LOGINHeri Hermawan adalah security di rumah elit yang tidak sengaja melihat majikannya bermain 'solo' dan mendesah yang membuat Heri langsung terdiam mematung melihatnya. Alih-alih dimarahi oleh Sintya, sang majikan. Wanita itu justru menggoda Heri dan memintanya memberikan 'jatah malam' untuknya. Wanita itu memang istri yang kesepian karena suaminya tak pernah pulang. Awalnya Heri takut apalagi ketahuan oleh suami Sintya, namun semakin hari justru Heri sendiri yang lebih berani!
View More“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.
Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang. Pikirannya sempat melayang pada anak perempuannya yang berusia tujuh tahun yang sedang butuh biaya sekolah, sebelum sebuah motor kurir berhenti di gerbang pos.
Heri melihat labelnya: Express – Fragile. Karena ia tahu suami Sintya sedang di luar kota dan asisten rumah tangga mereka sedang pulang kampung, Heri mengambil alih tanggung jawab itu. Ia pun berjalan menuju rumah megah bernuansa minimalis modern tersebut. Pintu depan rupanya tidak terkunci rapat, mungkin Sintya lupa karena merasa aman di dalam kompleks.
“Nyonya? Permisi, Nyonya Sintya? Ini ada paket penting,” panggil Heri pelan saat kakinya melangkah masuk ke ruang tengah yang dingin karena AC sentral.
Tidak ada sahutan. Namun, saat ia melewati lorong menuju kamar utama di lantai bawah, sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Ahhh... mmmhh... sedikit lagi...”
Langkah Heri membeku. Itu bukan suara rintihan sakit, melainkan sebuah simfoni hasrat yang murni. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seirama dengan denyutan yang mulai menjalar ke arah selangkangannya. Heri adalah seorang duda yang sudah terlalu lama memendam gairah, dan suara itu bertindak seperti bensin yang menyiram bara api di dalam dirinya.
Ia seharusnya berbalik. Ia seharusnya meletakkan paket itu di meja ruang tamu dan lari keluar. Namun, rasa penasaran yang primitif justru membelenggu kakinya. Dengan gerakan setenang predator, ia mendekat. Matanya tertuju pada celah pintu yang hanya terbuka beberapa senti.
Dari celah sempit itu, mata Heri membola. Sintya, wanita berusia 33 tahun yang biasanya terlihat sangat anggun dan berwibawa dengan pakaian kantor, kini tampil tanpa sehelai benang pun di atas ranjang king size. Kulitnya yang putih mulus tampak berkilat karena keringat tipis di bawah lampu tidur yang temaram.
Heri menelan ludah dengan susah payah. Sintya sedang telentang, kedua kaki jenjangnya terbuka lebar. Tangan kanannya memegang sebuah alat sex toy berwarna merah muda yang bergetar hebat, bekerja keras di antara kedua pahanya. Sementara tangan kirinya meremas payudaranya yang montok dan berisi, membuat pucuk dadanya menegang menantang langit.
“Gila... montok banget,” bisik Heri dalam hati, matanya tak lepas dari pemandangan itu.
Di balik celana seragamnya, 'sang pengawal setia' milik Heri mulai menuntut kebebasan. Senjata pria itu menegang hebat, berdenyut keras mengikuti ritme napas Sintya yang makin memburu. Heri merasakan sesak yang luar biasa. Ada dorongan purba untuk mendobrak pintu itu, membuang alat plastik tak bernyawa tersebut, dan menggantikannya dengan jemarinya yang kasar, atau membenamkan wajahnya di antara gundukan kenyal yang terus membusung setiap kali Sintya menarik napas.
“Aku nggak nyangka Nyonya se-agresif ini kalau sendirian,” batin Heri lagi, sambil terus menelan ludah yang terasa kering.
“Oohh... iya, di situ... Ahhh! Mas... kamu nggak pernah ada buat aku!” Sintya mengerang keras, tubuhnya melengkung indah saat mencapai puncak. Alat itu ditarik keluar, meninggalkan kilatan cairan yang memantulkan cahaya lampu.
“Coba aja aku yang di sana, pasti Nyonya bakal lebih puas,” ucapnya dengan pelan sambil terus menahan ‘burung’-nya yang hampir lepas yang berdenyut hebat di bawah sana.
Heri terengah-engah hanya dengan menontonnya. Pikirannya sudah kacau balau, membayangkan betapa hangatnya tubuh majikannya itu. Ia terlalu fokus menikmati pemandangan hingga lupa bahwa ia sedang berdiri di ambang pintu orang lain.
“Apa Nyonya sering kayak gini kalau suaminya lagi nggak ada?”
Pikiran Heri terus melayang sambil terus menelan ludahnya berulangkali. Betapa beruntungnya dia, pikirnya. Karena melihat pemandangan surga dunia yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Sintya mulai mengatur napas, lalu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Heri sadar ia harus segera pergi sebelum tertangkap basah. Ia membalikkan badan dengan terburu-buru, namun gerakannya yang kikuk menjadi bumerang.
Prang!
