登入Pagi masih terlalu rumit bagi Naya. Di dalam kamar tidurnya yang bersudut sempit, pantulan cermin retak menampilkan raut wajahnya yang lesu serta binar mata yang meredup akibat tangis semalaman. Jemari Naya bergerak lambat, menyematkan kancing kemeja kerjanya satu per satu dengan ketelitian yang kaku. Berita pertunangan megah antara Damian dan Clarissa dari Mahardika Grup masih bergaung amat nyaring di kepalanya, memagari batasan status mereka dengan dinding beton yang tak menembus. Pintu kamar mendadak terdorong pelan. Bibi Ratna melangkah masuk membawa cangkir teh hangat, memasang wajah manis yang teramat dipaksakan. Perhiasan imitasi di pergelangan tangannya berdenting halus saat ia meletakkan cangkir itu di atas meja rias. "Naya, Nak... minum dulu tehnya," tutur Bibi Ratna lembut, suaranya dipoles sehalus sutra. Wanita paruh baya itu mendekat, lalu mengusap bahu Naya dengan gerakan yang amat canggung. "Bibi tahu kamu lelah. Tapi dipikir-pikir lagi, penawaran Pak Prakoso s
Makan malam di Arion Suite akhirnya memasuki penghujung yang menyiksa. Prakoso mengelap bibirnya dengan serbet kain premium, lalu menyandarkan tubuh gempalnya pada sandaran kursi beludru. Tatapannya menatap Naya yang masih menunduk kaku, hampir tidak menyentuh hidangan penutup di depannya. Prakoso meraih dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam elegan dengan tulisan emas di atasnya, serta sebuah kartu akses bernomor kamar apartemen mewah di pusat kota. Ia menggeser kedua kartu tersebut ke hadapan Naya. "Ini kartu namaku dan kartu akses apartemen di Sudirman Hills " ujar Prakoso dengan nada santai namun sarat akan dominasi. "Berhentilah bekerja di kantor itu, Naya. Jadi bawahan orang hanya membuat wajah cantikmu cepat kusam. Pindah ke apartemen itu, seluruh kebutuhanmu dan keluarga bibimu akan kutanggung sepenuhnya." Naya menatap dua lembar kartu di atas meja itu dengan rasa mual yang membakar tenggorokan. Ia menarik tangannya menjauh, menatap Prakoso denga
Sabtu sore merayap perlahan menyelimuti rumah sederhana di pinggiran kota. Udara kamar Naya terasa begitu pengap, berbanding lurus dengan keputusasaan yang kini merajai seluruh sudut jiwanya. Naya duduk membisu di depan cermin rias yang retak di sudut, menatap bayangan wajahnya sendiri yang pucat tanpa gairah hidup. Di atas ranjang, sebuah gaun panjang berwarna merah marun terbentang. Gaun itu bukan miliknya, melainkan pemberian Bibi Ratna yang sengaja dibeli dari pasar demi memastikan keponakannya tampil memikat malam ini. Pintu kamar mendadak didorong kasar dari luar. Bibi Ratna melangkah masuk dengan gaun bermotif mencolok dan perhiasan imitasi yang gemerlap di lehernya. Wajah wanita paruh baya itu dipenuhi oleh ekspresi tidak sabar yang amat ketara. "Naya! Kenapa kamu belum ganti baju juga?" tegur Bibi Ratna tajam, merampas gaun di atas ranjang dan melemparnya tepat ke pangkuan Naya. "Pak Prakoso sudah memesan tempat di restoran mewah Arion Suite. Jangan membuat kita terlih
Malam sebelumnya berjalan tanpa sisa kehangatan bagi Naya. Di kamar sempitnya yang pengap, bayangan cincin pertunangan di butik mewah bersama senyuman kemenangan Clarissa terus berputar-putar di dalam kepalanya, berpadu dengan ancaman dingin dari Bibi Ratna yang bersikeras ingin menjual masa depannya kepada pengusaha tua. Naya meringkuk di atas ranjang tanpa bisa memejamkan mata sedetik pun. Ketika fajar menyingsing di luar jendela kamar, lingkaran hitam di bawah mata Naya tampak semakin pekat. Langkah kakinya terasa begitu berat saat ia mengenakan pakaian kerjanya dan melangkah keluar menuju halte bus. Sesampainya di lantai eksekutif Arka Holding, udara dingin pendingin ruangan menyambutnya layaknya hembusan es yang langsung menusuk tulang belakang. Naya duduk di balik meja kerjanya dengan tatapan kosong. Pikirannya terpecah menjadi dua bagian yang sama-sama mematikan. Di satu sisi, ia adalah wanita simpanan yang memuja sang CEO dalam diam, sementara di sisi lain, akhir pek
Cahaya lampu kristal di dalam butik perhiasan mewah itu memantul sempurna pada deretan cincin berlian yang tersusun rapi di atas kain beludru hitam. Suasana butik begitu eksklusif dan tenang, dipesan khusus agar pelayanan terbaik bisa diberikan kepada pasangan calon pengantin dari keluarga terpandang. Clarissa mencondongkan tubuhnya, memperhatikan dua lingkar cincin berlian potong zamrud yang berkilau mewah di hadapannya. Senyum puas tersungging di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. "Damian, bagaimana menurutmu yang ini?" tanya Clarissa anggun, memutar pergelangan tangannya untuk memperlihatkan kilau berlian itu di bawah cahaya lampu. "Desainnya sangat klasik dan elegan. Cocok untuk acara pertunangan kita nanti." Tidak ada jawaban. Clarissa menoleh, mendapati Damian sedang berdiri bersedekap di sampingnya. Pria itu menatap lurus ke arah jendela kaca besar butik yang menampilkan lalu lintas ibu kota, namun pandangan matanya tampak kosong. Manik hitam pekat itu s
Suasana di dalam ruang arsip yang terisolasi itu mendadak berubah menjadi arena pertempuran emosi yang membakar. Aroma kayu cendana milik Damian berpadu sempurna dengan deru napas mereka yang mulai memburu tidak beraturan. Jarak di antara keduanya telah terkikis habis, menyisakan gesekan tubuh yang menghantarkan gelombang panas ke seluruh penjuru saraf Naya. Damian menunduk, mencium bibir Naya dengan intensitas yang menuntut dan penuh penguasaan. Tangan kokoh pria itu merengkuh pinggang Naya semakin erat, mengangkat tubuh gadis itu hingga bersandar menempel pada deretan lemari besi arsip. Naya terbuai dalam gelora sentuhan itu. Jemarinya mencengkeram kemeja Damian dengan kuat, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya ke dalam pelukan sang CEO. Di saat-saat seperti ini, Naya memilih untuk melupakan segala teror dan ketakutan yang menghantuinya. Ia hanya ingin merasa diinginkan. Ia hanya ingin merasa hidup di dalam rengkuhan pria yang menguasai seluruh hatinya. Suhu di ruangan







