Short
He Thought I Couldn't Understand That Call

He Thought I Couldn't Understand That Call

By:  AprilCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
8Chapters
4.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

On our sixth wedding anniversary, my cheeks burn as I dodge my husband, Ethan Grant, leaning in for a hungry kiss. I push him toward the nightstand for a rubber. What he doesn't know is that I've tucked a surprise in there, a positive pregnancy test. I can already see it, the way his whole face will light up the second he finds it. But the moment his hand goes for the drawer, his phone goes off. His best friend, Henry Miller, comes on the line in Danish. "Mr. Grant, how was last night? That new love couch our company rolled out is treating you okay?" Ethan lets out a low laugh and answers in Danish, "The massage feature's great. Saves me from having to rub Sandy's back myself." He still has me pulled tight against him, but his eyes look straight through me, like he's seeing someone else. "This stays between us. If my wife ever finds out I slept with her sister, I'm done." It feels like someone just put a knife through my chest. What they don't know is that I minored in Danish in college, so I catch every single word. I force myself to stay calm, but the arms I have looped around Ethan's neck won't stop shaking. At that moment, I stop hesitating and decide I'll take the offer from that international research project. Three days from now, I'll be gone from Ethan's world for good.

View More

Chapter 1

Chapter 1

🏵️🏵️🏵️

“Jangan sentuh aku! Pergi dari hadapanku!”

“Tolong kontrol dirimu, Sayang. Dia orang baik yang akan membantumu.”

“Dara nggak mau, Bunda. Dara takut. Selamatkan Dara dari tangan kotornya. Kalau Bunda nggak mau bantu, Dara akan kembali melakukan hal yang sama, menyayat pergelangan tangan Dara. Bunda tahu sendiri, kan, kalau Dara selalu memegang silet ini untuk melindungi diri dari mereka yang ingin menyakiti Dara.”

“Bunda mohon, Sayang, jangan lakukan itu lagi. Bunda nggak kuat melihat kamu tersiksa seperti ini.”

“Usir dia, Bunda. Dara nggak mau lihat wajahnya. Dia sama saja dengan laki-laki jahat yang telah menyiksa dan menghancurkan masa depan Dara.”

“Bukan, Sayang. Dia tidak sama dengan laki-laki yang menyakitimu, dia orang baik. Dia seorang dokter.”

“Dara benci laki-laki! Dara tidak mau melihatnya ada di sini!”

“Dia Dokter Revan, Sayang.”

“Dara nggak peduli! Usir dia, Bunda!”

Ayah dan Bunda membawaku ke ruangan yang serba putih ini. Mereka mengaku supaya aku mendapatkan pelayanan terbaik atas apa yang telah menimpa hidupku.

Masih sangat jelas dalam ingatanku kejadian dua minggu yang lalu. Saat itu, laki-laki yang telah kupercaya, dengan tega menghancurkan impian dan masa depanku. Dia telah merenggut sesuatu yang amat berharga dalam hidupku. Dia Bimo, kekasihku.

🏵️🏵️🏵️

Tiga bulan lamanya, aku dan Bimo menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Dia mengutarakan perasaannya kepadaku saat kami berada di taman kampus.

“Setelah mengenalmu dalam beberapa bulan ini, aku memiliki perasaan lebih untukmu. Dara, maukah kamu menjadi orang yang sangat penting dalam hidupku?” Aku sangat terharu mendengar pengakuannya kala itu.

Aku menyadari perhatian dan rasa peduli yang dia tunjukkan dalam beberapa bulan sejak kami kenal. Dia sangat lembut memperlakukanku. Dia juga selalu ada untukku. 

Oleh karena aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya, akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun menerima cintanya.

“Iya, Bim ... aku mau,” jawabku malu-malu.

Tingkah Bimo seperti anak kecil saat aku menerima perasaannya. Dia mengangkat tubuhku sambil berputar-putar.

“Bimo, turunin aku! Gimana kalau yang lain lihat?” pintaku kepadai. Akhirnya, dia menurunkanku.

“Maaf, Ra.”

“Iya.”

“Makasih karena kamu membalas perasaanku. Ternyata kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Mulai sekarang, kamu kekasihku.” Dia mendekatkan wajahnya dan tampak ingin menciumku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menolaknya. “Maaf, Bim. Jangan!” Aku mendorongnya pelan.

“Kita udah pacaran. Bukannya wajar kalau aku menciummu?” Aku tidak menyangka kalau dia mengeluarkan kata-kata itu.

“Tapi aku nggak suka dan nggak mau, Bimo. Pacaran itu tidak harus melakukan sentuhan fisik.” Aku memberikan penjelasan dan pengertian kepadanya.

“Okeh, kalau itu yang terbaik, aku nggak akan menyentuhmu.” Akhirnya, dia pun mengerti.

🏵️🏵️🏵️

Semenjak aku dan Bimo menjalin hubungan, sudah beberapa kali dia mencoba menyentuhku. Namun pada akhirnya, dia meminta maaf lagi dan lagi.

Aku bingung dengan sikapnya. Dia selalu mengaku sangat mencintaiku. Namun, kenapa tingkahnya tidak menunjukkan rasa cinta itu?

Hampir setiap bertemu dan berbicara berdua, dia sering ingin mencoba menyentuhku, tetapi aku selalu berhasil menolak dan menghindar.

Sebulan setelah kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, Bimo kembali melakukan kesalahan. Saat malam Minggu kala itu, dia membawaku ke tempat yang sangat romantis menurutku, suasananya sangat hening dengan diiringi alunan lagu syahdu.

Di tempat itu, Bimo memegang pipiku lalu tangannya turun memegang kedua lenganku. Dia berusaha kembali menciumku, tetapi aku mendorong tubuhnya.

“Jangan, Bim!”

“Apa salahnya, sih, Ra? Kita udah pacaran sebulan, sedikit pun kamu belum pernah memberikan sesuatu yang berkesan padaku.”

“Aku udah bilang sebelumnya, cinta itu tidak harus dibuktikan dengan sentuhan fisik.”

“Hanya sebatas ciuman aja, kamu nggak bisa memberikan itu padaku sebagai pacar, juga laki-laki yang kamu cintai?”

“Aku tetap nggak bisa, Bim!”

“Ya, udah, terserah kamu aja.” Bimo tampak sangat kecewa malam itu. Akhirnya, dia mengajakku pulang.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dan tidak mampu untuk berpaling karena aku sudah telanjur mencintainya. Harapanku kala itu hanya satu, semoga dia mengerti dengan jalan pikiranku.

🏵️🏵️🏵️

Pada bulan ketiga hubungan kami, Bimo kembali mengajakku ke suatu tempat. Ternyata dia membawaku ke vila milik keluarganya.

Dia menjelaskan bahwa dirinya ingin memberikan kejutan kepadaku. Aku dengan polosnya langsung memenuhi permintaannya.

Setelah tiba di vila, hatiku mulai gundah dan bercampur takut. Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan Bimo membawaku ke tempat itu. Aku berusaha bersikap biasa dan tidak ingin menunjukkan kegundahan yang ada.

“Masuk, yuk.” Dia mengajakku memasuki salah satu kamar di vila itu.

“Kenapa harus masuk kamar, Bim?” tanyaku heran.

“Ngobrol di dalam lebih enak.” Dia memberikan alasan.

“Tapi kita nggak harus ngobrol di kamar yang sama, Bim. Di luar lebih enak sambil menikmati pemandangan.”

“Nggak apa-apa, dong. Kamu, kan, pacarku. Udah, masuk aja.” Dia meraih tanganku dan membawaku memasuki kamar. Aku sangat terkejut karena dia menutup pintu lalu menguncinya.

“Kenapa pintunya dikunci, Bim?" tanyaku dengan perasaan tidak menentu.

“Ini saat yang kutunggu-tunggu, Dara.”

“Apa maksud kamu, Bim? Jangan mendekat!” Dia makin melangkah ke arahku.

“Tiga bulan kita pacaran, tapi belum pernah sekali pun aku mendapatkan ciuman darimu. Kamu memintaku untuk tetap diam. Terus terang aku nggak sanggup, Ra. Saat ini aku akan memberikan kenikmatan itu padamu. Kita akan terbang jauh bersama mencapai indahnya surga dunia.” Dia menarik tanganku.

“Jangan, Bim, aku mohon! Jangan lakukan ini. Aku mencintaimu.”

“Cinta tidak cukup hanya di mulut, harus ada bukti. Hari ini kita akan membuktikan cinta itu, yang kita lakukan hari ini adalah sebuah pembuktian cinta.”

“Jangan, Bim!” Dia memaksa merebahkan tubuhku ke tempat tidur.

Dia mulai melepaskan apa yang melekat pada tubuhku. Aku tetap berusaha meronta, tetapi apalah arti tenagaku dibanding tenaganya yang jauh lebih besar.

Dia telah berhasil merenggut sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku, sesuatu yang sepantasnya aku berikan kepada suami tercinta kelak. Noktah merah segar itu membuat hatiku makin hancur hingga aku merasa tidak berguna lagi.

“Mulai sekarang, lupakan aku! Anggap kita tidak pernah saling kenal. Terima kasih atas sesuatu yang kamu berikan padaku.” Aku tidak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“Kamu jahat, Bimo! Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?” Aku menangis sejadi-jadinya.

Dia hanya terdiam dan tidak menggubrisku sama sekali. Dia dengan kejam dan tega memilih pergi meninggalkanku di tempat itu.

Sekarang, hidupku telah hancur dan tidak berarti karena tidak memiliki masa depan lagi. Dia yang kucintai dengan tega merenggut segalanya. Aku merasa sudah tidak pantas lagi untuk hidup. Mungkin lebih baik aku pergi meninggalkan semuanya.

==========

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status