LOGINBefore my engagement party began, Bianca ordered the DeLuca crest removed from the ballroom. “A fake engagement has no right to carry the family emblem.” Before I could understand what she meant, Luca’s underboss, Marco, raised his glass and revealed the truth. A month ago, they had placed a bet on whether I would believe Luca truly intended to marry me. Bianca said I would, and that I would plan the entire celebration myself. She was right. I chose the venue, approved the menu, sealed every invitation by hand, and gave the best seats in the room to the people who had come to laugh at me. Luca, the Don of the DeLuca family, stopped their laughter and followed me into the private lounge. “They took it too far, but it was only a joke,” he said. “When we truly become engaged, I’ll give you something far grander than this. Don’t let their stupidity make you question whether I love you.” He did love me. He was also certain that no matter how often the people around him humiliated me, I would never leave. This time, I stepped out of his arms and messaged the professor whose offer I had rejected three months earlier. Is it too late to join the research project in Zurich? Dr. Keller answered within seconds. Welcome aboard. The team flies out of New York at eleven tonight.
View More“Muhanov. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Aku akan melindungimu”
Itulah sumpah yang selalu diucapkan oleh Andreana Merlinstone kepada suaminya, Muhanov Merlinstone ketika Templar mulai memburunya untuk dibunuh. Andreana terus melindungi Muhanov dari seluruh gempuran Templar yang datang kepadanya.
Percikan dan kilatan cahaya saling menyambar saat pertempuran Andreana melawan seluruh Templar yang mengejarnya. Senjata Suci Apel Eden dibuat mengamuk oleh Andreana dengan melancarkan serangan dahsyat yang membuat tubuh anggota Templar tercerai berai.
Puncaknya, Andreana bertarung sendirian melawan para Grand Master yang dulu pernah disebutnya sebagai saudara seiman. Para Grand Master terus menggempur Andreana habis-habisan. Seluruh senjata suci yang mereka miliki diarahkan kepada Andreana sebagai pembersihan dosanya. Serangan-serangan dahsyat mereka sampai menggetarkan dan merusak tanah disekitarnya.
Pertarungan antar Grand Master itu membuat anggota Templar lainnya tidak bisa masuk ke dalam medan perang yang ganas itu. Batas tanah antara yang rusak dan tidak menjadi batas mereka untuk tidak masuk ke dalam medan tersebut. Sekali mereka masuk, mereka akan langsung hancur lebur.
Andreana terus berjuang melawan serangan mereka. Dia mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya sampai melampaui batas fisiknya. Senjata Suci Apel Edennya sampai menolak perintah Andreana karena tuannya mau mati, tapi dia terus memaksa Apel Eden menguras nyawanya agar Muhanov bisa dia lindungi.
Hanya saja perjuangan Andreana terhenti saat sebuah kilatan cahaya tiba-tiba mengarah kepada Muhanov. Kilatan cahaya itu membuat mereka berdua terpisah untuk selamanya. Muhanov bisa mendengar tangisan Andreana yang berusaha menggapai tangannya yang tidak bisa dia raih. Perlahan suara andreana menghilang bersama seluruh sumpahnya yang lenyap dalam kegelapan.
***
“Muhanov. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Aku akan melindungimu”
Suara tersebut terdengar lagi. Suara istrinya yang sangat Muhanov rindukan. Suara itu terdengar lirih dan sedih tapi masih bisa terasa di hati. Suara tersebut muncul saat terjadi sebuah pertarungan besar yang sekarang terjadi di depannya. Pertarungan besar yang mempertaruhkan kembalinya Andreana kepadanya.
Hanya saja Muhanov tidak mengerti dari mana suara itu berasal. Apa dari Andreana yang sekarang berada di depannya sambil mengacungkan senjata suci Apel Eden kepadanya? Atau dari seorang wanita yang memegang sebuah tongkat bendera yang terus bercahaya untuk melindungi dirinya?
Muhanov tidak tahu apa yang terjadi Dia mencoba berdiri lalu berjalan untuk mendekati wanita tersebut. Meskipun kakinya terasa sakit untuk digerakkan dan mata kanannya berdenyut-denyut kaena pendarahan yang tidak bisa berhenti, dia terus berjalan dan berjalan menuju cahaya dari wanita yang melindunginya.
Saat Muhanov berhasil meraih tangan yang memegang bendera tersebut. Dia terkejut ketika melihat wajah yang tidak asing baginya. Wajah yang selama ini dia rindukan semenjak Templar mengambil istrinya darinya, “An...dreana?” begitulah lirihnya.
