LOGINEmber felt her world shatter, when she got the news of her family's total wipeout, leaving her as the only surviving member of the family. Struggling with grief and heartache, she seeks for solace in a clubhouse, where she met Alpha Marcus her supposed mate, after which she was plunged into a nightmare of kidnapping, torture and rape. On the brink of death, she prays to her ancestors to be given a second chance at life, to avenge and reclaim her destiny as Luna. Being reborn with the strength of her ancestors and a child destined to reshape their world, Ember begins her journey of relentless justice, navigating treacherous alliances, hidden truths and a love torn between two powerful Alpha, wills. But with the fate of her world in the balance Ember's final choice lead to salvation or doom? In the tales of vengeance, love and rebirth, Ember must make a choice.
View MoreSemalam Lillian menunggu suaminya pulang, tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Jangankan datang, memberi kabar pun tidak. Ponsel laki - laki itu tidak aktif. Seharian Lillian memeriksa aplikasi percakapan antara dirinya dan Ernest, tapi tidak ada tanda - tanda suaminya berusaha menghubungi. Halaman percakapan pribadinya kosong, dan di daftar panggilan tak terjawab juga tidak tertera nama Ernest.
Mengingat semua itu, Lillian jadi tidak selera menyelesaikan pesanan design yang sedang dikerjakannya. Mendadak saja dia jadi lesu. Pekerjaan design favorite-nya, kini tidak lagi menarik.
Lillian duduk di lantai dan memandang layar laptop dengan tatapan kosong. Ini bukan pertama kalinya kelakuan Ernest seperti ini. Kian hari kian menjadi. Dia sering hilang dan muncul sesuka hati, bahkan hingga berhari - hari menghilang tanpa kabar.
Mencoba menenangkan diri, Lillian berdiri lalu mengambil botol anggur koleksi Ernest dari lemari kaca. Dia menuangnya ke gelas kaca dan meminumnya dalam sekali teguk.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Lillian dengan antusias segera menyambar benda pipih itu dan membaca.
"Hai, sudah tidur?"
Bahunya luruh. Bukan Ernest. "Belum." Dia menjawab pesan seadanya.
"Jam segini?"
"Yes."
"Sudah makan malam?"
Lillian termenung. Andai saja yang menanyakan ini adalah Ernest, tentu hatinya akan melayang. Deringan nada panggil ponsel mengagetkan lamunannya. Harvey!
Sebelum Lillian sempat menyapa, suara Harvey sudah terdengar dari seberang sana. "Aku di depan."
"Hah? Tunggu."
Secara otomatis Lillian berlari ke pintu dan membukanya. Dia melihat Harvey ada di depan pintu sambil tersenyum padanya. "Hai," sapanya sambil mengangkat kantong - kantong makanan di tangannya lalu menggoyangkannya di depan Lillian. "Aku tak sanggup menghabiskan semua ini. Bantu aku menghabiskannya."
Lillian menggelengkan kepala. "Kalau tak sanggup menghabiskan, kenapa membeli sebanyak itu?"
Harvey tak menjawab. Dia berjalan masuk menuju ke bar dapur rumah adik iparnya, lalu meletakkan barang - barang bawaannya ke atas meja. Makanan demi makanan dikeluarkan satu per satu dari kotak dan dipindahkan ke piring saji.
Lillian menatap ke arah Harvey yang ternyata juga menoleh kepadanya. "Aku tahu kamu belum makan malam. Ayo, makan!" perintahnya.
Masih sambil menatap Harvey, Lillian melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa kamu sedang ada masalah, Harvey?"
Ini bukan pertama kalinya mereka makan bersama tanpa Ernest. Lelaki ini tinggal di perumahan yang sama dengan Lillian, hanya selisih beberapa nomer. Jika laki - laki itu memiliki masalah atau sebaliknya Lillian sedang banyak pikiran, maka keduanya akan saling bertamu, makan, minum atau sekedar ngobrol.
