登入Heri mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan aliran darahnya berdesir kencang didorong oleh adrenalin kemarahan yang meluap.
Sorot matanya yang tajam bak elang menghunjam langsung ke arah Erick, menuntut informasi yang lebih dalam, lebih detail, dan tanpa ada satu pun yang ditutupi mengenai rencana busuk yayasan pengamanan mereka. Ia tidak boleh buta arah dalam menghadapi situasi genting ini; setiap informasi adalah senjata untuk mempertahankan posisi
Heri mengepalkan tangan kirinya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangan kanannya menempelkan ponsel erat-erat ke telinga. Otak taktisnya langsung memetakan ulang seluruh rencana yang baru saja berantakan di Bali. Tidak ada ruang untuk panik. Di dunia bawah, perpindahan dari satu kegagalan ke taktik berikutnya harus dilakukan dalam hitungan detik."Aku paham, Man. Kamu tenang dulu," kata Heri, suaranya sangat rendah dan stabil, mencoba menyuntikkan ketenangan ke dalam kepala Maman yang sedang bising oleh raungan mesin motor."Gini caranya. Tarik mundur semua informan fisikmu dari sekitaran hotel sekarang juga. Jangan ada yang nongkrong di radius satu kilometer dari Uluwatu.""Terus gimana sama bukti video di dalam kamarnya, Her? Anak buahku udah nggak bisa masuk lagi! Penjagaan Reno makin ketat kayak presiden!" seru Maman di seberang sana, suaranya masih tersenggal-senggal."Kita beralih ke taktik baru. Pakai peretasan digital," perintah Heri, matanya menyipit menatap kaca p
Darah Heri mendadak berdesir kencang, sedingin es yang merayap di sepanjang tulang belakangnya. Panggilan telepon dari Maman yang penuh kepanikan itu mendadak terputus oleh suara gaduh, suara benturan keras, teriakan serak yang tertahan, dan bunyi kresek sinyal yang mati total."Man! Maman! Sialan!" Heri menggeram rendah, menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar yang kini menampilkan tulisan Panggilan Terputus.Otak taktis Heri berputar secepat kilat. Situasi di Bali telah berubah menjadi zona tempur yang mematikan.Di saat yang sama, ribuan kilometer dari pos jaga tempat Heri berdiri, atmosfer di dalam ruang bawah tanah (basement) utilitas hotel bintang lima di Uluwatu terasa begitu pekat oleh aroma oli, semen lembap, dan ancaman maut.Reno Baskoro berdiri dengan wajah bengis yang sangat kontras dengan piyama sutra atau jas mahal yang biasa ia kenakan di kompleks perumahan elitnya. Matanya merah menyala penuh amarah, menatap tajam ke arah seorang pemuda kurus, informan sur
Rabu pagi, Reno resmi berangkat dinas. Kompleks mewah itu terasa sepi, seolah-olah sebagian besar energi kehidupan di klaster elit tersebut ikut terbawa pergi bersama mobil sedan mewah yang menjemput sang pengusaha subuh tadi.Namun, bagi Heri, keheningan di luar justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dalam kepalanya. Ketegangan di kepala Heri justru mencapai puncaknya. Setiap detik yang berdetak di jam dinding pos jaga terasa seperti bom waktu yang siap meledak.Sambil berjaga di pos, Heri terus memantau laporan demi laporan yang dikirimkan oleh jaringan Maman dari Bali melalui aplikasi pesan instan terenkripsi. Ponselnya yang diletakkan di bawah buku mutasi jaga tidak berhenti bergetar, memuntahkan rentetan data real-time yang krusial.Bzzzt.Heri menyambar ponselnya dengan cepat. Sebuah foto masuk. Itu foto Reno yang sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita di lobi hotel bintang lima kawasan Uluwatu.Dari sudut pengambilan gambar yang agak tersembunyi di bali
Setelah mobil operasional Komandan Baskoro melesat pergi meninggalkan pos jaga dengan raungan mesin yang kasar, Heri mengembuskan napas panjang.Otot-otot bahunya yang tegap perlahan mengendur, namun sisa adrenalin dari konfrontasi menegangkan tadi masih terasa berdesir hebat di dalam aliran darahnya.Ditambah lagi dengan rahasia besar mengenai identitas mantan pacar Reno yang dibawa oleh Sintya sebelumnya, kepala Heri terasa begitu penuh.Ia membutuhkan pelepasan ketegangan. Sesuatu yang instan untuk menyalurkan energi gelap yang tertahan di dadanya.Tanpa membuang waktu, Heri merogoh ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat dengan kode yang hanya dipahami oleh mereka berdua, lalu mengirimkannya kepada Sintya.Sasarannya adalah sebuah rumah kosong di ujung blok yang saat ini sedang dalam proses renovasi total, tempat terjauh dari jangkauan patroli satpam lain dan kamera pengawas kompleks.Sepuluh menit kemudian, Heri sudah berada di dalam bangunan setengah jadi tersebut. Bau semen ba
Menghadapi tekanan fisik dan mental yang begitu masif dari atasannya, Heri tidak berkedip sedikit pun. Sorot matanya tetap sekeras batu karang, menolak untuk tunduk pada gertakan pria di hadapannya.Di bawah intimidasi bertubi-tubi dari Komandan Baskoro, ia tahu bahwa satu kedutan kecil di wajahnya akan menjadi tiket menuju kehancuran total rencana besarnya bersama Sintya.Dengan sikap tenang, tegap, dan cerdas, Heri langsung menyangkal tuduhan tersebut tanpa ada nada gemetar sedikit pun dalam suaranya."Nggak usah asal tuduh begitu, Ndan. Info dari siapa itu? Jelas-jelas salah lihat," ujar Heri, nadanya santai namun sarat akan penegasan yang mutlak.Baskoro mendengus kasar, wajah garangnya semakin mendekat, mencoba mengikis pertahanan mental sang bawahan. "Salah lihat kamu bilang? Ada saksi yang liat bayangan postur tubuh kayak kamu di taman belakang jam dua pagi! Kamu mau ngeles apa lagi, Heri?!"Heri menarik napas pendek dengan teratur, lalu menegakkan punggungnya, sengaja memperli
“Ya sudah kalau gitu—”Kalimatnya terpotong sata hendak mengorek informasi lebih dalam mengenai masa lalu Reno saat isyarat radio HT di pinggangnya berderit dua kali, sebuah kode darurat dari rekan jaganya di gerbang depan kompleks yang menandakan kedatangan mobil operasional pusat.Heri terpaksa menyuruh Sintya pulang lewat jalur belakang dengan ketegasan yang tak bisa dibantah, sementara dirinya bergegas kembali ke pos jaga utama demi menunaikan tugas resminya.Ketegangan beralih ke ranah profesional ketika Komandan Baskoro, kepala yayasan pengamanan yang juga atasan langsung Heri, datang melakukan inspeksi mendadak ke pos jaga.Pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut cepak dan seragam dinas taktis itu turun dari mobil kabin ganda hitamnya dengan langkah yang menghentak bumi. Wajahnya yang garang, dihiasi bekas luka tipis di pelipis kanan, langsung memancarkan aura permusuhan begitu matanya menangkap sosok Heri."Masuk, Heri," perintah Baskoro, suaranya berat dan serak
Kamar utama lantai dua menjadi saksi bisu gempuran liar Heri yang penuh letupan amarah dan frustrasi akibat dikhianati sistem. Di bawah temaram lampu tidur yang remang-remang, atmosfer kamar berubah mencekam sekaligus panas.Heri memperlakukan tubuh Sintya dengan beringas. Setiap entakan dan cengke
Sintya menggeliat kecil saat merasakan kasur pegasnya yang empuk sedikit ambles di satu sisi. Kelopak matanya yang terasa berat perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan temaram lampu tidur berwarna kuning redup yang menerangi kamar utama tersebut. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihata
Heri bangkit dari kursinya dengan sentakan kasar, membuat kursi kayu panjang pos jaga itu bergeser dan menimbulkan suara decit yang memecah keheningan dini hari. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar pipi dan lehernya menegang keras, mencetak garis-garis kemarahan yang kenta
Heri tidak bergerak dari posisinya, tangannya diam-diam meraba kopel seragamnya yang tergantung di dinding pos, memastikan tongkat pemukulnya berada dalam jangkauan.Matanya tetap mengunci pergerakan bayangan yang kian mendekat di bawah temaram lampu jalan yang berkedip redup. Namun, keteg