MasukTo avoid a brutal war, the alpha of Blue Ridge Pack reluctantly agrees to an arranged marriage between his beta's daughter Piper and his enemy's son. His son, Xander, learns of his plan to sacrifice Piper and helps Piper run away. Xander makes her promise to stay hidden until she finds and marks her destined mate. A few years later, after she turns 20 and is able to identify her mate, Piper begins to struggle with stomach pain. She assumes that the pain is caused by the herbs she is taking to mask her identity. Unfortunately, Piper's world crushes down around her when she discovers that the stomach pain is not really stomach pain at all… she is experiencing betrayal pains. The only problem? She does not know who her mate is. As the betrayal pains become more frequent and more destructive, Piper must race to find both her mate and the reason that neither he, nor she, recognize one another.
Lihat lebih banyakAngin berhembus lembut di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi, menggoyangkan dedaunan seperti melodi lembut. Di tengah hutan, sebuah dojo kecil berdiri kokoh, tempat di mana para murid berkumpul untuk mengasah kemampuan bela diri mereka. Di sinilah Xiao Feng berlatih, di bawah bimbingan Shifu Yan, seorang guru yang dihormati dan bijaksana. Dengan tatapan penuh harapan, ia memfokuskan diri pada gerakan-gerakan yang diajarkan.
Hari itu, pelatihan terasa berbeda. Ada ketegangan di udara, seolah-olah alam merasakan peristiwa yang akan datang. "Feng, ingat, kekuatan bukan hanya berasal dari fisik, tetapi juga dari dalam diri," suara Shifu Yan mengalun lembut namun tegas, mengingatkan Xiao Feng untuk selalu memperhatikan keseimbangan antara kekuatan dan ketenangan dalam hidupnya.
Pemuda itu tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab. "Ya, Shifu," jawab Xiao Feng, sambil mengatur napasnya. Dengan keahlian yang terasah, ia melanjutkan gerakan pedangnya, menghindari bayang-bayang yang seolah mengintai di sekelilingnya. Namun, meski ia berusaha keras, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Seakan ada sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Beberapa saat berlalu hingga akhirnya menjelang malam, langit mulai gelap, dan bintang-bintang bersinar dengan samar di balik awan. Xiao Feng duduk di tepi danau kecil di belakang dojo, salah satu tempat yang bisa menenangkan hati pemuda itu dengan merenungkan nasib dan impiannya. "Apa yang akan terjadi jika aku tidak bisa menjadi pendekar seperti yang diharapkan Shifu?" pikirnya.
Namun tiba-tiba, suara langkah kaki menghentikan lamunannya. Dari bayang-bayang pohon tidak jauh dari tempatnya, muncul dua sosok mengenakan jubah hitam. Mereka berjalan sangat cepat, seolah memiliki tujuan tertentu. Hal itu membuat Xiao Feng merasakan ada sesuatu yang tidak beres akan segera terjadi. Intuisi sebagai seorang pendekar muda memberitahunya bahwa kedatangan mereka bukanlah hal baik.
Tanpa berfikir panjang, ia segera berlari menuju dojo untuk memperingatkan Shifu Yan. Namun, saat ia sampai, pintu dojo terbuka lebar dan ia mendapati pemandangan yang membuat hatinya tercekat. Suatu pemandangan yang tidak ia harapkan sama sekali. Shifu Yan tergeletak di tanah, dikelilingi oleh sosok-sosok bertopeng yang sedang melancarkan serangan. Xiao Feng membuka matanya dengan lebar, mulutnya bergetar hebat, ia ingin menangis saat itu juga. Tetapi suara itu terhenti di tenggorakkan "Shifu!" teriaknya, suaranya pecah oleh ketakutan.
Dengan keberanian yang tersisa, Xiao Feng melompat masuk, bersiap menghadapi musuh yang tak terduga tersebut. Ia meraih pedangnya dan berlari menerjang. Namun, serangan mereka terlalu cepat, dan dalam sekejap, satu dari mereka mendorongnya ke tanah, membuatnya kehilangan kendali. "Kau hanya anak kecil yang berani," cemooh salah satu dari mereka. "Jangan menghalangi kami!" ujar salah satu dari pria tersebut sambil menunjuk ke arah Xiao Feng.
Dengan perasaan yang campur aduk, Xiao Feng berjuang bangkit, matanya terfokus pada gurunya yang terluka parah. Rasa sakit di dadanya semakin mendalam akibat serangan barusa, terlebih dengan keadaan gurunya yang semakin parah. Ia tahu, ini adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dengan semua tenaga yang tersisa, ia melawan, mengandalkan pelajaran yang telah diajarkan Shifu Yan.
Ia berlari sembari memegang pedangnya Kembali, berharap ia bisa memberikan satu tebasan saja terhadap musuh yang berada didepannya, “Terima ini…” pekik Xiao Feng. Namun, dengan sekali gerakan, musuh dapat mengatasi hal itu dengan sangat mudah bahkan salah satu pria tersebut memberikan tendangan keras tepat mengenai dada Xiao Feng. Dengan serangan musuh terlalu kuat itu, membuat Xiao Feng merasa terdesak.
Namun tiba-tiba, suara gemuruh menggema di langit, dan kilatan petir menyambar. Salah satu sosok bertopeng terjatuh, terkejut oleh suara tersebut. Hal itu membuat celah, hingga akhirnya Xiao Feng memanfaatkan kesempatan itu, ia menyerang, mengayunkan pedangnya kembali dengan segenap kekuatan. Namun, serangan itu belum cukup untuk memberikan luka gores kecil di tubuh musuh yang kembali berdiri dengan cepat. Tentu saja, musuhnya memiliki kekuatan besar dan keberanian hampir tak terbatas. Kejadian barusan bukan karena sesuatu penjahat itu takut, melainkan hanya terkejut.
Gurunya yang masih sadarkan diri segera berteriak, ketika melihat muridnya terjatuh untuk kedua kali. "Feng, jangan!" teriak Shifu Yan dengan suara lemah, namun penuh ketegasan. "Lari! Mereka bukan lawanmu!"
Akan tetapi, kata-kata itu terlambat. Xiao Feng terlalu terperangkap dalam perasaannya. Ia tidak bisa meninggalkan gurunya. Dalam sekejap, dia mengayunkan pedangnya lagi, tetapi sebuah tendangan menghantam tubuhnya, membuatnya terjatuh kembali.
Pemuda itu meringis kesakitan, bahkan ia sempat memuntahkan darah dari dalam mulut dan saat ia terbaring di tanah, pandangannya mulai kabur. Dalam keputusasaannya, ia melihat Shifu Yan berjuang melawan musuh-musuhnya kembali. Dengan setiap gerakan, ia menyaksikan sang guru mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya. "Jangan biarkan mereka mengalahkanmu, Shifu!" teriak Xiao Feng, suaranya dipenuhi dengan air mata.
Namun, semua usaha Shifu Yan sia-sia. Dalam satu Gerakan terakhir, salah satu musuh melayangkan serangan mematikan, dan dalam sekejap, Xiao Feng menyaksikan darah segar menyembur dari tubuh Shifu dengan pedang tertancap tepat di dadanya. Suara teriakan memecah kesunyian malam, dan tubuh Shifu Yan terjatuh ke tanah, tidak bergerak. Ia telah mati.
Xiao Feng menangis sejadi-jadinya, dunia seakan mulai runtuh di sekeliling Xiao Feng. Rasa kehilangan dan kemarahan membakar dalam dirinya. Dengan satu gerakan, dia berusaha bangkit, meski lututnya bergetar dengan hebat. Ia mengumpulkan semua keberanian yang tersisa. "Aku tidak akan membiarkan kalian lolos!" teriaknya, suaranya bergema di hutan yang sunyi.
Namun semua harapannya sirna saat salah satu musuh meraih pedang Shifu yang tertancap di dada Sang guru dan mengarahkannya tepat ke arah Xiao Feng. "Kau harus belajar untuk melepaskan," ucap pria tersebut. Senyum sinis di wajah pria itu tampak jelas, menggambarkan sesuatu yang membuat Xiao Feng ingin mengutuk pria itu. Hal tersebut membuat Xiao Feng murka akan tetapi ia tidak berdaya, hingga dalam sekejap, Xiao Feng merasakan kegelapan menutupi pandangannya. Ia terjatuh, tidak tahu apakah ia akan bangkit lagi atau menutup mata untuk selamanya.
(Piper POV)When my father asked about the day Viper died, I wasn’t sure what to say. I almost immediately saw stars and the machines around me began beeping loudly.I felt myself beginning to disassociate from my body. I was there, but I wasn’t there. I could hear and see what was going on, but I couldn’t feel anything.Suddenly, doctors and nurses filled the room.“What is happening to her?” my father demanded in a panic.“Sir, what happened before we came in?” a nurse asked.“Nothing. We were having a normal conversation. We talked about …oh, goddess, we talked about ---”Just then, I saw Leo break through security and force his way into the room. “What is going on?” he growled. “She isn’t supposed to be having attacks anymore! What is happening?!?!?!?!?!”Hearing Leo’s voice brought back memories. Some good. Some horrible ones. And conflicting emotions that I didn’t want to deal with.I felt myself begin to panic. Unless I was already panicking?The machines spiked ag
(Piper POV)As my father walked into my hospital room, I broke down in tears. Not just tears, but big, fat, ugly tears.I tried to get out of my bed and run to him, but my legs were still too weak after having been in bed for so long. I started to fall, but thankfully, my father quickly ran over and caught me.Once my father got me settled back into bed, he sat down next to me and held my hand.“Hello, my beautiful daughter,” he said warmly.My heart was racing. I could not believe he was here.“I … I thought… Xander t-t--told me… you died.”I saw a flash of anger cross his eyes.“I am very much alive, Sweetheart.”I wiped some of the tears from my eyes. “Why would Xander lie to me?” I asked. It did not make sense. Xander was my best friend. Or he had been. He wasn’t that cruel.My father frowned. “It wasn’t completely a lie.” I stared at him, confused.“You … you did die? And then they were able to revive you?”My father sighed. “No.”“Then what … what do you mean? Did y
(Eight weeks later)(Piper POV)I woke very slowly. I had no idea where I was or what had happened.All I knew was that the lights in whatever room I was in were very, very bright. I kept my eyes closed, not wanting to look at them.As I struggled to make sense of where I was, I thought about the last thing I had been doing before blacking out.The last thing that I remembered was being in my bedroom, laying on my bed, and then hearing Penelope’s voice. It had been so long since I heard it, that when she spoke, I got excited. Unfortunately, her words crushed me.***FLASHBACK***“I am sorry, Piper, but I think it is time for me to go,” she said slowly.“What? Nooooo! Penelope, no!”“The pain… it is too much… I cannot take it anymore.”I hadn’t even realized that we were having another attack. Attacks had become so frequent that I had almost become numb to them. Penelope was not so lucky, in part because –unbeknownst to me until it was too late—she had started to take on more o
(Leo Bloodstone POV)I cannot begin to describe the rage that I felt when I received the call at 2 am.Piper wasn’t just in trouble; she was now fighting for her life.I did not understand what had happened. I had plans, and backup plans, and backup plans to the backup plans.And, although I did not know what she had gone through since we lost sight of her just before my alpha coronation ceremony, I knew she was now safe. We knew where she was; we knew who she interacted with; we had Dr. Eggert working with her; and we had guards supervising her every move.She should have been safe.Yet, despite all that I had done… despite all that Landon had done… despite the safety protocol that the council had invoked… we had failed.It was a realization that burned me from the inside out.As I headed to the hospital, I called Xander. He was awake, just as I had been, and I told him the little that I knew about Piper’s condition. I still distrusted the guy, but he had been Piper’s best friend
(Piper POV)“How do you know about my connection to Leo Bloodstone?” I asked gingerly.Viper ignored my question. “Why did you run away from Bloodstone Pack?” he asked me instead.“Answer my question first.”“No.”“Viper ---”“Poison, this is important. Before I tell you anything, I need to know why you
(Piper POV)As Viper and I continued to sit in silence on the bench overlooking the lake, the sky darkened, signaling a thunderstorm was on its way. At first, I tried to ignore the impending change in weather. However, after several raindrops hit my face and the first roar of thunder landed in the
(Six Months Later)(Piper POV)I found myself lost in thought as I stared out over a large lake. It was still pretty early in the morning, so there were not a lot of people around. The only movement that I saw came from the water, the wind, and the birds.So much had happened in the past six months.
(Leo Bloodstone POV)“Where is she?” I asked.Addie did not answer right away. I could tell that she was beginning to fade. I began to worry that Addie would pass out or fall asleep any minute.“WHERE IS PIPER?” I repeated in a louder voice.“I don’t know,” she said in a sing-song voice.“How long has
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak