แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Haryanto Wijaya
"Nona!" Donna juga sangat cemas, tetapi tak berdaya.

Saat kedua wanita itu diliputi keputusasaan, tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Sekelompok pria dewasa malah memakai cara serendah ini untuk menghadapi seorang wanita. Nggak tahu malu?"

Semua orang yang hadir langsung menoleh ke arah Elang yang berbicara. Donna tampak terkejut, sementara di hati Vellin muncul secercah harapan yang samar.

"Selama kamu bisa membawaku pergi, aku pasti akan memberimu balasan besar." Saat ini, Vellin seperti orang yang tenggelam. Sekecil apa pun harapan, tak akan dia lepaskan.

Baldo mengernyit. "Bocah, kamu ini siapa? Berani ikut campur urusan Organisasi Serigala Putih?"

Sejak tadi, dia mengira mereka bertiga datang bersama. Sekarang tampaknya tidak.

Elang berkata dengan tenang, "Siapa aku nggak penting. Aku hanya nggak suka melihat cara kalian bertindak."

Prok! Prok! Prok! Rian bertepuk tangan sambil tersenyum tipis. "Hehe, keberanianmu lumayan juga. Berani sekali ikut campur urusanku."

Senyumannya tiba-tiba menghilang, wajahnya berubah muram. "Mau jadi pahlawan penyelamat wanita ya? Apa kamu pantas?"

"Kalau nggak ingin mati, segera berlutut. Hari ini suasana hatiku lagi baik. Mungkin aku hanya akan patahkan kedua kakimu dan kubiarkan kedua tanganmu utuh untuk mengemis nanti." Setelah berkata demikian, dia tertawa keras, menatap Elang dengan tatapan penuh ejekan.

Baldo ikut membentak, "Bocah, cepat berlutut dan berterima kasih atas kemurahan hati Pak Rian."

Elang berkata dengan datar, "Ide yang bagus. Nanti aku juga akan sisakan sepasang tangan untukmu."

Wajah Rian langsung menjadi masam. Melihat itu, Baldo berteriak, "Berani sekali kamu bersikap kurang ajar pada Pak Rian!"

Dia mengayunkan tinju langsung ke arah Elang.

"Awas!" seru Donna.

Wajah Vellin penuh kekhawatiran. Elang adalah satu-satunya harapan terakhirnya. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya.

Dia sangat ingin maju membantu, tetapi efek obat di tubuhnya sudah sepenuhnya bekerja dan kesadarannya semakin kabur.

Elang berdiri dan mengayunkan tinju untuk menyambut. Brak! Dua tinju bertabrakan, terdengar suara tulang retak. Baldo terpental ke belakang, lalu darah muncrat dari mulutnya.

Semua yang hadir tercengang. Satu serangan saja sudah membuat ahli tingkat tujuh pelatihan fisik terluka parah. Itu artinya, Elang setidaknya adalah ahli tingkat sembilan pelatihan fisik.

Mata Vellin yang mulai buram pun berbinar. Kali ini, dia benar-benar melihat harapan.

Rian memang terkejut, tetapi tidak takut. Dia mengamati Elang dari atas ke bawah. Sorot matanya menunjukkan sedikit apresiasi.

"Bocah, kemampuanmu lumayan. Kuberi kamu satu kesempatan. Jadilah budakku." Wajahnya angkuh, seolah-olah menjadi budaknya adalah kehormatan besar.

Elang hampir tertawa saking kesalnya. Entah dari mana orang bodoh ini mendapatkan rasa superioritasnya. "Enyahlah kamu."

Rian murka. "Master Johan, patahkan keempat anggota tubuh sampah ini. Aku ingin dia hidup menderita!"

Lelaki tua kurus itu pun melangkah maju. Sepasang mata tajamnya mengunci Elang.

"Bocah, lebih baik kamu menyerah tanpa perlawanan. Kalau aku turun tangan, kamu bahkan akan kesulitan untuk mati." Suaranya serak dan menusuk telinga.

Elang tak berkata apa-apa, hanya mengangkat satu jari tengah.

"Kurang ajar! Cari mati kamu!" Tatapan lelaki tua itu setajam pisau. Dia lalu menerjang secepat kilat.

Elang sama sekali tak gentar. Sampah di ranah pelatihan fisik saja berani menggonggong padanya. Dia memiringkan tubuh menghindari serangan, lalu menepuk sisi pinggang lawan dengan ringan.

Lelaki tua itu seperti dihantam keras. Tubuhnya terlempar ke samping dan menghantam dinding dengan keras. Setelah jatuh ke lantai, dia memuntahkan darah. Kepalanya miring, lalu dia langsung pingsan.

