LOGIN“Here's the deal. Do that lawyer stuff that you do. Try to send me to jail.” “What?” I blinked. “I'm giving you a year, but in my territory. I'm not sending you back to the U.S, so better get used to Italy like you once lived.” “Excuse-” “But you'll have everything. Every resource. Impress me, show me why you're a top lawyer and get me locked up. Prove to everyone that I killed your parents.” “I'll send you to jail, even if it's the last thing I do, Roman. You're trying to ruin my life again, but this time I won't let you. You're finished.” “Now, the condition.” My eyes widened. Now a condition? “If you don't succeed, you won't ever have an opinion. You'll be my plaything, my pet, my personal slave, my cum bucket. You'll be whatever I want you to be, do you understand?” I felt instant chills ripple through me. “So that's what you want? To control me after killing my parents?” “Yes, exactly that. I want to humiliate you so badly, so better impress me and send me to jail, Gianna. Better do it.” His voice was thick with warning. No matter how much I desire him, I'll make sure he rots in jail. …… We don't always get what we want, Gianna. He killed her parents and she managed to escape the house fire. Years later and this invincible Mafia don gets arrested in the United States, and she's the top lawyer in charge of his case? Hmm, I wonder what happened next.
View MoreAwalnya, Firly keberatan menikah dengan Rendi, karena ia ingin mengejar cita-citanya dulu. Namun, Rendi berniat akan meninggalkan Firly, jika ia lebih memilih karir daripada cintanya. Karena itulah, Firly menikah dengan Rendi. Rendi meyakinkan Firly, bahwa setelah menikah pun karir dan cita-cita masih bisa dikejar.
Satu tahun pertama, hubungan Firly dan Rendi masih terbilang manis. Tahun ke empat dan kelima, hubungannya mulai renggang, tak seromantis biasanya. Rendi dan Firly sama-sama menyadari kesibukannya masing-masing. Oleh karena itu, mereka berdua memahami kerenggangan yang terjadi dan tak menganggap itu masalah besar.
"Mas, besok aku ada acara workshop sama karyawan-karyawanku. Aku akan camping di puncak, Mas. Sesuai kesepakatan karyawanku. Maaf, aku harus ikut, karena ini acara butik-ku." ucap Firly pada Rendi.
"Jadi, kamu mau ninggalin aku dan Calief?" tanya Rendi.
"Maaf ya, Mas. Aku gak bisa nolak keinginan mereka, karena mereka semuanya ikut. Aku harus menyenangkan mereka." ujar Firly.
"Baiklah, jika kamu memaksa. Aku izinkan." jawab Rendi.
Firly mencium lengan Rendi, "Mas gak marah kan sama aku?"
"Enggak, itu pilihan yang kamu inginkan. Bukankah kamu bahagia menjadi seorang fashion designer? Tentu saja aku harus mendukungmu, sayang." Rendi memeluk Firly.
"Terima kasih, suamiku. Oh, iya Mas, bilang sama Mila, Calief hari minggu harus lari pagi, terus nanti video ya, kalau sudah selesai, nanti kirim ke aku ya, Mas. Gurunya suruh buat tugas lari pagi di hari minggu. Awalnya, aku senang bisa menemani Calief lari pagi, tapi ternyata aku tak bisa menemaninya, karena acara camping bersama karyawanku." ucap Firly.
"Kenapa kamu gak bilang sendiri sama Mila?"
"Aku takut lupa, akhir-akhir ini sangat sibuk dengan berbagai rancangan busana baru, maklum lah Mas, memoriku terbatas, jadi aku ingatkan Mas Rendi juga, takutnya aku lupa, kan ada Mas yang bakal ingetin ke Mila. Gitu lho, sayang." Firly tersenyum manis.
"Ya sudah, ayo berangkat. Aku anterin, aku gak ke restoran pagi ini. Mungkin siang nanti aku baru akan ke restoran." ujar Rendi.
"Iya, Mas. Ayo," Firly menenteng tas nya.
Firly berangkat diantar oleh Rendy seperti biasa. Restoran Rendi terbilang sudah cukup sukses dan terkenal. Ia memiliki beberapa cabang restoran. Salah satunya di Bandung dan juga Bogor, namun pusatnya tetap di Jakarta. Ia merintis restorannya dari awal. Sejak kuliah, ia meneruskan bisnis orang tuanya, hingga kini ia mampu mendulang kesuksesan.