Siku Heri menyenggol vas bunga keramik kecil yang terletak di atas meja konsol tepat di samping pintu. Bunyi pecahannya terdengar seperti ledakan bom di tengah keheningan malam itu. Darah Heri seolah berhenti mengalir. Ia mematung, matanya melotot menatap pecahan keramik di bawah kakinya.
Di dalam kamar, suara desahan itu langsung hilang, berganti dengan keheningan yang mencekam. Heri bisa mendengar suara gesekan kain, tanda Sintya sedang meraih jubah mandinya dengan cepat.
“Siapa di sana?!”
Pintu kayu jati tebal bernomor 304 tertutup rapat dengan dentam halus yang menggema singkat di sepanjang koridor lantai tiga gedung Seni dan Arsitektur.Suasana di dalam studio cuci foto analog itu remang-remang, hanya diterangi pendar merah redup dari lampu safelight di sudut ruangan.Aroma tajam cairan kimia pengembang developer dan fixer menusuk hidung, berpadu dengan bau parfum kayu cendana milik Nathan yang mendominasi udara.Nathan berdiri menjulang di dekat pintu, memutar kunci kuningan dua kali hingga terdengar bunyi klik yang tegas.Pria itu menyandarkan punggung tegapnya di pintu kayu, merapikan kancing lengan kemeja putihnya yang sempat terlepas.Matanya yang tajam melacak sosok Alya yang kini berdiri di tengah ruangan, di antara deretan foto-foto hitam-putih yang tergantung basah pada kawat jemuran kecil."Lo bener-bener makin nekat, Alya," ujar Nathan dengan suara bass rendah yang bergema pelan namun dingin."Menarik gue ke dalam studio tua yang terkunci di tengah jam kul
Deru mesin sports car buatan Jerman milik Nathan meraung halus saat keluar dari area parkir privat basement penthouse.Pagi yang riuh di jalanan utama kota menyambut kendaraan mewah itu, namun di dalam kabin kedap suara bernuansa kulit hitam dan serat karbon tersebut, atmosfernya justru jauh lebih membakar daripada terik matahari di luar.Nathan mengendalikan kemudi dengan satu tangan tebalnya yang berurat.Kemeja putihnya yang tergulung rapi hingga siku dan jam tangan komplikasi rumit di pergelangan tangannya mempertegas aura dingin dan dominan sang pewaris Utama.Matanya yang tajam sesekali melirik ke arah cermin tengah, mengawasi jalanan sebelum beralih pada sosok gadis di kursi penumpang di sampingnya.Alya duduk bersandar santai.Gadis itu kini mengenakan rok lipit abu-abu di atas lutut dan kaus rajut putih yang pas di tubuhnya, pakaian kuliah yang kasual, namun tetap memperlihatkan leher mulus yang sengaja ia tutupi rapat dengan rambut panjangnya.Binar mata bulatnya tak lagi me
Uap tipis dari cangkir kopi hitam yang baru saja diseduh membumbung pelan di atas meja island dapur bersih berlantai marmer.Aroma harum biji kopi kualitas premium berpadu dengan wangi mentega leleh dari panggangan roti yang sedang disiapkan.Suasana pagi di dalam penthouse terasa begitu tenang, dipayungi pendar sinar matahari yang menerobos dari dinding kaca raksasa.Nathan keluar dari master bedroom dengan setelan celana kain hitam dan kemeja putih yang lengannya sudah tergulung rapi hingga ke siku.Pria itu mengeringkan sisa kelembapan di rambut hitamnya menggunakan handuk kecil, sebelum melemparkannya santai ke atas sofa.Binar mata baritonnya yang tajam langsung mengunci sosok Alya yang sedang berdiri membelakanginya di depan kompor induksi.Gadis itu hanya mengenakan kemeja putih oversized milik Nathan yang kancing utamanya sengaja dibiarkan terbuka di bagian atas, memperlihatkan leher mulus dan tulang selangka yang dipenuhi jejak samar kepemilikan Nathan.Kelim kemeja itu hanya
Sinar matahari pagi yang tipis menerobos masuk melalui celah gorden master bedroom penthouse, membiaskan pendar keemasan di atas sprei sutra abu-abu yang kusut tak beraturan.Di atas ranjang berukuran king size itu, Alya masih terkulai lemas dengan rambut panjangnya yang terurai acak.Tubuhnya yang hanya terbungkus selimut tipis memperlihatkan sisa-sisa jejak merah yang ditinggalkan Nathan semalam.Pintu kaca master bathroom yang buram tampak berembun, diiringi suara gemericik kucuran air hangat yang jatuh menghantam lantai marmer.Nathan berdiri di bawah kucuran shower, membiarkan bulir-bulir air hangat membasahi rambut hitamnya dan mengalir menelusuri dada tegap serta perut berototnya yang tegas.Pria itu memejamkan mata sejenak, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk mengusir sisa rasa kantuk.Pikiran sang pewaris Utama masih tertuju pada kepatuhan bulat yang diberikan Alya sepanjang malam tadi.Cklek.Suara geseran halus pintu kaca shower membuat mata bariton Nathan t
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore