My Alpha, My Enemy

My Alpha, My Enemy

last updateLast Updated : 2024-05-19
By:  ReverOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
7.9
58 ratings. 58 reviews
116Chapters
67.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Born as the only wolfless person in her pack, Blake's life had been nothing but misery and humiliation, and she never expected things to change. But one innocent accident would change the course of her life forever when she met an Alpha in the male bathroom of her school. Now that her path had crossed with his, her life as a wolfless hybrid would now become the life of a powerful rogue wolf, and when she thought her fate with Nero couldn't get any more twisted, she is faced with the dilemma of choosing or killing him. *I always knew Blake and I was an impossible force from the moment we met again, and I don't get why fate keeps trying to merge us… Only chaos can blossom from what we are, and I want to shield her from all of it. But after everything that has happened so far, I realized that the universe wouldn't allow that to happen, so I will give in to its intention until everything burned into ash for us.

View More

Chapter 1

Run

“Kasih sisa makanan ke mereka aja. Mungkin bisa buat makan malam. Aku yakin mereka sering kelaparan, nggak bisa makan enak.”

Budhe Umayah memberi perintah pada Bi Nurul. Yang diperintah pun manut saja, buru-buru membungkus semua makanan sisa khitanan itu dengan plastik bening lalu memberikannya pada Emak yang masih sibuk cuci piring di dapur.

"Yang ini tinggal kuah-kuahnya aja, Mbak. Masa iya dimasukin sekalian? Apa nggak dibuang saja?" Bi Nurul masih menimbang-nimbang sayur sop di hadapannya.

"Masukin aja semuanya. Lumayan itu masih ada sari-sari dagingnya, Nur. Mereka terbiasa makan sama tempe, jadi makan begini sudah cukup mewah.” Budhe Umayah menyahut. “Biar irit juga. Jadi, jatah masaknya bisa ditabung buat beli rumah. Kasihan 'kan, udah nyaris 20 tahun menikah, mereka masih betah ngontrak." 

Rasanya begitu sesak tiap kali melihat Emak dan Bapak begitu diremehkan keluarga besar hanya karena kemiskinan kami. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun.

Budhe Umayah adalah istri dari kakak Emak. Keluarga mereka punya usaha bengkel motor dan mobil yang menghasilkan. Sementara Bi Nurul adalah adik ipar Emak. Keluarga mereka adalah juragan lele di kampungku.

Padahal, usaha-usaha tersebut adalah dari hasil penjualan tanah warisan Emak dari kakek. Tapi mereka bukannya membantu saudara sendiri, justru menghina.

"Las, kalau sudah beres ganti halaman belakang ya! Tadi ada beberapa tamu yang makan-makan di sana. Jangan lama. Nanti kukasih upah. Lumayan, bisa buat bayar kontrakan." 

Emak tak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengangguk lalu buru-buru ke halaman belakang sesuai perintah kakak iparnya.

"Kamu juga, ngapain bengong di situ–eh, kamu lihatin Hasbi?" tuduh Budhe.

Beberapa orang langsung menoleh ke arahku.

"Sadar diri kamu, Na. Lihatin dia sampai lepas bola matamu pun tak akan membuat dia melirikmu. Kalian berbeda, bagai langit dan bumi. Jadi, jangan mimpi terlalu tinggi!"

Tuduhan itu akhirnya menyulut kemarahanku. Aku nyaris membalas ucapan Budhe, hanya saja lagi-lagi Emak menyikut lenganku, memintaku mengalah dan diam.

"Fokus saja sama kerjaanmu. Nggak usah lirik sana sini segala. Ganjen banget jadi perempuan,” lanjut Budhe Umayah lagi. ”Mending kamu buruan beresin dapur. Itu sampah di ruang tamu sama ruang tengah juga masih banyak.” 

Aku menghela napas pelan dan perlahan bangkit.

Namun, belum juga sedetik, aku mendengar suara nyaring Budhe Umayah kembali berkumandang.

