Mag-log inRomantic | Comedy | Adult 21+ Setelah kematian istrinya, Daniel seorang konsultan bisnis berusia 38 tahun, merasa terasing dan terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Putrinya yang berusia 17 tahun, Reina memutuskan untuk menghadirkan Sarah, seorang pengasuh muda, untuk mengurus Daddynya. Dengan harapan Sarah bisa membawa perubahan positif, Reina juga memiliki rencana untuk memperkenalkan Daddynya pada kemungkinan cinta baru. Di tengah perubahan mendadak dan kebingungan awal, Daniel mulai merasakan kehangatan dan perhatian dari Sarah. Seiring waktu, hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih mendalam. Daniel, yang sebelumnya merasa kehilangan arah, menemukan kembali rasa cintanya dan harapan untuk masa depan.
view moreDaniel melangkah masuk ke kamar putrinya tanpa mengetuk.
“Rein, itu apa yang kamu pakai di wajahmu?” “Maskara, Dad,” jawab Reina tanpa menoleh. “Maskara?” “Untuk bulu mata.” Daniel masih belum selesai. “Terus yang itu?” Reina mengembuskan napas sabar. “Daddy… bukannya kemarin Daddy sudah tanya?” Daniel malah menyeringai, lalu menjatuhkan diri ke kasur putrinya dan meraih Ciko, boneka kesayangan Reina sejak kecil. “Daddy, Ciko itu punyaku!” “Daddy cuma mau pastikan Ciko masih dicintai.” Reina menggeleng, tapi tak bisa menahan senyum. Meski kadang mengganggu, ada kehangatan yang selalu muncul dari momen seperti ini. “Gimana? Cantik, kan?” Daniel menyeringai. “Kalau Daddy bilang nggak, nanti kamu ngambek.” “Ihhh. Kalau aku nggak cantik, berarti Daddy juga jelek.” “Daddy ganteng, tahu. Buktinya Mommy-mu dulu...” Reina memutar mata. “Ya, ya. Mommy yang ngejar Daddy, kalian menikah muda, lalu lahirlah aku.” Daniel tertawa puas. “Betul sekali, Putri Daddy.” Reina melirik jam. "Daddy, aku harus berangkat sekarang." "gimana kalau Daddy juga ikut?" “Apa?” “Daddy ikut nonton.” Reina menoleh tajam. “Dad… aku pergi sama Marcel.” Daniel mengangguk tenang. “Daddy tahu.” “Itu kencan.” “Bagus. Daddy juga butuh hiburan.” Reina memejam, kesabaran yang tinggal setipis eyeliner di kelopak matanya. Beginilah Daniel. Ayah tunggal berusia tiga puluh delapan tahun, tampan, sukses, tapi memiliki satu masalah besar— terlalu terikat pada putrinya. Empat belas tahun sejak istrinya meninggal, hidup Daniel hanya berputar antara bekerja… dan Reina. Mengantar. Menjemput. Menemani. Mengikuti. Termasuk saat putrinya kencan. “Dad, aku serius.” Daniel memasang wajah memelas. “Kasihan Daddy sendirian di rumah.” Lagi. Ayahnya menggunakan jurus korban. Dan seperti biasa… Reina kalah. Satu jam kemudian mereka duduk di bioskop. Bukan bertiga. Tapi berlima. Reina, Marcel, Tara, pacar Tara… dan Daniel. Marcel bahkan tak bisa menyentuh tangan pacarnya karena Daniel duduk di antara mereka Tara menahan tawa. “Kenapa Daddy kamu ikut double date?” Reina bersandar lemas. “Karena Daddy kalau ditinggal suka tantrum kayak toddler.” Tara ternganga. Pacarnya ikut tertawa. “Om Daniel serius begitu?” “Serius.” Daniel menoleh. “Daddy dengar.” “Bagus,” gumam Reina. Tara mendekat dan berbisik, “Kasih daddy kamu babysitter aja.” Reina membeku. Seolah ada lampu menyala di kepalanya. Babysitter? Tidak. Daddy sitter. Jantungnya berdetak cepat. Kenapa dia tak memikirkan ini sebelumnya? Kalau ada seseorang menemani Daniel— mungkin ayahnya berhenti menempel padanya. Mungkin ia bisa punya hidup normal. Mungkin… ini solusi. Keesokan harinya, Reina datang ke kantor ayahnya dengan semangat. Ia bahkan membawa kopi favorit Daniel. Namun saat membuka pintu ruang kerja— langkahnya terhenti. Dunia berhenti. Daniel duduk sangat dekat dengan Uncle Marlo. Terlalu dekat. Wajah mereka nyaris bersentuhan di depan layar komputer. Reina tercekat. Kopi di tangannya hampir jatuh. “Daddy?” Daniel dan Marlo sama-sama menoleh. Terkejut. “Reina, tunggu—” Daniel berdiri. Tapi Reina mundur. Tidak. Tidak mungkin. Pikiran liar langsung menyerangnya. Jangan-jangan… ini alasan Daddy tak pernah menikah lagi Tanpa mendengar penjelasan apa pun, Reina berbalik lari keluar. Dadanya sesak. Kalau benar daddynya menyukai pria… tidak, tidak, ia bahkan tak mau menyelesaikan pikiran itu. Harus ada cara. Cara agar Daniel dekat perempuan lagi. Cara membuktikan ayahnya masih tertarik pada wanita. Dan mendadak satu ide liar muncul. Pengasuh. Tapi bukan pengasuh biasa. Cantik. Seksi. Yang bisa menggoda Daniel. Ya. Itu. Begitu sampai rumah, Reina langsung menemukan Bi Rika sedang membersihkan kaca jendela. “Bi!”. Bi Rika menoleh kaget. “Aduh, non, bikin jantung bibi copot saja." “Bi punya kenalan yang mau kerja?” Bi Rika mengernyit. “Kerja apa?” Reina mendekat, menurunkan suara seperti sedang merencanakan kejahatan “Ngasuh Daddy." Hening. Lalu— Bi Rika tertawa terbahak-bahak. “Non Reina ada-ada aja. Masa bapak sendiri di cariin pengasuh?” “Aku serius, Bi.” Melihat wajah serius itu, tawa Bi Rika pelan-pelan berhenti. “Non beneran?” “Iya. Tapi syaratnya—," Reina mengangkat telunjuk. “Harus cantik.” Bi Rika mengedip. “Cantik?” “Dan seksi.” Bi Rika hampir menjatuhkan lap. “Non mau cari pengasuh apa cari istri buat Tuan Daniel?” Reina berpikir. “…Dua-duanya mungkin.” Bi Rika melongo. Lalu seperti teringat sesuatu, ia menepuk dahinya. “Eh, ada!” Reina langsung mendekat. “Siapa?” “Sarah. Tetangga bibi di kampung.” “Gimana orangnya?” Bi Rika menghitung dengan jari. “Muda?” “Iya.” “Cantik?” “Iya.” “Seksi?” Bi Rika mengangguk mantap. “Bodinya kayak model.” Mata Reina berbinar. Jackpot. “Panggil dia.” “Sekarang?” “Besok suruh datang langsung.” Bi Rika masih ragu. “Tapi non… Tuan Daniel tahu?” Reina menyeringai. “Belum.” “Kalau Tuan marah?” “Biar aku urus.” Untuk pertama kali hari itu, Reina merasa lega. Kalau Sarah cukup menarik— mungkin Daniel lupa Uncle Marlo. Keesokan paginya, Reina masih mendiamkan ayahnya. Di meja sarapan, Daniel beberapa kali mencoba membuka percakapan. “Rein, roti panggangmu Daddy buat agak gosong, seperti yang kamu suka.” Tak ada jawaban. Reina hanya menyesap susu tanpa menoleh. “Rein…” Sunyi. Daniel menghela napas pelan. Semalam putrinya marah, karna salah paham. Dan pagi ini… hukuman diam dimulai. Reina bangkit dari kursi, membawa piring ke wastafel, lalu berjalan ke teras belakang tanpa sepatah kata. Di taman, Daniel sedang duduk jongkok di dekat pot bunga sambil berbicara dengan Milo. “Kalau kakakmu terus marah begini, tinggal kamu yang sayang Daddy ya.” “Meow.” Daniel mengangguk serius. “Benar. Perempuan memang rumit.” “Meow.” Reina yang mendengar dari kejauhan hampir tergelak, tapi ia menahan diri. Tidak. Ia masih marah. Namun justru melihat ayahnya bicara pada kucing seperti itu membuat keyakinannya makin kuat. Daddy memang kesepian. Daddy butuh teman. Atau pengasuh. Diam-diam ia mendekati Bi Rika yang sedang menyapu halaman. “Bi,” bisik Reina. Bi Rika mendekat. “Ya, non?” “Sarah sudah jalan?” Bi Rika mengangguk. “Sudah, non. Tadi subuh berangkat. Siang nanti sampai.” Jantung Reina berdegup cepat. Misinya berjalan. “Bagus.” “Non yakin ini ide bagus?” Reina melirik Daniel yang kini sedang mengangkat Milo ke atas pangkuannya. “Lihat Daddy.” Daniel sedang berkata pada kucing itu— “Nanti kalau Reina menikah, Daddy sama kamu tinggal berdua, Milo.” “Meow.” Reina menatap Bi Rika. “Kalau itu bukan tanda Daddy butuh pengasuh, aku nggak tahu lagi apa.” Bi Rika menahan tawa. “Tapi kalau Tuan Daniel ngamuk?” Reina menyeringai kecil. “Biar. Aku sudah siapkan kejutan.” Saat itu Daniel menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat ada kesedihan di mata pria itu. “Rein… masih marah sama Daddy?” Reina membuang muka. Belum. Belum sebelum Sarah datang. Belum sebelum ia tahu kecurigaannya tentang Uncle Marlo salah. Hari ini akan jadi pembuktian. Dan kalau rencananya berhasil— hidup mereka akan berubah. Jika gagal… mungkin justru jadi bencana.Pada hari Minggu, suasana rumah Daniel terasa sedikit berbeda. Reina seperti biasa berpamitan riang sebelum pergi berenang bersama teman-temannya. Dengan tas