FAZER LOGINSepuluh tahun telah berlalu sejak badai fitnah terakhir yang mencoba meruntuhkan pondasi keluarga mereka. Di halaman belakang kediaman Adrian dan Nafisa yang asri di pinggiran Yogyakarta, angin sore berhembus membawa aroma melati yang mekar dan mawar dengan sempurna. Keheningan yang ada bukanlah sunyi yang hampa, melainkan keheningan yang penuh dengan rasa syukur; sebuah muara dari perjalanan panjang dua jiwa yang pernah terlempar melintasi batas dimensi.Hari itu adalah hari yang istimewa. Meja panjang yang ada di teras halaman belakang telah ditata dengan berbagai hidangan tradisional. Nafisa, yang kini telah menginjak usia kepala lima namun tetap memancarkan aura ketenangan yang luar biasa, sedang merapikan piring-piring. Gerakannya masih selembut dahulu, namun ada kemantapan yang lebih dalam di setiap langkahnya."Mereka sudah sampai di gerbang depan, Sayang!" seru Adrian dari arah beranda.Adrian, dengan rambut yang kini memutih secara terhormat di bagian pelipisnya, melangkah m
Dunia digital adalah pedang bermata dua, dan Siska tahu benar cara mengayunkannya untuk melukai. Hanya berselang dua puluh empat jam setelah keributan di panti asuhan, sebuah video berdurasi sepuluh menit muncul di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, Siska tampil dengan wajah yang sengaja dibuat pucat, rambut yang sedikit berantakan, dan air mata yang mengucur deras."Saya hanya seorang ibu yang baru saja menebus kesalahan saya di penjara," isak Siska di depan kamera. "Tapi saat saya keluar, saya mendapati anak saya, telah dicuci otaknya oleh Nafisa. Dia menggunakan alasan masuk pondok untuk menjauhkan darah daging saya sendiri. Sekarang anak saya menolak saya. Tolong saya, netizen... Nafisa dan Emran pemilik `Banyu Grafika telah merampas segalanya dari saya, termasuk hak saya sebagai ibu."Video itu meledak. Dengan algoritma yang haus akan drama, pengakuan Siska menjadi viral dalam hitungan jam. Tagar #KeadilanUntukSiska dan #BoikotBanyuGrafika mulai bermunculan. N
Satu minggu pertama tanpa Dion adalah waktu yang terasa berjalan merangkak bagi Nafisa. Setiap kali ia melewati kamar putra sulungnya itu, ia secara otomatis akan berhenti, berharap melihat senyuman Dion atau sekadar melihat tumpukan buku sekolah yang biasanya berserakan. Rumah terasa begitu luas dan sunyi, meskipun Arlan tetap berusaha meramaikan suasana dengan mainan robot-robotannya.Namun, di sore hari yang teduh, saat Nafisa sedang merapikan taman belakang, ponselnya bergetar. Panggilan dari nomor asing tertera di layar. Panggilan itu masuk di nomor pribadinya, tak banyak yang tahu kecuali sangat penting. Dalam hati ia bahkan berharap Dion yang menghubunginya. Dengan jantung yang berdebar kencang, Nafisa segera menggeser tombol hijau."Assalamu’alaikum, Mama..."Suara itu. Suara yang sedikit parau namun terdengar lebih mantap dari biasanya. Air mata Nafisa langsung menggenang tanpa permisi."Wa’alaikumsalam... Dion? Ini kamu, Sayang?" suara Nafisa bergetar hebat."Iya, Ma. Ini Di
Keputusan itu datang pada suatu sore yang tenang, saat semburat cahaya oranye matahari terbenam membasuh gazebo rumah mereka. Dion, yang kini telah menunjukkan guratan kedewasaan di wajah remajanya, duduk bersimpuh di hadapan Emran dan Nafisa. Tidak ada gadget di tangannya, tidak ada pula permintaan tentang hadiah ulang tahun. Yang ada hanyalah sebuah tekad yang telah ia simpan rapat-rapat selama berbulan-bulan."Mama, Papa... Dion sudah memantapkan hati. Dion ingin melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren di Jawa Timur," ucapnya dengan suara rendah namun stabil.Nafisa, yang sedang menuangkan teh, tertegun. Cangkir porselen di tangannya berdenting pelan saat bersentuhan dengan meja."Jawa Timur, Sayang? Itu sangat jauh. Kenapa harus ke sana? Di sini juga banyak pondok yang bagus, atau kita bisa panggil ustadz terbaik ke rumah untuk privat."Dion menggeleng pelan. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuat Nafisa teringat pada keteduhan yang sering ia liha
Waktu mengalir seperti sungai yang tenang di kediaman Emran dan Nafisa. Kehidupan mereka telah mencapai titik keseimbangan yang sempurna. Banyu Grafika kini berdiri sebagai mercusuar industri kreatif di Yogyakarta, sementara Yayasan Aimallah terus menebar manfaat hingga ke pelosok desa. Namun, di balik semua kesuksesan profesional itu, kebahagiaan sejati mereka justru terpancar dari riuh rendah suara di meja makan setiap pagi.Dion telah tumbuh menjadi remaja awal yang cerdas dan penuh pengertian, sementara Arlan, si bungsu yang lincah, menjadi magnet keceriaan bagi siapa pun yang memandangnya. Nafisa, yang kini memasuki usia matang, tetap memancarkan kecantikan yang teduh; sebuah kecantikan yang lahir dari jiwa yang telah selesai dengan masa lalunya.Menjelang ulang tahun Nafisa yang ke-40, Adrian merencanakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin pesta mewah atau perhiasan mahal. Ia merindukan waktu berdua. Ia merindukan percakapan panjang tanpa interupsi tentang tugas sekolah atau l
Langit di atas Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) tampak muram, diselimuti mendung abu-abu yang seolah ikut merasakan duka yang merayap di bumi Kulon Progo. Angin laut selatan berhembus kencang, membawa aroma garam dan tanah basah, menyambut kedatangan sebuah pesawat kargo yang membawa peti jenazah berselimut kain hijau dengan bordir kaligrafi emas.Fatih telah berpulang. Ia menghembuskan napas terakhirnya di usia 63 tahun, meninggalkan dunia yang pernah begitu keras menempa jiwanya. Penyakit jantung yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat akhirnya menjemputnya di suatu sore yang tenang di Jakarta. Ia pergi dengan senyum tipis, seolah telah menyelesaikan seluruh kontraknya dengan kehidupan.Jasmine Aurora turun dari pesawat dengan langkah yang gontai. Wajahnya yang dulu penuh energi kini tampak layu, sembab oleh tangisan yang tak kunjung usai. Di belakangnya, Adrian dan Nafisa melangkah dengan khidmat. Mereka sengaja terbang ke Kalimantan segera setelah mendengar kabar duka itu







