INICIAR SESIÓNAvy, una joven marcada por la soledad y la adversidad, encuentra su único refugio en la rutina de un café londinense, donde trabaja con una timidez que esconde un gran corazón. Cada mañana, su vida se ilumina con la presencia de Ethan, un cliente cordial con quien forja una amistad pura e inesperada. Pero la conexión que crece entre el humilde café y el uniforme negro de Avy se basa en una dolorosa mentira. Ethan ha ocultado un secreto monumental: es el heredero de una fortuna, temiendo que la verdad ahuyente a la sencilla Avy. Cuando el engaño queda expuesto, la traición hiere a Avy hasta lo más profundo. Creyendo que todo ha sido una farsa, decide huir por completo, abandonando su trabajo y su hogar en Londres y Manchester. Ethan, consumido por el arrepentimiento, debe enfrentarse a las devastadoras consecuencias de su miedo. Pero su búsqueda desesperada por recuperarla revela una verdad ineludible: su encuentro no fue casualidad, sino que obedece a un propósito mucho más grande que una simple historia de amor.
Ver másMata yang berderai tak henti mengalirkan airmata menjadi hiasan di wajah Rahma. Putranya yang baru berusia 2 bulan diharuskan dirawat di rumah sakit karena terpapar asap yang parah.
Hidup di pinggir sawah yang setiap panen selalu membakar jerami menjadi pokok masalah kesakitan dari Edo. Putra pertama Rahma. "Nangis! Nangis! Bisamu dari dulu hanya nangis! Apa kalau sudah nangis, Edo bisa sehat kembali? Seharusnya otakmu itu dipakai buat mikir, uang dari mana kita kalau Edo dirawat seperti ini. Sok-sok an bawa anak ke rumah sakit. Dipikir duit tinggal metik di pohon! "cerocos Yati ibu mertua Rahma. Selama hampir 1 tahun ini, sikap bu Yati memang ketus kepada Rahma. Saat Rahma bekerja dulu, sikap bu Yati sangat baik terhadapnya. Namun semenjak Rahma menyusul suaminya ke desa dan tidak bekerja, hanya sikap ketus yang dia tunjukkan padanya. Rahma pun terpaksa menyusul suaminya ke desa karena hampir 3 bulan suaminya pulang ke desa setelah bertengkar dengan mertuanya atau ibu kandung Rahma. Hidup Asep yang bergantung dari rosok saat di kota, tidak mencukupi lagi kebutuhan sehari-hari mereka. Apalagi setelah harga rosok turun, bu Lely, ibu kandung Rahma, selalu marah-marah kepadanya membuatnya semakin tak betah tinggal di rumah. Asep berpamitan pada Rahma untuk bekerja di desa saja. Setidaknya dia tidak akan mendengar ocehan ibu mertuanya. Namun, Rahma yang masih terikat kontrak tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Untuk itulah mereka terpisah selama 3 bulan. Itu pun karena bu Lely selalu menceramahi Rahma karena keenakan Asep di desa tapi tak pernah sekalipun mengirim uang. Apalagi kontrak kerja Rahma juga sudah selesai. "Edo sesak nafas, Mbok! Puskesmas alatnya kurang memadai. Makanya, dibawa kesini." jawab Rahma lirih. "Lalu kamu pikir kalau di rumah sakit memadai? Iya, memang memadai. Tapi duit Asep yang tidak memadai, Rahma! Belum apa-apa sudah diminta 2 juta masuk PICU. Mau habis berapa lagi nanti?"balas bu Yati penuh emosi. Bahkan kami pun sudah menjadi pusat perhatian dari tadi. " Sudah kubilang kan? Kehadiranmu disini itu cuma beban. Kalau kamu tidak menyusul aku, kita tidak bakal punya Edo. Duit saja masih kembang kempis, ini malah ketambahan anak. Sakit-sakitan lagi." Asep menambahkan omongan bu Yati. Rahma sebenarnya emosi. Tetapi dia bisa apa? Disini dia sendiri. Orang tua dan saudaranya di kota semua. Uang? Tak sedikitpun dipunyainya. Mas kawin? Sudah dia jual ketika dia harus cek laboratorium kehamilannya dan membeli pernak-pernik untuk Edo. Jika sekarang dia melawan, bagaimana nasib Edo nanti? "Mikir!" Bu Yati dengan tega menoyor kepala Rahma. Hidup bu Yati dengan 3 anak laki-laki selama ini pun belum merasakan kecukupan. Ini malah kedatangan menantu, penambah beban. "Simbok...!" teriak Rahma yang tak terima dihina seperti itu. "Apa? Mau melawan? Sanggup kamu mengurus dan membiayai Edo disini?" bentak Bu Yati tak kalah keras hingga seorang petugas keamanan memberikan peringatan kepada kami agar tak membuat keributan. "Sudah kerja enak-enak di kota, bisa mengirim uang jajan buat suami, bukannya bangga dan bertahan malah menyusul ke desa. Benar-benar beban!" lanjut bu Yati kembali. Asep tak sekalipun melakukan pembelaan terhadap istrinya. Rahma hanya bisa menunduk. Tak dia sangka, suaminya pun bisu. Tak membelanya sedikitpun. Padahal Edo juga anaknya. Darah dagingnya! " Pulang, Sep! Biar Rahma yang menjaga anaknya sendiri. Dia kan yang mau anaknya dirawat disini? Ayok, pulang," Bu Yati terus menggeret tangan anak lelakinya. Rahma menatap nanar sang suami. Berharap suaminya sedikit berbaik hati untuk menemaninya menjaga sang buah hati. Namun, apa yang diharapkan Rahma sepertinya tak akan pernah terjadi. " Ayok, Mbok! Ngantuk!l," ucap Asep sembari berlalu meninggalkan Rahma seorang diri. "Mas, apa tidak sebaiknya kamu menemani aku di rumah sakit? Ini bukan kotaku. Kalau Edo butuh apa-apa, siapa yang akan mengurusi?" Rahma mencoba bicara pada Asep soal keengganannya di tinggal. "Kamu yang memilih di rumah sakit yang sangat jauh dari rumah. Ya kamu urus sendirilah. Kamu mau Edo dipindah ke puskesmas desa?" ketus Asep. Jengkel sekali hatinya kedua orang yang menjadi anggota keluarga kecilnya itu selalu menyusahkannya. Belum uang terkumpul, kini harus minus karena untuk biaya Edo di rumah sakit. Rahma yang mendengar ucapan Asep menjadi terdiam. Kalau anaknya dipindah ke puskesmas, apakah anaknya akan bisa mendapatkan pelayanan yang memadai? Sedangkan di rumah sakit saja, putranya itu belum keluar dari PICU. Asap sudah terlalu banyak yang masuk ke paru-parunya. Sadar jika tak mungkin memilih memindahkan anaknya ke puskesmas, Rahma menggelengkan kepala. Biarlah dia sendirian menjaga putranya di rumah sakit ini. Asep pun berlalu meninggalkan Rahma. Ibunya sudah dari tadi menunggunya. Mereka pun meninggalkan Rahma tanpa sepeserpun uang. Malam semakin gelap dan dingin. Rahma hanya mampu mengusap kedua lengannya dengan tangan. Tak ada jaket maupun baju lengan panjang. Keadaan Edo yang sesak nafas sudah menutup pikirannya. Dia hanya ingat, anaknya harus segera di bawa ke puskesmas. Bukannya lekas dilayani, di puskesmas pun, Edo harus menunggu antrian pelayanan. Tak sabar menunggu, Rahma langsung melarikan Edo ke UGD puskesmas. Biarpun nanti biayanya akan berbeda, namun tak dia pusingkan itu. Keadaan anaknya harus membaik, itu yang ada di pikirannya. UGD puskesmas yang hanya mempunyai alat seadanya, tak mampu menangani Edo yang sudah hampir membiru. Petugas puskesmas pun segera melarikan Edo ke rumah sakit yang komplit. Sudah 2 hari berlalu. Edo sudah dipindah ke bangsal anak. Namun, Asep tak sekalipun datang kembali ke rumah sakit. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki yang masih menyandang status sebagai suaminya itu hingga tega tak meninggalkan uang maupun mengirim pakaian ganti. "Mi..."akhirnya Rahma lebih memilih menghubungi sahabatnya. Keadaan Edo sudah mulai membaik. Bahkan dokter pun sudah memberi kabar kalau sore nanti, anaknya sudah diizinkan pulang. Namun yang menjadi masalah, Asep tak bisa dihubungi sampai saat ini. Lalu siapa yang akan menghandle biaya anaknya itu? "Weits...Ada sahabat lama telepon. Ada apa nih memanggil aku di jam kuntilanak?" sapa orang yang diseberang. "Kamu lagi kerja?" tanya Rahma ragu-ragu. Temannya ini memang bekerja di dunia malam. Jadi kalau tengah malam seperti ini, waktunya dia untuk mengais rejeki. "Tidak perlu basa-basi. Ada apa?" "Edo masuk rumah sakit, Mi! Asep sudah 2 hari tidak datang. Padahal nanti sore, Edo sudah boleh pulang." Rahma mau tak mau mengungkapkan kegundahannya. Hanya sahabatnya itu harapan satu-satunya. "Ck... Sudah aku bilang puluhan kali bahkan mungkin ratusan kali kan, Ma! Tinggalin cowok tidak berguna itu! Apa untungnya kamu kembali ke dia? Ngga ada!" Mimi memang membenci rencana Rahma untuk kembali pada Asep. Laki-laki yang lembek, tak bertanggung jawab, dan hanya bisa menyusahkan. Dan Rahma pun sebenarnya sadar akan hal itu. Namun, ibunya selalu saja merongrong kalau menjadi janda itu sesuatu yang rendahan. " Tanya ke bagian administrasi nomor rekening rumah sakit. Akan tetapi, aku hanya bisa bantu 2 juta. Bagaimana?" tanya Mimi yang sedikit merasa tak enak. "Tidak apa. Nanti sisanya aku coba pinjam sama teman yang lain. Terima kasih ya, Mi! Maaf selalu menyusahkan kamu." ucap Rahma. Hembusan nafas terdengar dari seberang. "Andai kamu tidak menyusul Asep, kamu tidak akan kesusahan kayak gini, Ma!" Rahma paham apa yang menjadi kegelisahan sahabatnya itu. Walaupun