تسجيل الدخول"Mau pinjam 300 juta tanpa memiliki jaminan? Gila kamu, Dean. Kamu pikir aku ini bodoh apa, mau kasih pinjam ke bodyguard yang baru seminggu kerja di sini uang sebanyak itu? Setelah aku kasih pinjam, tau tau kamu resign terus kabur. Rugi besar dong aku!" "Saya akan lakukan apapun, Nyonya, asal Nyonya bersedia meminjamkan saya uang 300 juta." Nyonya Alexa memandangi tubuh Dean dari atas ke bawah, tanpa berkedip. Tubuh atletis itu membuat dadanya berdegub kencang. Apalagi, wajah Dean yang begitu maskulin tapi sangat manis saat tersenyum. "Kamu anak ke berapa Dean?" "Lima, Nyonya, dari 7 bersaudara." "Punya penyakit kronis bawaan?" "Tidak, Nyonya" "Golongan darah?" "O, Nyonya." "Bagus, sama dengan suamiku!" "Ukuran?" Dean terdiam, kemudian menatap nyonya Alexa dengan penuh keraguan dan kebingungan. "U...ukuran apa nyonya?" "Kau tahu yang aku maksud, Dean! Aku nggak lagi tanya ukuran sepatu." "Lebih besar daripada kebanyakan pria, Nyonya" Nyonya Alexa tersenyum kecil. "Kemampuan di ranjang, Tuan Yang Ukurannya Diatas Rata-rata?" "Sangat memuaskan, Nyonya" "Baiklah kalau begitu. Akan kukasih kamu pinjam 300 juta, asal kamu bersedia tidur denganku sampai aku hamil. Gimana, bersedia nggak?" "Tapi saya punya kekasih, Nyonya. Kami akan segera menikah." Nyonya Alexa tertawa terkekeh kekeh. "Jangan goblok, Dean! Aku cuma mau hamil anakmu, nggak sampai nikah dan kawin juga sama kamu. Memangnya aku bodoh apa? Membuang suamiku yang kaya raya itu demi bodyguard sepertimu? Bodyguard tampan yang perkasa seperti ini... tidak perlu jadi suamiku, yang suka bikin pusing. Tugasmu cuma satu, Dean. Bikin aku puas di ranjang, kasih aku satu anak, dan setelah itu, kita berpisah. Enak kan? Lagipula, aku ini bukan wanita tua yang jelek, loh." Tangan Alexa menarik tangan Dean yang kekar tapi gemetaran itu ke arah dadanya. Deg! "Mampus aku! Ini tawaran yang sulit banget ditolak. Maafin aku, Veronika" batin Dean.
عرض المزيد"Semoga kamu mati kelindas ban truk, Dean! Atau masuk ke mesin molen waktu mayatmu digotong orang ke kuburan. Enak saja, pinjem duit nggak mau bayar. Aku ini bukan Bapakmu. Bapakmu juga pasti menyesal kalo ngasih duit ke tukang judi kayak kamu."
Dean menatap laki-laki debtcollector di depannya ini dengan tatapan penuh kemarahan. "Ya paham nggak sih, bro. Aku ini baru kalah investasi. Nanti kalau ada uangnya juga kubayar." "Investasi apa nge-slot?" "Investasi!" jawab Dean dengan mata melotot. "Investasi apaan yang bikin kamu bangkrut begini? Mobil kegadai, motor kejual, sertifikat tanah Bapakmu juga kamu gadai. Kalau yang bawah itu laku juga pasti kamu jual kan?" "Makin kurang ajar ya, kamu! Memangnya aku laki-laki macam apa? Harga diri laki-laki itu nomor satu. Lebih baik mati daripada jual diri" "Si brengsek. Terserah kamu lah mau ngomong apa, yang jelas utang km harus segera dibayar. Dua puluh juta." "Dua puluh juta? Ente mau naik haji? Minjem 10 juta kok jadi 20 juta begini? Bunganya gak kira-kira, ya!" "Udah, jangan banyak protes. Kalau nggak bayar, nanti kamu harus bayar pakai tubuhmu!" kata si lelaki sambil melihat tubuh indah Dean. "Najis! Iya, nanti aku bayar!Sana, pulang. Aku mau kerja dulu." Dean memperhatian laki laki kemayu itu ke luar dari rumahnya. Ini benar-benar mimpi paling buruk di dalam hidupnya. Ia lebih baik mati daripada harus melayani napsu lelaki seperti itu. "Mending ketabrak kereta kali, daripada jadi temen tidurmu, najis!" Ia menarik napas panjang dan dalam. Dean bukannya nggak mau bayar hutang, tapi uang yang ada di dompet maupun rekeningnya sama sama kosong. Sebulan lalu, dia menggunakan