Her Mate Turns out to be the Mafia King

Her Mate Turns out to be the Mafia King

last updateHuling Na-update : 2023-10-13
By:  JellybeanOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
37Mga Kabanata
2.9Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

*My mate turns out to be the mafia king?!* “Stop flirting with my staff.” My head snaps toward the guy I’ve run into twice today. I thought he was just an average school playboy. “Your staff?” I ask stupidly. He smiles widely. “That’s right, sweetheart. This is my club.” * “W-what are you doing?” I whisper, but the look in his eyes says it all. “Do you feel that?” He asks. It takes a second, but then I feel tiny sparks racing along my skin as his hand slips under my jacket and over my skin. I gasp, and then his lips are on mine. *** A few years ago, a series of scientific research buildings were attacked. The chemicals from those research facilities had seeped into our water supply and slowly manipulated our DNA. Last year was the first report of someone showing a hint of supernatural abilities. Then another and another until suddenly, there were people with abilities popping up all over the place. People with abilities were either feared or envied. I have tried hiding my ability for as long as I can. My ability would have me locked up and used until there was nothing left of me. The ability to heal is a gift everyone would want to take advantage of, so I never use it…ever. Until... I meet him. Julian. My schoolmate. The boss of The Hell Club. The Mafia King. My...mate. What we didn't know at the time was that these so-called DNA alterations were all werewolf genes growing inside the human body. And he, Julian... is my mate.

view more

Kabanata 1

The Curse of My Ex-boyfriend

"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.

"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam.

"Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang.

Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan.

"Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali.

Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi.

Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang.

Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan.

Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka.

"Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata.

"Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin."

Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu.

Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal.

Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali.

"Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur."

"Hem," sahut Andi datar.

Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi.

Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening.

"Kamu kenapa, Feb?"

"Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas.

Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan.

Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut.

Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi.

"Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih.

"Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu.

Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan.

"Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya.

"Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan."

"Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi."

"Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi."

"Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu."

Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat.

Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott.

"Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil.

Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami.

"Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil."

Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu."

Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri."

"Iya Bu, makasih."

Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu.

"Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby.

"Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak."

"Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget.

Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja.

"Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal.

"Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby.

Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah.

"Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar.

Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak."

Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?"

"Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian."

"Ngga ada, aku cuma mau kopi."

"Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal.

Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu.

Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu.

Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci.

"Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu.

Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar.

"Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak."

Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana."

Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci.

"Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu.

"Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Walang Komento
37 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status