Hubungan mereka sangat unik. Keluarga mereka punya hubungan yang sangat dekat, demikian pula dengan Harvey, Lillian dan Ernest. Namun Harvey lebih serius menata masa depan dibanding dengan Ernest. Hari - hari Harvey yang sibuk, membuka kesempatan bagi Ernest untuk mengambil hati Lillian lalu melamarnya.
Harvey mengangkat bahunya. "Bukannya kamu yang sedang ada masalah, Lily?"
"Aku? Tidak!" bantah Lillian, berusaha menutupi fakta kalau dirinya sedang gelisah karena Ernest menghilang tanpa kabar.
Harvey bersedekap, meniru gaya Lillian. "Lalu kenapa ada wine disitu?" Matanya melirik meja kecil di dekat lemari kaca.
"Terserah kamu saja." Lillian menjawab dengan tak acuh. Sebenarnya, dia ingin bercerita tentang perubahan Ernest. Tapi Lillian tahu kalau kakak iparnya itu selalu berada di pihaknya. Salah - salah Ernest bisa habis dihajar oleh Harvey.
Di sisi lain, Lillian juga tahu kalau dia butuh teman untuk minum bersama dan menghilangkan pikiran negatif yang muncul tentang Ernest. Dan dari dulu hingga saat ini, Harvey masih tetap pilihan yang terbaik. Laki - laki yang berusia enam tahun di atasnya itu selalu berhasil membuat perasaannya lebih baik.
"Buka mulutmu!" perintah Harvey kembali terdengar. Sepotong dark cokelat sudah berada tepat di depan mulut Lillian.
"Aku bisa --... hmpf...." Lillian merasakan sesuatu yang padat dijejalkan ke dalam mulutnya saat hendak memprotes Harvey kalau dirinya bukan anak kecil lagi, tidak perlu disuapi.
"Makan!" perintah Harvey tak bisa dibantah.
Lillian melotot. Tapi tak urung, mulutnya mengunyah, rasa pahit cokelat bercampur manisnya wine yang ada di tengah cokelat merupakan kombinasi yang memanjakan lidah, membuat perasaannya terasa lebih baik.
"Belajarlah dari pengalaman. Pilih laki - laki yang bisa memberimu segalanya. Jangan menikah hanya karena cinta. Itu hanya perasaan sesaat." ucap Harvey memecahkan keheningan.
Lillian menghentikan kunyahannya, membiarkan cokelat meleleh dengan sendirinya di mulut. Dia menatap Harvey dengan sorot yang tak terbaca.
"Cari tahu apa yang dilakukan oleh suamimu diluar sana. Pastikan dirimu selalu baik - baik saja." lanjut Harvey lagi.
"Aku tidak pernah mendengar gosip atau berita tidak benar tentang Ernest diluar sana." tolak Lillian dengan nada tak yakin.
Harvey meletakkan pasta dan daging merah ke atas sebuah piring lalu menyodorkannya pada Lillian. "Kamu tahu kalau dia dari dulu hanyalah seorang pengacau. Sayangnya, para wanita selalu tergila - gila pada wajah tampan dan sikapnya yang ramah."
Kenyataan yang diucapkan oleh Harvey membuat Lillian kesal. Dia marah. Andai saja waktu bisa diputar kembali, tentu dia ingin mengulang semuanya. Keluarganya dan juga Harvey sudah melarang dirinya menerima lamaran Ernest. Ya, Harvey benar. Dia menikah hanya karena terlalu cinta pada Ernest.
Malu bercampur marah, Lillian menghabiskan semua makanan yang disodorkan oleh Harvey sebagai pelampiasan. Sialnya, makanan enak dan cokelat tak berhasil membuat Lillian tenang. Masih dalam mode uring - uringan, dia mendorong piring kosongnya dan mengangkat kedua tangannya. "Sepertinya kamu berhasil menakutiku, Harvey."
"Aku hanya berkata jujur, Lili. Berbohong bukan kebiasaanku. Aku mengatakan ini karena aku mengenal siapa adikku dan aku tidak ingin kamu terpuruk suatu hari nanti."
Lillian tidak bisa menahan kekesalannya. Sungguh, dia butuh teman. Tapi tampaknya kali ini Harvey tidak berniat membuatnya lebih baik. Pikiran buruk kembali menyerangnya, Lillian frustasi dan berjalan menuju ke meja kaca tempat dimana wine-nya berada.
