MasukSaat mereka berdua sedang berbicara, Vans masuk dari pintu samping. Dia berkata dengan kaget, “Julia … kamu lagi main catur?”Jemmy berkata dengan tersenyum, “Julia sudah bisa main catur sejak kecil dulu. Saat di sekolah, dia juga pernah menang kompetisi catur. Dia hebat sekali!”Vans kelihatan sangat kaget, bahkan sangat mengaguminya. Dia pun duduk di samping. “Aku juga mau belajar!”Julia melirik Vans sekilas. “Lebih baik kamu belajar main gomoku saja!”Vans bertanya dengan kaget, “Kenapa?”Julia membalas dengan serius, “Gomoku lebih sulit, lebih cocok dengan IQ tinggimu!”Vans kelihatan gembira. “Terima kasih atas pujian Julia!”Jemmy yang berada di samping pun terus tertawa.…Beberapa hari ini, Hallie pulang sangat larut. Saat pukul sepuluh, dia baru memasuki rumah. Dia pun menyapa Jemmy dan Julia, lalu bertanya dengan perhatian, “Di mana Kakek Aska?”Julia membalas, “Di ruang baca!”Hallie berjalan ke ruang baca di samping ruang tamu. Pintu ruangan tidak tertutup rapat. Belum sem
Setelah pulang ke rumah, Julia turun tangan sendiri untuk menghangatkan makanan di dapur.Ketika Aska melihat kepulangan Theresia, dia pun berkata dengan nada gembira, tetapi terlihat rasa kasihan di atas wajahnya, “Kenapa selalu lembur? Bukannya kamu sudah merekrut banyak karyawan, apa mereka semua nggak bekerja?”Julia berjalan kemari dan berkata, “Karyawan punya tugasnya masing-masing, bos juga punya tugasnya sendiri. Kamu jangan selalu ikut campur. Jeje bisa mengaturnya dengan baik.”Theresia menjelaskan dengan lembut, “Ada urusan di sore hari tadi, makanya aku pulang kerjanya agak malam. Aku akan lebih perhatikan lain kali.”“Kita pergi makan dulu.” Julia menarik tangan Theresia untuk berjalan ke dalam ruang makan.Aska ingin mengikuti langkah mereka, tetapi pada akhirnya dia menahan dirinya. Dia kembali ke ruang baca untuk lanjut minum teh bersama Jemmy.Di dalam ruang makan, Julia duduk berhadapan dengan Theresia. Pelayan menyuguhkan makanan ke atas meja. Setelah itu, pelayan pu
Theresia menaiki taksi kembali ke restoran sebelumnya untuk mengambil mobilnya. Saat duduk di taksi, dia baru kepikiran bahwa dia memiliki janji dengan klien di siang hari tadi. Dia segera menghubungi klien untuk meminta maaf.Klien itu sudah klien lama. Sikapnya juga sangat ramah. “Nona Theresia tidak usah minta maaf. Kami semua juga tahu sudah terjadi kecelakaan di luar restoran. Tadi aku sempat telepon kamu, tapi kamu juga tidak diangkat. Kami sangat khawatir sama kamu. Apa kamu baik-baik saja?”“Nggak apa-apa. Terima kasih atas pengertianmu.”Setelah berbasa-basi beberapa saat, panggilan baru diakhiri.Theresia memeriksa ponselnya lagi. Ternyata ada begitu banyak panggilan tidak diangkat, termasuk panggilan dari Morgan.…Setelah mengambil mobilnya sendiri, Theresia pun duluan kembali ke perusahaan. Setelah tiba, juga sudah tiba pada jam pulang kerja.Saat duduk di dalam ruang kerja, Theresia memikirkan kembali semua yang terjadi di siang hari tadi. Dia merasa semuanya memang terla
Hallie datang kemari bersama dengan Jovita.Ketika Jovita melihat kondisi Roger, dia langsung menyalahkan Theresia dengan murka, “Dasar pembawa sial! Bisa tidak kamu jauhi putraku? Bukannya kalian sudah putus? Kenapa kamu masih mengganggu putraku? Kamu malah menggoda pria dengan mengandalkan wajahmu. Apa kamu tidak tahu malu?”Di dalam rumah sakit, Theresia tidak ingin berdebat dengan wanita yang “tidak waras", dia pun membalikkan tubuhnya untuk berjalan keluar.Jovita masih mengejar. Dia meraih erat tangan Theresia, lalu memperingati dengan ekspresi galak, “Asal kamu tahu, kekasihnya Roger itu Hallie. Kalau kamu berani mengganggunya lagi, aku pasti akan beri pelajaran sama kamu!”“Aku mau semua orang tahu betapa murahannya kamu, malah menggoda kekasih orang lain. Aku pasti akan biarkan kamu tidak bisa tinggal lama di Kota Jembara!”Hallie berdiri di belakang Jovita. Dia berlagak melihat ponselnya tanpa berbicara sama sekali, malahan polisi yang berdiri di samping tidak bisa menahan di
