Share

Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan
Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan
Author: Haryanto Wijaya

Bab 1

Author: Haryanto Wijaya
"Guru, muridmu akan pergi. Jaga diri baik-baik."

Di Provinsi Narniga, Lapas Karang, Elang Aksara memberi hormat dengan sungguh-sungguh kepada seorang lelaki tua yang penampilannya tampak berantakan. Matanya dipenuhi rasa enggan berpisah.

Lelaki tua itu mengangguk pelan dan berpesan, "Jangan lupa pesan Guru padamu. Setelah keluar, secepatnya bereskan energi naga murka di dalam tubuhmu. Kalau sampai energi naga murka menggerogoti pembuluh jantungmu, malapetaka besar pasti akan datang."

Elang mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Aku mengerti."

Tiga tahun lalu, dia menggantikan kakak sulungnya masuk penjara. Saat itu, usianya baru 15 tahun, jadi sering dirundung orang.

Untungnya, lelaki tua itu turun tangan, menerimanya sebagai murid, dan mengajarkannya berbagai kemampuan.

Lelaki tua itu memberitahunya bahwa dia memiliki keturunan naga sejati. Namun entah mengapa, tulang naga sejati dalam tubuhnya telah dicabut.

Karena itu, muncul energi naga murka. Energi naga murka terus menggerogoti tubuhnya. Jika tidak ada keajaiban, dia tak akan hidup melewati usia 18 tahun.

Untungnya, lelaki tua itu mengajarinya ilmu bela diri untuk memperbaiki energi dan darah serta kondisi fisiknya sehingga dia dapat menekan energi naga murka untuk sementara.

Namun, itu hanya solusi sementara. Untuk benar-benar menyelesaikan energi naga murka, ada dua cara.

Pertama, mencari wanita dengan fisik khusus. Naga pada dasarnya penuh nafsu dan energi naga murka juga termasuk jenis naga. Dengan berkultivasi ganda bersama wanita yang memiliki fisik khusus, dia bisa menggunakan energi dingin murni mereka untuk menyeimbangkan energi naga murka. Di antaranya, Fisik Foniks dan Fisik Naga adalah yang terbaik.

Kedua, menemukan kembali tulang naga sejati yang hilang. Energi naga murka muncul karena tulang naga sejati dicabut. Selama tulang itu ditemukan kembali, secara alami energi itu akan lenyap.

Lelaki tua itu melambaikan tangan. "Ya sudah, pergilah. Ingat, jangan mencoreng namaku."

Elang berlutut dan bersujud tiga kali kepada lelaki tua itu, lalu bangkit dan meninggalkan penjara.

Begitu dia pergi, seluruh Lapas Karang langsung bergemuruh.

"Hahaha, Raja Tiran Elang akhirnya pergi!"

"Bagus sekali, hari ini hari baik. Kita harus minum sepuasnya!"

....

Keluarga Aksara adalah salah satu dari empat keluarga bangsawan besar di Kota Kamujra. Saat ini, di vila Keluarga Aksara, Rio dan istrinya tampak muram.

"Apa yang harus kita lakukan? Tinggal tiga hari lagi. Kalau kita masih belum menemukan solusi, jabatanku sebagai kepala keluarga akan berakhir." Rio mengerutkan kening.

Talitha berkata dengan geram, "Orang tua itu jelas sengaja."

Rio menghela napas. "Aku juga tahu itu. Ayah secara nggak langsung memaksaku menyerahkan posisi kepala keluarga."

Talitha mulai panik. "Terus gimana dong?"

Rio menggertakkan gigi. "Kalau memang nggak ada jalan lain, kita hanya bisa mengorbankan Satya."

Ekspresi Talitha berubah. "Apa Satya akan setuju? Nona Keluarga Pradana itu 'kan masih koma. Kudengar wajahnya juga rusak."

Putri sulung Keluarga Pradana mengalami kecelakaan mobil lebih dari setahun lalu dan menjadi koma.

Setelah mencari pengobatan ke berbagai tempat tanpa hasil, baru-baru ini mereka bersiap mencari menantu laki-laki untuk masuk ke keluarga demi mengusir kesialan.

Demi kekayaan dan kemuliaan, Keluarga Aksara pun menawarkan diri. Tuan Tua Keluarga Aksara segera mengadakan rapat keluarga. Setelah diskusi tanpa hasil, tekanan pun diberikan kepada Rio sebagai kepala keluarga.

Saat keduanya sedang kebingungan, kepala pelayan Keluarga Aksara masuk. "Tuan Rio, Tuan Elang sudah kembali."

Talitha mengernyit. "Tuan Elang yang mana?"

Rio juga mengerutkan kening, tetapi segera teringat sesuatu.

Kepala pelayan menjelaskan, "Yang dipenjara tiga tahun lalu itu."

Keduanya tampak tersadar dan akhirnya ingat siapa Elang. Sudah lebih dari tiga tahun tidak muncul, mereka hampir lupa mereka masih punya putra seperti itu.

Mata keduanya langsung berbinar. Talitha tersenyum. "Rio, kita bisa suruh Elang masuk ke Keluarga Pradana sebagai menantu."

Rio mengangguk setuju. "Bagus sekali. Mantan narapidana dipasangkan dengan pasien koma, benar-benar pasangan yang serasi."

Talitha kembali ragu. "Elang itu anak haram, juga pernah dipenjara. Apa pihak Keluarga Pradana akan setuju?"

Rio berpikir sejenak. "Aku akan telepon buat tanya."

Dia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Keluarga Pradana.

Setelah menutup telepon, Talitha langsung bertanya, "Gimana?"

Rio berkata, "Pihak Keluarga Pradana bilang akan mempertimbangkannya."

Saat ini, kepala pelayan membawa Elang masuk. Melihat pakaian dan celananya yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci, kilatan jijik terlintas di mata mereka. Namun, teringat urusan menjadi menantu Keluarga Pradana, mereka terpaksa memaksakan senyuman.

Rio melangkah cepat dan menyambutnya, menggenggam tangan Elang dengan hangat. "Elang, tiga tahun ini kamu pasti menderita sekali."

Talitha juga berkata, "Elang, tunggu ya, Ibu akan masakkan sesuatu untukmu."

Dia bangkit dan pergi ke dapur.

Rio lalu menarik Elang dan mulai menanyakan kabarnya dengan penuh perhatian. Dia menanyakan bagaimana kehidupan di penjara selama tiga tahun, juga menjelaskan bahwa selama tiga tahun ini urusan perusahaan sangat sibuk sehingga tak sempat menjenguknya.

Elang tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan dengan tenang. Namun, di dalam hati dia mencibir dingin.

Kini, dia bukan lagi dirinya yang tiga tahun lalu. Walaupun Rio berbicara semanis apa pun, dia tidak akan percaya sepatah kata pun.

Dulu di rumah, Elang hampir tidak memiliki status apa pun. Dia sering dipukuli dan dimarahi. Tiga tahun lalu, Rio bahkan menyuruhnya menggantikan kakak pertamanya, Arif, menanggung dosa. Katanya dia masih di bawah umur, jadi hukumannya akan lebih ringan.

Dia juga berjanji, setelah keluar dari penjara, akan menjaminnya hidup dalam kemuliaan dan kekayaan.

Namun, bagaimana kenyataannya? Sejak masuk penjara, tak satu pun anggota Keluarga Aksara datang menjenguknya.

Saat itu Elang masih muda, tak mampu melawan Keluarga Aksara, hanya bisa menyetujuinya.

Sebenarnya setelah keluar penjara, dia tidak berniat kembali ke Keluarga Aksara. Namun, dari gurunya, dia mengetahui bahwa dirinya memiliki keturunan naga sejati.

Rio, dan juga ibunya yang telah meninggal, hanyalah orang biasa, tak mungkin mewariskan keturunan naga sejati. Hanya ada satu kemungkinan, mereka bukan orang tua kandungnya, atau salah satu dari mereka bukan. Jadi, dia kembali untuk mencari tahu asal-usulnya.

Elang tidak mengerti mengapa Rio begitu antusias, tetapi jika ada kejanggalan, pasti ada maksud tersembunyi. Dia ingin melihat, apa lagi yang akan dilakukan mereka kali ini.

Lebih dari satu jam kemudian, melihat Rio masih berbicara tanpa henti, Elang akhirnya tak tahan dan berkata dengan dingin, "Hentikan sandiwara ini. Katakan saja, sebenarnya ada urusan apa?"

Rio tertegun, lalu tersenyum. "Elang, kenapa bicara begitu? Apa Ayah nggak boleh sekadar peduli padamu?"

Elang tidak menjawab, hanya menatap Rio dalam diam.

Rio agak canggung. Tepat saat itu, ponselnya berdering. Dia mengangkatnya dan menjawab, lalu wajahnya berseri-seri.

Setelah beberapa kalimat, dia menutup telepon dan menatap Elang dengan senyuman penuh kasih seorang ayah.

"Elang, begini. Untuk menebus pengorbananmu selama tiga tahun ini, Ayah sudah mengatur sebuah pernikahan untukmu."

Hati Elang tergerak. Dia tahu inti persoalan akhirnya datang.

"Pihak wanita adalah putri sulung Keluarga Pradana. Kalau kamu menikahinya, seumur hidup kamu nggak perlu khawatir soal uang."

Elang mencibir dalam hati. Walaupun sudah menduga, dia tetap saja tidak menyangka pihak lain begitu tak tahu malu.

Soal putri sulung Keluarga Pradana itu, dia pernah mendengar dari seorang teman di penjara. Dulu gadis itu adalah mutiara Keluarga Pradana, tetapi tertimpa musibah dan menjadi koma.

Baru saja keluar penjara, dia langsung disuruh menikahi seorang pasien koma. Benar-benar ayah yang baik.

Rio terus berbicara panjang lebar, "Elang, Keluarga Pradana adalah keluarga terpandang di Kota Kamujra. Mereka bahkan lebih hebat dari Keluarga Aksara. Jangan sampai kamu melewatkan kesempatan ini."

Elang menatap dengan tatapan penuh sindiran. "Kalau sehebat itu, kenapa nggak suruh kakak-kakakku saja?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status