besar di pundaknya, ia tersenyum pada Sarah yang berdiri di dekat pintu. “Kak Sarah, aku pamit dulu ya. Nanti sore baru pulang,” ucap Reina ceria sambil melambaikan tangan. Sarah membalas dengan senyum lembut, “Hati-hati, Non Reina.” Setelah Reina pergi, rumah menjadi sepi. Hanya ada Sarah dan Daniel karena Bi Rika sedang libur mingguan untuk berkumpul dengan keluarganya. Kesadaran bahwa mereka hanya berdua membuat Sarah sedikit gugup, meski ia tetap berusaha menjalankan tugas seperti biasa. Ia mulai beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang, tetapi tubuhnya mulai terasa tidak enak. Nyeri haid hari pertama mulai datang, membuatnya beberapa kali memegangi perut sambil tetap berusaha bekerja di depan meja dapur. Di ruang keluarga, Daniel memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat Sarah tampak pucat dan sering berhenti bergerak,
Dengan lembut, Daniel memegang tangan Sarah yang masih berada di bahunya, mencoba menghentikan sentuhan itu. "Kau bisa kembali tidur, Sarah" ucapnya dengan suara yang nyaris berbisik, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengembalikan situasi menjadi lebih normal.Sarah menarik tangannya dengan perlahan, menyadari bahwa mungkin ia sudah melampaui batas. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin membantu" katanya pelan, menundukkan kepala sebelum mundur perlahan menuju pintu.Sementara itu, Daniel tetap duduk di kursinya, jantungnya berdebar kencang, masih terguncang oleh keintiman yang baru saja terjadi.Sarah keluar dari ruang kerja dengan raut wajah kecewa, dan Daniel bisa merasakan hal itu.Dia bukan tidak menghargai perhatian dan bantuan Sarah, namun ada sesuatu yang tidak bisa dikendalikannya- sesuatu di dalam dirinya yang mulai bangkit, terutama di bawah sana. Pikirannya tak henti-hentinya terjebak pada sentuhan lembut Sarah, bagaimana tangannya menyentuh dan meremas bahunya dengan kehang
Tangan Daniel secara alami berada di punggung Sarah, sementara tangan satunya memeluk Reina dan Milo.Sarah merasakan kehangatan tangan Daniel di punggungnya, sebuah sentuhan yang membuatnya merasa nyaman namun juga membuat jantungnya berdebar.Di sisi lain, Daniel juga merasakan kehangatan yang sama, menyadari betapa berbeda dan mendalamnya momen ini dibandingkan dengan pelukan biasa antara dia dan putrinya.Dalam pelukan itu, mereka berdua saling merasakan kehangatan dan keterhubungan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.Walaupun awalnya pelukan ini terasa canggung, dalam beberapa detik, semuanya menjadi lebih alami dan sarat dengan kehangatan yang membuat mereka merasa aneh sekaligus nyaman.Reina yang berada di tengah tersenyum kecil, mengetahui bahwa usahanya untuk mendekatkan mereka perlahan-lahan mulai berhasil.Setelah satu menit berpelukan, Daniel membisikkan lembut, "Sudah satu menit." Dia lalu melepaskan tangannya, dan suasana menjadi canggung kembali. Baik Daniel maup
Pagi itu, Sarah sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Dengan teliti, ia membuat roti dengan telur mata sapi dan menyeduh kopi untuk Daniel, sementara susu coklat sudah disiapkan untuk Reina. Namun, ketika melihat jam menunjukkan pukul 6, Sarah mulai khawatir karena belum ada yang keluar dari kamar. Sarah berjalan menuju kamar Daniel dan mengetuk pintunya dengan hati-hati. Tidak ada jawaban. Merasa ragu, dia mencoba memutar gagang pintu, dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan cemas, Sarah memberanikan diri untuk masuk. Kamar itu masih gelap, dan Sarah melihat bahwa Daniel masih tertidur di atas kasur, hanya tertutup selimut hingga sebatas dadanya. Cahaya pagi mulai masuk setelah Sarah membuka tirai, tetapi Daniel tampaknya masih terlelap dan tidak terganggu oleh cahaya tersebut. Dengan ragu-ragu, Sarah mendekat ke kasur, matanya tertuju pada tubuh Daniel yang terlihat gagah di balik selimut. Dia ingat instruksi Reina bahwa jika Daniel tidak bang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.