Share

Bab 3

Author: Haryanto Wijaya
Akhirnya, Julia tetap memaksa menaruh kartu bank itu ke tangan Elang. Setelah mereka pergi, Elang masuk ke kamar dan menatap Nadira yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang.

"Menjadi menantu Keluarga Pradana ternyata nggak buruk juga." Dia bergumam pelan. Perhatian Julia membuatnya teringat pada mendiang ibunya. Berbeda dengan Rio, ibunya, Echa sangat menyayanginya.

Elang menggenggam tangan halus Nadira dan memeriksa denyut nadinya. Sesaat kemudian, alisnya berkerut. "Hmm, kondisi fisik seperti ini ... jangan-jangan ...."

Dia memeriksa lebih teliti, lalu matanya berbinar. "Ternyata benar Fisik Foniks. Keberuntunganku terlalu bagus."

Dia sangat bersemangat. Menurut gurunya, orang dengan fisik khusus sangat jarang ditemui. Baru saja keluar, dia langsung bertemu satu, bahkan secara tak terduga menikah dengannya.

Sambil menahan kegembiraannya, Elang mulai memeriksa penyebab Nadira koma. Beberapa saat kemudian, alisnya sedikit terangkat. "Heh, sepertinya istriku ini juga nggak sederhana."

Dengan satu tangan membentuk segel, helai demi helai energi sejati keluar dari ujung jarinya dan berubah menjadi jarum-jarum energi di udara.

Mengubah energi menjadi jarum. Jika ada orang berpengetahuan melihat pemandangan ini, pasti akan sangat terkejut. Teknik seperti itu hanya ada dalam kitab kuno.

Elang menyibakkan selimut, melihat tubuh indah dan ramping itu. Tatapannya sedikit membara.

Selama tiga tahun di penjara, dia tak pernah bersentuhan dengan wanita. Di usia penuh darah muda, wajar jika jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat pemandangan ini.

Dia menarik napas dalam-dalam, menekan gejolak dalam hati, lalu fokus mengendalikan jarum energi.

Sret ... sret ... sret .... Ujung jarinya bergerak ringan. Sembilan jarum energi menusuk titik-titik akupunktur di tubuh Nadira satu per satu.

Buzz .... Ujung jarum energi bergetar pelan, lalu berubah dari bening menjadi merah pekat. Dalam beberapa menit, warnanya menyerupai darah segar.

Elang mengibaskan tangan. Sembilan jarum energi terbang, berubah menjadi sembilan tetes cairan merah darah di atas tempat sampah. Aroma harum tipis menyebar.

Dia kembali memeriksa nadi Nadira dan mendapati masih ada sedikit sisa racun. Dia terlebih dahulu menyalurkan sedikit energi sejati untuk memulihkan vitalitas tubuhnya, lalu bersiap melanjutkan pengobatan.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Niniek yang merupakan pengasuh pun masuk membawa baskom air hangat. Melihat pemandangan di dalam, dia terkejut. "Kamu ... kamu apakan Nona?"

Elang mengernyit dan menarik tangannya. Baru hendak menjelaskan, Niniek sudah berlari keluar. Tak lama kemudian, dia kembali bersama Surya dan Julia.

"Dasar binatang! Apa yang kamu lakukan pada Nadira?" Begitu masuk, Surya langsung memaki.

Julia segera memeriksa kondisi Nadira terlebih dahulu. Setelah memastikan tidak ada yang terjadi, dia baru merasa lega. Kemudian, dia menatap Elang. "Elang, tadi kamu ngapain?"

Surya marah. "Perlu ditanya? Bajingan ini pasti ingin melakukan sesuatu yang tak senonoh pada Nadira! Sudah kubilang, mantan narapidana bukan orang baik, tapi kamu nggak mau dengar."

Tak heran dia salah paham. Kesan awalnya pada Elang memang sudah buruk. Ditambah apa yang dilihat Niniek, sulit untuk tidak curiga. Membayangkan Elang hendak menyentuh putrinya yang koma pun membuatnya semakin marah.

"Kenapa kamu begitu emosional? Kita 'kan belum tahu duduk perkaranya seperti apa." Julia melotot pada suaminya, lalu kembali menatap Elang.

Elang tidak menyembunyikan apa pun. "Aku cuma mau mengobati Nadira."

Julia terkejut. "Kamu bisa ilmu medis?"

Elang mengangguk. "Sedikit."

Surya tertawa marah. "Omong kosong! Kamu bahkan belum lulus SMP sudah masuk penjara. Belajar ilmu medis dari mana? Dari para narapidana di dalam?"

Elang tak ingin menjelaskan panjang lebar. "Aku memang mengobati Nadira. Percaya atau nggak, terserah."

Surya mencibir. "Begitu ya? Terus, kamu tahu apa penyakit Nadira?"

"Dia keracunan."

Surya langsung tertawa keras dan memaki, "Ngaco! Nadira kecelakaan dan kesadarannya tenggelam, itu sebabnya dia koma. Apa hubungannya dengan keracunan?"

Elang berdecak. Otak Nadira memang pernah mengalami kerusakan, tetapi belum sampai menyebabkan koma permanen. Penyebab sebenarnya adalah Racun Bunga Pantai.

Racun Bunga Pantai tidak berwarna dan tidak berbau, menyatu dalam darah dan saraf, sangat sulit dideteksi. Itulah sebabnya selama setahun ini, Keluarga Pradana mengundang banyak dokter hebat, tetapi tak satu pun bisa membangunkannya.

Penyebab penyakit saja tak ditemukan, bagaimana bisa diobati?

Elang malas menjelaskan. Mau dia berkata apa pun, mereka tetap tak akan percaya.

Julia hendak berbicara ketika kepala pelayan masuk dengan tergesa-gesa. "Nyonya Adinia dan Nona Ladya datang."

Baru saja dia selesai berbicara, dua sosok masuk. Yang datang adalah nyonya cabang utama Keluarga Pradana, Adinia, dan putri bungsunya, Ladya.

"Adik Ipar, kudengar kalian mencari Tuan Muda Keluarga Aksara untuk mengusir kesialan bagi Nadira. Mana orangnya? Biar kulihat."

Ladya mencibir. "Ibu, Tuan Muda Keluarga Aksara apanya? Katanya cuma anak haram, sepertinya juga pernah dipenjara."

Ibu dan anak itu saling menimpali, membuat wajah Surya dan Julia memucat karena marah.

Surya memelototi Julia. "Semua ini ulahmu."

Wajah Julia dingin. "Kak Adinia, kamu nggak perlu mengurus menantuku."

Adinia tersenyum. "Ucapanmu kurang tepat. Bagaimanapun, aku tante Nadira, wajar kalau peduli. Walaupun Nadira koma, bukan berarti kalian bisa pilih cowok sembarangan. Seperti nggak ada yang menginginkannya saja."

Ucapan itu menusuk. Julia gemetar menahan amarah, tetapi sebelum dia sempat membalas, Adinia melanjutkan.

"Mantan narapidana membawa sial. Kalau sampai menular ke Nadira, gimana? Bukannya mengusir sial, malah mengundang bencana."

Dia lalu menatap Surya. "Kamu juga nggak mengatur Julia. Kalau benar membawa bencana, Nadira mungkin nggak akan pernah bangun."

Suara Julia meninggi. "Berani-beraninya kamu mengutuk putriku!"

Adinia tak peduli. "Jangan salah paham, aku cuma bicara fakta."

Sebelum Julia menjawab, Elang lebih dulu berbicara, "Tante Tua, mengusir sial bukan soal masa lalu seseorang, tapi soal takdir dan peruntungan."

"Waktu kecil aku pernah diramal. Katanya aku bintang keberuntungan. Ke mana pun aku pergi, tempat itu akan makmur. Siapa tahu sebentar lagi Nadira akan bangun."

Adinia tertegun sejenak, lalu marah. "Dasar mantan narapidana! Siapa yang kamu sebut tua?"

Elang tersenyum lebar. "Tante Tua, wajahmu penuh kecemburuan dan kepahitan. Bedakmu tebal sekali sampai bisa dijadikan cat tembok. Jangan-jangan kamu terlalu tua dan jelek sampai nggak percaya diri bertemu orang?"

Semua orang terdiam. Tak ada yang menyangka mulut Elang begitu tajam.

"Ahhh! Bocah kurang ajar! Akan kusobek mulutmu!" Adinia mengamuk, hendak mencakar wajah Elang, tetapi ditahan Julia.

Dengan nada menyindir, Julia berkata, "Masa orang tua berdebat dengan anak muda? Nggak takut ditertawakan orang?"

Adinia gemetar menahan amarah, sadar tak bisa berbuat apa-apa di sini. Dia menekan amarahnya, lalu mencibir.

"Julia, jangan terlalu bangga. Aku datang untuk kasih tahu, Ayah sudah memutuskan Affan akan menjabat sebagai presdir. Upacara pelantikannya sebulan lagi."

"Kerja sama dengan Keluarga Hidayat juga akan sepenuhnya ditangani Affan. Sebaiknya kalian jangan ikut campur atau jangan salahkan kami kalau bertindak nggak sopan."

Ekspresi Julia langsung berubah. Setahun lalu, Keluarga Hidayat hendak berinvestasi di Kota Emaskra. Kakeknya berjanji, siapa pun yang berhasil menjalin kerja sama akan menjadi presdir Grup Pradana.

Nadira sudah bersusah payah menjalin koneksi, tetapi kecelakaan terjadi di saat genting. Selama dia koma, keluarga cabang utama bukan hanya mengambil hasilnya, tetapi juga menekan orang-orang kepercayaannya di perusahaan, entah direkrut atau dipecat.

Kini di Grup Pradana, keluarga cabang kedua hampir tak punya suara.

"Ayah benar-benar pilih kasih. Kami nggak akan setuju." Julia menggertakkan gigi dengan keras.

Adinia tersenyum puas. "Kamu bisa apa? Putrimu yang kamu banggakan masih koma. Keluarga kalian bisa mengandalkan siapa? Suamimu yang pengecut? Atau menantu mantan narapidana ini?"

Suasana langsung menegang. Wajah Julia muram dan menakutkan. Dia ingin membalas, tetapi tak tahu harus berkata apa.

"Heh, Julia, Keluarga Pradana pada akhirnya akan diwarisi cabang utama kami. Kalian jangan mimpi di siang bolong deh. Sebaiknya patuh saja atau nanti kalian sendiri yang menyesal."

Saat Adinia semakin pongah, dari arah ranjang tiba-tiba terdengar suara batuk. Semua orang segera menoleh. Entah sejak kapan, Nadira sudah membuka mata.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status