Wanita tersebut menoleh kepada Muhanov. Dia tersenyum kepadanya dengan perasaan lega. Hanya saja dia harus konsentrasi dan tetap mengangkat tongkat benderanya untuk melindungi Muhanov.
Tongkat benderanya terus bercahaya menahan serangan besar yang diarahkan oleh Andreana. Tangan wanita itu gemetaran karena rasa takut yang bersemayam dalam dirinya. Tapi rasa takut itu bukan karena kematian yang sekarang siap menjemputnya, tapi takut jika dia harus berpisah dengan Muhanov lagi.
Wanita itu lalu menarik pedang dari sabuknya. Tapi entah kenapa pedang yang dia ambil terasa berat; tangan kanan yang memegangnya gemetaran; tangan kirinya sendiri sedang berusaha menahan agar tongkat benderanya tidak jatuh. Hanya saja dia tetap berusaha tegar dan mengacungkan pedang tersebut kepada Andreana.
Lantunan doa mulai dibisikkan oleh wanita tersebut. Muhanov tidak bisa mendengar apa yang dia lantunkan. Yang Muhanov tahu hanyalah air mata yang berjatuhan di tangannya. Wanita itu menangis dengan tetap menatap Andreana yang ada di depannya.
“Muhanov. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Aku akan melindungimu”
Itulah kalimat terakhir yang wanita itu berikan kepada Muhanov sebelum cahaya terang dari tongkat benderanya membutakan semuanya.
Setelah itu terjadilah Ledakan besar yang langsung menghancurkan semuanya. Wanita tersebut bersama Muhanov terlempar sangat jauh.
Ledakan besar tersebut langsung membuat wanita itu jatuh pingsan. Setelah beberapa menit, dia terbangun. Rasa sakit dari seluruh tubuhnya langsung menusuk sampai membuat dia sulit untuk bangun. Terutama kakinya yang terasa hampir tidak bisa dia gerakkan.
Wanita itu lalu berusaha mengumpulkan tenaganya untuk mengambil tongkat bendera yang terpisah 3 meter darinya. Dia terus berusaha merayap sampai dia mendapatkan tongkat bendera tersebut. Dia lalu mencoba berdiri sambil bertumpu dengan tongkat benderanya.
Wanita itu lalu mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri. Pemandangan yang sangat mengerikan terhamparkan di matanya. Seluruh wilayah yang diserang oleh Andreana semuanya rata dengan tanah. Manusia, binatang, pohon, dan rumah tidak luput menjadi korban. Ledakan tersebut melelehkan mereka semua sampai dia bisa mencium bau gosong yang menyengat dari mereka.
“Muhanov! Muhanov!”
Ada seorang berteriak memanggil nama Muhanov. Wanita itu penasaran siapa yang memanggil Muhanov. Dia mencoba berjalan ke tempat arah suara itu berasal sambil menembus asap dan kabut yang berasal dari mayat-mayat yang terbakar.
“Muhanov! Muhanov!”
Ternyata ada seorang gadis muda yang berusaha membangunkan Muhanov. Gadis tersebut memakai baju yang aneh dengan sebuah peti mati di belakangnya. Dengan menahan sakit dari luka kakinya, Wanita itu lalu mencoba mendekati mereka untuk melihat apa yang terjadi pada Muhanov.
Wanita itu langsung terkejut dengan kondisi Muhanov yang mengenaskan. Mata kanan Muhanov hancur sampai bola matanya keluar dari wajahnya. Tubuhnya juga penuh dengan luka besar yang membuat darah keluar tanpa henti. Gadis yang memegangi tubuh Muhanov langsung menangis ketika merasa sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan dari Muhanov.
Wanita itu lalu berlutut dan dia mulai ikut menangis juga. Dia terlihat sangat menyesali apa yang sudah terjadi.
Tapi…
Wanita tersebut tidak menyerah. Dia lalu mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari temannya yang mungkin masih selamat dari ledakan tersebut. Karena dia ingat temannya juga sudah mendapatkan perlindungan bendera itu dan mungkin terlempar juga.
“Montmorency!” teriak wanita itu ketika dia melihat temannya terbaring tidak jauh dari mereka.
Wanita itu lalu berdiri dan berjalan dengan pelan mendekati tubuh Montmorency. Dia lalu berlutut untuk memeriksa kondisinya. Dia langsung bernafas lega ketika melihat temannya masih hidup dan hanya pingsan.
“Aku rasa, aku hanya bisa sampai di sini saja, Montmorency” gumam Wanita tersebut sambil mengelus kepala Montmorency, “Maafkan aku yang sudah merepotkanmu. Tolong jaga mereka untukku, ya?”
