LOGINBorn as the only wolfless person in her pack, Blake's life had been nothing but misery and humiliation, and she never expected things to change. But one innocent accident would change the course of her life forever when she met an Alpha in the male bathroom of her school. Now that her path had crossed with his, her life as a wolfless hybrid would now become the life of a powerful rogue wolf, and when she thought her fate with Nero couldn't get any more twisted, she is faced with the dilemma of choosing or killing him. *I always knew Blake and I was an impossible force from the moment we met again, and I don't get why fate keeps trying to merge us… Only chaos can blossom from what we are, and I want to shield her from all of it. But after everything that has happened so far, I realized that the universe wouldn't allow that to happen, so I will give in to its intention until everything burned into ash for us.
View More“Kasih sisa makanan ke mereka aja. Mungkin bisa buat makan malam. Aku yakin mereka sering kelaparan, nggak bisa makan enak.”
Budhe Umayah memberi perintah pada Bi Nurul. Yang diperintah pun manut saja, buru-buru membungkus semua makanan sisa khitanan itu dengan plastik bening lalu memberikannya pada Emak yang masih sibuk cuci piring di dapur.
"Yang ini tinggal kuah-kuahnya aja, Mbak. Masa iya dimasukin sekalian? Apa nggak dibuang saja?" Bi Nurul masih menimbang-nimbang sayur sop di hadapannya.
"Masukin aja semuanya. Lumayan itu masih ada sari-sari dagingnya, Nur. Mereka terbiasa makan sama tempe, jadi makan begini sudah cukup mewah.” Budhe Umayah menyahut. “Biar irit juga. Jadi, jatah masaknya bisa ditabung buat beli rumah. Kasihan 'kan, udah nyaris 20 tahun menikah, mereka masih betah ngontrak."
Rasanya begitu sesak tiap kali melihat Emak dan Bapak begitu diremehkan keluarga besar hanya karena kemiskinan kami. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun.
Budhe Umayah adalah istri dari kakak Emak. Keluarga mereka punya usaha bengkel motor dan mobil yang menghasilkan. Sementara Bi Nurul adalah adik ipar Emak. Keluarga mereka adalah juragan lele di kampungku.
Padahal, usaha-usaha tersebut adalah dari hasil penjualan tanah warisan Emak dari kakek. Tapi mereka bukannya membantu saudara sendiri, justru menghina.
"Las, kalau sudah beres ganti halaman belakang ya! Tadi ada beberapa tamu yang makan-makan di sana. Jangan lama. Nanti kukasih upah. Lumayan, bisa buat bayar kontrakan."
Emak tak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengangguk lalu buru-buru ke halaman belakang sesuai perintah kakak iparnya.
"Kamu juga, ngapain bengong di situ–eh, kamu lihatin Hasbi?" tuduh Budhe.
Beberapa orang langsung menoleh ke arahku.
"Sadar diri kamu, Na. Lihatin dia sampai lepas bola matamu pun tak akan membuat dia melirikmu. Kalian berbeda, bagai langit dan bumi. Jadi, jangan mimpi terlalu tinggi!"
Tuduhan itu akhirnya menyulut kemarahanku. Aku nyaris membalas ucapan Budhe, hanya saja lagi-lagi Emak menyikut lenganku, memintaku mengalah dan diam.
"Fokus saja sama kerjaanmu. Nggak usah lirik sana sini segala. Ganjen banget jadi perempuan,” lanjut Budhe Umayah lagi. ”Mending kamu buruan beresin dapur. Itu sampah di ruang tamu sama ruang tengah juga masih banyak.”
Aku menghela napas pelan dan perlahan bangkit.
Namun, belum juga sedetik, aku mendengar suara nyaring Budhe Umayah kembali berkumandang.
"Na! Budek ya!? Diajak ngomong orang tua kok diam saja.” Budhe membentak. “Begitu tuh didikan orang yang nggak SD aja nggak tamat!"
"Cukup, Budhe!” Akhirnya aku tidak tahan. “Kalau tak menghinaku dan keluargaku sehari saja, apa akan membuat Budhe muntah-muntah? Kenapa sih terus menghina Emakku?”
Dadaku naik turun karena emosi.
“Asal Budhe tahu, Emak memang nggak sekolah karena dia mengalah. Dia rela di rumah saja agar kedua saudara lelakinya bisa sekolah! Harusnya Budhe berterima kasih pada Emak, bukannya–”
Plak!
Belum selesai bicara, tangan mulus itu sudah menampar pipiku di depan orang banyak. Meski begitu, tak ada satu pun yang berniat menolong sebab mereka memang tak ingin berurusan dengan Budhe yang cukup disegani di kampung ini.
"Tutup mulutmu! Nggak sadar apa kamu, bisa sekolah sampai lulus SMA juga karena aku, budhemu!” bentak Budhe begitu kesal. “Kalau nggak aku yang biayain kamu sekolah, nasibmu akan sama seperti emakmu itu. Bodoh dan miskin. Tahu kamu!?"
