LOGINInstead of my family’s private jet to the warrior camp, I chose a packed train—all for my mate, Alpha Kael. He claimed he wanted a romantic journey and a taste of a normal life. Just for one day. But when the train stopped, I severed our mate bond. He gasped, clutching his chest, his eyes wide with disbelief. “Elena… you’re doing this just because I gave Seraphina our private cabin?” “Yes.” He gave a bitter laugh, looking at me like I was a spoiled princess. “Baby, don’t be ridiculous. You know it's dangerous for an Omega to be alone. Especially when she's surrounded by so many predatory males.” “Name your price. My kills at camp? I’ll tell everyone I’m yours. Or… should I just mark you again?” Before I could answer, the Omega he was “protecting” whimpered his name. "I feel their eyes on me," Seraphina whimpered. "I'm scared." Instantly, he wrapped his arms around her, a human shield. He stalked possessively off the train with her in his arms. He never even gave me a second glance. Kael had no idea who he was protecting. The Omega he pitied was no victim. Seraphina belonged to a trafficking ring that preyed on lone she-wolves. It wasn’t until he found me kidnapped and broken that he collapsed, begging for a forgiveness that was long gone. But I had already sent a mind-link to the only man who could destroy him. My father. The Lycan Chairman. The one man with the power to make or break any Alpha. “Cut off Kael's resources. All of them. Now.”
View More"ZAYN! Lepasiiiin—nanti gue basah!" jerit gadis itu diwarnai gelak tawa ketika tubuh rampingnya digendong menuju ombak yang bergulung ke tepi pantai.
Namun, pacarnya yang bernama Zayn itu justru tak memedulikan protes Intan dan terus memanggulnya di bahu kokohnya lalu menceburkan gadis cantik berambut sepunggung tadi ke dalam air laut berombak sedang.
"Gue emang pengin basah-basahan kok, nggak usah protes deh! Hahaha," balas Zayn yang berbasah-basahan terkena deburan ombak. Sebelum bibir mungil merah muda itu kembali merepet, Zayn melahapnya dan mengisapnya kuat-kuat tanpa menghiraukan deburan ombak yang kembali menerpa mereka berdua.
Berada dalam rengkuhan badan kekar pemuda itu membuat Intan pun seolah lunglai tak berdaya menghadapi segala pesona seorang Zayn. Kekasihnya dulu saat SMA adalah bintang sekolah, super duper ganteng, dan tajir melintir. Sebuah paket komplit sebagai pacar bagi gadis remaja yang 'bukan siapa-siapa' sepertinya.
"Tan ... gue cinta banget sama lo!" ucap Zayn sembari menatap sepasang mata jernih Intan dengan tatapan memabukkan darinya.
"Gue juga, Zayn. Bagi gue ... elo tuh segalanya, gue cinta mati sama lo, Zayn Alarik Pradipta," jawab Intan senada sejiwa dengan pujaan hatinya.
Dengan lengan kokohnya Zayn meraup tubuh ramping Intan lalu menggendongnya menuju ke villa tepi pantai milik keluarga Pradipta. Keluarganya memiliki banyak properti menarik yang bebas Zayn gunakan kapan pun dan villa ini adalah favorit putera bungsu konglomerat itu. Sarang bercinta baginya bersama kekasihnya yang telah dia pacari selama tiga tahun belakangan.
Pakaian mereka berdua basah kuyup oleh air laut di tepi pantai tadi dan segera terlucuti dari tubuh mereka.
"Intan ... lo tuh cantik banget!" puji Zayn dengan tatapan memuja yang membuat pipi gadis remaja itu merona. Bulu mata lentiknya bergetar perlahan kala Intan menghindari Zayn yang seolah ingin melahapnya bulat-bulat.
Tanpa menunggu balasan dari Intan, pemuda itu menarik tangannya menuju ke ranjang berseprai putih di kamar tidur villa tepi pantai. Sekali sentak dan tubuh mereka berdua melesak di atas pembaringan yang empuk tersebut.
Belaian lembut tangan Zayn di tubuhnya disertai ciuman dalam seolah membius kesadaran Intan, ia selalu pasrah menyerahkan segala yang ia miliki untuk kekasih hatinya. Mereka bergumul berbagi rasa di atas peraduan. Keperkasaan Zayn membawa Intan melayang-layang hingga dirinya serasa tak menapak ke permukaan bumi.
Gairah yang bergelora khas remaja berpadu dengan indah sore itu di antara suara deburan ombak dan sejuknya angin pantai yang masuk dari jendela kamar yang terbuka di lantai 2.
Intan terjaga di dalam dekapan hangat kekasihnya yang sedang terlelap setelah pergumulan panas mereka barusan. Sebetulnya ada rasa insecure dalam hatinya mengingat status mereka berdua yang bagaikan langit dan bumi. Ada ketakutan besar memikirkan tanggapan keluarga Zayn bila mengetahui bahwa dia hanya gadis yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan.
Ketika senja yang nampak dari celah jendela kamar telah mulai berganti petang, Intan membalik tubuhnya lalu mengecupi wajah rupawan kekasihnya. "Zayn ... Zayn, ayo bangun! Hari sudah makin gelap, anterin gue pulang dong," ujar Intan sembari menepuk-nepuk lengan berotot pemuda di hadapannya.
"Hoaampph! Gue masih capek ngegenjot tadi, Tan. Bentar lagi ya? Apa lo mau nambah seronde lagi yang lebih asreekkk?" seloroh Zayn seenak jidatnya sambil mendekap erat tubuh polos Intan.
"NO! Gue kuatir ntar Bunda Kartini curiga kalo terlalu larut malam pulangnya. Masa sih kuliah dari pagi sampe malem banget—" Intan berusaha bangkit dari ranjang.
Namun, lengan kekar Zayn melingkari perutnya dan menarik Intan hingga jatuh terlentang dengan ekspresi kaget. "Zaaayynn ...," rengek Intan manja meminta dilepaskan.
Sekali lagi pemuda itu membuat Intan menyerah untuk mengikuti keinginannya. "Makasih ya, Tan. Lo mau ngertiin gue yang kadang suka maksa," bisik Zayn di samping telinga Intan. Kemudian dia pun menggendong tubuh ramping itu ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersamanya.
Perjalanan dari villa pinggir pantai itu ke Panti Asuhan Kasih Ibu Kartini sekitar hampir 2 jam. Zayn membungkuskan makan malam untuk dibawa pulang oleh Intan karena mereka jelas tak sempat makan sebelum pulang.
Waktu telah menunjukkan pukul 20.30 WIB, mobil sedan Mercedes Benz silver itu berhenti di depan taman dekat panti asuhan tempat tinggal Intan sejak bayi. Zayn menarik hand rem mobilnya lalu berpamitan dengan pacarnya, "Selamat malam, Intan Sayang. Kiss dulu sebelum turun!"
Sebuah ciuman manis mendarat di bibir Zayn lalu gadis itu membuka pintu mobil di sisinya. "Mimpiin gue, Gantengku. Bye!" ucapnya lirih seraya melambaikan tangan kanannya ke arah Zayn sebelum menutup kembali pintu mobil mewah tersebut.
Setelah melihat Intan masuk ke dalam rumah model kuno beratap genting cokelat yang berlumut di sana sini itu, Zayn melajukan cepat mobilnya di jalan raya menuju ke rumahnya di tengah kota Jakarta.
Ketika Intan menutup pintu masuk depan, sebuah suara lembut menegurnya, "Nak, kamu kok baru pulang jam segini?"
Intan meringis jengah sebelum membalik tubuhnya lalu menjawab wanita yang telah merawatnya sejak ia bayi, "Bunda, maaf tadi ada tugas kuliah yang mesti dikumpul besok pagi. Intan lembur ngerjain di rumah temen sampai malam jadinya deh." Sebuah kebohongan yang dikarang oleh Intan yang mendapat kepercayaan murni dari Bunda Kartini Sukotjo.
"Ohh, ya sudah. Kamu mandi terus istirahat, Intan. Pasti capek banget ya. Apa tadi sempat makan malam atau belum?" balas Bunda Kartini dengan keibuan.
"Sudah beli di jalan tadi, Bunda. Ini—" Intan menunjukkan bungkusan kresek putih di tangannya.
"Hmm ... makan dulu kalau begitu biar kamu nggak kena maag, Intan. Oya, pintu depan apa sudah kamu kunci?" ujar Bunda Kartini.
Gadis itu mengangguk-angguk cepat. "Sudah Intan kunci dua kali tadi, Bunda," jawabnya lalu ia pun mendapat kecupan selamat malam di kening.
Akhirnya ia pun lolos dari teguran ibu angkatnya itu dan masuk ke dalam kamar tidurnya yang sempit. Di panti asuhan itu Intan termasuk yang paling senior karena memang dia yang paling disayangi oleh Bunda Kartini dan tidak dilepas adopsi ke keluarga yang biasa mencari anak angkat. Selain Intan ada sekitar 20 anak putera puteri berbagai usia yang diasuh oleh Bunda Kartini bersama tiga rekannya di panti asuhan tersebut.
Usai makan malam singkat dengan nasi goreng yang dibelikan Zayn tadi, Intan menggosok gigi lalu berkaca di hadapan cermin riasnya. Ada bekas kepemilikan warna merah di bagian dada kanan atas yang nampak jelas. Dia sontak tersipu malu teringat kenangan tadi sore bersama Zayn.
Namun, secepat itu pula senyumannya memudar tergantikan kekuatiran. Hingga kapan? Selalu hal itu yang membuatnya dikejar ketakutan. Ketika yang tak sempurna dihadapkan dengan kesempurnaan tiada tara, adakah masa depan bagi hubungan mereka berdua?
The trafficker's drug hadn't worn off. I quickly fell back into a deep sleep.When I woke again, the first thing I saw was my father, his eyes red and rimmed with exhaustion. He had taken the fastest fighter jet."Father!" The tears came instantly.My pack's Alpha already knew everything. His voice was thick with emotion. "I'm here, Father's here. Don't be scared, Elena. You're safe now.""Don't tell Mother," I choked out. "She's inspecting the northern territories."Just then, Kael showed up, his face a mess of bruises. He saw my father, then rushed forward and fell to his knees."Alpha Adrian," he choked out. "I'm sorry. It's all my fault. I'm the one who hurt Elena.""I... I just saw Seraphina and thought of the old days. I just wanted to help her. The only one I've ever loved is Elena. Please, just this once. Help me talk to her. Tell her not to throw us away. I'm begging you, sir!""Get. Out." My father's voice was a physical force, an Alpha command that slammed into Kael, send
Elena's POVI woke up in a state-of-the-art private hospital. My head spun.Before I could process it, a violent clash erupted outside my door."You have the gall to show your face here, Kael?" Ronan's voice was a low snarl, his Alpha scent flooding the hallway. "How did you let her out of your sight? How did you let those filth get their hands on her?""This has nothing to do with you. I will apologize to Elena myself," Kael shot back. "Get out of my way!""Get out of my way?" Ronan’s voice was a low snarl. "I will tear you limb from bloody limb before you taint the air she breathes. You think you have the right to speak her name? Dream on, you worthless piece of filth." The power crackling between them shook the very walls.The door flew open. Kael, knocked to the floor, saw me."Elena!" he scrambled toward me."I'm sorry, Elena!" He reached for my hand.I snatched my hand back as if burned. His touch was poison. Without a word, I focused my will. A cold, sharp thing. The cup i
Kael’s POVNot knowing what else to do, Kael spotted the station's security cameras. A spark of desperate hope ignited. He sprinted toward security.A call request came through from Seraphina. He ignored it. She called again. And again."Just wait there!" he finally answered, his voice laced with the Alpha command, and immediately hung up. His heart pounded. What if Elena called and the line was busy?When they heard an Alpha heir might be missing, security immediately pulled up the surveillance footage. Kael gave them the train number. Soon, Elena's figure appeared on the screen.He saw the elderly man help Elena with her suitcases. Kael froze. The gap between the train and the platform was wide. Those two heavy suitcases... Elena couldn't have gotten them down on her own. He swore he would apologize properly as soon as he saw her.But then the camera lingered on the man. On the way his eyes slithered over Elena's body.Not with kindness, but with the cold, calculating ap
Kael’s POVKael stood outside the station, a "frail" Seraphina clinging to his arm. She played the part of the damsel to perfection. His communicator vibrated. He glanced down. The name flashing on the screen shattered his casual air: Alpha Adrian. Ice shot through his veins. He went rigid.Seraphina saw it too. A flicker of something unreadable crossed her eyes before she held her breath, listening."Father? I wasn't expecting your call. Is everything—""Where is Elena?" His father’s voice was a blade, slicing through the connection. "Did you two fight?" The authority in his tone was absolute, a command, not a question.Kael forced a laugh. The sound was thin. Brittle. "Father, Elena's been telling you her fairy tales again, hasn't she? She's being childish. I was just helping a delicate Omega.""Just helping? Then explain why she hinted I should break up with you. I've been trying to reach her on the mind link. She's blocked me." His father’s voice was laced with ice.A bone-de












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews