Share

Bab 2

Penulis: Haryanto Wijaya
Rio sedikit mengernyit, tetapi tetap tersenyum ramah. "Elang, selama kamu pergi tiga tahun ini, kakak-kakakmu sudah punya pacar. Lagi pula, ini keberuntungan yang menjadi milikmu. Sebagai kakak, mana mungkin mereka merebutnya?"

Elang malas berdebat, jadi berkata dengan datar, "Aku bisa setuju, tapi ada syarat."

Mata Rio berbinar. "Syarat apa? Katakan."

Elang menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin tahu siapa ayah kandungku."

Dia sudah sangat yakin, Rio bukan ayah kandungnya.

Wajah Rio menegang sesaat. Dia diam-diam melirik ke arah dapur. Melihat Talitha masih sibuk, dia merasa agak lega.

Dari reaksi Rio, Elang tahu tebakannya benar.

Wajah Rio menjadi suram. "Omong kosong apa itu? Bukankah aku ayah kandungmu?"

"Benarkah?" Elang mencibir dingin. "Ada ayah kandung yang menyuruh anaknya masuk penjara menggantikan orang lain? Baru keluar malah disuruh menikahi seorang pasien koma?"

Rio terdiam, tak mampu menjawab. Dia terkejut. Ternyata Elang sudah tahu semuanya. Awalnya, dia masih berniat membujuk Elang dulu. Setelah dia menjadi menantu Keluarga Pradana, sekalipun tahu kebenarannya, semuanya sudah terlambat.

Elang berkata dengan tenang, "Selama kamu memberitahuku asal-usulku, aku akan menikahi Nona Keluarga Pradana."

Wajah Rio muram. "Anak durhaka! Berani-beraninya kamu mengancamku!"

Wajah Elang tetap datar. "Jangan pasang wibawa sebagai ayah di sini. Kamu nggak pantas."

Rio marah hingga wajahnya memucat. "Kurang ajar! Kamu pikir setelah tiga tahun dipenjara, Ayah nggak bisa berbuat apa-apa padamu?"

"Mau mengancamku?" Suara Elang sedingin es. Aura menekan tiba-tiba memancar dari tubuhnya. "Kamu kira aku masih seperti tiga tahun lalu? Bocah lugu yang bisa kamu kendalikan sesukamu? Anak haram yang bisa kamu tekan seenaknya?"

"Simpan saja sandiwara itu. Di mataku, kamu bukan apa-apa. Bahkan bukan hanya kamu, seluruh Keluarga Aksara pun bisa kuhancurkan hanya dengan satu tanganku."

Tubuh Rio bergetar. Napasnya terasa sesak, seolah-olah sedang ditatap binatang buas purba. Selama Elang mau, dia bisa diremas mati kapan saja.

Elang menarik kembali auranya dan berkata dengan tenang, "Katakan kebenarannya, aku akan menikahi Nona Keluarga Pradana. Anggap saja untuk balas budi atas pengasuhan Keluarga Aksara."

Rio agak tertegun. Elang kembali terlihat seperti orang biasa, seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi.

'Aneh, tadi itu apa? Mana mungkin bocah ini punya aura seperti itu? Pasti aku salah lihat.' Rio menghibur dirinya sendiri. Mengingat dirinya sempat ketakutan oleh Elang, dia merasa kesal.

Namun, demi urusan menjadi menantu Keluarga Pradana, dia tetap menahan diri. "Baiklah, akan kukatakan."

Elang mendengarkan dengan saksama.

"Kamu memang bukan anak kandungku. Ibumu adalah cinta pertamaku. Waktu itu dia sakit parah, orang tuanya pun sudah tiada, jadi dia menitipkanmu padaku."

"Aku mengenang hubungan kami dulu, jadi aku berjanji merawatmu. Soal siapa ayah kandungmu, aku juga nggak tahu."

Elang terus menatapnya, memastikan dia tidak berbohong. Sayangnya, petunjuk kembali terputus. Namun, setidaknya dia bisa memastikan bahwa ayah kandungnya memiliki keturunan naga sejati.

Selama menemukan orang itu, seharusnya dia bisa mengetahui kabar tentang tulang naga sejati. Hanya saja, di tengah lautan manusia, bagaimana cara menemukannya?

"Aku sudah mengatakan semuanya." Rio berkata dengan dingin, "Kuharap kamu ingat apa yang barusan kamu katakan."

"Soal urusan ini, cukup kamu dan aku saja yang tahu. Jangan sampai orang ketiga mengetahuinya, agar nama Keluarga Aksara nggak tercoreng."

Elang menyahut dengan datar, "Tenang saja, aku akan menepati janji. Kapan pernikahannya?"

"Besok. Hari ini kamu diam saja di rumah. Aku akan kirim orang untuk ukur dan coba pakaian."

Tak lama kemudian, Talitha menyiapkan satu meja penuh hidangan lezat. Setelah tahu Elang setuju, dia juga sangat senang.

Usai makan, pasangan itu segera menyuruh orang mengirim setumpuk pakaian dan meminta pembantu membantu Elang mencobanya.

....

Keesokan harinya, Elang yang sudah berpakaian rapi duduk di vila menunggu rombongan penjemput. Dia mengenakan setelan jas yang pas di badan. Wajahnya tegas, matanya tajam dan bercahaya, rambut cepaknya membuatnya tampak semakin berwibawa. Seluruh auranya luar biasa.

"Elang, pengorbananmu akan Kakak ingat. Kalau nanti ada apa-apa, cari saja Kakak." Arif menepuk bahu Elang dengan senyuman hangat.

Setelah tahu Elang akan menjadi menantu Keluarga Pradana, dia langsung pulang dari luar kota malam itu juga.

Meskipun dalam hati sangat meremehkan Elang sebagai anak haram, sebagai kakak tertua, dia tetap harus menjaga penampilan.

Elang menggeleng. "Nggak perlu. Mulai sekarang, aku nggak ada hubungan lagi dengan Keluarga Aksara."

Dia sudah melihat sepenuhnya kebusukan mereka.

Senyuman Arif menghilang. Dalam hati, dia mengatai Elang tak tahu diri.

Tak lama kemudian, rombongan penjemput Keluarga Pradana tiba di vila Keluarga Aksara. Elang segera melangkah keluar. Dari awal hingga akhir, dia tidak menoleh pada siapa pun.

Talitha marah besar. "Apa-apaan itu? Baru dipenjara beberapa tahun sudah nggak tahu sopan santun!"

Arif menenangkan, "Ibu, cuma anak haram. Nggak usah dipedulikan."

Rio juga berkata, "Nggak perlu marah pada mantan narapidana. Kali ini keluarga kita sudah berjasa, waktunya minta keuntungan pada Ayah."

Di luar, Elang yang baru saja masuk mobil mendengar jelas percakapan mereka. Dia mencibir dalam hati. 'Keluarga Aksara, kalian tunggu saja.'

Rombongan bergerak menuju vila Keluarga Pradana. Keluarga Pradana adalah keluarga kuno berusia ratusan tahun di Kota Kamujra. Fondasi mereka kuat, benar-benar tak sebanding dengan Keluarga Aksara.

Tak lama kemudian, mobil tiba di vila Keluarga Pradana. Elang mengikuti kepala pelayan masuk.

Di dalam vila, Surya dan istrinya sedang menjamu seorang lelaki tua berwajah kotak.

"Dokter Bima, kali ini kami sudah benar-benar merepotkanmu." Surya berkata dengan penuh rasa terima kasih.

"Maaf, aku nggak bisa membantu." Bima tampak sedikit sungkan. "Kalau aku mendapat informasi tentang Kaisar Obat, aku pasti akan segera kabari."

Nama lelaki tua itu adalah Bima. Dia adalah seorang dokter terkenal yang diundang dengan bayaran tinggi. Namun, dia pun tak mampu membangunkan Nadira, lalu merekomendasikan seorang dokter legendaris, yaitu Kaisar Obat.

Suami istri itu pun berterima kasih, "Terima kasih, Dokter."

Bima melambaikan tangan dan berdiri. "Kalau begitu, aku pamit dulu."

Surya segera mengantarnya. Bima berpapasan dengan Elang yang baru masuk.

Elang merasa penasaran. Siapa lelaki tua ini? Dia bahkan tahu tentang Kaisar Obat? Kaisar Obat adalah kaisar dari segala obat.

Di zaman dahulu, ada tokoh legendaris yang mencicipi ratusan tanaman obat. Kini, ada Kaisar Obat yang mengenali segala ramuan. Dia adalah tokoh tertinggi dunia alkimia. Keahliannya misterius bagai dewa. Konon, tak ada penyakit yang tak bisa disembuhkannya.

Meskipun hebat, dia hanya dikenal di kalangan dunia alkimia dan bela diri. Orang biasa sulit mengetahuinya.

Mengapa Elang begitu paham? Karena Kaisar Obat adalah gurunya.

"Kamu Elang?" Sebuah teguran memutus lamunannya.

Elang mendongak. Surya menatapnya dengan tatapan tidak ramah.

Elang pun mengangguk.

"Kudengar, kamu baru keluar dari penjara?"

Elang kembali mengangguk.

Wajah Surya semakin suram. "Hebat sekali Keluarga Aksara. Beraninya mengirim mantan narapidana untuk menjadi menantu kami. Apa mereka mengira cabang keluargaku sudah kehilangan kekuasaan, jadi mudah dihina?"

"Sudahlah, hari ini hari bahagia, jangan banyak bicara." Julia melotot pada suaminya. "Lagi pula, ini atas persetujuanku."

Dia menilai Elang dari atas sampai bawah. Matanya menunjukkan kepuasan. "Bagus, bagus. Wajah dan penampilanmu nggak buruk, pantas untuk Nadira."

Surya mendengus dan naik ke lantai atas, jelas tidak puas dengan menantu ini.

"Suruh orang antar Nadira keluar." Julia memberi perintah pada kepala pelayan, lalu berkata kepada Elang, "Elang, kita juga naik."

Elang mengikutinya tanpa melontarkan sepatah kata pun.

Di ruang tamu lantai dua, beberapa pengasuh sudah membantu seorang wanita cantik luar biasa keluar.

Wanita itu sekitar 20 tahun, berambut merah bergelombang besar, wajahnya halus tanpa cela, tubuhnya ramping. Jika bukan karena wajahnya yang pucat karena sakit, dia pasti akan semakin memikat.

Elang agak heran. Bukankah katanya wajahnya rusak? Kenapa begitu cantik?

Di bawah kesaksian Julia dan suaminya, keduanya mengadakan upacara pernikahan sederhana. Kemudian, kepala pelayan membawa foto mereka untuk mengurus akta nikah.

"Elang, mulai sekarang putriku kuserahkan padamu." Julia berpesan dengan serius.

Elang mengangguk. "Ibu, tenang saja. Aku akan membuat Nadira bahagia."

Surya mendengus keras, lalu turun ke lantai bawah.

"Elang, ayahmu memang seperti itu, jangan dimasukkan ke hati." Julia tampak agak canggung dan mengeluarkan sebuah kartu bank. "Di dalamnya ada 2 miliar. Anggap saja hadiah pertemuan dariku."

Elang sedikit tercengang. Baru pertama bertemu, ibu mertuanya sudah memberi 2 miliar sebagai hadiah? Ada hal sebaik ini di dunia?

"Aku nggak bisa menerimanya." Elang buru-buru menolak. Dia tak bisa menebak maksud pihak lain, bahkan merasa perlakuan ini terlalu baik.

Dia tentu tidak tahu, Keluarga Pradana memang ingin mencari seseorang untuk mengusir kesialan, tetapi bukan sembarang orang.

Keluarga Aksara yang mengusulkan agar Elang masuk menjadi menantu. Julia segera menyuruh orang menyelidiki latar belakang Elang.

Tiga tahun lalu, Elang menggantikan kakaknya masuk penjara, kini baru keluar pun rela kembali berkorban demi keluarga. Orang yang setia dan berprinsip seperti ini tentu disukai Julia.

Meskipun dia juga ingin mencari yang lebih unggul, untuk kondisi Nadira sekarang, lelaki unggul mana yang bersedia menikahinya?

Lagi pula, Keluarga Pradana tidak kekurangan uang. Dibandingkan itu semua, karakter jauh lebih penting.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status