เข้าสู่ระบบUnwanted for twenty-two years Married and ignored for two years Switched at birth with her father's mistress's daughter, after her death, Aria was brought back to her real parents, only to become an unwanted adopted daughter in her own home. Maltreated and yearned to be loved, she endured in silence. When her family forces her into a business marriage, she accidentally finds out the truth about her identity; she escapes and falls into the hands of Dave Liam, a cold businessman who has stopped believing in love and the man she has secretly loved since college. Their contract marriage gives Aria a way out. Being his wife feels like a dream she is afraid to touch, but their marriage remains distant; his family believes she is unworthy of being wife.. Her secret identity as the designer and co-owner of AVELON GROUP is exposed, throwing her into media pressure. As Kelvin, her trusted business partner, steps forward to defend her. For the first time, Dave, the man who never seemed affected by his wife, begins to feel something he cannot control. Jealousy burns beneath his icy composure. Aria mistakes his anger for distrust. With her secret exposed and her marriage standing on uncertain ground, Aria may finally discover that the man she feared would never choose her has been fighting feelings he doesn't understand.
ดูเพิ่มเติม“Kalau tangan Anda masih terus ke mana-mana, saya akan panggil keamanan.”
Mentari menahan pergelangan tangannya yang baru saja disentuh pria di depannya, lalu berusaha mempertahankan senyum meskipun wajahnya mulai menegang. Seragam yang terlalu ketat memang membuat Mentari tidak nyaman, pandangan mata pria selalu mengarah padanya. Sejak beberapa menit lalu, pelanggan itu memang tidak berhenti memperhatikannya dengan tatapan yang membuat Mentari risih. Awalnya ia masih berusaha menganggapnya biasa karena sudah terbiasa menghadapi pelanggan yang suka menggoda, tetapi laki-laki itu mulai melewati batas ketika tangannya berkali-kali sengaja menyentuh pinggang dan lengannya setiap kali Mentari datang mengantarkan minuman. “Saya di sini untuk melayani pesanan Anda, bukan melayani kelakuan seperti itu,” lanjut Mentari sambil menarik tangannya. Pria tersebut malah tertawa dan bersandar santai di sofa. “Galak juga. Padahal dari tadi saya cuma ngajak kamu ngobrol lho, Cantik.” “Ngobrol tidak harus pegang-pegang, Tuan.” “Terus kalau saya mau pegang?” Mentari menatapnya tidak percaya. “Tidak boleh. Jangan sentuh saya, Tuan!” Jawaban sederhana itu justru membuat pria tersebut semakin terhibur. Ia meletakkan gelasnya, kemudian kembali meraih tangan Mentari sebelum gadis itu sempat berbalik. “Duduklah sebentar. Lima belas menit saja kok, nggak lama,” ucap pria itu dengan kerlingan mata yang membuat Mentari ingin muntah. “Saya masih bekerja, Tuan, lepaskan saya.” “Saya bayar waktumu, tenang saja,” jawab pria itu cepat. “Saya dibayar untuk mengantar minuman, Tuan bukan untuk melakukan hal lain,” geleng Mentari. “Berapa gajimu sebulan?” Mentari terdiam sesaat, bukan karena tidak punya jawaban, melainkan karena sangat mengerti mengapa pria itu tiba-tiba membicarakan gajinya. Laki-laki tersebut tersenyum seolah sudah menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk merendahkannya. “Dua juta? Tiga juta? Saya bisa kasih lima kali lipat cuma untuk menemani saya malam ini.” Mentari langsung menarik tangannya. “Saya tidak mau jawab, bukan urusan Anda.” “Sepuluh kali lipat?” “Saya bilang tidak!” Nada suaranya mulai meninggi. Beberapa orang di sekitar mereka sempat menoleh, tetapi tidak ada yang datang mendekat. Salah satu rekan kerja Mentari bahkan hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk membersihkan gelas di balik meja bar. Mentari sudah bisa menebak alasannya. Sejak tadi pria tersebut terus menyebut nama keluarganya, membanggakan ayahnya yang memiliki saham di beberapa perusahaan besar dan mengenal pemilik kawasan tempat bar itu berdiri. Ia bukan pelanggan biasa, dan semua orang di tempat itu tampaknya tahu bahwa membuatnya marah bisa membawa masalah. Namun Mentari tidak ingin menjadikan ketakutan orang lain sebagai alasan untuk membiarkan dirinya diperlakukan seenaknya. “Saya sudah menolak dengan baik,” ucapnya sambil berusaha melepaskan tangannya. “Tolong jangan bikin saya terpaksa meminta bantuan, Tuan.” “Meminta bantuan siapa? Kamu kira aku takut? Panggil saja, ayo lakukan kalau kamu berani.” Pria itu justru menarik Mentari mendekat hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Mentari segera menahan meja di sampingnya agar tidak jatuh, lalu menatap pria tersebut dengan kesal. “Lepaskan saya, Tuan!” “Jangan teriak, santai saja.” “Anda yang jangan pegang saya! Tolong!” Pria itu mendengus. “Kamu ini pelayan atau siapa, sih? Saya datang ke sini, pesan minuman, bayar mahal, terus kamu merasa lebih tinggi dari pelanggan? Pelayan ya tugasnya melayani dong.” “Saya cuma menjaga diri dari pria seperti Anda,” ucap Mentari dengan sisa keberanian. “Menjaga diri?” Pria itu tertawa sinis. “Kalau memang tidak mau disentuh laki-laki, kenapa kerja di tempat seperti ini?” Pertanyaan itu membuat Mentari terdiam sesaat. Bukan karena ia tidak punya jawaban, tetapi karena kalimat seperti itu selalu terdengar menyakitkan. Ia bekerja di sini karena membutuhkan uang, bukan karena ingin menjual diri. “Saya kerja di sini karena saya butuh uang,” jawabnya akhirnya dengan suara tertahan. “Bukan berarti tubuh saya ikut menjadi bagian dari pekerjaan.” Wajah pria itu berubah. “Berani sekali kamu. Tapi benar, itu realistis, karna itu layani saya, dan saya akan beri kamu uang.” Tangan pria itu bergerak dan menyentuh dagu Mentari. Refleks, Mentari langsung menepisnya dengan kasar. “Jangan sentuh saya! Saya tidak butuh uang dari Anda!” Pria itu berdiri. Tubuhnya yang jauh lebih besar membuat Mentari spontan mundur, tetapi tangannya kembali menangkap lengan Mentari dan menariknya mendekat. Mentari langsung berusaha melepaskan diri, bahkan sempat mendorong dada pria tersebut, tetapi tenaganya tidak cukup. Cengkeraman itu berpindah ke pergelangan tangannya dan terasa semakin kuat. “Sudah saya bilang, saya tidak mau!” “Kenapa sih susah sekali?” Pria itu tertawa mengejek. “Saya cuma mau bersenang-senang.” “Saya bukan hiburan Anda!” Pria tersebut tampak kehilangan kesabaran. Tangannya terangkat dan Mentari refleks memalingkan wajah, tetapi tamparan yang sudah ia tunggu tidak pernah mengenai kulitnya. Sebuah tangan menangkap pergelangan pria itu di udara. Mentari membuka mata dan mendapati seorang laki-laki berdiri di sampingnya. Ia tidak tahu sejak kapan pria tersebut berada di sana. Sosoknya tinggi dengan kemeja hitam yang bagian lengannya digulung sampai siku, sementara wajahnya terlihat begitu tenang seolah keributan di depan matanya sama sekali tidak berarti. Hanya dari cara tangannya mencengkeram pergelangan pria tadi, Mentari tahu laki-laki asing itu bukan seseorang yang mudah dianggap remeh. “Lepaskan tangan saya, Brengsek!” bentak pria tersebut. Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapannya hanya berpindah kepada Mentari sebentar sebelum kembali kepada pria di hadapannya. “Lepaskan dia,” ucap pria itu dingin. “Ini urusan saya dengan pelayan, Anda siapa mau ikut campur? Oh atau Anda tertarik dengannya? Oke, kita bisa bicarakan—” Bughhh!! “Argh sialan! Anda kenapa sih!” Pria itu menggeram sambil memegang mulutnya yang baru saja mendapatkan bogem mentah. “Menyebalkan,” ucap pria itu lalu menarik tangan pria brengsek barusan dengan lebih keras. Pria brengsek tersebut mencoba menarik tangannya, tetapi cengkeraman laki-laki asing itu tidak bergeser sedikit pun. “Brengsek! Kamu tahu siapa saya?” “Saya tidak peduli." Pria itu menjawabnya datar. Dalam satu gerakan cepat, tangan pria itu dipelintir ke belakang hingga tubuhnya ikut terputar. Bahunya menghantam meja di belakang dengan suara keras dan beberapa gelas langsung berjatuhan. Suasana bar yang semula riuh mendadak berubah, sebagian pengunjung mulai memperhatikan, sementara pria yang tadi begitu percaya diri kini meringis sambil memegangi lengannya. “Kamu cari masalah dengan saya?” “Pergilah, jangan buat saya mengulang.” Nada suara laki-laki itu rendah, tetapi justru terdengar lebih mengancam daripada bentakan. “Jangan sok—” “Pergi!!” Kali ini tidak ada ruang untuk membantah. Pria itu masih menatapnya dengan marah, tetapi akhirnya mengambil jasnya dan pergi sambil menunjuk Mentari sebelum keluar. “Kamu tunggu saja.” Mentari menelan ludah dan tidak menjawab. Baru setelah pintu bar tertutup, ia menyadari bahwa napasnya masih berantakan dan kedua tangannya sedikit gemetar. Laki-laki asing itu kemudian menoleh kepadanya. Tatapannya turun ke pergelangan tangan Mentari yang mulai memerah akibat cengkeraman tadi. Mentari mengikuti arah pandangannya, kemudian buru-buru menyembunyikan tangan itu di belakang tubuh. “Tuan Anda baru saja—” “Bisa digerakkan?” “Ah ini, tangan saya baik-baik saja,” ucap Mentari. Laki-laki itu mengulurkan tangan seolah ingin memeriksanya, tetapi Mentari spontan mundur. Gerakan itu membuat tangan pria tersebut berhenti sebelum menyentuhnya. “Maaf,” ucap Mentari pelan. “Saya cuma kaget.” Pria itu menarik kembali tangannya. “Periksa ke dokter kalau sakit.” Mentari mengangguk kecil. “Terima kasih. Kalau Anda tidak datang tadi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.”QUESTIONS HE NEVER ASKEDDave got into the back seat beside Ethan.“Did you find what you were looking for?” Ethan asked.“No.”Dave's answer was brief, but Ethan observed him for a while and decided not to push. Their driver drove off from the exhibition center.Ethan opened the file he had been carrying. “About Leon.” He said. “Go on.” Dave immediately focused on him, “Damien Rothe has placed him in charge of business development. They're preparing a new luxury collection, and they've already started approaching some companies we work with.”“Any direct move against us?”“Nothing serious yet,” Ethan responded“Then find out what they're planning; we shouldn’t wait for them to make a move”Ethan nodded.Dave looked through the window. The incident at the exhibition came flashing back, but he pushed it aside. Leon was the problem he needed to deal with now.Aria left the exhibition hall through another entrance.She didn’t notice Dave.The young lady who had dropped the sample boxes
Something Is Changing Dave drove away from the restaurant only after Aria and Kelvin left. But the whole drive home was not a peaceful one.“Could he be the reason why she comes home late? What made her change so much?” He tightened his grip on the steering wheel, struggling to figure it out.But why did it bother him? The question followed him into the mansion."Brother, you're home. Should I ask the kitchen to serve you?" Lilly asked."I'm not hungry." He walked upstairs without another word."What happened to him?" Her gaze followed him upstairs. The next morning, Aria was already leaving when Dave came downstairs."Good morning." Aria greeted him without giving him a look, but she noticed something was off in his voice."Morning."Before Dave could say another word, she picked up her bag."I'll be leaving now." Dave looked at the clock."You leave this early every day?" Aria looked surprised by the question. He had never asked or been concerned about her whereabouts."I have wor
The Distance Between ThemAria quickly bent down, picked up the file, and left the office before Dave saw her.“Give this file to your boss,” Aria handed the file to Dave's assistant, her hands trembling. “But, ma’ma.” Before the assistant could finish her sentence, Aria had already reached the exit door.“I shouldn’t have come in the first place.” Those words constantly echo in her thoughts.Dave's eyes still fixed on the door, he felt that someone was standing there. He quickly recovers and untangles himself from Bella’s hug. “I’m sorry, I'm really sorry.” Bella immediately stepped away from Dave and adjusted her dress. A satisfying smile appeared on her lipsAria did not return home immediately after leaving Liam Group.She walked aimlessly through the street. The scene she saw in that office refused to leave her mind. “Bella had only stumbled, and Dave acted out of humanity, nothing else.” Aria was lost in her thoughts, her hands clutching tightly to her bag, but for a brief mom
The Place That Belongs To HerThe atmosphere became intense for Aria and Dave. His gaze moved straight to Aria; for a second, their eyes met, but Aria quickly looked away.Bella noticed the way Dave looked at Aria; she clutched her finger tightly, causing her palms to turn red, "It's been a while, Dave." She leaned closer, her breath brushing against his ear.“Yeah,” he stepped back.Bella seemed surprised by his cold reaction. Lilly also looked confused by her brother's behavior towards Bella; she tried stepping in, but her mother held her hands to stop.Aria kept quiet the whole time, but she couldn't stop the tiny hope that appeared on her face.“Maybe Bella's return didn't matter to him anymore.” She quickly pushed the thought of it away because she was not ready to go through it again.Dinner ended later than usual. Lilly and Bella talked endlessly about old memories.Dave barely participated in the conversation. His focus was on his food or his phone. But his eyes didn't go u












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.