Share

Bab 6

Penulis: Haryanto Wijaya
Setelah meninggalkan Keluarga Pradana, Elang tidak langsung pergi menagih sisa pembayaran, melainkan berkeliling dulu di Kota Kamujra. Menjelang siang, dia menemukan sebuah kedai kecil untuk makan siang.

Meskipun sekarang sudah punya uang, dia tetap menyukai warung pinggir jalan seperti ini.

Belum lama duduk, terdengar suara perempuan yang jernih. "Elang!"

Dia mendongak. Wajah cantik nan halus langsung masuk ke pandangannya.

Kulit putihnya terlihat sangat lembut. Di balik kacamata tanpa bingkai, sepasang mata besar tampak hidup dan berkilau. Dipadukan dengan hidung mancung dan bibir mungil seperti ceri, fitur wajahnya nyaris sempurna.

Wajah cantik luar biasa itu, ditambah tubuh tinggi semampai, benar-benar merupakan sosok wanita kelas atas.

Elang agak heran, asal pilih kedai mi saja bisa bertemu wanita secantik ini? Jika di kampus, wanita di depannya pasti sudah jadi primadona.

Tiba-tiba, dia merasa wajah itu familier. Setelah berpikir sejenak, sebuah sosok muncul di benaknya.

Dengan sedikit ragu, dia bertanya, "Kamu ... Cherlisa?"

Gadis itu tersenyum manis. "Nggak kusangka kamu masih ingat aku!"

Setelah yakin, Elang sedikit tertegun. Dalam benaknya, muncul bayangan seorang gadis bertubuh mungil, berkacamata bingkai hitam tebal, poni menutupi dahi.

Jika tidak melihat sendiri, dia benar-benar sulit percaya bahwa si gadis tak mencolok dulu kini tumbuh secantik ini.

Cherlisa, teman SMP-nya. Dulu di kelas, dia hanya sosok tak terlihat. Alasan Elang mengingatnya karena dulu dia pernah membantu Cherlisa yang dirundung. Lama-kelamaan, mereka menjadi teman baik.

"Benar kata orang, gadis berubah saat dewasa. Gadis yang dulu sederhana sekarang sudah jadi dewi. Jadi nyesal dulu nggak gerak cepat." Elang tersenyum menggoda.

Wajah Cherlisa memerah. Dia mendengus. "Kamu juga sama saja, dulu nggak sepandai ini merayu."

Saat SMP, karena dikucilkan di rumah, Elang jadi pendiam dan jarang berinteraksi dengan teman. Baru setelah masuk Lapas Karang, sifatnya perlahan berubah.

"Hehe, orang pasti berubah." Elang tersenyum, lalu bertanya, "Kamu juga makan di sini?"

Cherlisa menggeleng. "Kedai ini milik ibuku. Hari ini hari Minggu, aku datang buat bantu-bantu."

"Cherlisa, mi-nya sudah jadi!" Tiba-tiba, terdengar suara dari dapur belakang.

Cherlisa segera berlari ke sana. Tak lama kemudian, dia keluar membawa semangkuk mi panas yang mengepulkan asap.

"Dilayani wanita secantik ini, benar-benar kehormatanku." Elang menerima mangkuk itu sambil tersenyum menggoda.

"Memang seharusnya begitu." Cherlisa tersenyum tipis, lalu duduk di seberangnya. Dia menopang dagu dengan kedua tangan dan bertanya dengan penasaran, "Elang, dulu kenapa kamu tiba-tiba berhenti sekolah?"

"Ada sedikit masalah," jawab Elang dengan santai tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Cherlisa pun mengganti topik. "Sekarang kamu masih sekolah?"

Elang menggeleng. "Nggak. Aku sudah nikah."

Cherlisa berseru pelan, wajahnya penuh ketidakpercayaan.

"Kamu benar-benar sudah nikah?" Dia sulit memercayainya. Usia Elang bahkan belum genap 20 tahun.

"Ya, baru nikah beberapa hari lalu." Elang mengangguk sambil tersenyum, lalu bertanya, "Gimana denganmu, Cantik? Sudah punya pacar?"

Cherlisa cepat-cepat menggeleng. "Aku masih kuliah, nggak terburu-buru."

Elang mengangguk. "Memang harus utamakan pendidikan. Jangan seperti aku."

Cherlisa mengangguk pelan. Entah kenapa, setelah mendengar Elang sudah menikah, ada sedikit rasa kehilangan di hatinya.

Tiba-tiba, beberapa preman masuk ke kedai. Wajah Cherlisa berubah. Dia menatap dengan marah. "Kenapa kalian datang lagi?"

"Eh, Kakak Ipar juga di sini ya." Preman berambut merah yang memimpin tersenyum mesum. Matanya menyapu tubuh Cherlisa dengan rakus.

Wajah Cherlisa memerah. "Jangan sembarangan bicara. Siapa kakak ipar kalian?"

Seorang wanita paruh baya keluar dari dapur belakang. Begitu melihat para preman, wajahnya langsung pucat. "Halo, kalian datang untuk makan atau ...?"

Preman berambut merah tersenyum. "Bos, sudah dipikirkan belum?"

Wajah Yenny berubah pucat. Dia tak tahu harus bagaimana.

Preman berambut merah melanjutkan, "Kak Ikhsan bilang, asal kamu setuju, bukan cuma nggak perlu bayar uang keamanan lagi, dia juga akan membantu memperluas kedai."

Yenny memaksakan senyuman. "Cherlisa masih kuliah, belum mau pacaran. Tolong sampaikan rasa terima kasih kami pada Kak Ikhsan. Uang keamanan akan kami bayar tepat waktu."

Brak! Preman berambut merah menendang kursi hingga terbalik. Wajahnya garang, "Jangan dikasih hati malah minta jantung. Kak Ikhsan suka pada putrimu itu kehormatannya. Jangan banyak omong. Hari ini dia harus ikut kami buat temani Kak Ikhsan. Kalau nggak, kedai rongsok ini kuhancurkan!"

Melihat situasi itu, beberapa pelanggan yang sedang makan langsung kabur.

Cherlisa berteriak dengan marah, "Kalian ini melanggar hukum! Aku akan lapor polisi!"

Para preman menyeringai. Seorang preman berambut pirang pun segera maju dan merampas ponsel Cherlisa.

"Kakak Ipar, jangan melawan. Polisi datang bisa apa? Paling kami ditahan beberapa hari. Setelah keluar, kami akan datang lagi. Kecuali kalian tutup usaha kalian."

Preman berambut merah juga mendekat sambil tersenyum. "Kakak Ipar, asal kamu ikut Kak Ikhsan, dijamin kamu hidup enak dan nggak ada yang berani ganggu kamu lagi."

Meskipun takut, Cherlisa tetap berkata dengan tegas, "Jangan mimpi! Aku nggak akan pernah setuju!"

Yenny berdiri di depan putrinya dan memohon, "Kami cuma buka usaha kecil. Tolong jangan persulit kami."

Penolakan berturut-turut itu membuat para preman benar-benar marah.

"Sialan, dua perempuan ini nggak tahu diri! Hancurkan kedai ini, lalu langsung bawa orangnya!" Preman berambut merah berteriak dengan sombong. Para preman langsung bergerak.

Setelah suara benturan bertubi-tubi, sebagian besar meja dan kursi hancur. Cherlisa dan ibunya hanya bisa bersembunyi di dapur belakang. Hati mereka takut sekaligus sakit melihat kedai dirusak.

Cherlisa tanpa sadar melirik Elang. Muncul harapan tak realistis di hatinya. Andai saja Elang bisa seperti dulu, bertindak bak pahlawan. Namun, dia segera menggeleng. Elang sendirian, mana mungkin melawan beberapa preman. Dia hanya berharap Elang segera pergi agar tidak ikut terseret.

Para preman juga memperhatikan Elang. Preman berambut pirang berkata dengan angkuh, "Bocah, cepat pergi. Jangan ganggu."

Elang berdiri, melirik mereka sekilas sambil tersenyum. "Kalian tampaknya cukup senang ya."

"Sialan, sudah disuruh pergi masih nggak dengar?" Preman berambut pirang melayangkan tamparan sambil memaki, "Karena kamu nggak mau pergi, jangan harap bisa pergi lagi!"

Elang mengangkat tangan dan menangkap pergelangan tangan lawan, lalu memutarnya dengan kuat. Terdengar suara retakan tulang yang jelas. Preman itu langsung menjerit kesakitan. Elang mengayunkan tangannya dengan ringan dan melemparnya ke luar.

Yang lain segera bereaksi. Preman berambut merah pun murka. "Bocah, cari mati ya? Beraninya kamu main tangan! Tahu kami siapa?"

Elang mengangguk. "Tentu tahu. Cuma sekumpulan sampah masyarakat."

"Sialan! Hajar dia!" Preman berambut merah naik pitam. Dia mengeluarkan belati dan menusuk ke arah Elang.

"Elang, cepat menghindar!" Cherlisa memucat karena ketakutan. Namun, adegan berikutnya membuatnya ternganga.

Hanya dengan beberapa pukulan dan tendangan, Elang sudah menjatuhkan semua preman. Gerakannya santai, seolah-olah hanya makan dan minum.

"Hiss .... Kamu pasti mati .... Kak Ikhsan nggak akan melepaskanmu ...." Preman berambut merah meringis kesakitan, tetapi masih sempat mengancam.

Elang melangkah maju dan menginjak wajahnya, sedikit menekan hingga membuat pihak lawan meratap kesakitan.

"Tadi kamu bilang apa? Aku nggak dengar." Injakan Elang semakin kuat.

Preman berambut merah merasa kepalanya hampir pecah, tetapi tetap keras kepala. "Bajingan, Kak Ikhsan itu orang Organisasi Serigala Putih! Kamu pasti akan mati! Tuhan pun nggak akan bisa menyelamatkanmu!"

Elang menambah tekanannya dan wajah preman itu pun terdistorsi karenanya. Preman itu terlihat kesakitan, merasa kepalanya bisa remuk di detik berikutnya. Dia tak berani lagi bersikap keras dan langsung memohon ampun, "Kak, aku salah, aku salah! Jangan diinjak lagi ...."

Elang mengangkat kakinya, lalu menatap preman lain. Semua menunduk, tak berani bersuara.

Preman berambut merah bangkit dengan terhuyung, menatap Elang dengan takut. Baru hendak pergi, Elang memanggilnya, "Berhenti. Siapa bilang kamu boleh pergi?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status