Wanita itu lalu mengambil sebuah belati kecil dari saku Montmorency. Belati tersebut berwarna putih dengan sebuah simbol 3 bulan di ujungnya. Setelah dia mengambilnya, dia lalu kembali ke tempat Muhanov.
Wanita itu lalu berlutut di samping tubuh Muhanov. Dia lalu mencabut belati tersebut dari sarungnya. Setelah itu tangannya dia angkat dan mengarahkan mata belatinya ke mata kanannya. Kelopak mata kanannya dia biarkan terbuka menatap ujung mata pisau tersebut.
“Narrum Permission. Compile: Horologia. Generate Command: Open Bridge, Clockwork manipulation. Execute ” ucap wanita itu dengan pelan.
Seketika permukaan mata kanannya berubah menjadi sebuah mesin jam kecil. Dua buah jarum jam di sana lalu berputar tidak karuan dan langsung berhenti tepat pada angka 12:00. Setelah itu dia mulai menusukkan belatinya kepada mata kanan tersebut.
“Apa kau yakin dengan itu?” tanya Dewi Narrum yang langsung muncul di sampingnya membuat wanita itu berhenti sejenak, “Jika kau melakukannya, kau tahu apa yang terjadi kan?”
“Ini pilihan terakhirku, Dewi Narrum. Yang paling penting adalah dia tetap hidup” balas wanita tersebut, “Lagipula, jika dia mati. Permintaan yang telah Engkau kabulkan kepadaku akan menjadi sia-sia”
“Baiklah”
Dewi Narrum lalu menghilang dari pandangannya dan wanita itu langsung menusukkan belati tersebut ke matanya.
I accepted the international trial before my flight left New York.Dr. Keller read my email from the seat across the aisle and gave me a brief nod.“You understand that this will add at least another year to your work in Zurich.”“I understand.”“You will also be responsible for coordinating six hospitals.”“I know.”She closed her laptop.“Then welcome to the next stage.”The trial began two months later.Under the approved trial protocol, our screening method identified patients likely to develop the abnormal response before they received the newer medication batch. Those patients entered an alternative treatment arm and were monitored separately.For the first several months, I expected something to go wrong. Each hospital followed a different routine, one laboratory submitted incomplete records, and a supplier delayed the materials required for testing. I spent long evenings reviewing reports and early mornings speaking with teams in three time zones.Every hour belonged to work I
Five months later, our preliminary study was accepted for presentation at a medical symposium in New York.The expanded analysis included records from six hospitals. The results supported the association I had identified and revealed a way to screen patients before they received the newer treatment batch.Dr. Keller asked me to deliver the presentation.When I told my mother I was returning to New York for three days, she offered to meet me at the airport.“You don’t have to,” I said. “The hospital arranged a car.”“I have not seen my daughter in five months. I’m coming.”She was waiting beyond customs and wrapped both arms around me. “You look rested,” she said. I laughed because I had slept four hours on the flight.During the drive, she told me Luca had returned my belongings three months earlier. Everything had been packed and labeled, and he carried the boxes upstairs himself. He asked whether I was well. My mother told him to ask me.Luca had stopped sending daily messages. His t
Three days after Luca returned to New York, the first batch of samples arrived from the partner hospitals.Dr. Keller divided the team into two groups. One group repeated the original analysis without seeing my report, while I led the second group in examining the twelve cases I had identified.If both groups found the same pattern, we would have enough evidence to revise the project.For the next four days, I rarely left the research center before midnight.Luca sent one message every morning, asking whether I had eaten, slept, and secured the apartment.I replied only that I was safe and did not need additional guards.He never mentioned the emerald ring.On Friday evening, one of the researchers brought me the first set of results.“They do not match,” Anna said. “The abnormal marker appears in only seven of the twelve samples.”I checked the report twice. Five failed cases could make the association too weak to justify changing the study.Dr. Keller entered the laboratory while I w
I arrived at the research center half an hour early after checking the data three times. The patients had been treated at different hospitals and received different initial diagnoses, which explained why no one had compared their records.I sent the report to Dr. Keller and was preparing to enter the conference room when she stepped out of her office.“Did you organize these cases last night?”“Yes.”“Did you verify the original records?”“All twelve. Each patient developed the same abnormal marker after standard treatment, although the severity varied.”Dr. Keller turned to the final page.“If your conclusion is correct, we may need to change the direction of the study.”“I think we should begin with an independent validation.”She studied me for several seconds before closing the report.“Present your findings to the team at ten.”Luca was waiting in the reception area downstairs.He still wore the same dark suit from the previous day, although he had changed his shirt. Two cups of c












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.