LOGINI am reborn on the day my wife, Courtney Clarke, embezzles company funds to pay off her childhood best friend, Travis Foster's, gambling debts. This time, I, Nathan Turner, don't sell my patents to help her plug her financial hole. Instead, I swiftly file for divorce with the court and cut ties with her. This is all because in my previous life, I had loved her with everything I had for 50 years. I was at her beck and call. She claimed she longed for a platonic marriage, and so I endured a sexless marriage for decades. All this lasted until the day of the shipwreck, when I gave her the last life vest. Yet, after she was saved, she never told the rescue team that I was still trapped inside the cabin. In my final moments, through a crack in the cabin door, I watched her throw herself into Travis' arms. "Trav, I love you. I only love you. From now on, no one will stand in the way of our love." In that moment, I abandoned all will to live, letting the sea swallow me whole. So this time, after being reborn, I choose to step aside and let her pursue her love.
View More“Penampilanmu membuat orang-orang tidak nyaman. Keluar jika kau tidak memiliki urusan.”
Sienna mengintip wanita di hadapannya melalui ujung jubah yang ia tarik untuk menutupi wajahnya. Wanita itu terlihat berbeda dari wanita lain yang berada di pub itu.
Jika wanita lain menggunakan gaun murahan dengan potongan dada yang rendah, wanita di hadapannya menggunakan gaun dan syal bulu hewan yang terlihat mahal.
Apa ia ada pemilik tempat ini? Sienna pernah mendengarnya dulu, jika Sienna ingin melakukan rencananya, ia harus mencari wanita yang merupakan pemilik tempat itu.
Sienna menelan ludah, merasakan kerongkongannya yang kering tercekat oleh rasa takut dan malu akan hal yang ingin ia katakan selanjutnya.
“Saya ingin… menjual diri saya.”
Kipas di tangan wanita itu berhenti bergerak.
Hening sejenak di antara mereka, kontras dengan kegilaan yang terjadi di sekeliling. Pub itu sedang berada di puncak keramaiannya.
Para ksatria yang baru pulang dari medan perang merayakan hidup mereka dengan cara yang paling purba, menenggak bir hingga mabuk dan mencari kehangatan dari wanita yang melemparkan diri mereka.
Gelak tawa yang mengganggu, suara gelas beradu, dan jeritan manja para pelayan wanita yang duduk di pangkuan para prajurit memenuhi ruangan.
Dan penguasa dari kekacauan ini adalah wanita di hadapan Sienna, Madam Irene.
Matanya menyipit menatap Sienna yang masih menunduk dalam balutan jubah tertutup, Irene tahu satu hal, gadis di depannya ini berbeda.
Postur dan cara bicaranya berbeda. Ia jelas bukan wanita dari kalangan biasa.
“Buka tudung jubahmu, aku ingin melihat wajahmu.”
Sienna tersentak, ia terlihat begitu ragu-ragu untuk menuruti perintah wanita di hadapannya.
“T… tapi…” ia berbicara dengan gagap.
“Bagaimana aku bisa tahu kau layak dijual atau tidak jika menunjukkan wajahmu saja kau tidak mau?”
Sienna menelan ludah, benar. Ia sudah membuat keputusan, ia harus menerima resikonya apapun itu.
Dengan tangan yang gemetar, Sienna menurunkan tudung jubahnya ke belakang, menunjukkan surai emasnya dan wajahnya yang terlihat begitu ketakutan.
Madam Irene menyentuh dagu Sienna dengan ujung kipasnya dan mengangkat wajah wanita itu untuk melihatnya dengan jelas.. “Kau… seorang bangsawan.”
Sienna mengalihkan tatapannya ke arah lantai begitu mendengar perkataan wanita itu.
Bangsawan. Apa keluarganya bahkan masih pantas menerima gelar itu? Saat ini, ayahnya hanyalah Baron miskin.
Tanpa harta, tanpa wilayah Baroni, karena semua telah hilang di meja judi. Yang tersisa hanyalah mansion mereka, nama yang tidak bisa dibuang begitu saja dan… hutang-hutang ayahnya.
Sienna menggigit bibirnya hingga berdarah. Hutang-hutang itu ada penyebab dirinya berada di sini.
“Pulanglah.” ucap Madam Irene sebelum membalikkan tubuhnya. “Kau akan menyesali ini.”
“TIDAK!” Sienna berteriak, untungnya, kebisingan ruangan itu menenggelamkan suaranya. Ia memegang tangan wanita itu dan menatapnya dengan memohon. “Tolong bantu saya…”
“Saya benar-benar harus… melakukan ini.” lanjutnya lagi.
Ayah Siena, Baron Borgia, telah menjadikan Sienna sebagai alat pelunas hutangnya.
Sejak lama, Sienna telah kehilangan kesempatan untuk menikahi pria dari kalangan bangsawan karena ketidakmampuan untuk membayar mahar. Dan menikah tanpa mahar dari keluarga wanita adalah penghinaan bagi keluarga bangsawan.
Para pria yang dulu menginginkannya perlahan-lahan menghilang, dan satu-satunya yang tersisa adalah… Viscount Rohan.
Seorang Viscount tua yang telah memiliki dua istri dan berniat menjadikan Sienna yang ketiga. Ia mungkin bisa menelan pil pahit itu jika kedua istrinya tidak terus mengirimkan ancaman dan terror. Bahkan hewan mati ke depan pintu rumahnya.
Jika ia benar-benar menikahi Viscount itu… Sienna yakin ia akan kehilangan nyawanya.