"Aku butuh minum," serunya sembari menuangkan minuman dan menenggaknya hingga tandas.
"Wow! Wow! Kamu benar - benar ada masalah rupanya," ujar Harvey dengan wajah serius. Meski sebenarnya dia tahu kalau mobil Ernest tidak ada di rumah berhari - hari. Itulah alasan sebenarnya kenapa dirinya mampir, untuk menghibur adik ipar kesayangannya. Tapi mulut lancang ini sedang tidak ingin berkata manis soal Ernest.
"Aku rasa kamu benar, Har. Ernest sudah tidak mencintaiku lagi."
"Ernest tidak pernah mencintai siapa pun. Yang dia cintai hanya dirinya sendiri," sahut Harvey kemudian. Dia benar - benar marah setiap kali membahas kelakuan Ernest yang seringkali menyakiti Lillian, wanita yang sudah dijaganya sejak kecil.
Lillian duduk di kursi dan kembali meminum minumannya. Hatinya terasa sakit. Tidak ada satu orang pun yang terlalu sibuk hanya untuk sekedar memberi kabar, kecuali dirimu bukan prioritasnya lagi. Pemikiran seperti itulah yang membuat Lillian kian sedih.
"Aku mengerti perasaanmu." Harvey ikut duduk di kursi, memutar kursi Lillian hingga menghadap kepadanya. "Sekarang katakan padaku. Apa yang kamu ingin aku lakukan terhadap laki - laki sialan itu?" tanyanya untuk memastikan. Lillian selalu marah padanya setiap kali dia menghajar Ernest.
"Aku tidak tahu."
"Sayang, masalah kalian tidak akan selesai kalau kamu sendiri tak tahu apa yang kamu inginkan."
"Masalahnya, aku tidak siap menghadapi kenyataan saat menemukan bukti. Aku harus bagaimana? Menceraikan Ernest?"
"Kan aku sudah pernah bilang kalau aku akan selalu ada untukmu," ucap Harvey dengan nada lebih lembut.
Lillian memutar bola matanya, lalu dia meneguk anggurnya lagi dan lagi.
Harvey mengamati teman kecilnya itu lekat - lekat. Dia tampak kacau, tapi tetap saja tak mengurangi daya tariknya. Bagi Harvey, Lillian adalah wanita tercantik yang pernah dia lihat. Bahkan mantan istrinya yang fashionable dan pintar berdandan pun tidak bisa mengalahkan. Sial, dirinya tidak minum tapi malah mabuk oleh pesona Lillian.
"Kamu tahu, Har? Setidaknya dalam rumah tangga, dirimu lebih beruntung dariku," celoteh Lillian, mulai meracau.
Harvey tertawa ironi. "Istriku pergi dengan pria lain. Kamu bilang aku lebih beruntung?"
"Setidaknya kamu bebas bersama wanita mana pun tanpa rasa bersalah."
"Semua itu adalah keputusan, Lili. Kamu juga berhak bahagia kalau lelakimu terbukti berkhianat."
Kalimat terakhir Harvey terasa sangat menyakitkan, Lillian mengambil botol kedua dan meminumnya tanpa jeda. Harvey menahan tangan Lillian saat hendak menuangkannya sekali lagi. "Hey! Hey! Sudah cukup."
"Aku benar - benar butuh minum, Harvey."
"Kamu butuh tidur, Sayang." ucap Harvey lembut tapi tegas. Dia menggendong tubuh wanita itu dan membawanya ke tempat tidur. "Wajahmu merah karena mabuk," gumamnya sambil mengedarkan pandangan untuk mencari remote AC.
Tapi saat Harvey hendak berdiri, Lillian menarik tangannya kuat - kuat hingga kakak iparnya itu jatuh di atas tubuhnya. "Temani aku tidur seperti dulu setiap kali aku merasa sedih."