seluruh uang tabungannya, termasuk uang tabungan pernikahannya dengan kekasihnya, Veronika, untuk investasi kripto. Ia rugi besar. Uang modalnya habis. Tapi, ia harus segera mengembalikan uang tabungan itu ke rekening sebelum kekasihnya tahu. Jika Veronika tahu, dia pasti akan diceraikan, bahkan sebelum menikah. Itulah sumber masalahnya. Demi mengembalikan kekalahannya, Dean mencari modal dengan cara menggadaikan seluruh barang yang ia miliki, maupun orang lain miliki, demi mendapatkan uang. Uang dimasukkan lagi ke dalam akun trading dan ia mengalami kekalahan lagi. Begitu banyak kekalahannya, sampai akhirnya ia tidak sadar, ia telah kehilangan semua hartanya, dan orang di sekitarnya juga sudah habis hartanya. Yang tersisa saat ini hanyalah Dean yang pasrah menghadapi kenyataan. Dean yang harus menutup kuping setiap kali debtcollector mendatangi rumahnya. Pagi itu, dengan berjalan kaki, ia menuju ke rumah besar tempatnya bekerja. Rumah mewah yang dimiliki orang seorang nyonya cantik, yang hanya tinggal sendirian dengan pelayan, satpam, dan bodyguardnya. Selama satu jam, ia berjalan menuju rumah sang nyonya, karena jarak rumah nyonya Alexa dari kontrakannya memang lumayan jauh. Dean memilih berjalan kaki karena memang ia sama sekali tidak punya uang untuk naik angkot, atau sekadar pesan ojek online. "Aku sudah begitu miskin, Tuhan. Kenapa kau turunkan juga panas yang begitu terik di sepanjang jalan? Kenapa cobaan yang kau hadirkan begitu berat, Tuhan. Aku tidak ingin melayani laki-laki bencong itu, Tuhannn...." doa Dean di dalam hatinya. "Kemana lagi aku bisa pinjam uang? Minimal buat makan lah! Tapi semua orang yang dia kenal sudah ia pinjami uang, dan semuanya juga tidak pernah ia bayar hutangnya. Ia tak punya lagi orang yang bisa ia pinjami uang. Apa aku nyolong warteg saja ya? Ya tapi masa nyolong warteg. Bisa bisa aku disiram air dingin kayak kucing. Apa aku pacarin saja ya, janda yang dagang warteg, biar bisa dapat makan gratis tiap hari? Alamak. Masa aku serendah itu harga dirinya. Veronika, pacarku yang manis aduhai itu bisa bisa ceraikan aku sebelum kami sempat menikah kalau ketahuan.Alamak. Biarlah, aku puasa saja!" Tiba-tiba, ia kepikiran satu nama. Nyonya Alexa. *** "Anu, nyonya. Maaf, saya tahu saya lancang. Tapi, apa boleh pinjam uang, Nyonya?" "Boleh." "Benarkah, Nyonya? Terima kasih banyak" "Mau berapa, Dean? 200 ribu?" "Tiga ratus, Nyonya" Nyonya Alexa mengeluarkan uang 300.000 rupiah dari dalam dompetnya. "Nih, besok aku potong dari gajian kamu, ya,"kata Nyonya Alexa sambil menyodorkan uangnya. "Bukan, Nyonya. Tapi 300 juta tapi tanpa jaminan, Nyonya. Karena harta saya semuanya sudah jadi jaminan." "Mau pinjam 300 juta tanpa memiliki jaminan? Gila kamu, Dean. Kamu pikir aku ini bodoh apa, mau kasih pinjam ke bodyguard yang baru seminggu kerja di sini uang sebanyak itu? Setelah aku kasih pinjam, tau tau kamu resign terus kabur. Rugi besar dong aku!" "Saya akan lakukan apapun, Nyonya, asal Nyonya bersedia meminjamkan saya uang 300 juta." Nyonya Alexa memandangi tubuh Dean dari atas ke bawah, tanpa berkedip. Tubuh atletis itu membuat dadanya berdegub kencang. Apalagi, wajah Dean yang begitu maskulin tapi sangat manis saat tersenyum. "Kamu anak ke berapa Dean?" "Lima, Nyonya, dari 7 bersaudara." "Punya penyakit kronis bawaan?" "Tidak, Nyonya" "Golongan darah?" "O, Nyonya." "Bagus, sama dengan suamiku!" "Ukuran?" Dean terdiam, kemudian menatap nyonya Alexa dengan penuh keraguan dan kebingungan. "U...ukuran apa nyonya?" "Kau tahu yang aku maksud, Dean! Aku nggak lagi tanya ukuran sepatu." "Lebih besar daripada kebanyakan pria, Nyonya" Nyonya Alexa tersenyum kecil. "Kemampuan di ranjang, Tuan Yang Ukurannya Diatas Rata-rata?" "Sangat memuaskan, Nyonya" "Baiklah kalau begitu. Akan kukasih kamu pinjam 300 juta, asal kamu bersedia tidur denganku sampai aku hamil. Gimana, bersedia nggak?" "Tapi saya punya kekasih, Nyonya. Kami akan segera menikah." Nyonya Alexa tertawa terkekeh kekeh. "Jangan goblok, Dean! Aku cuma mau hamil anakmu, nggak sampai nikah dan kawin juga sama kamu. Memangnya aku bodoh apa? Membuang suamiku yang kaya raya itu demi bodyguard sepertimu? Bodyguard tampan yang perkasa seperti ini... tidak perlu jadi suamiku, yang suka bikin pusing. Tugasmu cuma satu, Dean. Bikin aku puas di ranjang, kasih aku satu anak, dan setelah itu, kita berpisah. Enak kan? Lagipula, aku ini bukan wanita tua yang jelek, loh." Tangan Alexa menarik tangan Dean yang kekar tapi gemetaran itu ke arah dadanya. Deg! "Mampus aku! Ini tawaran yang sulit banget ditolak. Maafin aku, Veronika" batin Dean. Tiba-tiba omongannya sendiri tadi pagi terngiang-ngiang di dalam kepalanya. "Memangnya aku laki-laki macam apa? Harga diri laki-laki itu nomor satu. Lebih baik mati daripada jual diri" Mengingat kata-katanya sendiri, seketika itu juga Dean menarik tangannya dari tubuh Nyonya Alexa yang indah. "Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa melakukan hal itu." Nyonya Alexa tertawa kecil melihat perilaku Dean. "Kamu tolak aku tapi resletingmu jadi sempit begitu? Munafik sekali, Dean. Itu terserah kamu sih, tapi, coba kamu pikir, bukannya kamu itu bodoh banget, ya? Kamu aku kasih pinjem 300 juta, bahkan aku kasih bonus bisa menikmati tubuhku yang indah ini... kok kamu masih mau menolak? Jelas jelas kamu tertarik sama aku?" Tanpa malu-malu, Nyonya Alexa pun menyenggol sesuatu yang menegang di antara kedua kaki Dean. Seketika itu juga, Dean merasa tubuhnya seperti tersengat listrik. "Gimana? Mau sukarela apa mau dipaksa?"Dengan tangan kosong, ia menarik tangan salah seorang bodyguard yang posisinya berada paling dekat dengannya. Lalu, dengan wajah jijik, ia mencium satu orang pria yang ada di sana. "Selamatkan aku, apapun yang terjadi! Jadilah budakku sampai kau mati!" Pria yang dicium itu tiba-tiba saja terdiam. Lalu, tatapan matanya menjadi kosong. Ia tersenyum ke arah Dean, kemudian menariknya mendekat. Dean memberikan isyarat kepada lelaki yang membelanya. Yang berdiri di pihaknya, bahwa dia sudah mempergunakan sihir ciuman untuk membuat lawan menjadi budaknya selama lima menit. "Kau harus menang dalam lima menit, atau kita berdua akan mati!" kata Dean. Tapi, terlambat, pedang sudah duluan menebas leher pria yang sudah Dean taklukkan. Melihat hal itu, dua orang lawan terkejut bukan main. Pria di hadapannya ini benar-benar teguh dengan keputusannya untuk melawan timnya sendiri. Dean meringis kesal. "Sialan! Sudah kurelakan bibir suci ini nyipok laki-laki, eh setelah berhasil malah
Dean mencoba konsentrasi, berfokus mendengar suara langkah kaki dua orang pria yang bergerak ke arahnya dari arah berlawanan. Satu orang pria berjalan dari bawah, menunjukkan dia datang dari lantai dasar. Sementara, satu pria muncul dari lantai atas. Dean meningkatkan konsentrasinya, dan menyadari, ada suara langkah kaki lain di belakang pria yang berjalan dari lantai atas. Siapakah yang akan mencapainya duluan? Dua orang pria dari atas? Yang ia yakini adalah anak buah Tuan Wijaya. Ia kenal langkah kaki salah seorang orang kepercayaan Tuan Wijaya. Ataukah orang yang berjalan ke arahnya dari lantai bawah? Yang ia yakini adalah suruhan Nyonya Alexa.
"Aku akan membunuhmu, monster!" kata Julia. "Monster? Laki-laki yang menolongmu saat kau tak punya uang untuk bayar kuliah kau sebut monster? Orang yang mengangkatmu dari lumpur kotor dan menjadikanmu nyonya muda yang kaya raya, kau sebut sebagai monster? Kau yang monster, Julia. Aku bahkan membuang istriku yang setia dan berharga hanya demi menyenanhkan hatimu. Tapi kau mengkhianatiku dengan cara yang paling rendah. Siapa di antara kita yang monster, Julia? Katakan!" Perempuan itu tak menjawab. "Maka baiklah, Julia. Aku akan menjadi monster yang paling kau benci di dunia." Dan seketika itu juga, tawa Tuan Wijaya meledak. "Dasar bodoh! Pelurunya sudah habis! Bodoh sekali kamu, Julia." Tangan Julia gemetar. Pistol itu jatuh begitu saja ke lantai. Tuan Wijaya, dengan menyikut wajah cantik Julia dengan tenaga penuh. Membuat gadis itu terlempar ke lantai, membentur tembok, lalu patah giginya. Dean tak diam saja. Ia memanfaatkan kemarahan Wijaya dengan baik. Ia mengambi
Dean melihat ke sekeliling, dan menemukan sebuah ide. Ia menarik ranjang pasien yang beroda, mendoronganya sekuat tenaga ke arah Tuan Wijaya. Lelaki itu tak terkejut, ia hanya menembakkan pistolnya sekali. Dean berhasil menghindar. "Kau menyerah saat akan kutembak kepalamu, tapi kau menghindar saat kejantananmu akan kumatikan? Jadi, kejantananmu itu lebih penting dari kepalamu? Kita lihat, bagaimana anjing anjingku, Salvator dan kawan kawannya menikmati sosis busuk milikmu saat mereka kelaparan! Mana yang kau pilih, Dean? Kepalamu? Atau Kejantananmu?" Dean mempergunakan benda apapun yang ada di sekelilingnya. Ranjang pasien, meja, bahkan infus untuk mengacaukan fokus Tuan Wijaya. Tujuannya bukan menyerang, tapi mengulur waktu. Dean bisa melihat bahwa semakin banyak Tuan Wijaya bergerak, semakin cepat pula detak jantungnya, tapi semakin pucat juga wajahnya. Ia yakin, jantung Tuan Wijaya bermasalah. Itulah sebabnya, dia langsung mengeluarkan pistol. Sehingga ia bisa langsung melu
"Anda telah berada di level pemula tingkat 1, di mana tubuh Anda akan meregenerasi diri sendiri. Apakah Anda tertarik untuk menggunakan kekuatan tersebut?" Dean yang sudah tak berdetak jantungnya, tentu saja hanya diam. "Karena tidak ada jawaban. Maka sistem otomatis dinyalakan!" Secara aja
Mengakhiri penderitaan pria ini. Lalu ia mendatangi Veronika, dan langsung mengiris lehernya di tempat. Kematian Veronika, bagi Alexa, adalah kemuliaan hatinya. "Hukum harus ditegakkan! Tidak ada pengkhianat yang akan mendapatkan ampunan!" Sorak sorai pun terdengar. Dan hari itu, sepasang ke
Veronika tak menjawab. Ia hanya menyembunyikan wajahnya di dada Dean, meneteskan air mata yang begitu derasnya. Jantung Dean berdegub kencang. Ia tahu, ia mencintai wanita itu. Jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Ia menggendong tubuh Veronika yang telah telanjang. Bukannya b
"Sistem?" Tiba-tiba, sistem muncul lagi. "Selamat datang kembali Tuan. Saat ini Anda berada di level Pemula Tingkat 1. Tingkatkan terus poin Anda sehingga Anda bisa naik level." "Kenapa aku tidak bisa membuat seseorang jatuh cinta padaku meski aku sudah menciumnya, bukankah aku sudah punya ke






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.