Hallie yang ditatap oleh Morgan pun merinding ketakutan. Dia berpikir kembali, sepertinya tidak ada yang salah dengan omongannya. Hanya saja, entah kenapa, Morgan seolah-olah tetap merasa Morgan bisa membaca pikirannya saja.Morgan telah tiba di luar ruang pemeriksaan. Pada saat ini, Theresia sedang menunggu di luar pintu. Wajahnya kelihatan tidak begitu tenang.Setelah Morgan berjalan mendekat, Theresia baru menyadari keberadaan Morgan. Dia memutar bola matanya dan menunjukkan ekspresi kaget.Morgan mengamati Theresia dari atas hingga bawah. Theresia baik-baik saja, hanya terdapat sedikit luka ringan di bagian lengannya.Theresia bertanya, “Kenapa kamu bisa kemari?”Tidak terlihat ekspresi apa pun di atas wajah Morgan. Tatapannya ketika melihat Theresia menjadi berat. “Apa janjimu kepadaku waktu itu?”Theresia tertegun sejenak. Responsnya sangatlah cepat. Ketika di dalam apartemen malam itu, Morgan memberi tahu Theresia untuk tidak berhubungan dengan Roger lagi. Theresia menggeleng de
Hallie masih terbengong melongo di tempat. Perubahan mendadak itu sungguh mengagetkannya. Ketika orang-orang di sekitar mulai membahas, dia baru tiba-tiba tersadar dari bengongnya, lalu segera menghentikan taksi untuk mengikuti mobil Theresia dan yang lain.Setibanya di rumah sakit, Hallie menuruni mobil, tetapi tidak segera ke dalam, melainkan duluan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon.Panggilan telah berdering selama lima atau enam kali. Ketika dia mengira pria itu tidak akan mengangkatnya lagi, panggilan tiba-tiba terhubung. Suara rendah dan dingin seketika terdengar kemari. “Siapa ini?”Hallie tertegun sejenak, baru berkata dengan panik, “Kak Morgan, sudah terjadi sesuatu. Kamu cepat ke rumah sakit.”Morgan bertanya, “Apa yang terjadi?”Hallie segera berkata, “Theresia dan Tuan Roger ditabrak mobil. Mereka semua masuk ke rumah sakit. Kamu segera kemari!”Hallie bisa merasakan napas orang di ujung ponsel menjadi berat. Suaranya tidak setenang tadi lagi. “Di rumah sakit mana?”Ha
Sonia sudah melangkah hingga pintu keluar dan sedang mengenakan sepatunya. Setelah selesai, perempuan itu menoleh ke belakang dan pamit pulang. “Pak Reza, Tandy, sampai jumpa.”Tandy melihat Sonia yang sudah keluar langsung menoleh ke arah Reza sambil berkata, “Om, papaku sudah mau ulang tahun dan ak
Hana mengedipkan matanya, “Reza, apa maksud kamu ini?”Reza menyapukan sorot mata yang dingin ke wajah Hana, “Apa kamu nggak mengenal mereka?”Hana tertawa dengan suara yang sedikit dipaksakan, “Bagaimana mungkin aku bisa mengenal mereka?”Seseorang yang berjongkok di paling depan, tiba-tiba mengangkat
Keesokan harinya, ketika Sonia bangun, hari sudah terang. Reza tidak ada dan dia sendirian di tempat tidur.Ketika dia turun dari tempat tidur untuk mencari pakaiannya, pahanya bergetar. Dia hampir terjatuh. Dia menghela napas, merasa seolah telah kembali ke masa di mana dia mengikuti pelatihan inten
Pesan sudah dikirim Sonia, tapi dia tidak mendapatkan balasan apa-apa.Hari ini Ranty juga sedang senggang, dia membawa Sonia untuk pergi bersenang-senang, mencicipi masakan baru.Tak disangka di saat meninggalkan restoran, mereka malah bertemu dengan Melvin. Dia dan temannya juga makan di sini. Melvi