"Semangat kerjanya ya sayang," Rendi mengecup kening Firly.
"Makasih, Mas. I love you,"
"Love u too, my wife!" Rendi segera masuk ke mobilnya dan berlalu.
Sesampainya di rumah, Rendi segera memarkirkan mobilnya, dan Rendi melihat Mila sang pembantu di rumahnya, sedang memakaikan sepatu Calief, karena pagi ini Calief harus sekolah. Calief sekarang sekolah di TK A. Mila yang selalu mengantar jemput Calief, karena kebetulan, sekolahnya tak terlalu jauh, naik satu kali angkutan umum pun, pasti akan cepat sampai di sekolah Calief.
"Papah ..." sapa Calief.
"Halo, Lief. Mau berangkat sekolah ya? Mau Papa antar?" ajak Rendi.
"Mau, Papa. Tapi Mbak Mila harus ikut." ujar Calief.
"Loh, kenapa ikut? Kan ada Papa," ucap Rendi.
"Papa pasti gak mau anterin Alief masuk ke dalam kelas, kalau Mbak Mila kan selalu anterin Alief sampai kedalam sekolah." ujar Calief.
"Baiklah, ayo kita berangkat." ajak Rendi.
Calief dan Mila duduk dibelakang kemudi. Rendi memang tahu, Calief dan Mila sangat dekat, karena sejak bayi, Calief diasuh oleh Mila karena Firly sibuk dengan butiknya. Mila sudah bekerja selama lima tahun di rumah Rendi. Mila masih gadis, ia adalah gadis sebatang kara yang tak punya keluarga. Kini usianya baru menginjak 24 tahun. Ia hanya seorang lulusan SMP, karena itulah ia bekerja menjadi pembantu di rumah Rendi dan Firly.
Rendi dan Firly sangat mempercayai Mila. Karena sejak usianya 19 tahun, Mila seperti diangkat menjadi bagian dari keluarga Rendi. Firly menemukan Mila saat Mila terkapar lemah di jalanan, ia di usir oleh Ibu tirinya, karena Ayahnya sudah meninggal. Mila begitu baik dan jujur, karena itulah Firly sangat menyayangi Mila. Begitu pun dengan Mila, ia sangat bahagia ada keluarga kaya yang mau mengangkatnya dan mempekerjakannya.
Calief sudah masuk kelas. Mila kembali ke parkiran dan menemui Rendi yang sedang menunggunya. Mila awalnya canggung sekali karena Rendi menunggunya, ini baru pertama kalinya Rendi berada di rumah, dan mau mengantar Calief ke sekolah.
"Pak, Calief sudah masuk kelas." ucap Mila dari luar mobil.
"Ya sudah, kamu pulang saja bersamaku. Kalau menunggu di sekolah, pasti lama. Nanti biar aku jemput Calief lagi." ujar Rendi.
"Baik Pak," Mila akan membuka pintu belakang mobil,
"Mil, didepan saja. Memangnya saya supir kamu apa, kamu duduk dibelakang," tukas Rendi.
"Ah, i-iya Pak. Maaf," Mila membuka pintu depan mobil dan segera masuk ke mobil Rendi.
Baru kali ini Rendi dan Mila berada satu mobil bersama. Biasanya, Rendi sangat sibuk dengan restorannya. Namun, kali ini entah mengapa ia mau meluangkan waktunya untuk berada di rumah dan mengantar Calief pergi ke sekolah.
"Mil, pakai sabuk pengamannya." perintah Rendi.
"Ba-baik, Pak." Mila memakaikan sabuk pengamannya.
Ia begitu kesulitan memakai sabuk pengaman. Berulang kali masih saja tak berhasil. Selama naik mobil Rendi, Mila tak pernah duduk didepan. Jika duduk dibelakang pun, jarang menggunakan sabuk pengaman karena Calief tak bisa diam jika dipakaikan sabuk pengaman.
"Bisa gak?" tanya Rendi.
"Bentar, Pak. Ini gak nyantol terus." ujar Mila.
"Sini saya bantuin," Rendi menawarkan diri untuk membantu Mila yang kesulitan memakai sabuk pengaman.
Mila terlihat keberatan, " Eh, Pak biar saya saja."
Rendi tak mendengarkan ucapan Mila. Mila mengelak pun percuma, karena ia tak bisa menggunakan sabuk pengaman dengan benar. Rendi mengambil sabuk pengaman yang berada di dada Mila, Rendi menarik sabuk pengaman itu, hingga Rendi sadar bahwa tangannya telah bersentuhan dengan dada Mila yang menonjol sangat menggoda. Tangannya terlalu kuat menarik sabuk pengaman, sehingga ia menyenggol dada Mila yang besar.
Jantung Rendi berdebar. Ia merasa, darahnya mengalir cepat seperti hantaran listrik. Baru kali ini, ia bersentuhan dengan dada pembantunya. Mila begitu kaget, ketika merasa bahwa tangan majikannya menyenggol buah dadanya. Sesegera mungkin Mila memalingkan wajah karena begitu malu. Rendi pun segera memasangkan sabuk pengaman dengan benar.
"Maaf, saya tak sengaja." ucap Rendi.
"I-iya, gak apa-apa Pak." Mila merasa tak enak hati.
Pikiran Rendi sangat kacau. Rendi tak bisa fokus menyetir. Ia terbayang-bayang saat tadi, tangannya yang menyentuh barang paling sensitif milik Mila. Rendi mencoba menghapus bayang-bayang nakal itu. Namun, pikiran itu selalu menghantui kepalanya.
Mila dan Rendi telah sampai di rumah. Mila kembali bekerja seperti biasa. Ia mencuci piring, karena ia belum mencuci piring bekas sarapan. Setelah sarapan, Mila langsung mengantar Calief ke sekolah, dan belum sempat mencuci piring.
Rendi meminum teh nya yang sudah dingin hingga habis. Ia melihat Mila sedang mencuci piring, karena ia telah selesai minum teh, ia pun berinisiatif pergi ke dapur untuk memberikan cangkir kotornya pada Mila. Dari belakang, Rendi sudah memperhatikan bentuk tubuh Mila yang melekuk indah bak gitar spanyol.
Rasanya, kini Mila sudah tumbuh dewasa. Semuanya telah matang, termasuk dada yang tadi aku senggol. Saat dia baru datang disini, aku tahu sekali, bagaimana kondisi tubuhnya saat itu. Mila sangat kurus dan tak berisi. Kini, tubuhnya sangat kencang dan padat. Mila yang dulu, bukanlah yang sekarang. Mila kini mampu menarik perhatian ku sebagai lelaki. Selain dia cantik, dia juga begitu menggoda. Batin Rendi.
"Mil, ini cangkir bekas teh ku," Rendi menyerahkan cangkirnya pada Mila.
"Baik, Pak. Akan saya cuci sekarang," ujar Mila.
Rendi menatap Mila. Entah kenapa, jika menatap Mila, pikiran Rendi menjadi semakin liar dan bergairah. Baru kali ini Rendi merasa hatinya sangat bahagia menatap seorang pembantu.
Mila merasa tak nyaman, karena ia tahu, bahwa Rendi sedang memperhatikannya dari belakang. Rendi tak meninggalkan dapur sedikit pun, ia malah fokus melihat Mila yang sedang mencuci piring.
Rendi perlahan mendekati Mila, Rendi sudah kalang kabut, dan ia tak bisa menoleransi lagi sifat nakalnya. Ia terus melangkah mendekati Mila, mencoba memperhatikan Mila dari belakang, dan dengan pelan tapi pasti, Rendi melingkarkan tangannya di pinggang Mila. Ya, Rendi memberanikan diri memeluk Mila dari belakang, saking tak kuatnya ia menahan gairahnya ketika melihat Mila.
Mila terperanjat kaget, "Eh, Eh Pak. Bapak ngapain? Le-lepasin, saya! Saya mohon, Pak. Lepasin saya,"
"Mila, maafkan saya. Saya tertarik dengan tubuh kamu. Izinkan saya memeluknya seperti ini," Rendi tetap memeluk Mila.