~~~ Guther ~~~I watched as she kept glancing at me, with her eyes full of tears, and for some weird reason, it disturbed my soul." Release that girl", my wolf's voice suddenly rang out disrupting my thoughts." What do you mean by releasing her?"I questioned him. My wolf is known throughout the organization as wicked and ruthless and I was surprised when I heard him say something about releasing the girl. " That child will be someone, very powerful in the future, more powerful than the royals even"" She has the scent of the goddess on her, I can smell it, and I have only perceived that scent once in my life", he continued.I would have loved to help her escape, if only that red car had fought with us, I can't just stop the car and get her out, not with Ben in the car. "Whether she will be powerful in the future or not, my future is on the line now, same with that of my family", I said to my wolf, who was still pacing around in circles." We're bound with an oath to the Wolf Fang
~~~ Ember ~~~As the car began to move again, my mind continued to race. "Who is the 'He' they were talking about?" The question echoed louder with every bump in the road and the humming sound of the car engine, but no answer came. I was too exhausted, too afraid to keep thinking.My scalp throbbed with pain, and the lingering sting of Ben's hand on my cheek was a constant reminder of my helpless state. I took in deep breaths as I fought against the tears that threatened to stream out but they betrayed me as tears rolled down my cheeks, feeling warm against the cold tape on my mouth. Guther, probably annoyed by my deep breaths, shifted his sight towards me through the rearview mirror. His expression was unreadable as before, cold and calculating. Unlike Guther, Ben seems to enjoy the torment, and the cruelty, it excites him. I know what to expect when it comes to him but Guther….. he seems unpredictable and more dangerous to me. I made a quick mental mark, to avoid him at all cost
The two men threw me into the car, like a bundle of garbage that was worth nothing. They entered the front seat and jammed the door. The jamming of the door increased the trembling and fear coursing through my veins. Soft whimpering sounds escaped my throat but no sound could be made out of it because of the rough taping around my mouth. I turned my neck around, to take a glimpse of Mr. Grant,for the last time, maybe.. just maybe, he will turn around and save me. Just maybe he will send some helpers or make some reports so I can be saved. But there he stood outside the door, his two hands placed in his pockets as he watched the car drive out of the safe house area. His eyes and I interlocked and he brought out one of his hands and waved at me, his lips curving in the shape of what looks like a smile. " A smile", I questioned myself in disbelief, I watched as he turned and made his way into the house. My eyes lit up again when he turned his face once again towards my di
~~~ Ember ~~~A sigh of relief escaped my throat. I have never been as relieved as I am right now getting away from that man called Marcus. His eyes made me uncomfortable, like I might get trapped in them and never get to avenge my parents The journey to the coordinates written down by my father, felt longer than it should be, with each passing minute. The rush of adrenaline kept me on edge as I constantly looked back, afraid that the driver assigned to me might catch on and chase after me. My thoughts were still swirling, thinking about all the events that has transpired since I got the information that my family was totally wiped out and finally waking up in Marcus' house. As we neared the safe house, a memory which have been hidden by age and growth sprouted up in my head, it was indeed a familiar street from my childhood and with the memory came nostalgia.This was a place where my father always said we will find safety, I couldn't understand what he meant then but now, its a
~~~ Ember ~~~I have been running like what seemed like an eternity, a dark figure stretched out his hands to grasp me. "Noo! Nooo!!! Somebody save me!" I screamed with my legs raised up in the air, as I awoke from my long nightmare. I panted as I tried to recall what had just happened, up to no avai
~~~ Marcus~~~ Looking at my mate, still laying unconscious and mumbling inaudible words under her breath. "Our mate is a beauty, isn't she?", my wolf asked, ogling her with curious beady eyes that glistened under the night light. I could feel the excitement emitting from him. "She sure is a b
~~~Marcus~~~ "I still can't believe they still think of me as a little child they can control and manipulate anytime. An Alpha like me and they still think that?" I fumed and vented to my right hand man, who just kept his head down, while listening to me. "I don't really blame them, I blame my
I have being driving aimlessly for a while, with the thoughts of everything that has happened occupying my mind and making me unable to breath. I got out of the car looking like a semi- mental patient, not minding the glances of people around me as I started trekking. I walked until fatigue too
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore