Share

Bab 7

Penulis: Haryanto Wijaya
Si preman berambut merah berkata dengan wajah hampir menangis, "Kak ... masih ada urusan lagi?"

Elang melirik ke sekeliling, lalu bertanya dengan datar, "Merusak barang orang lain nggak perlu ganti rugi?"

Yenny segera maju. "Dik, sebaiknya lupakan saja." Dia benar-benar tidak berani meminta para bajingan itu membayar.

"Benar, benar, memang seharusnya ganti rugi." Preman berambut merah buru-buru berkata, hanya ingin cepat pergi dari tempat ini.

"Kak, meja-meja ini paling harganya cuma 4 sampai 6 juta. Aku ganti 10 juta." Dia mengeluarkan ponsel dan hendak memindai kode pembayaran.

"Sepuluh juta?" Wajah Elang menjadi masam. "Kamu kira lagi kasih sedekah?"

Preman berambut merah tergagap. "Kalau begitu ... sebutkan saja angkanya."

Elang mengucapkan dua kata dengan tenang, "Seratus juta."

Seluruh tubuh preman berambut merah langsung membeku. Beberapa meja rusak ini bernilai 100 juta?

"Seratus juta? Kenapa nggak sekalian saja kamu merampok?" ucapnya secara refleks, tetapi langsung menyesal setelah mengatakannya. Yang di depannya ini adalah iblis hidup.

Yenny juga terkejut. Baru hendak berbicara, Cherlisa menghentikannya.

Suara Elang terdengar mengejek. "Kenapa? Cuma kalian yang boleh merampok orang, orang lain nggak boleh merampok kalian?"

Preman berambut merah langsung terdiam. Setelah terdiam lama, dia akhirnya berkata dengan tergagap, "Ta ... tapi aku benar-benar nggak punya uang sebanyak itu."

Nada suara Elang menjadi dingin. "Cari cara sendiri. Kalau nggak, hari ini tinggalkan satu tanganmu di sini."

Wajah preman berambut merah memucat. "Aku bayar, aku bayar!"

Beberapa preman itu terpaksa meminjam uang dan menggesek paylater, akhirnya mengumpulkan 100 juta dengan susah payah.

"Elang, terima kasih banyak untuk hari ini." Cherlisa tampak sangat bersyukur. Matanya berbinar saat menatap Elang. Ini sudah kedua kalinya pria itu menolongnya.

Elang tersenyum ringan. "Cuma masalah kecil, nggak perlu dipikirkan."

"Anak Muda, hari ini kami selamat benar-benar berkat kamu." Yenny terus berterima kasih, bahkan hendak mentransfer uang itu kepada Elang. "Uang ini nggak bisa kami ambil."

Elang segera menolak. "Bibi, itu memang hak kalian."

Yenny masih ingin berkata sesuatu, tetapi Elang menolaknya dengan tegas. Dengan tak berdaya, dia hanya bisa menasihati, "Mereka bukan orang baik-baik. Urusan hari ini mungkin akan menyeretmu. Sebaiknya kamu segera tinggalkan Kota Kamujra."

Cherlisa juga memikirkan akibatnya dan berkata dengan tidak enak hati, "Elang, maaf, kami yang menyeretmu."

Elang tersenyum percaya diri. "Nggak perlu khawatir. Cuma beberapa sampah, aku nggak takut."

Ibu dan anak itu pun tak berkata apa-apa lagi. Setelah mengobrol sebentar dengan Cherlisa dan saling bertukar kontak, Elang pun pergi.

Sebelum pergi, dia tak lupa berpesan, "Kalau mereka datang lagi cari masalah, ingat hubungi aku."

Cherlisa mengangguk kuat-kuat. "Mm, kamu juga hati-hati. Setelah kedai tutup, aku traktir makan."

Setelah meninggalkan kedai mi, ponselnya berbunyi. Saat dibuka, ternyata pesan dari Surya. Di atasnya tercantum informasi para klien yang menunggak pelunasan. Dilihat sekilas, ada lebih dari sepuluh orang.

Yang paling banyak menunggak adalah Perusahaan Keamanan Serigala Putih, total utangnya lebih dari 10 miliar.

Elang pun bertanya-tanya, apakah Perusahaan Keamanan Serigala Putih ini ada hubungannya dengan Organisasi Serigala Putih?

Dia mencari lewat ponsel dan menemukan bahwa tak jauh dari sini ada cabang Perusahaan Keamanan Serigala Putih. Dia langsung naik taksi menuju tempat tujuan.

....

"Dik, sudah sampai."

Elang membayar, lalu turun. Dia melihat sekeliling dan mendapati kawasan ini sedang dalam pembongkaran. Dia melangkah menuju gedung tak jauh di depan.

Baru saja tiba di bawah gedung, sebuah Bentley merah melaju mendekat. Pintu mobil terbuka, lalu dua wanita turun. Salah satunya mengenakan jaket kulit hitam dan kacamata hitam, tampak seperti pengawal.

Elang hanya melirik sekilas, lalu memindahkan pandangan ke wanita lainnya. Itu adalah wanita cantik luar biasa yang parasnya tak kalah dari Nadira.

Wajahnya polos tanpa riasan tebal, fitur wajahnya tegas dan indah, kulitnya putih mulus. Setelan kerja hitam yang dikenakannya menampilkan lekuk tubuhnya yang indah dengan sempurna. Bukan hanya cantik, dia juga memancarkan aura anggun dan terhormat.

Elang agak heran, sekilas dua orang ini jelas bukan orang biasa, kenapa datang ke tempat terpencil seperti ini? Jangan-jangan mereka juga datang karena Perusahaan Keamanan Serigala Putih?

"Kalau berani melihat lagi, percaya atau nggak, kucongkel matamu." Suara dingin terdengar, membuat Elang merasa tubuhnya merinding.

Matanya sedikit menyipit. Pihak lain tampaknya bukan orang biasa.

"Donna, jangan cari masalah. Jangan lupa urusan utama." Wanita cantik itu berbicara, lalu berjalan lebih dulu menuju gedung. Pengawal wanita segera mengikuti.

Ternyata benar. Elang pun paham dan ikut berjalan cepat.

Pengawal wanita itu tiba-tiba menoleh. "Bocah, kalau kamu berani ikut lagi, kupatahkan kakimu!"

Wanita cantik itu juga sedikit mengernyit.

Elang merasa tak senang dan langsung membalas, "Siapa bilang aku menganggur sampai harus mengikutimu? Memangnya aku nggak boleh datang ke sini untuk urusanku sendiri?"

Wajah si pengawal wanita meredup. "Bocah, berani sekali bicara sembarangan. Benar-benar cari mati!"

Dia hendak bergerak, tetapi dihentikan oleh wanita cantik itu. "Nona, bocah ini nggak tahu diri. Biar aku beri dia sedikit pelajaran."

Wanita cantik itu menggeleng, lalu menatap Elang dengan rasa ingin tahu. "Kamu datang ke sini untuk urusan apa?"

Elang menjawab dengan jujur, "Menagih utang."

Donna tertawa kecil. "Bocah, sendirian saja berani datang? Nyalimu besar juga. Kamu tahu ini tempat apa?"

Elang memasang ekspresi seperti sedang memandang orang bodoh dan menunjuk papan nama di atas. "Kamu bodoh? Di atas tertulis jelas, Perusahaan Keamanan Serigala Putih."

Donna terdiam, tak bisa membalas. Namun, teringat bahwa Elang berani memakinya, dia langsung marah.

"Bocah kurang ajar! Kamu memang minta dipukul!"

"Sudah, Donna, jangan lupa urusan utama."

Wanita cantik itu melambaikan tangan dan menghentikannya, lalu masuk ke gedung. "Tempat ini bukan tempat baik-baik. Dik, jangan gegabah, lebih baik kamu cepat pergi."

Donna juga berkata dengan dingin, "Kalau nggak mau kehilangan tangan atau kaki, cepat enyah."

Elang sama sekali tak peduli dan mengikuti keduanya masuk ke gedung. Kedua wanita itu menyadarinya, tetapi tak berkata apa-apa lagi. Nasihat baik tak bisa menyelamatkan orang yang ingin mati.

Baru saja mereka masuk ke lobi lantai satu, dua pria kekar berjas hitam langsung menyambut.

"Bu Vellin, bos kami menunggu di atas," ucap salah satu pria.

Vellin mengangguk pelan. "Tunjukkan jalan."

Dua pria kekar itu langsung berjalan di depan. Elang juga mengikuti dari belakang. Karena datang bersama Vellin, dua pria itu tidak banyak bertanya. Mereka sama sekali tak tahu bahwa yang datang adalah dua pihak yang berbeda.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kantor mewah di lantai paling atas. Di kursi bos di belakang meja, duduk seorang pria botak berwajah garang.

Secara lahiriah, dia adalah manajer cabang Perusahaan Keamanan Serigala Putih, Solihin. Namun, sebenarnya dia adalah salah satu dari empat ketua aula Organisasi Serigala Putih, berjuluk Baldo.

Benar, Perusahaan Keamanan Serigala Putih hanyalah nama di permukaan. Di baliknya disebut Organisasi Serigala Putih, salah satu dari dua kekuatan mafia terbesar di Kota Kamujra.

"Wah, Bu Vellin sampai datang sendiri ke tempat kecilku. Sungguh kehormatan besar bagiku." Baldo segera bangkit dan menyambut mereka, lalu memerintah sekretaris wanita di sampingnya, "Cepat ambil teh mahal yang kusimpan. Seduhkan untuk Bu Vellin."

Vellin duduk di sofa dan langsung ke inti persoalan. "Katakan saja, syarat apa agar kamu setuju untuk pembongkaran?"

Baldo tampak serbasalah. "Kamu juga tahu, gedung ini kami bangun dengan banyak usaha ...."

Vellin menyela, "Langsung saja sebutkan syaratnya."

Baldo tersenyum. "Kamu memang terus terang. Kalau begitu, aku juga nggak akan bertele-tele lagi."

Sambil berbicara, dia mengangkat satu jarinya. "Asal kamu bersedia memberi kami 1 triliun, kami akan segera pindah."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status