was enough to disgrace the Moretti name.“For a Langdon widow, you misused family medical resources, delayed your wife’s treatment, and caused the death of a Moretti heir,” the Grand Elder said in a grave voice. “You also drove a top neurogenetics researcher away from us and into the Northern Institute. Adrian, you no longer have the judgment to lead this family.”Adrian sat at the head of the table with bloodshot eyes.He didn’t defend himself. He only asked, “Where is she?”“You have no r
For ten years, no matter where I was, the Moretti system could find me. It was the protection he had set up himself, and it was the leash I had once given him willingly.When he rushed back to the villa, the living room held only ashes on the floor and papers on the coffee table.Adrian saw the divorce agreement first.Then the miscarriage record.At last, his hand stopped on a black-covered notice of identity cancellation.[Black Ice Protocol active.][Former New York resident: Selena Vale.][Public status: deceased and sealed.]Adrian lost control for the first time when he saw the emergency miscarriage notice.The words were painfully clear. Twelve weeks pregnant. Severe bleeding after a shooting. Fetal heartbeat lost. The time of surgery was the very night he had taken Dr. Harrison to the Langdon estate.He held the coffee table, his knuckles white. That child had existed, and he hadn’t even known.Worse, while I was losing our baby in an operating room, he had been sitting by Evel


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.