LOGINClair Valencia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya karena seorang anak kecil memanggilnya Mama. Anak kecil bernama Leonard itu adalah putra tunggal CEO dingin bernama Kael Dimitri. Ketika Leonard jatuh sakit dan terus memanggil nama Clair, Kael akhirnya menikahi wanita itu melalui sebuah pernikahan kontrak. Bagi Clair, pernikahan itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibunya yang membutuhkan perawatan rumah sakit. Sedangkan Kael membutuhkan sosok ibu untuk putranya. Namun, ketika hati mulai terlibat, akankah pernikahan ini tetap menjadi sebatas kontrak?
View More"Kenapa Papa nggak datang?"
Si kecil Leonard Dimitri duduk sendirian di bangku kayu di depan TK Saint Laurent. Sejak tadi, matanya tak pernah lepas dari jalan raya. Dia berharap mobil ayahnya datang, dan pria itu menjemputnya untuk mengajaknya makan es krim bersama sesuai janjinya. Sudah satu jam dia menunggu. Papanya yang berjanji akan menjemputnya tak kunjung datang, sementara teman-temannya sudah pulang bersama orang tua masing-masing. Tak jauh darinya, anak perempuan yang tadi juga menunggu di depan sekolah kini sudah berjalan menjauh sambil menggandeng ibunya yang baru datang. Anak itu bercerita banyak hal. Tentang apa yang dia lakukan saat di kelas tadi bersama ibu guru. Ibu anak itu tersenyum, lalu mengatakan jika anaknya sangat pintar sembari mengelus kepalanya dengan lembut. Leonard memperhatikan mereka sampai keduanya menghilang di balik gerbang. "Enak sekali pulang sama Mama," gumamnya lirih. "Leon nggak bisa ketemu Mama." Dia menatap langit cerah dengan awan yang bergerak ke sana ke mari. Bibir mungilnya mulai bergetar. Namun sebisa mungkin dia menahan air matanya. Sesuai pesan ayahnya, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Anak laki-laki harus kuat. "Kenapa Mama tidur lama sekali? Apa Leon anak nakal? Tapi Leon anak baik, kok. Mama, kapan Mama bangun?" gumamnya lagi. "Kamu kan emang nggak punya Mama." Sebuah suara tiba-tiba terdengar di dekatnya, disusul dorongan keras pada bahunya. Tubuh kecil Leonard terhentak hingga punggungnya membentur sandaran bangku. Dia mendongak. Seorang anak laki-laki bertubuh lebih besar berdiri di hadapannya sambil mengisap permen lolipop. Dua anak lainnya menyusul, lalu berdiri di belakang anak yang dipanggil Alex itu. "Aku punya Mama," protes Leonard pelan. "Mana?" Alex mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. "Kok yang jemput kamu selalu sopir? Kalau ada acara di sekolah, yang datang juga Papamu. Mamamu mana?" Kedua temannya langsung tertawa. "Jangan-jangan Mamamu kabur!" Leonard meremas tali tasnya semakin kuat. Matanya mulai panas dan berkaca-kaca karena ucapan itu. "Lihat! Dia mau nangis!" seru salah seorang dari mereka. "Nangis, nangis, nangis!" "Kasihan. Mamamu pasti pergi karena nggak suka sama kamu!" "Iya! Mamamu nggak mau punya anak cengeng kayak kamu!" "Cukup!" Leonard loncat dari bangku dan langsung berdiri. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. "Aku punya Mama!" "Kalau punya, mana orangnya?" "Mamaku sedang tidur, nanti kalau Mama bangun, aku pasti mengadukan kalian!" teriaknya. "Dasar pembohong! Kamu emang nggak punya Mama." Leonard kesal, dan dengan sekuat tenaga, dia mendorong tubuh Alex hingga anak itu terjatuh terduduk di atas tanah berdebu. "Kok kamu dorong Alex?" teriak salah seorang temannya. Kedua anak itu langsung menyerang Leonard. Salah satunya mendorong dadanya, sementara yang lain merebut topi kuning yang dikenakannya. Topi itu dilempar ke dekat pot bunga. Leonard terpaku melihatnya. Itu topi kesayangannya. Ayahnya yang membelikannya beberapa bulan lalu. Dia buru-buru berjongkok untuk mengambilnya, tetapi salah seorang anak lebih dulu menginjak topi itu sampai tanah menempel di permukaannya. "Tuh, ambil!" "Kenapa kalian jahat sekali?" Leonard menatap mereka dengan wajah memerah. Napasnya mulai tersengal karena berusaha keras menahan tangis. "Kami nggak jahat! Kamu yang mendorong Alex duluan!" "Tapi kalian bilang aku nggak punya Mama!" bantahnya. "Aku punya Mama!" Ketiga anak itu saling pandang, kemudian kembali tertawa. Leonard benar-benar kesal. Dia teringat foto seorang wanita cantik, foto ibunya di ruang kerja sang ayah. Leonard hanya berani memandangnya diam-diam, lalu memeluknya di saat dia rindu dengannya. Neneknya pernah berkata, kalau dia jadi anak baik, Mamanya pasti akan datang menjemputnya. Namun, sampai sekarang Mamanya belum juga datang. Leonard hanya tahu bahwa mamanya sedang tidur di dalam peti. Papanya pernah bilang, Mama akan datang saat dia