Ruangan menjadi sunyi senyap. Kekuatan lelaki tua itu jelas terlihat. Dia adalah ahli tingkat sembilan pelatihan fisik, tetapi tetap kalah dalam satu serangan. Itu artinya, Elang merupakan grandmaster meridian!

Ketika kemungkinan itu terlintas, beberapa orang di tempat itu merasa ngeri dan tak percaya. Usianya masih begitu muda. Grandmaster meridian semuda ini belum pernah terdengar.

Vellin memang terkejut, tetapi lebih merasa senang. Dia tahu dirinya telah selamat. Ketegangan yang selama ini menahan dirinya langsung mengendur dan sisa kesadarannya pun segera ditelan gelombang hasrat.

Wajahnya merah padam, kedua tangannya tanpa sadar merobek pakaiannya sendiri, memperlihatkan kulit putih yang luas. Dari mulutnya sesekali keluar erangan menggoda.

"Nona!" Donna memanfaatkan momen ketika para pria berbaju hitam masih terkejut. Dia segera melepaskan diri dan maju menopang Vellin yang hampir roboh.

Rian tersadar dari keterkejutannya. Wajahnya amat suram. "Bajingan, berani sekali menyentuh orangku! Kamu pasti mati! Bukan hanya kamu, keluargamu pun akan ikut menderita!"

Kilatan dingin melintas di mata Elang. Sret! Tubuhnya bergerak. Dia seketika mencekik Rian dan mengangkatnya.

"Ulangi lagi." Suaranya dingin menusuk. Niat membunuh bergolak di matanya.

Wajah Rian memerah, tetapi dia masih mengancam dengan keras. "Bocah, kamu cari mati sendiri. Keluarga Dolken bukan pihak yang bisa kamu singgung."

Elang tak berkata apa-apa dan telapak tangannya sedikit mengencang.

Wajah Rian berubah ungu kehitaman, urat di dahinya menonjol, seolah-olah detik berikutnya dia akan mati kehabisan napas.

Pada saat genting itu, pintu kantor didobrak terbuka. Sekelompok pria berbaju hitam menyerbu masuk dengan ganas. Kantor itu langsung dikepung rapat. Dilihat sekilas, jumlahnya hampir 100 orang.

"Bocah, cepat lepaskan Pak Rian. Kalau nggak, hari ini kamu nggak akan bisa keluar dari sini!" Baldo bangkit dari lantai, kembali bersikap sombong.

Melihat keadaan tak menguntungkan, dia diam-diam memanggil bantuan lewat ponsel agar semua anak buah di gedung datang. Dia yakin dengan begitu banyak orang, mereka bisa mengatasi Elang.

Elang melepaskan tangannya, membuat Rian jatuh ke lantai. Tanpa peduli rasa sakit di lehernya, Rian segera menjauh dari Elang. Setelah berdiri di belakang Baldo, ekspresinya baru sedikit rileks.

"Serang dia! Patahkan keempat anggota tubuh bajingan itu! Aku akan menjadikannya manusia tanpa anggota badan agar dia tahu akibat dari menyinggungku!" teriaknya penuh amarah dan kebencian.

Sejak kecil hingga sekarang, belum pernah dia dipermalukan seperti ini.

"Pak Rian tenang saja, bocah ini hari ini nggak akan bisa kabur." Baldo tampak percaya diri, lalu memandang Elang. "Bocah, kamu memang kuat. Tapi dua tangan nggak bisa melawan banyak orang. Hari ini kamu pasti mati!"

Musuh seperti Elang, jika dibiarkan lolos, hatinya tak akan tenang.

Selain itu, Vellin juga tak boleh pergi. Kalau tidak, Organisasi Serigala Putih akan mendapat masalah besar.

Elang mengangkat alis. "Yakin?"

Baldo berjalan ke belakang meja, membuka laci, dan mengeluarkan pistol. "Bocah, dengan begitu banyak saudara dan benda ini di tanganku, kalau kamu masih bisa pergi, kepalaku akan kuserahkan padamu untuk dijadikan tempat kencing."

Wajah Donna kembali tegang. Bahkan ahli pelatihan fisik tahap puncak pun mustahil menghindari peluru. Hanya grandmaster yang bisa melakukannya. Namun, Elang masih begitu muda, mustahil dia adalah seorang grandmaster. Kalaupun benar, peluang menghindarinya pun tidak 100%.

Hatinya diliputi keputusasaan. Apakah hari ini mereka benar-benar akan tamat di sini?
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status