LOGINZephir sudah duduk di kursi sebelahnya.“Paman.” Nathan menyodorkan rokok. “Cih! Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana.”Zephir mengisap rokoknya pelan. “Kamu tak perlu melakukan apa pun. Para gadis itu cukup dewasa untuk mengurus perasaan mereka sendiri.” Ia menoleh, tatapannya tajam namun tenang. “Wanita tidak seharusnya menjadi pusat kecemasanmu. Fokusmu harus ada di tempat lain.”Nathan terdiam, lalu mengangguk.Sedikit demi sedikit, beban di dadanya mengendur.Namun jauh di dalam dirinya, sebuah firasat berbisik ini baru awal dari kekacauan yang lebih besar.***Kota Moniyan, gedung Parlemen berdiri tenang di bawah langit siang.Pintu aula utama terbuka cepat. Paul melangkah masuk dengan wajah serius. “Tuan Ryujin, tim misi diplomatik dari Negara Solara telah tiba. Mereka menunggu di luar.”Ryujin mengangguk pelan. “Biarkan mereka masuk.”Tak lama kemudian, Paul mempersilakan rombongan itu masuk. Di barisan depan berdiri seorang pria paruh baya berjanggut rapi—Seiji Valmorin, pe
Elara menatap sekitar dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Sulit dipercaya… setelah ribuan tahun, dunia berubah sejauh ini.”Ia mengerutkan kening. “Energi spiritual di sini terlalu tipis. Untuk berkultivasi hampir mustahil. Bahkan mengeluarkan dua pertiga kekuatan tubuh fisik ini saja terasa berat.”Nathan menoleh. “Tidak ada cara lain untuk memulihkan kondisimu?”Dalam pikirannya, Elara bukan sosok biasa. Roh di dalam tubuh itu telah hidup ribuan tahun, wanita suci dari Lunar Sanctum. Mustahil jika ia benar-benar tak punya jalan keluar.Elara terdiam sejenak.Tatapannya mengeras, seolah mengingat sesuatu yang lama terkubur. “Cara itu ada,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. “Tapi jika aku menggunakannya, dunia ini tidak akan pernah sama lagi.”Elara menggeleng perlahan. Wajahnya serius, nada suaranya turun satu tingkat.“Maka dari itu tidak bisa. Energi spiritual di dunia ini terlalu tipis. Rasanya seperti ada lapisan pengekang, sebuah kekuatan terlarang yang membatasi pertumbuha
Raze menatap wajah Nalan, tidak ada sedikit pun tanda bercanda. Akhirnya, ia tersenyum tipis. “Kalau begitu, izinkan aku memperjelas maksudku.”Ia mengangkat kedua tangannya sedikit. “Aku tidak berniat menjadi musuh Nathan. Jika nanti ada pertukaran dan latihan bersama, murni sebagai sesama praktisi bela diri. Tanpa niat tersembunyi.”Nalan terdiam sejenak.Di dunia bela diri, menolak latihan bersama justru akan memicu kecurigaan.“Latihan dan pertukaran boleh,” kata Nalan akhirnya. “Tapi hanya sampai di situ. Jika kau melampaui batas, yang akan menyesal bukan kami.”Raze mengangguk cepat. “Tentu. Nathan berada di sisi Keluarga Island, berarti juga berada di jalur yang sama dengan Dune Hall. Aku tidak sebodoh itu.”***Waktu melaju tanpa menunggu siapa pun.Tanpa terasa, dua hari berlalu begitu saja. Besok, upacara peresmian Klan Draken Ascalon akan digelar. Seluruh wilayah kediaman utama sudah berubah menjadi lautan kesibukan.Anggota Keluarga Zellon bergerak serempak, masing-masing
Raze tidak berputar-putar. “Mungkin Paman tidak mengenal keluargaku. Tapi Paman pasti mengenal Dune Hall.”Wajah Nalan berubah seketika. “Keluarga Mordren… perwakilan Dune Hall?”Sekeping demi sekeping langsung tersusun di benaknya. Dalam Sektor Bayangan, hanya perwakilan resmi yang mengetahui jalur-jalur rahasia antar aula.Dune Hall dan Keluarga Island pernah berjalan berdampingan. Tidak sering, tapi cukup untuk saling mengenali.“Benar,” jawab Raze tenang. “Keluarga Mordren telah berada di dunia fana selama ratusan tahun. Kami hanya memilih muncul sekarang.”Nalan menghela napas pelan. “Kupikir kami sudah cukup dalam bersembunyi. Ternyata masih banyak yang lebih rapi menutup jejak.”Ia melirik Chelsea sekilas. Di matanya terpantul kelelahan yang pahit. Tak peduli kekuatan, tak peduli perhitungan. Dalam banyak hal, ia merasa telah tertinggal.“Ada satu hal lagi, Paman Nalan,” ucap Raze Mordren sambil melipat tangannya di belakang. “Dalam dua hari ke depan, akan cukup banyak keluarga
“Kamu punya artefak tingkat Origin,” suara dingin bergema di dalam kepalanya. “Namun hatimu sudah lebih dulu runtuh. Selama Nathan berdiri di depanmu, kultivasimu akan mandek.”Kaidar tersenyum pahit. “Apa gunanya artefak Origin jika aku tetap tak bisa menyentuhnya?”Ia teringat sosok wanita di sisi Nathan. Dengan ketenangan dan tekanan yang bahkan artefak pun enggan melawan.“Posisimu sebagai pemimpin Martial Shrine mengikat kakimu,” suara itu melanjutkan. “Tinggalkan dan tetap fokus pada kultivasi.”“Kursi ini memang seperti jarum,” jawab Kaidar pelan. “Tapi tanpa kekuatan, duduk di mana pun hasilnya sama.”Ia sudah tahu bahwa Martial Shrine tak lagi disegani. Banyak klan kini lebih memilih menatap ke arah Draken Ascalon.Saat itulah udara di aula berubah. Kabut hitam merembes dari sudut ruangan membuat udara turun drastis.Seorang pria berjubah gelap berdiri di tengah aula. Garis perak di jubahnya berkilau dingin.Kaidar bangkit dan langsung berlutut. “Bawahan memberi hormat kepada
Tak lama kemudian, forum bela diri meledak. Klan Draken Ascalon membuka perekrutan. Nama Nathan menyebar dengan cepat seperti api dihembus angin.“Dia ditekan Martial Shrine, tapi malah mendirikan klan sendiri?!”“Klan Draken Ascalon? Gila… aku harus ikut!”“Dengan Nathan sebagai pemimpin? Itu taruhan yang layak.”Namun ada alasan lain yang tak diucapkan banyak orang.Saibu Care.Penguasanya Nathan, pemimpin Klan Draken Ascalon juga Nathan. Memiliki Saibu Care dan memimpin Klan Draken Ascalon berarti satu hal sederhana: Nathan tidak perlu berpura-pura netral karena ia tahu prioritasnya, dan dunia juga akan segera tahu.Berita pendirian Klan Draken Ascalon menyebar cepat di Moniyan. Ucapan datang silih berganti, dari Keluarga Alvaro, Keluarga Arteta, Keluarga Island, hingga faksi-faksi tua seperti Calderon dan Organisasi Matilda.Nelson bersama para tetua Ravensclaw sempat menyatakan niat bergabung. Nathan menolaknya tanpa basa-basi.Dragnows adalah bayangan lama. Klan Draken Ascalon h