"Na! Budek ya!? Diajak ngomong orang tua kok diam saja.” Budhe membentak. “Begitu tuh didikan orang yang nggak SD aja nggak tamat!" 

"Cukup, Budhe!” Akhirnya aku tidak tahan. “Kalau tak menghinaku dan keluargaku sehari saja, apa akan membuat Budhe muntah-muntah? Kenapa sih terus menghina Emakku?” 

Dadaku naik turun karena emosi.

“Asal Budhe tahu, Emak memang nggak sekolah karena dia mengalah. Dia rela di rumah saja agar kedua saudara lelakinya bisa sekolah! Harusnya Budhe berterima kasih pada Emak, bukannya–”

Plak!

Belum selesai bicara, tangan mulus itu sudah menampar pipiku di depan orang banyak. Meski begitu, tak ada satu pun yang berniat menolong sebab mereka memang tak ingin berurusan dengan Budhe yang cukup disegani di kampung ini.

"Tutup mulutmu! Nggak sadar apa kamu, bisa sekolah sampai lulus SMA juga karena aku, budhemu!” bentak Budhe begitu kesal. “Kalau nggak aku yang biayain kamu sekolah, nasibmu akan sama seperti emakmu itu. Bodoh dan miskin. Tahu kamu!?" 

“Meski Budhe yang bayar, tapi aku–”

Emak buru-buru menarik pergelangan tanganku lalu minta maaf pada Budhe atas kelancanganku. 

Padahal aku cuma ingin mengatakan bahwa meski dibayari oleh Budhe, tapi aku tak ongkang-ongkang kaki. 

Aku belajar keras, bahkan mengerjakan semua tugas dan pekerjaan rumah anak Budhe yang dibangga-banggakan itu. Dia terima beres karena memang malas berpusing ria. Aku juga membantu di tokonya sepulang sekolah.

Aku bukannya tidak tahu terima kasih. Namun, Budhe sudah keterlaluan.

"Man! Nasehati anak sulungnya itu supaya belajar sopan santun. Anak sekolahan kok nggak punya unggah-ungguh. Kaya nggak pernah dididik saja!" 

Saat Bapak datang, Budhe langsung mengadu.

Bapak yang baru saja masuk rumah setelah membereskan halaman, mendadak terdiam lalu menatapku lekat saat mendengar bentakan Budhe Umayah. Meski hanya dengan menatapku dan tanpa bicara sepatah katapun, aku tahu jika Bapak ingin aku mengalah.

Aku membisu. 

"Na ...." Emak menggoyang lenganku dengan mata berkaca.

"Riana nggak salah, Mak. Ngapain minta maaf segala?" protesku untuk ke sekian kalinya.

"Mengalah dan minta maaf belum tentu salah kok, Nak. Itu hanya secuil bentuk hormat pada orang yang lebih tua," bisik Emak lirih sembari mengusap lenganku.

"Tapi seharusnya sebagai orang tua juga memberi contoh yang layak, Mak. Bukan menghina-hina orang begitu.” Kutarik perlahan tangan Emak, tapi wanita bermata teduh itu justru terisak. Dia tak beranjak dari tempat duduknya dan tetap memintaku untuk minta maaf.

Melihatnya seperti itu, jelas aku tak tega. Akhirnya, aku pun mengikuti perintahnya untuk minta maaf pada wanita modis itu meski sebenarnya enggan.

"Aku minta maaf kalau banyak salah, Budhe." Aku berucap lirih, mencoba meredam kekesalan dalam dada.

"Kenapa? Takut nggak bisa bayar kontrakan dan nggak bisa makan?" Wanita paruh baya itu justru menyindir.

"Nggak usah dibantu kalau masih belagu, Ma." Sesil, sepupuku, tiba-tiba menimpali. Dia melirikku sinis lalu membuang muka. "Oh ya, Na. Jangan pernah menggoda Mas Hasbi ya! Ingat, kamu itu siapa dan dia itu siapa. Dia bakal nikahin aku dua tahun lagi setelah dia lulus kuliah. Jangan jadi perempuan penggoda!”

Aku tidak menanggapi. 

Sejak dulu dia memang terlalu berambisi dengan Mas Hasbi. Kakak tingkatku itu memang memiliki pesona yang di atas rata-rata. Selain tampan, kaya dan ramah, dia juga pintar soal akademik.

Pesonanya membuat banyak teman seangkatan bahkan adik ataupun kakak kelas jatuh hati. Mungkin aku pun sama, hanya saja benar kata Sesil, aku cukup tahu diri.

"Ambil nih! Ingat, ajari anakmu sopan santun dan jangan belagu kalau kamu masih butuh duitku!" 

"Iya, Mbak. Nanti akan kuajari kedua anakku untuk lebih menghormati orang lain, apalagi orang yang lebih tua dari mereka," ujar Emak lembut dengan senyum tipis. 

“Tahu sendiri kan, selama ini mereka bergantung pada kita? Hasil dari jualan kopi sama cuci setrika berapa sih? Jangan sok.” Budhe menatap tajam pada Emak yang melangkah perlahan sembari sedikit membungkukkan badan saat mengambil amplop putih itu dari atas meja. 

Tak ingin ribut lagi, Emak membawa kami pulang. Bapak yang baru mengambil motornya dari halaman belakang hanya menatap kami bergantian.

"Ada apalagi?" tanyanya singkat.

"Biasalah, Pak. Mak Lampir sama nenek sihir!" sahut Liana, adikku, yang mendapatkan cubitan Emak. Takut jika dua perempuan itu kembali mendengar ucapan Liana.

"Mbak, aku doakan Mbak lekas dapat kerja supaya mereka tak terlalu merendahkan kita," ucap Liana dengan mata berkaca. 

Aku mengangguk pelan lalu buru-buru mengambil handphone jadulku saat terdengar ada sebuah pesan masuk di sana.

[Mbak Riana ya? Bapak meminta Mbak Riana untuk sudah ada di rumah sebelum pukul tujuh pagi besok. Ada beberapa hal yang akan Bapak jelaskan, terutama soal Mas Rama.]

[Dan gaji serta bonus Mbak juga.]

Aku tersenyum tipis saat membaca pesan itu. 

Waktunya untuk membuktikan pada keluarga besar Emak yang sombong itu jika aku juga bisa sukses tanpa harus terus tunduk, mengalah dan merendahkan harga diri di depan mereka. 

Aku ingin lihat bagaimana reaksi Budhe Umayah, jika mereka tahu aku akan bekerja di bawah naungan Pak Ginanjar, pengusaha properti sukses di kampung sebelah yang tak sengaja kutolong saat kecelakaan kemarin malam. 

Apalagi sebagai asisten pribadi putra sulungnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ratings

10
52%(30)
9
2%(1)
8
2%(1)
7
3%(2)
6
9%(5)
5
3%(2)
4
0%(0)
3
2%(1)
2
9%(5)
1
19%(11)
7.9 / 10.0
58 ratings · 58 reviews
Write a review

reviewsMore

Favour Yekini
Favour Yekini
It will be nice if you finish this story
2024-07-06 21:56:12
7
0
Yin & Yang
Yin & Yang
Finally it has been updated!!! Please finish this book, it has been so good so far, do not abandon it!!!
2024-03-23 20:27:13
4
0
Monica Baker
Monica Baker
Thank you for the update, look forward to the next chapter. #BlakeNero
2024-03-10 09:24:44
3
1
bakermonicaann
bakermonicaann
Enjoyed but so gutted to read not updated for months. Lesson learned - check reviews to see if story is being updated or abandoned, Blake & Nero deserve and ending to their story.
2024-03-08 05:37:21
2
0
Lisa Reed
Lisa Reed
I love this story hoping it’s finished soon for now it’s been abandoned
2023-05-19 23:59:49
5
0
116 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status