tumbuh jadi anak baik, dan seluruh rambutnya berubah jadi putih. "Aku punya Mama!" "Bohong! Kamu memang nggak punya Mama!" Ketiga anak itu kembali mendorongnya. Tubuh mungil Leonard kehilangan keseimbangan, lalu jatuh ke tanah. Lututnya menghantam batu kecil hingga kulitnya tergores dan darah mulai merembes keluar. Rasa sakit itu membuat air matanya tumpah seketika. "Mama…" tangisnya. "Astaga! Apa yang kalian lakukan?!" Suara seorang wanita yang muncul tiba-tiba membuat Leonard buru-buru menoleh, mata bulatnya membelalak."Mama!" teriak Leonard begitu mengetahui Clair datang. Wanita itu langsung berjalan masuk ke kamar Leon, diikuti Marta dan Kael yang berjalan di belakang. Leonard yang masih demam menyambut Clair dengan penuh semangat. Dia segera menyingkap selimutnya, lalu merentangkan kedua tangan untuk memeluk wanita yang sebelumnya dia panggil tante itu. "Halo, Boy. Katanya kamu mogok makan. Kenapa?" Leonard mendongak. Matanya yang sayu menatap Clair, lalu kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya di perut wanita itu. Dia menghirup aroma lembut dari tubuh wanita yang sekarang dipanggilnya Mama. Dia sangat menyukai aroma tubuh Clair. Baunya begitu enak dan membuatnya merasa nyaman. "Leon rindu Mama. Kenapa Mama tidur lama banget? Apa Mama sudah bangun? Mama nggak akan tidur lagi, kan?" Clair terdiam beberapa saat. Dia mengusap kepala bocah itu. Hatinya ikut sakit ketika menyadari bahwa anak sekecil ini harus kehilangan ibunya. Dan sekarang, dia harus menggantikan peran ibu bagi Leonard de
Mobil yang dikemudikan Jovan memasuki gerbang utama mansion megah yang berdiri di kawasan elite Dalvora. Di balik pagar besi berwarna hitam keemasan itu, halaman luas terbentang dengan taman yang tertata sempurna, sementara air mancur di tengahnya memantulkan cahaya matahari pagi. Clair merapatkan mantel tipis yang dikenakannya, lalu melirik Jovan yang duduk di belakang kemudi. "Kamu tidak perlu gugup," ujar Jovan ketika mobil berhenti di depan tangga mansion. Ia mematikan mesin, lalu menoleh kepada Clair. "Tuan Dimitri hanya ingin bicara denganmu." Clair mengangguk kecil, lalu kembali menatap Jovan. "Apa Leonard baik-baik saja?" tanyanya kemudian. "Tuan Muda masih demam. Dokter sudah memeriksanya dan memberikan obat, tetapi sejak semalam dia terus memanggil namamu." Ada rasa khawatir yang perlahan memenuhi dada Clair. Ia tidak menyangka anak sekecil Leonard akan begitu terikat kepadanya hanya karena pertemuan singkat mereka. "Kalau begitu, ayo kita masuk," ucap Clair, membuka
Kael baru saja menyelesaikan beberapa dokumen di ruang kerjanya, lalu menatap foto mendiang istrinya yang selalu berada di atas meja. Dia memandang foto itu cukup lama, lalu meraup kasar wajahnya. Dia tidak harus terus terpuruk seperti ini. Meskipun tidak ada cinta di hati Kael untuk Clara, tapi dia selalu menyesal ketika dia gagal melindungi wanita yang sudah memberinya putra untuknya. "Maafkan aku, Clara. Tadi Leon marah padaku. Aku lupa menjemputnya. Apa aku ayah yang jahat? Aku sudah berusaha membuatnya senang. Semua fasilitas terbaik, tapi aku belum bisa jadi ayah yang baik untuknya." Tepat ketika dia mengalihkan pandangan. Martha datang dengan wajah cemas. "Tuan, Tuan Muda sepertinya kurang sehat." Kael langsung menutup berkas di tangannya. Berdiri, lalu menghampiri Martha yang mematung di depan pintu. "Leon kenapa?" Martha tampak gugup saat berbicara. "Sejak sore tadi, Tuan Muda tidak mau makan, dan sekarang tubuhnya demam." "Belum mau makan juga?" Kael mendesah pe
Clair menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kecil di flat mungil yang disewanya. Selama ini, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah flat kumuh di kawasan pinggiran Kota Dalvora. Sebelum dipecat dari pekerjaannya, Clair bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dari sanalah dia mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri sekaligus membeli obat-obatan bagi ibunya. Sudah satu tahun ibunya jatuh sakit. Samanta menderita kanker ovarium stadium akhir. Setiap hari, ibunya harus mengonsumsi obat-obatan dan menjalani kemoterapi sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masalah datang silih berganti. Namun, siang tadi, isi kepalanya semakin rumit setelah bertemu Leonard, dan melihat ekspresi bocah itu yang tidak mau berpisah darinya. "Kasihan juga Leonard, tapi aku nggak mungkin datang ke sana, kan? Lagian, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Nanti malah dikira aku mendekati anak ko












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.