“Meski Budhe yang bayar, tapi aku–”
Emak buru-buru menarik pergelangan tanganku lalu minta maaf pada Budhe atas kelancanganku.
Padahal aku cuma ingin mengatakan bahwa meski dibayari oleh Budhe, tapi aku tak ongkang-ongkang kaki.
Aku belajar keras, bahkan mengerjakan semua tugas dan pekerjaan rumah anak Budhe yang dibangga-banggakan itu. Dia terima beres karena memang malas berpusing ria. Aku juga membantu di tokonya sepulang sekolah.
Aku bukannya tidak tahu terima kasih. Namun, Budhe sudah keterlaluan.
"Man! Nasehati anak sulungnya itu supaya belajar sopan santun. Anak sekolahan kok nggak punya unggah-ungguh. Kaya nggak pernah dididik saja!"
Saat Bapak datang, Budhe langsung mengadu.
Bapak yang baru saja masuk rumah setelah membereskan halaman, mendadak terdiam lalu menatapku lekat saat mendengar bentakan Budhe Umayah. Meski hanya dengan menatapku dan tanpa bicara sepatah katapun, aku tahu jika Bapak ingin aku mengalah.
Aku membisu.
"Na ...." Emak menggoyang lenganku dengan mata berkaca.
"Riana nggak salah, Mak. Ngapain minta maaf segala?" protesku untuk ke sekian kalinya.
"Mengalah dan minta maaf belum tentu salah kok, Nak. Itu hanya secuil bentuk hormat pada orang yang lebih tua," bisik Emak lirih sembari mengusap lenganku.
"Tapi seharusnya sebagai orang tua juga memberi contoh yang layak, Mak. Bukan menghina-hina orang begitu.” Kutarik perlahan tangan Emak, tapi wanita bermata teduh itu justru terisak. Dia tak beranjak dari tempat duduknya dan tetap memintaku untuk minta maaf.
Melihatnya seperti itu, jelas aku tak tega. Akhirnya, aku pun mengikuti perintahnya untuk minta maaf pada wanita modis itu meski sebenarnya enggan.
"Aku minta maaf kalau banyak salah, Budhe." Aku berucap lirih, mencoba meredam kekesalan dalam dada.
"Kenapa? Takut nggak bisa bayar kontrakan dan nggak bisa makan?" Wanita paruh baya itu justru menyindir.
"Nggak usah dibantu kalau masih belagu, Ma." Sesil, sepupuku, tiba-tiba menimpali. Dia melirikku sinis lalu membuang muka. "Oh ya, Na. Jangan pernah menggoda Mas Hasbi ya! Ingat, kamu itu siapa dan dia itu siapa. Dia bakal nikahin aku dua tahun lagi setelah dia lulus kuliah. Jangan jadi perempuan penggoda!”
Aku tidak menanggapi.
Sejak dulu dia memang terlalu berambisi dengan Mas Hasbi. Kakak tingkatku itu memang memiliki pesona yang di atas rata-rata. Selain tampan, kaya dan ramah, dia juga pintar soal akademik.
Pesonanya membuat banyak teman seangkatan bahkan adik ataupun kakak kelas jatuh hati. Mungkin aku pun sama, hanya saja benar kata Sesil, aku cukup tahu diri.
"Ambil nih! Ingat, ajari anakmu sopan santun dan jangan belagu kalau kamu masih butuh duitku!"
"Iya, Mbak. Nanti akan kuajari kedua anakku untuk lebih menghormati orang lain, apalagi orang yang lebih tua dari mereka," ujar Emak lembut dengan senyum tipis.
“Tahu sendiri kan, selama ini mereka bergantung pada kita? Hasil dari jualan kopi sama cuci setrika berapa sih? Jangan sok.” Budhe menatap tajam pada Emak yang melangkah perlahan sembari sedikit membungkukkan badan saat mengambil amplop putih itu dari atas meja.
Tak ingin ribut lagi, Emak membawa kami pulang. Bapak yang baru mengambil motornya dari halaman belakang hanya menatap kami bergantian.
"Ada apalagi?" tanyanya singkat.
"Biasalah, Pak. Mak Lampir sama nenek sihir!" sahut Liana, adikku, yang mendapatkan cubitan Emak. Takut jika dua perempuan itu kembali mendengar ucapan Liana.
"Mbak, aku doakan Mbak lekas dapat kerja supaya mereka tak terlalu merendahkan kita," ucap Liana dengan mata berkaca.
Aku mengangguk pelan lalu buru-buru mengambil handphone jadulku saat terdengar ada sebuah pesan masuk di sana.
[Mbak Riana ya? Bapak meminta Mbak Riana untuk sudah ada di rumah sebelum pukul tujuh pagi besok. Ada beberapa hal yang akan Bapak jelaskan, terutama soal Mas Rama.]
[Dan gaji serta bonus Mbak juga.]
Aku tersenyum tipis saat membaca pesan itu.
Waktunya untuk membuktikan pada keluarga besar Emak yang sombong itu jika aku juga bisa sukses tanpa harus terus tunduk, mengalah dan merendahkan harga diri di depan mereka.
Aku ingin lihat bagaimana reaksi Budhe Umayah, jika mereka tahu aku akan bekerja di bawah naungan Pak Ginanjar, pengusaha properti sukses di kampung sebelah yang tak sengaja kutolong saat kecelakaan kemarin malam.
Apalagi sebagai asisten pribadi putra sulungnya.
As I descended the stairs, the smell of fresh coffee greeted me. Jason was in the kitchen, pouring a cup for himself. He looked up as I entered, a warm smile on his face."Morning," he said, his voice gentle. "I made coffee.""Thank you," I replied, taking the cup he offered. The warmth of it seeped into my hands, a small comfort. "I appreciate it."We stood in companionable silence for a moment, sipping our coffee. The morning light filled the kitchen, creating a peaceful atmosphere that contrasted sharply with the frenzy inside me."Blake," Jason began, his voice hesitant. "I know I keep pushing this but you have been restless since yesterday... I can feel it without you telling me... every second, every time you block me out of your head, you can't stop me from feeling what your heart is going through. Are you sure you're okay? I mean, okay?"I met his gaze, the concern in his eyes evident. I wanted to reassure him, to tell him that everything was fine, but I couldn't bring myself
Blake's POVI woke to the pale light of dawn streaming through my curtains, casting a soft glow on my bedroom walls. I stretched, feeling the comfort of my warm bed cocooning me, reluctant to break free from its embrace. As I sat up, a sharp knock echoed through the quiet room, pulling me from my sleepy haze."Blake? Are you awake?" Jason's voice, laced with urgency, came from the other side of the door.I threw back the covers and reached for my robe, slipping it on hurriedly as I padded across the room. My heart pounded a little faster. Why was he here so early? I opened the door to find Jason standing there, his expression a mix of concern and frustration."Jason? What's wrong?" I asked, tightening the belt of my robe.He ran a hand through his disheveled hair, a sign that he'd been restless. "Blake, you've been blocking your mindlink from me. I can't hear your thoughts, and it's driving me insane. I can tell something's troubling you."I hesitated, looking away. "I don't know what
Nero's PovThe terminal's buzz of activity faded as we stepped out into the brisk evening air. My business partners, Victor and Raymond, chatted animatedly beside me, discussing the upcoming meeting at the resort. I nodded along, only half-listening. My mind was elsewhere, stuck on the strange encounter with the boy named Nicholas.We piled into a sleek black SUV waiting at the curb, and I slid into the back seat, the leather cool against my skin. Victor took the front passenger seat, continuing his conversation with Raymond, who was driving. They were both seasoned businessmen, used to these trips and the high-stakes negotiations that accompanied them. I should have been focused, mentally preparing for the discussions ahead, but I couldn't shake the feeling of familiarity that had struck me when Nicholas had looked up at me with those wide eyes.As we drove towards the resort, the cityscape gave way to more serene surroundings. I stared out the window, trying to piece together why
Blake's POVI stepped off the plane, the cool air of the terminal a welcome contrast to the stifling cabin. Nicholas's small hand gripped mine tightly, his eyes wide with excitement and curiosity. We maneuvered through the crowd, making our way to the immigration counters.The lady behind the counter looked up as we approached, her eyes scanning my passport. “Bella Greene?” she called, her voice smooth and practiced. “Yes,” I replied, my heart racing slightly. The name had become second nature, a part of the disguise I had maintained for years.The woman smiled warmly and then glanced down at Nicholas. “And who is this handsome little fellow?”“This is my son, Nicholas,” I said, returning her smile.She leaned forward slightly, her gaze softening. “How old are you, young man?”Nicholas beamed up at her, his pride unmistakable. “I’m eight.”The lady chuckled, handing back our documents. “Well, you have a very charming boy, Bella. Enjoy your stay.”“Thank you,” I said, taking the passp
*******Jason Pov*******For a long while, I felt speechless, staring at Blake, wondering if I should take those words seriously or chuckle at them.D
*******Nero Pov********* This is what I want, Blake off my back, so I can focus on what I came here for and head back home. But why does every second I spend with her keep making that harder for me to do and everything she does affects me to a great extent? Maybe… No. Such a thought would only hurt
*************Blake POV*********The thought of skipping a class wasn't something I thought to be doing. But the less of Nero that I see, the more quickly I could forget about him.
**********Luna POV*********** Nothing had been the same in this house since Blake went through her so-called transformation. My father and mother had grown a bit distant, and although they hadn't fought, I












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore