Mag-log in*My mate turns out to be the mafia king?!* “Stop flirting with my staff.” My head snaps toward the guy I’ve run into twice today. I thought he was just an average school playboy. “Your staff?” I ask stupidly. He smiles widely. “That’s right, sweetheart. This is my club.” * “W-what are you doing?” I whisper, but the look in his eyes says it all. “Do you feel that?” He asks. It takes a second, but then I feel tiny sparks racing along my skin as his hand slips under my jacket and over my skin. I gasp, and then his lips are on mine. *** A few years ago, a series of scientific research buildings were attacked. The chemicals from those research facilities had seeped into our water supply and slowly manipulated our DNA. Last year was the first report of someone showing a hint of supernatural abilities. Then another and another until suddenly, there were people with abilities popping up all over the place. People with abilities were either feared or envied. I have tried hiding my ability for as long as I can. My ability would have me locked up and used until there was nothing left of me. The ability to heal is a gift everyone would want to take advantage of, so I never use it…ever. Until... I meet him. Julian. My schoolmate. The boss of The Hell Club. The Mafia King. My...mate. What we didn't know at the time was that these so-called DNA alterations were all werewolf genes growing inside the human body. And he, Julian... is my mate.
view more"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.MilaSomething is wrong with Julian when we leave the store with my laptop and new phone. I keep glancing his way, but all I see is his furrowed brows and him clenching his jaw. What happened in such a short time to change him so quickly? I thought for a second we might even become friends, but now I’m not so sure. Being around him feels too…erratic. One second he’s almost sweet and then he’s anything but. It’s confusing and frustrating. So much so that I stop walking and grab his arm. He looks at me, surprised at first, but turns to me when I face him.“What’s the matter with you?” I snap.I’m not sure why I feel so worked up over his change in mood, but I do!“What’re you talking about?” He asks, clenching his jaw once again.“I’m talking about this.” I wave a hand over his entire person. “You were happy to throw money around for me and then, as soon as we leave the store, you look pissed off. So what is going on? Do you regret what you paid for in there? I’m more than happy to retu
Julian’s POVMila has shocked me by complying with me, escorting her into the building that made her eyes grow twice their size. She looked at the mall we’re walking into as if she has never seen a place like it before, except I’ve been doing some research on her family.For one, her stepmother’s body has still not been recovered, which means we have to consider that she is still alive and possibly in hiding. If that’s the case, then there must be a trail leading to where she would run to hide out until she can plan her next move. Something tells me we haven’t seen the last of her, if she’s still alive, anyway.My research has helped me learn a few things about Mila as well, and one of those things is that her father was a well off man. He wasn’t the most successful businessman, but he was comfortable. Comfortable in the fact that his net worth was two million dollars. Nothing close to myself or my father, but not too bad. What I don’t understand is where all that money went. It’s cle
Mila’s POVJulian is quiet as he drives us toward the mall. Not the one in town where Isabella and I usually go, but the one in the town over that’s known for having a ton of very high end retailers. Even though Isabella could easily shop there, I think she doesn’t because she doesn’t want me to feel even more guilty if she offered to buy me something worth so much. Also, all of my objects have been ignored, which is why it’s so uncomfortably quiet in this car. Julian shot down all my protests before they were out of my mouth. I glared at him, but he ignored me and acted like I wasn’t burning a hole in the side of his head.Man do I wish for that power right now!Anyway, I gave up and now I’m thinking of ways I can avoid him spending a single penny on me. I mean, why did he give me the limitless black credit card if he was going to go shopping with me and pay for a whole bunch of stuff? What more will I need to buy with that card?My phone vibrates in my bag, so I pull it out and see
Julian’s POVIsabella leads me down the path from the library and heads down the path that leads to the athletics department.“You know how much about him? Football player?” I ask her. It’s almost all I know.She smirks. “Baseball actually. He’s tried his hand at all of the usual sports but got into college on a baseball scholarship.”Not much better if you ask me.“So what’s your plan to deal with him, anyway?” She asks.“I’m going to warn him to stay away from Mila.” I say simply.“I got that, but how? Are you going to threaten him with bodily harm or actually harm him to send a message?” She sounds a little too excited by the second option.“Depends on how well he listens. I don’t like to get my hands dirty so early in the day..” Lie. “But if I have to, then I will.”She nods in approval.We walk the rest of the way in silence. The closer we get to the fields set up near the athletic building, I can hear the sound of balls hitting bats and the defining sound of whistles. I never sa
Mila’s POVI can’t tell if having Steven walk me to my classes today is a good or bad thing. For one thing, no one has yelled horrible things at me. In fact, no one has looked my way other than to stare at Steven. It’s…nice. We make our way toward the coffee shop. I’ll be working out for the next cou
Julian’s POVI look down at my phone and feel my blood heat at what Steven just told me. Some girl laid a hand on Mila and threatened him with police action. That last part makes me snort out a laugh. We have people in the police and DA's office who could have any charges thrown out before the ink dr
Mila’s POV“I’m sorry you had to deal with all that because of me.” I tell Roman through his window when we arrive at the university.He gives me a forced smile. He’s clearly seriously pissed still.“Don’t worry about it. It’s nothing I can’t deal with. Have a good day! I’ll call you.” He waves to me a
Mila’s POVI jog down the stairs from my new room and head for the front door of Isabella’s house. She wanted to walk me down, but no way am I going to let her act like a disapproving mom and question the heck out of Roman. So I promised her I would text her if at any time I felt in danger. That didn






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.