Short
He Saved His Old Flame. I Erased Myself

He Saved His Old Flame. I Erased Myself

Por:  HathawayCompleto
Idioma: English
goodnovel4goodnovel
8Capítulos
1visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

I was three months pregnant when our enemies ambushed me on a private drive in Manhattan’s East Side. A bullet punched through the window. Glass buried itself in my shoulder. With the last bit of strength I had, I hit the Moretti family’s encrypted distress signal and called my husband, Adrian Moretti, for help. He didn’t come. Later, I found out he had pulled the Moretti family’s best trauma surgeon and security detail away that night to stay with his old flame, Evelyn Langdon. She had just lost her husband. She was carrying his child. She said a nightmare had left her gasping for air. I lost our baby in the emergency room. When I woke up, the first thing I saw was Evelyn’s new post. [Some people don’t need to ask. He’ll still drop everything and come running. Thank you, A. You always know what I need most.] In the photo, Adrian was kneeling by her bed, fastening the ruby necklace around her throat. The same necklace he had promised me for our tenth anniversary. I didn’t cry. I didn’t make a scene. I called Professor Clark. “Professor, I’ll take the classified seat at the Artemis Northern Institute. Start the Black Ice Protocol. Wipe my public identity as soon as possible.”

Ver mais

Capítulo 1

Chapter 1

Pintu rumah diketuk dengan tidak sabarnya. Aline sudah tahu siapa yang dari tadi mengetuk.

Wanita ini masih bergelut mengurusi kedua anaknya dan satu lagi anak mertua yang sedang menyantap sarapan. Sepertinya suara ketukan keras itu tak membuatnya bergeming.

"Ervin! Jangan diambil seperti itu!"

Aline segera mengambil tangan mungil anaknya yang berusia 3 tahun itu. Ervin mulai lagi mengacak-ngacak sarapan.

Saat tangannya diambil, maka Ervin memprotes. Belum lagi Edwin yang tak sabar untuk berangkat ke sekolah. Mana makanan dalam kotak bekal yang sudah disusun oleh Aline malah tumpah berceceran karena ulah Ervin.

Aline menghela nafas. Ia berusaha tetap tenang. Ia tidak boleh menjadi gila hanya karena hal seperti ini.

Segera ia memisahkan kedua anaknya dan menyusun kembali isian di kotak bekal Edwin sambil sesekali melayani suaminya di meja makan.

Pintu diketuk lagi.

Ya, Tuhan! Aline sampai lupa membuka pintu saking repotnya. Sudah bisa ditebak wajah menyeramkan seperti apa yang muncul ketika pintu dibuka nanti.

Aline setengah berlari membuka pintu rumah.

"Wa'alaikum salam. Masuk, bu." Aline masih terengah.

Puri mendesis kesal. Kuku tangannya sampai memerah gara-gara menantunya ini begitu lama membuka pintu.

"Lama sekali!" Gerutunya kesal.

"Maaf, bu.." Aline jadi tak enak hati.

Baru saja ingin menyauti permintaan maaf Aline sudah terdengar lengkingan suara menangis.

Aline kembali tergopoh-gopoh masuk ke kamarnya. Ternyata anaknya yang bungsu, Envier menangis karena terkejut tangannya digigit oleh Ervin.

"Ini rumah atau kapal pecah!!"

Aline bisa mendengar teriakan itu. Tapi mana bisa ia meladeni celotehan mertuanya di luar. Dia harus mengurusi Envier dulu. Tangannya memerah akibat gigitan Ervin.

"Sarapan, bu." Tawar Alan dengan wajah datar. Dia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang diwarnai oleh tiga anak laki-laki yang aktif.

"Gak nafsu!" Puri mendengkus.

Bagaimana mau makan jika meja makan berantakan. Makanan bekas Edwin tadi masih berceceran. Belum lagi yang di atas meja akibat Ervin mengelap bekas makanan sembarangan.

Alan bangkit dari duduknya. Mengambil tas dan kunci mobil.

"Edwin, Ayo!" Serunya pada si sulung. "Aku berangkat dulu, bu."

Alan menghampiri ibunya dan menyaliminya dengan takzim.

Ia lalu ke kamar berpamitan dengan istrinya.

Setelah Alan dan Edwin pergi. Rumah sedikit tenang.

Envier yang masih berusia satu tahun itu didudukan di playmate ruang TV. Ervin juga. Tapi tetap diawasi karena kakak keduanya ini suka kumat jahilnya.

"Ibu mau sarapan? Aku ambilkan, ya.." tawar Aline ramah padahal dia sudah kelelahan. Tenaganya terkuras habis di pagi hari.

"Nggak usah, lah." Puri mengibaskan tangan.

"Ibu kesini cuma mau bilang hari minggu nanti ulang tahun anaknya Sarah."

"Oh, ya? Dimana bu?"

"Di restoran cepat saji. Anak-anakmu di undang."

"Baik, nanti mereka akan datang." Jawab Aline.

"Ingat! Cuma anak-anakmu saja yang di undang." Puri kembali menegaskan.

Aline mengangguk.

"Baik, bu. Aku mengerti." Aline mencoba tersenyum walau hatinya tercabik.

Sudah 7 tahun pernikahan. Tapi, Aline merasa dirinya belum diterima sepenuhnya oleh keluarga suaminya.

Setiap ada acara keluarga, Aline tak pernah di undang. Yang diundang pasti hanya anak-anak. Entah itu acara pernikahan, ulang tahun, sunatan. Pokoknya Aline tidak diundang.

Jikapun diundang, kehadiran Aline tak pernah dianggap.

Awalnya Aline merasa rendah diri, tapi kelamaan dia jadi terbiasa. Apalagi Alan suaminya terkesan tak pernah membelanya.

"Ooeekk!" Aline menutup mulut.

Astaga. Dia mual sekali.

Aline berlalu ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ah, ini ulah asam lambungnya yang naik. Pagi ini karena sibuknya mengurus anak dia belum sarapan dan baru meminum kopi sedikit. Pantas saja jika sakit maagnya kumat.

"Kamu hamil lagi?" Puri menatap Aline curiga.

Aline menyeka bibirnya dengan tissue.

"Tidak, bu."

"Awas ya kalau kamu hamil lagi! Lihat si Envier aja baru bisa berjalan. Masa mau kebobolan terus? Mau sampai kapan?" Puri mulai berceramah lagi.

Dua tahun sekali pasti menantunya ini hamil. Dan yang keluar selalu calon pemain bola. Makanya rumah seperti kapal pecah dibuatnya.

"Iya, bu." Aline hanya tertunduk. Dia jadi tak enak hati.

"Pikirkan juga masa depan mereka. Kalau kamu hamil lagi, bayangkan pengeluaran mereka di masa depan. Biaya hidup, sekolahnya, kuliahnya itu semua menggunakan uang. Apalagi hanya Alan yang bekerja sendirian." Sambung Puri yang belum selesai berceramah.

"Satu lagi.. pakai baju bagus walaupun cuma di rumah. Rambutnya di sisir rapi. Jangan asal cepol. Sumpah, ibu pikir tadi pembantu! Ternyata itu kamu."

Ingin menangis saja rasanya Aline. Entah sindiran atau nasehat rasanya tetap saja hati Aline tercabik. Tapi ia tahan perasaannya seraya menggigit bibir.

"Baik, bu. Terima kasih sudah mengingatkan." Suara Aline tergetar.

"Sudah, ibu pulang dulu."

Puri bangkit dari duduknya. Menghampiri kedua cucunya dan mengecup keduanya dengan penuh kasih sayang.

"Ervin, jaga adikmu. Jangan kamu jahili terus!"

"Siap, eyang!" Ervin tersenyum manis.

Selanjutnya giliran Aline yang menyalimi mertuanya dengan takzim.

"Hati-hati dijalan, bu."

Puri hanya berdeham.

Hari minggu tiba, ketiga jagoan Aline sudah siap berangkat ke pesta ulang tahun. Hari ini mereka memakai pakaian yang senada berwarna merah dengan telah memegang satu masing-masing kado.

Kurang lebih, Aline mengerti sikap keluarga dari suaminya yang memang menyukai kemewahan dan suka hidup berlebih-lebihan.

"Sudah siap?" Tanya Alan kepada tiga jagoannya.

"Siap!" Edwin dan Ervin menjawab serempak.

"Kamu serius gak ikut?" Alan beralih kepada istrinya.

Aline menggeleng sambil tersenyum.

"Kalian saja. Aku mau beres-beres rumah."

Alan mengangguk.

"Jangan merepotkan. Jangan menyusahkan. Edwin, jaga adik-adikmu ya!" Titah Aline kepada para jagoan.

Keempatnya berlalu meninggalkan rumah untuk merayakan pesta ulang tahun.

Ya, ini kesempatan untuk Aline membereskan rumah yang seperti baru kalah berperang. Sesuai kesepakatan dengan Alan. Mereka memang tidak menyewa asisten rumah tangga. Jadi semua pekerjaan di handle oleh Aline.

Setelah berberes, dia bisa menarik pinggangnya sedikit untuk rebahan. Sebelum ketiga jagoannya pulang dan kembali berperang.

Sampainya di restoran cepat saji. Edwin dan Ervin langsung bergabung bersama sepupunya yang lain sedangkan Envier diambil alih Puri.

Alan bertegur sapa dengan keluarganya yang hadir.

"Aline gak datang?" Tegur Sarah yang punya acara.

"Aline sibuk di rumah." Jawab Alan seadanya.

"Padahal semua keluarga kumpul disini. Kenapa dia gak pernah ikut?"

"Aline memang begitu." Jawab Alan lagi yang tidak mau memperpanjang masalah.

Padahal Alan tak tahu saja kalau istrinya ini ingin sekali ikut bergabung di acara keluarga suaminya.

Tapi apa daya, inilah nasib dari istri yang tak diinginkan..

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Sem comentários
8 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status