begitu, Rahma tetap bersyukur dengan keadaannya. Dengan menyusul Asep, dia mendapatkan Edo. "Mi...?" sapa Rahma yang sedari tadi terdiam. "Apaan?" "Aku berencana mengikuti langkahmu, Mi." " KAU GILA??? "EPÍLOGO No era un día cualquiera; se sentía diferente, vibrante. El hogar de los Vaughn-Collins bullía de actividad en cada nivel. En la planta baja, el matrimonio conformado por Damon y Adele, padres de Alice Collins, ocupaba la habitación de la noche anterior; a su lado, Christopher descansaba tras una semana de estancia. Un nivel más arriba, Alice y su familia colmaban el espacio, una estirpe numerosa que reflejaba la vitalidad de la casa. En el nivel inferior, Avy junto a sus esposos y sus dos hijos, Ethan Mateo y Sienna, comenzaban la mañana con el entusiasmo propio de un gran acontecimiento. —Buenos días —susurró Avy a su esposo, depositando un beso breve. Debía despertarlo; la jornada exigía premura. —Buenos días —respondió él, con la voz pastosa por el sueño—. ¿Qué hora es? —Hora de levantarnos —soltó Avy, apartándose del lecho. Hoy no habría margen para los cinco minutos extra de rigor. Se escabulló hacia el baño para asearse. —Ethan, amor —lo reprendió al encontrarlo aú
MIS DOS TESOROS. Avy Los días transcurren con esa lentitud dulce de las nuevas rutinas, y con ellos, nos vamos adaptando en todos los sentidos, acostumbrándonos a los cambios cotidianos que trae consigo un nuevo integrante en la familia. Ethan se tomó unos días de posparto para estar presente en cada detalle. Matthew, con total empatía, le concedió ese tiempo comprendiendo la importancia de su papel como padre primerizo; después de todo, Ethan también dirige su propia empresa y puede gestionar desde casa aquellas instrucciones y trabajos que solo él, con su experiencia, puede llevar a cabo. Nuestra familia, conformada por los siete Vaughn-Collins, parece no tener suficiente de nosotros. En cada oportunidad que tienen, invaden el ático convirtiendo cualquier tarde tranquila en una animada visita grupal. Alice está perdidamente enamorada de mi Mateo; cada vez que lo tiene cerca, no deja de repetir lo mucho que ha sacado los rasgos de Ethan. Y tiene razón: mi hijo va transformándose dí
LA PRIMERA NOCHE Y UN PACTO DE PAZ.“Solo quiero ver su reacción”, pienso para mis adentros. Cada gesto de mi “querida suegra”. Ethan se hace a un lado cuando le doy un asentimiento de cabeza al verme aceptando. Veo sus dudas, pero al final dándole espacio a su madre, ella camina a su destino. Quiero saber hasta dónde es capaz de aceptar su realidad y entender que ni su imposición puede cambiar lo real, la verdad, y mucho menos detenerla.Ethan viene detrás de su madre en silencio sigiloso. Su madre ni siquiera me ve, y no me hace falta; me lo recuerdo una vez que el pensamiento se me cruza por la mente. Ella se para a un lado de la cuna y comienza a mirarlo. Su cara es un poema de asombro, uno que yo no esperaba, a decir verdad. Dobla su cuerpo un poco hacia mi hijo, ese que está ausente de todo a su alrededor. Oigo un sollozo ahogado que me impresiona al instante, pero no me dejo conquistar.—Se parece a ti, Ethan —dice, levanta la mirada a su esposo y luego busca a Ethan, pero este
EL PRIMER ALIMENTO Y LA VISITA INESPERADA.Despierto cuando oigo el diminuto llanto y quejido entrecortado de un niño. El sonido es tenue y agudo, pero lo suficiente para despertarme. Me sobresalto cuando mi conciencia me recuerda el lugar donde estoy.—¿Qué pasa? ¿Qué pasa? —digo reincorporándome, somnoliento.A mi lado, Avy se encuentra ya despierta, sentada en el borde de la cama tomando en brazos a nuestro hijo. Me levanto de inmediato para rodear la cama y llegar hasta ellos.—¿Todo bien? —pregunto—. ¿Necesitas ayuda? —Me vuelvo a ofrecer, sintiendo que necesita de mí.Niega y me sonríe.—Tranquilo, amor, estamos bien —afirma, y me tranquilizo. Mi hijo vuelve a emitir un chillido de llanto al abrir su boca.—¿Qué le sucede? —Le pregunto a Avy, y la angustia regresa alertándome—. ¿Llamo al médico?—No, Ethan, es que seguro tiene hambre.Asentí y la observo cómo ella se acomoda sobre el colchón, hace a un lado la tira de su vestido y esta cae de su hombro, dejando descubierto su pe












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Calificaciones
reseñasMás