LOGIN"Kiara Shanin Pratama, mulai hari ini kamu resmi jadi milik Arvino Ezra Alister." Satu kalimat itu mengubah nasib Kiara. Kabur usai melukai pelanggan VVIP lokalisasi, ia justru jatuh di pelukan Arvino— CEO dingin yang ditinggal kabur pengantinnya. Demi nama baik, Arvino nekat menutup skandal dengan menikahi Kiara malam itu juga. Kiara mengira ini sekadar akting darurat. Namun di balik itu semua, ada hal yang lebih berbahaya...
View More“Hmm, cewek kampung ini lagi. Males aku lihatnya!”
“Iya, Sis. Cuma modal dada gede sama muka cantik doang, tapi di suruh ngelayani pelanggan, malah kaku kayak kayu. Mentang-mentang masih perawan, harganya sok dinaikin.” “Iya nih. Padahal yaa, masih mending kita ke mana-mana.” Begitulah nasib Kiara Shanin Pratama yang kini menangis tersedu karena pekerjaannya yang hina. Ditambah lagi, cibiran dan cemooh itu meluncur bebas dari sesama pelacur yang kerja di tempat yang sama dengannya. Lahir dari keluarga miskin di sebuah desa terpencil, hidup Kiara sejak kecil tak pernah mudah. Ayah dan ibu tirinya terlilit utang yang cukup besar hanya untuk judi dan foya-foya. Hampir setiap hari para rentenir dan preman datang menagih hutang ke rumah. Hingga suatu malam, salah satu rentenir yang terkenal paling kejam datang ke rumah sambil mengancam akan menjebloskan sang ayah ke penjara. Namun, alih-alih bertanggung jawab untuk mencicil semua utang tersebut, kedua orang tuanya justru menjadikan Kiara sebagai alat pembayaran. Kiara diserahkan kepada rentenir itu tanpa sedikit pun rasa iba. Bagi keluarganya, gadis itu tak lebih dari barang yang bisa ditukar demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Biadab kan? Memang! Dari tangan sang rentenir, Kiara kemudian dijual kepada seorang Mommy, pemilik klub malam terkenal di kota. Dan di sinilah hidup Kiara berubah menjadi mimpi buruk. Di balik gemerlap lampu, dentuman musik, dan kemewahan klub, Kiara dipaksa menemani para pria hidung belang yang datang. “Sudah-sudah! Diam kalian! Jangan ganggu anak ini!” suara ketukan hak tinggi Mommy menggema bersamaan dengan titahnya yang tegas selayaknya bos di tempat kerja. Wanita setengah baya itu menatap Kiara tajam tanpa simpati. “Kiara, bawa minuman ini ke Suite 01 sekarang! Malam ini, kita kedatangan tamu penting. Jadi jangan sampai kamu membuat kita malu! Tuan Johnny bukan orang sembarangan dan dia termasuk pelanggan VVIP di sini! Kamu harus melayaninya sampai puas! PAHAM?” tegas si wanita bergincu merah tebal. “M-melayani? Maksud Mommy a–” Belum sempat Kiara menyelesaikan kalimatnya, pemilik klub malam itu lebih dulu menyela, “Sudah jangan banyak tanya! Toh nanti kamu juga tau!” perintahnya sambil mendorong Kiara menjauh. “Cepat masuk sekarang! Kalau sampai kamu buat masalah, aku suruh anak buahku cambuk kamu sampai pingsan!” tukas sang Mommy dengan dingin. Dengan tangan gemetaran, Kiara memegang nampan perak berisi botol Macallan 18 dan dua gelas kristal. Rambut hitam pekatnya yang panjang dan bergelombang lembut berkibar pelan saat ia melangkah ragu menuju pintu hitam di ujung lorong VVIP. Dua orang penjaga langsung membantu untuk membukakan pintu begitu melihat kedatangannya. Ruangan itu luas dan temaram khas club malam di kota-kota besar. Aroma alkohol langsung menusuk indra penciuman Kiara. Di atas sofa kulit hitam, duduk seorang pria dengan perut gendut, kepala botak, cincin berderet di jari, dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka menampilkan dadanya. Pria itu menatap Kiara dengan kilat nafsu. Senyum terukir di wajahnya yang mulai keriput itu. “P-permisi Tuan, saya mau antar minuman,” cicit Kiara pelan. Ia menunduk dalam-dalam hingga helai rambut hitamnya jatuh menutupi wajahnya yang manis. Johnny sama sekali tidak tertarik pada apa yang Kiara pegang. Pandangannya justru tertuju pada tubuh Kiara. Matanya menyisir leher jenjangnya yang mulus, turun ke lekuk