Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!

Jangan Dengarkan Pikiranku, Suamiku!

last updateLast Updated : 2026-10-15
By:  CyntaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Kalau Leon bisa mendengar isi kepalaku, aku pasti mati karena malu!" Selama dua tahun, Gisella menyembunyikan kesepian dan hasratnya di balik sikap seorang istri sempurna. Namun setelah mengalami kecelakaan, Leon tiba-tiba mampu mendengar setiap pikiran yang tidak pernah berani diucapkan istrinya. Gisella tidak tahu bahwa, suami dinginnya kini sengaja menggoda dan mewujudkan fantasinya satu per satu!

View More

Chapter 1

Bab 1 Suara Bisikan Siapa?

'Kalau Leon meninggal malam ini, aku akan jadi janda atau tetap dianggap perawan?’

Gisella memandangi suaminya yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan perasaan campur aduk.

Perban tipis melingkari kepala suaminya, sementara wajah laki-laki itu terlihat pucat.

Sudah hampir dua jam ia belum membuka mata sejak mobil mereka mengerem mendadak dan kepalanya menghantam setir. Itu semua karena ia menahan Gisella agar tidak terluka dengan lengannya.

“Aku bukannya mengharapkan kamu mati,” bisiknya. “Tapi kalau pernikahan kita belum pernah ada apa-apa, aku hitungannya perawan atau janda ya? Atau janda yang perawan?”

Gisella mengernyit dahinya, sementara kepalanya ia tumpu dengan tangan, menatap pria itu yang terbaring.

Selama dua tahun menikah karena dijodohkan, mereka tidak pernah satu ranjang yang sama.

Begitupun, Leon selalu pulang larut, bekerja di ruang pribadinya.

Di hadapan keluarga, mereka adalah pasangan sempurna. Di balik pintu kamar, Gisella lebih sering merasa tinggal bersama seorang pria asing dalam satu atap yang sama.

Tiba-tiba, jemari Leon mendadak bergerak.

Gisella segera bangkit. “Leon?”

Mata laki-laki itu perlahan terbuka. Pandangannya bergerak menyusuri langit-langit, infus di tangannya, lalu berhenti pada wajah Gisella yang hanya berjarak beberapa senti.

“Kamu.. udah bangun?” Gisella menekan tombol panggil di samping ranjang. “Apa kepalamu masih sakit?”

Leon tidak langsung menjawab. Dahinya justru berkerut. “Aku belum mati,” gumamnya serak.

Gisella tersenyum kecil, menuangkan air ke dalam gelas. “I-ya.”

“Dokter bilang hanya geger otak ringan. Kamu mungkin boleh pulang malam ini kalau tidak ada keluhan lain.”

Gisella membantu Leon bangun, kemudian mengarahkan gelas ke bibirnya. Tatapan pria itu tidak beralih sedikit pun dari wajah Gisella hingga membuat tangannya mulai terasa kikuk.

‘Kenapa dia menatapku seperti itu? Jangan-jangan benturannya jadi lupa?! Apa.. aku bilang saja. Kalau aku… bukan istrinya?’

“Aku tahu kamu istriku,” ujar Leon yang membuat Gisella mendongak.

Gisella menghentikan gerakan tangannya. Lalu menukik alis. Matanya menatap Leon lekat-lekat. Kenapa… ia bilang dirinya istrinya?

Leon ikut terdiam. Ia memperhatikan wajah sang istri lebih saksama, mencari tanda bahwa Gisella sedang mempermainkannya. “Aku hanya memastikanmu kalau aku ingat.”

Jawabannya membuat Gisella menghela, lalu menyodorkan gelas minum. “Minum dulu.”

Leon menurut tanpa melepaskan tatapannya.

‘Aku hanya memastikan kalau aku ingat. Bukankah ia sering pulang malam sampai ia tak ingat punya pasangan? Bilang saja istri pajangan..’

Leon menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada orang lain di dalam ruangan. Ketika pandangannya kembali kepada Gisella, istrinya sedang sibuk merapikan selimut sambil menunduk.

‘Baru bangun sudah menyebalkan.’

Alis Leon terangkat tipis. “Kamu bicara padaku?”

Gisella langsung mendongak lalu menggeleng. “Tidak.”

“Kamu tadi mengatakan sesuatu.” sanggah Leon membenarkan posisi kepalanya.

“Aku tidak mengatakan apa-apa.” bela Gisella kikuk merapikan barangnya ke tas.

Leon menatapnya beberapa detik. Kepalanya memang masih berdenyut, tetapi ia yakin tidak sedang berhalusinasi.

Pintu kamar terbuka sebelum ia sempat bertanya lagi.

Seorang perawat mengeceknya dan Gisella berdiri di samping ranjang sambil menjawab beberapa pertanyaan mengenai kecelakaan mereka. Setelah perawat keluar, Gisella kembali mendekati ranjang. Ia membungkuk untuk mengambil tas di lantai, membuat garis leher gaunnya sedikit terbuka di depan Leon.

Gisella segera berdiri tegak ketika menyadari arah tatapan suaminya. “Kamu… perlu sesuatu?”

“Tidak.”

‘Apa kepalanya benar-benar terbentur? Tingkahnya aneh!’

Leon tersedak ludahnya sendiri.

Gisella buru-buru mengambil gelas. “Kepalamu semakin sakit?”

Leon menerima air tersebut sambil mengamati wajah istrinya. Riasan Gisella masih tampak sempurna meski matanya memerah akibat panik. Tidak ada satu pun tanda bahwa perempuan yang ia nikahi itu tidak seperti biasanya.

Yang anggun tanpa cela. Tapi, tadi wanita itu bilang apa?

Gisella mengambil kemeja Leon yang tadi dilepas untuk pemeriksaan. “Dokter bilang kamu boleh mengganti baju kalau sudah merasa lebih baik.”

Perkataannya membuat Leon mengangguk.

Gisella kemudian melangkah maju, membantu melepaskan kabel monitor sementara, lalu membuka kancing pakaian rumah sakit yang dikenakan Leon. Ketika dada pria itu mulai terlihat, gerakannya sempat melambat.

“Angkat tanganmu.”

Leon menurut. Gisella menarik kain tersebut melewati bahunya, berusaha menjaga raut wajahnya.

‘Oh.. wow? Kapan ia berolahraganya ya sampai sekeras ini…’

Gisella terhenti saat pria itu menatapnya curiga. “Kenapa?”

“Tidak ada.” Leon mengambil kemeja dari tangannya. “Lanjutkan.”

“Aku bisa memanggil perawat kalau kau mau.” ujar Gisella terhenti.

Tapi jawaban Leon membuatnya membeku, “Aku lebih nyaman dibantu istriku.”

Selama ini Leon bahkan tidak pernah meminta bantuannya untuk mengambilkan dasi.

Sekarang pria itu justru diam, membiarkan Gisella memasukkan lengannya ke dalam kemeja. Ia menggeleng kecil, mengusir pikiran anehnya.

Jemari Gisella mulai memasang kancing dari bawah. Ketika mencapai bagian dada, Leon sengaja menahan tangannya.

Wajah mereka hanya terpisah beberapa senti. Gisella bisa merasakan embusan napas suaminya menyentuh kulitnya. Dan ia menahan nafas karena tak tahu harus apa!

‘Kalau dia menciumku sekarang, apa aku akan terlihat terlalu murahan kalau langsung membalasnya? Sadar Gisella!’

Tatapan Leon turun menuju bibir Gisella. Namun saat jaraknya sejengkal, pria itu mengalihkan wajah.

“Setelah pulang nanti,” ujar Leon, “tidurlah denganku malam ini.”

Gisella membeku. “Maksudmu… satu ranjang?”

“Ya.”

Celaka. Kepalanya pasti terbentur parah!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status