"Pa-Pak, saya mohon lepas, gak enak dilihat orang. Pak, saya mohon. Bapak jangan kurang ajar sama saya!" Mila hampir menangis karena ketakutan.
"Saya gak akan ngapa-ngapain kamu, saya cuma pengen meluk kamu aja! Gak lebih, Mil." Rendi mendekatkan kepalanya pada bahu Mila, membuat tubuh Mila merinding hebat karena sentuhannya.
Mil, Mila ... Kamu hangat sekali, berbeda jika aku memeluk Firly. Rasanya sudah tak ada gairah mendalam saat dengan Firly. Apalagi, Firly lebih mementingkan karirnya daripada aku. Kini, baru aku sadari, ternyata aku mempunyai seorang pembantu yang bisa membuatku kembali bergairah. Maafkan aku, Firly. Aku sungguh hanya ingin memeluknya saja, tak lebih.
Gianna's POVA YEAR LATER“You deceived me, Roman. I don't know what you did, but you deceived me!” I spat angrily when I entered his room, straight from another disappointment. It was the first time I had been in his room since the kidnap.It's been exactly a year since we made the deal and even though I dreaded this moment, I couldn't run, escape or back down. Even with my loss, I would still face him with everything I've got. For a year, all I've done was ignore him. I still can't believe how stupid I was to think I would've actually done anything different. The evidence of everything, I had at my disposal, but no media outlet, no police report, no case, nothing was on my side. Nobody was listening to me. Some of them even chased me away.For a year, it turns out I only worked towards losing my sanity. The police system was corrupted, everyone was. Things only started to get clear a month ago because for eleven months, they all pretended to be on my side, only to switch lanes so q
Gianna's POV“Yes, a deal.” He answered as I rose from the bed again and sat at one edge. He had moved back to his initial position, watching me like a creep.“I still want the dress off, so take it off.”I rolled my eyes. The dress was a bit uncomfortable anyway, so why not? I wasn't listening to him, I was only chasing my own comfort.“Get me something else to wear then, fucking loser.” I clicked my teeth tastelessly and he immediately shot me a disapproving glare. He began to approach me again. This time, I didn't move. I decided not to run away.He ran his hands through my face softly as he spoke, looking down at my figure sitting up on the bed.“I'm not the one kidnapped and being held against my will. I'm not the loser, Gianna.”As I glared at him, I realized I had never wished for a death this badly.“I wish you'd just drop dead.” I slapped his hands away from my face and he chuckled and stepped back again. We were both playing a dangerous game.“I hope your wish comes true, b
Gianna's POVToday is my engagement party. Luke proposed to me three months ago. To be fair, it's an arranged marriage. No, he blackmailed me into getting married to him.But still, I guess it was for the best. I needed a distraction from my own anger, from everything that happened six months ago with Roman Moretti. I needed to be a wife, have kids and move on, even though it was hard.I obviously had no friends and looking back, now twenty four, I realized that I've lived such a shitty, lonely life. Luke chased me like crazy before he settled for blackmail because he was no different from the average Italian Mafia (Cosa Nostra).Luke hired a lot of guests and brought some of his own genuine friends but no matter what, the engagement looked like a joke. Still, I tried to make the most of it. It was happening, end of story.I wore a black dress that hugged my figure from my breasts all the way to my knees, but from there, flare. I loved it and it was probably the only thing that truly
Gianna's POVI strutted out of the office like I was being chased by a wild animal. I felt a severe rush of adrenaline coursing through my veins as I sprinted to my car.I couldn't wait to get to the police station. Finally, things were looking up, after five years of waiting and wallowing in dead ends. The man was faceless, hard to catch, almost…invincible.Draco, my boss, had no idea what he had just done for me with the tip he gave me, the ‘big fish’ he wanted me to defend. I knew he was selfish and it was for his own promotion while I did all the work but to me, I got the most out of this.The man that killed my parents in a house fire. It was a miracle that I survived and I was only nineteen years old. I lost everything that day, everything.I saw his figure, his shadow, and I heard his name, Roman, as my father begged until he choked to death. No, he got shot. Saying he choked to death made me feel lighter. I couldn't see his face, but that sadistic smile remained engraved in m












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.