“Saya harus… kehilangan kesucian saya malam ini juga.”
Viscont Rohan, walau terkenal memiliki banyak simpanan, begitu terobsesi dengan kesucian seorang wanita.
Jadi menjadi kotor, adalah satu-satunya cara bagi Sienna untuk membatalkan pernikahan ini. Karena orang tuanya sama sekali tidak peduli pada apapun, selain uang.
Madam Irene manatap Sienna, apapun alasannya… wanita itu benar-benar terlihat putus asa. Ia melihat sekeliling. Menatap para ksatria yang diam-diam melirik ke arah mereka.
Para pria itu jelas telah melihat wajah cantik wanita bangsawan di hadapannya, dan mereka menginginkan wanita itu.
“Kau yang memintanya. Jika kau menyesalinya besok pagi, jangan salahkan aku.”
Madam Irene mengibaskan kipasnya sekali lagi, menutupnya dengan bunyi 'tak' yang tegas.
“Ikut aku.”
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu berbalik dan berjalan membelah kerumunan. Sienna bergegas mengikutinya, menundukkan kepala dalam-dalam saat mereka melewati meja-meja yang penuh dengan pria mabuk.
Ia bisa merasakan tangan-tangan jahil mencoba meraih jubahnya dan siulan menggoda yang ditujukan padanya.
Sienna memejamkan mata, berdoa agar mereka tidak berhenti di sini.
Doanya terkabul. Madam Irene tidak berhenti di aula utama. Ia membawa Sienna menuju tangga kayu sempit di sudut ruangan yang remang-remang, naik menuju lantai dua di mana suara kebisingan di bawah mulai terdengar samar.
Di ujung lorong yang sunyi, Madam Irene berhenti di depan sebuah pintu kayu ek yang kokoh. Pintu itu terlihat terlalu mewah untuk tempat seperti ini.
“Seseorang membayarku untuk membawa wanita terbaik pada pria ini.” bisik Irene, suaranya tiba-tiba terdengar serius. “Dan sepertinya kau adalah yang paling tepat, jika aku memberimu pada pria di bawah, itu hanya pemborosan barang bagus.”
Madam Irene akhirnya membuka pintu itu. “Masuklah, dan pastikan kau melayaninya dengan baik.”
Travis completely lost it as he screamed, "I'm going to kill you, Seth Lingham!"Ignoring the police officers around him, he lunged straight at Seth, and chaos erupted in the conference room.…In my previous life, I had only learned about Travis' disgusting deeds by accident. My first instinct had been to go straight to the police. But before I could even step into the station, Courtney dragged me away. She threatened me with divorce, forcing me to help Travis cover up what he'd done.This, however, was the first time I'd heard that he had drugged Courtney and sold her to other men. Judging by the despairing and hollow expression on her face, it seemed like she hadn't been aware either.I guess I was right after all. The child she carried wasn't Travis', but some other random guy's.With Seth's testimony and the evidence he provided, Travis—regardless of how much he denied it—was immediately detained. Both he and Courtney would likely be facing decades behind bars.When the col
Travis clenched his jaw for a long time before squeezing out, "This is an invasion of privacy! I'm going to sue you!""Sue me?" I asked, chuckling."You're banging my wife in my own house, and you got caught on my security cameras. And now you want to talk to me about privacy? Don't you think that's a little ridiculous?"At this point, Courtney had already completely slumped into her chair, unable to utter a single word. Travis had more to say, but I cut him off."Don't be impatient. Now it's your turn to be judged."He visibly flinched at that. Still, he refused to give up, forcing himself to stay calm as he snapped, "Bullshit! I haven't done anything! What right do you have to 'judge' me?"This time, it wasn't me who responded, but Frank."Travis Foster, are you sure you haven't done anything? Then tell me—do you know this man?"The conference room door swung open, and a gaunt, sickly-looking man was led in by the police.When Travis saw the man, his face turned ashen, his e
Courtney and Travis thought they had found a loophole, but Frank mercilessly shattered their illusions."The patents under Mr. Turner's name are his personal property. Without his authorization, no individual or entity has the right to buy, sell, or use them. Given the enormous amount involved in this case, the Financial Crimes Unit will open a formal investigation in accordance with the law."Courtney went limp in her chair when she heard this. Suddenly, as if something had dawned on her, she glared at me and growled, "Nathan, I'm pregnant! That's right, I'm carrying your child! You can't do this to me! Quick, tell the police that you voluntarily sold those patents! Hurry!"I arched an eyebrow at her. "Pregnant? And the child is mine?"Courtney nodded firmly. "That's right! We weren't divorced back then—whose child could it be if not yours?"I almost laughed out loud at her shamelessness. She was clearly determined to make me a patsy—a sucker.A memory of my previous life sudden
"In my heart, Trav, he's nothing," Courtney added.I could barely contain my laughter at this self-absorbed exchange."Rather than stroking each other's egos here, you'd be better off hiring a good lawyer. Who knows? You might be able to shave a few years off your sentence."Travis assumed I was just bluffing, and he continued to sound cocky. "Quit trying to threaten us. If you really had evidence, you wouldn't have let us push you around like that yesterday. You know I'm starting to regret not skinning that filthy animal alive in front of you. Throwing her out the window was letting her off too easily.""Travis Foster!"I slammed my hands down on the table and shot to my feet in fury. If not for the officers nearby, I would've wanted nothing more than to take a few swings at him. But his smug, taunting gaze quickly cooled me down.I stared at the two for a long while, then let out a soft chuckle."How do you know I don't have evidence? If I didn't, do you really think I'd dare


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.