dadanya yang menyembul ketat, hingga ke pinggang rampingnya. “Cepat kemari!” perintah Johnny. Suaranya terdengar serak akibat menahan gejolak gairah. Jantung Kiara berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. “S-saya cuma disuruh antar minuman saja, Tuan. Saya–” Johnny terkekeh penuh nada sarkasme. “Kamu pikir Mommy-mu mengirim ke sini hanya untuk itu?” tanyanya masih dengan mata jelalatan yang tak pernah lepas dari tubuh Kiara. “Dasar gadis naif.” “Tapi—” “Cepat ke sini!” Johnny kembali bertitah. Dan mau tak mau, Kiara bergerak patuh menghampirinya meskipun ia sudah gemetar luar biasa. “Akh!” Pria berusia hampir 50 tahunan itu menarik pinggang Kiara, mengikis jarak di antara mereka. “Tubuhmu indah sekali, manis.” “Tolong... jangan Tuan...” bisik Kiara, air matanya akhirnya menetes. Rasa ketakutan menyumbat tenggorokannya. Jemari Johnny yang dingin menyentuh dagu Kiara, memaksanya menatap balik. “Lihat wajahmu– kamu cantik sekali.” Pria itu menyentuh ujung rambut Kiara dan mengendusnya. “Tubuhmu juga harum sekali, dan— menggairahkan.” Ibu jarinya bergerak turun, mengelus bibir bawah Kiara yang berlipstik merah muda. Lalu perlahan merayap turun ke tulang selangka dan menekan bagian atas gaunnya. “Mommy-mu bilang, kamu masih perawan ya?” “Tuan...” Dada Kiara yang besar terlihat naik turun, jantungnya berdegup liar. Air matanya sudah jatuh menetes membasahi wajahnya. Ia ketakutan sekali. “Lepaskan gaunmu! Aku ingin melihat tubuhmu yang indah itu!” perintah Johnny penuh gairah yang tertahan. “Saya tidak bisa.” Kiara menggeleng kuat, mencoba menolak meski ketakutan setengah mati. “Jangan uji kesabaranku!” tekan Johnny mulai emosi. “Saya mohon Tuan, jangan minta saya melakukan hal yang aneh-aneh! Saya— ahh...” Johnny menekan pinggang Kiara dengan kuat hingga gadis itu mengerang kesakitan. Mata yang dipenuhi kilat nafsu itu sedikit menggelap ketika Kiara menolaknya. “Jangan membantah! Aku sudah membayar mahal untuk menikmatimu! Cepat turuti perintahku, SE-KA-RANG!” Dengan jemari yang gemetar hebat, Kiara menurunkan bagian atas gaun merahnya. Kain itu meluncur turun, menyisakan kemben tipis yang hampir tidak bisa menahan keindahan bentuk dadanya yang membusung pasrah. Kiara nyaris polos dengan hanya menyisakan hot pants yang cukup minim. Johnny menarik napas. Mata gelapnya berkilat liar. “Luar biasa... Mommy-mu benar-benar tahu seperti apa seleraku.” Dia bertepuk tangan. Sesekali bibir bawahnya dijilat. Bahkan, miliknya sudah tegang hanya dengan melihat Kiara yang nyaris polos di depannya. “Sekarang...” Pria itu menepuk area di antara kedua kakinya. “Berlutut di depanku!” Kiara memegang dadanya yang terbuka dengan tangan gemetar. “Tuan, tolong lepaskan saya! S-saya...” “CEPAT LAKUKAN!” potong Johnny tegas. Jemarinya mulai melonggarkan sabuk kulitnya. “Tuan...” “SEKARANG!!” bentakan keras pria gemuk itu membuat Kiara tak punya pilihan lain kecuali patuh. Tubuhnya bergetar hebat saat ia berlutut di antara kedua kaki pelanggan VVIP tersebut. Pria itu mengelus rambut panjang Kiara, lalu menurunkan resleting celananya, mengeluarkan miliknya yang sudah menegang sempurna di balik pakaian dalam. Kiara menatap inti pria itu dengan mata membelalak penuh ketakutan. “Ayo, buka mulut dan cepat kulum!” perintah Johnny tidak sabaran. Jemarinya meremas tengkuk Kiara, mendorong kepala gadis itu mendekat. Gadis itu menggeleng. “Cepat kulum!” ‘Tidak! Aku tidak mau melakukan ini!’ Pikiran Kiara berkecamuk. Mana mau dia patuh pada pria hidung belang ini dan merelakan keperawanannya begitu saja? Tidak, tidak boleh! Dia harus melawan. Dan saat rasa takut serta tekad ingin melarikan diri itu bercampur jadi satu, Kiara segera menggenggam milik pria itu, lalu...Mobil Rolls-Royce Phantom bernuansa hitam legam itu meluncur mulus membelah jalanan ibu kota. Di dalam kabin belakang yang kedap suara, suasana begitu hening hingga suara helaan napas Kiara terdengar jelas. Kiara duduk sangat menyudut di dekat pintu kanan, berusaha memberi jarak sejauh mungkin dari sosok Arvino yang duduk tegap di sampingnya. Jemari mulus Kiara meremas ujung kemeja yang tadi Arvino berikan. Mata bulatnya berkedip pelan, menatap takjub pada interior mobil yang sedang ditumpanginya. ‘Waah, mobilnya bagus banget. Atap mobilnya bisa dibuka gitu lagi,’ batin Kiara kagum luar biasa. ‘Jok juga, empuk banget.’ Ia menggoyangkan bokongnya tanpa sadar. ‘Bahkan mobilnya wangi banget kayak toko parfum. Pria di sebelahku ini benar-benar orang kaya.’ Kiara terus bergumam dan mengagumi setiap sudut mobil dalam hatinya dengan wajah polos yang tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Arvino yang sejak tadi menyilangkan kaki sambil bermain ponselnya hanya meliriknya sesekali. Pr
“Astaga... aku benar-benar sial.” Kiara menghembuskan napas panjang. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan. Dengan wajah masih merah membara menahan malu, Kiara memutar kunci pintu kamar mandi, lalu membukanya sedikit. Gadis itu mengintip ke luar dengan ragu. Tepat di luar sana seseorang memang masih berdiri. Dan orang itu adalah Arvino. “T-Tuan...” panggil Kiara dengan suara yang sangat pelan. Arvino yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menoleh galak. “Apa lagi?!” “A-anu,” cicit Kiara lirih, menyembunyikan wajahnya di balik celah pintu. “Bisa tolong bantu buka ini?” “Buka apa?” tanya Arvino sambil mengerutkan keningnya. “Resleting gaunnya tiba-tiba macet. S- saya sudah mencoba untuk membukanya tapi nggak bisa,” terang Kiara. “Tck.” Arvino mendesis kasar, mencoba mempertahankan aura galaknya. Ia melangkah menghampiri kamar mandi dan mendorong pintunya. Kiara refleks membelakangi Arvino, menutupi bagian depan dad
“T-Tuan... tolong lepaskan saya. Saya janji bakal ganti rugi pakai apa pun yang Tuan minta, saya bersumpah, tapi tolong biarkan saya pergi!” pinta Kiara dengan suara bergetar hebat. Air mata kembali menumpuk di pelupuk mata bulatnya. Arvino terkekeh dingin. Sorot mata cokelat gelapnya menatap Kiara dengan tatapan menyindir yang tajam. “Ganti rugi?” desis Arvino rendah, mengikis jarak hingga napas hangatnya menerpa ceruk leher Kiara. “Kamu ganti rugi pakai apa? Uang? Aku sudah punya banyak.” Kiara membisu, bibir bawahnya bergetar pasrah. “Tuan–” “Ikut saja apa yang aku katakan! Jangan banyak membantah! Kamu cukup jadi istri pura-puraku untuk beberapa waktu.” Kiara makin pening. Gadis itu merasa takdir baik tidak berpihak padanya. Bagaimana mungkin niatnya kabur dari klub malam justru membuatnya terperangkap jadi istri pria yang bahkan namanya saja tidak dia tahu. “Tapi kita nggak saling kenal,” beo Kiara lirih. Dia tidak tau harus pakai cara apa supaya bisa kabur dari sini.
“Arvino! Apa kamu sudah gila?!” bentaknya. “Siapa perempuan ini?! Kenapa kamu tiba-tiba menjadikannya istri? Kita bahkan nggak tahu asal-usulnya!” “Mama, tenang dulu!” potong Arvino datar. Suaranya memang tidak meninggi, tetapi sorot matanya yang dingin tetap tertuju pada tubuh Kiara yang terbaring pasrah di atas ranjang. “Bagaimana Mama bisa tenang?!” bentak ibunya histeris. “Vivian kabur, dan kamu malah menikahi cewek antah berantah ini di depan ratusan tamu VIP dan media! Mau ditaruh di mana muka keluarga Alister?!” Ayah Arvino melangkah maju, menatap putranya tajam. “Jelaskan, Arvino! Kenapa kamu mengambil keputusan segila ini?” Arvino memutar tubuhnya, menghadap kedua orang tuanya dengan wajah keras tanpa penyesalan. “Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku mengumumkan pembatalan pernikahan begitu saja, saham perusahaan akan anjlok besok pagi dan keluarga kita jadi bahan tertawaan orang-orang.” “Tapi kenapa harus dengan wanita nggak jelas ini?!” desis ibunya murka. “Urusan d












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.