登入Logan terdiam selama beberapa detik setelah mendengar pertanyaan Alexia. Pupil matanya sedikit melebar, seolah baru saja menyadari sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatiannya.Sejak reporter itu menyinggung perjalanan mereka ke Afrika, Alexia juga terus memikirkan hal yang sama. Bagaimana orang itu bisa mengetahuinya?"Menurutmu bagaimana?" tanya Alexia.Logan tidak langsung menjawab. Dia berjalan menuju meja kecil di samping ranjang, kemudian meletakkan sesuatu yang dibawanya."Mungkin ada stasiun berita lokal yang membocorkan informasi tersebut. Tidak perlu terlalu dipikirkan.""Benarkah?""Ya, Alexia."Nada suaranya terdengar tenang. Namun, Alexia cukup mengenalnya untuk mengetahui bahwa jawaban itu sebenarnya hanya ditujukan agar dirinya tidak ikut khawatir.Logan sendiri jelas masih memikirkan masalah tersebut. Pria itu mulai melepaskan jam tangannya, kemudian melanjutkan dengan beberapa aksesori lain. Alexia pun melakukan hal serupa. Tak lama kemudian, keduanya sudah bergan
Alexia terus memperhatikan Logan yang berjalan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, pria itu menghilang di balik pintu, meninggalkannya sendirian di kamar.Lebih dari dua puluh menit berlalu sebelum mereka berdua selesai mandi dan bersiap-siap. Logan sudah berpakaian rapi ketika Alexia masih sibuk dengan gaunnya. Perempuan itu berusaha menarik resleting di bagian belakang, tetapi benda kecil itu seolah sengaja mempersulitnya.Alexia mendengus kesal.Melihat tingkahnya, Logan tanpa sadar terkekeh. "Tenanglah. Biar kubantu."Dia melangkah mendekat, membuat Alexia akhirnya menyerah. Kedua tangan perempuan itu turun ke sisi tubuhnya, memberikan kesempatan kepada Logan untuk membantu menutup ritsleting gaunnya.Gerakan sederhana itu justru membuat Logan terdiam sesaat. Ada kepercayaan dalam sikap Alexia yang tidak bisa diabaikannya. Perempuan itu membiarkannya berada sedekat ini tanpa menunjukkan penolakan, dan entah mengapa, hal tersebut membuat Logan merasakan sesuatu yang sulit dijela
Setelah meninggalkan ruang makan, Logan berjalan menuju kamar. Dia mengambil laptop dari dalam tas, lalu duduk di tepi ranjang dengan harapan bisa mengalihkan pikirannya melalui pekerjaan. Namun, amarah yang memenuhi dadanya tidak kunjung mereda.Biasanya, bekerja merupakan cara paling ampuh baginya untuk melupakan masalah. Akan tetapi, sore itu pikirannya terlalu kacau untuk berkonsentrasi. Setelah beberapa menit menatap layar tanpa menghasilkan apapun, Logan akhirnya menyerah. Dia menutup laptop dan meletakkannya di meja samping ranjang.Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya, memejamkan mata, dan mencoba tidur. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Dia terus berguling ke kanan dan kiri, tidak mampu menemukan posisi yang nyaman. Perasaan kesal masih membebani dadanya, tetapi jika dipikirkan baik-baik, sebagian besar kemarahan itu sebenarnya ditujukan kepada dirinya sendiri, bukan Alexia.Logan menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dan duduk di tepi ranjang. Sejak kejad
Sepanjang malam itu, pikiran Alexia terus dihantui oleh rencana liburan yang sudah menunggunya. Sejujurnya, dia masih ragu untuk pergi bersama Logan. Namun, mengenal pria itu, kemungkinan besar Logan tidak akan menerima penolakannya begitu saja.Lagi pula, mungkin perjalanan ini tidak akan seburuk yang dibayangkannya.Dua hari berikutnya berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, pagi yang ditunggu-tunggu sekaligus dikhawatirkan Alexia akhirnya tiba. Hari itu, mereka akan berangkat ke Paris.Logan bangun lebih awal darinya. Bahkan, ketika Alexia selesai bersiap-siap, pria itu sudah menunggunya selama lebih dari satu jam.Andy, sopir pribadi Logan, mengantar mereka ke bandara. Logan rupanya sudah menghubungi pihak bandara sebelumnya sehingga jet pribadi mereka telah disiapkan. Mulai dari menaikkan koper hingga duduk di dalam pesawat dan lepas landas, semuanya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.Menjelang tengah hari, mereka akhirnya tiba di Paris. Awalnya, Alexia merasa berseman
Matahari siang itu bersinar terik ketika Alexia tiba di sebuah bar. Panasnya seolah membakar jalanan tanpa ampun. Ia sebenarnya sudah merasa bosan berdiam diri di rumah sepanjang sore, sehingga akhirnya menghubungi Megan untuk mengajaknya keluar.Kini, empat puluh lima menit telah berlalu sejak panggilan itu. Cuaca terasa semakin panas, membuat Alexia segera melepas kacamata hitamnya sebelum mendorong pintu bar.Begitu masuk, wajahnya langsung berseri-seri ketika melihat Megan, Karin, dan Leon sudah duduk bersama di sisi kanan ruangan.Alexia menghampiri mereka dengan senyum lebar. Karin menjadi orang pertama yang menyadari kedatangannya, disusul Megan dan Leon yang langsung menyambutnya dengan ramah.Setelah bertukar kabar, Alexia duduk di kursi kosong yang memang disiapkan untuknya. Keputusan untuk menghubungi Megan ternyata tepat. Setiap kali berkumpul bersama teman-temannya, Alexia selalu berhasil melupakan sejenak segala masalah yang membebani pikirannya. Mereka bisa tertawa memb
Setelah menyelesaikan pidatonya di Tecnológico de Monterrey, Logan Wilson akhirnya berhasil membuka jalan bagi kerja sama pendidikan yang menjadi bagian dari proyek Titan. Alexia merasa bangga melihat perkembangan tersebut. Proyek yang awalnya ditolak banyak investor kini mulai mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Namun, di balik keberhasilan itu, pikiran Alexia tetap tertuju pada adiknya, Alicia.Tujuh tahun telah berlalu sejak Alicia menghilang tanpa jejak. Alexia datang ke dalam kehidupan Logan dengan harapan pria itu dapat membantunya menemukan sang adik. Sayangnya, sampai sekarang, ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.Ketika mereka hendak meninggalkan Meksiko, cuaca buruk sempat menghambat perjalanan. Logan yang tidak menyukai perubahan jadwal terlihat kesal, tetapi akhirnya mereka berhasil kembali ke New York keesokan harinya.Setibanya di rumah, Logan langsung menuju ruang kerjanya, sedangkan Alexia beristirahat. Tak lama kemudian, sebuah surel dari alamat tak dik







