MasukOvernight, an electronic notification sounded in the minds of all office workers. It was from a "Performance-Share System". The rules: employees who paired off could split their year-end bonuses 50/50. I was a junior associate at Summit Financial, one of the biggest wealth management firms in Manhattan. In my previous life, I agreed to pair with my manager, Jared, and the intern he brought in — Stephanie. By the time the project went into its crunch phase, they'd shoved every garbage task and every blown deadline onto me. I pulled all-nighters for months. My body was running on fumes. When the one promotion that could have saved me came up, they cut me out of the team without a second thought. In the end I was fired for "burnout and poor performance." I couldn't make my mortgage. I jumped. They took the work I'd done with me, walked out with million-dollar bonuses each, and flew off on vacation together. Then I opened my eyes again. I was back, on the exact day the pair-binding system went live. This time, I'm not just keeping every cent of what I earn. This time, I'm putting them in prison.
Lihat lebih banyakPlakk!
"Dasar wanita jala-ng! Berani sekali Kau berselingkuh!" Alsen mengepalkan tangannya, menatap tajam wanita yang sudah ditamparnya. Penuh kebencian dan juga luapan amarah yang meledak.
Namun, Kiandra terlihat bingung, sembari mengerutkan dahi, tak mengerti yang apa yang sedang terjadi. Baru saja pulang dan memasuki rumah, tapi sudah dihadang di depan pintu, lalu sekarang pipinya memerah karena barusan ditampar.
"Apa maksudmu, Mas?" tanya Kiandra sambil memegang wajahnya yang terasa panas akibat tertampar itu.
"Tidak usah pura-pura wanita busuk! Kau tak pantas untukku. Jala-ng kotor sepertimu harusnya membusuk di tempat sampah!" cibir Alsen seraya meraih rahang Kiandra lalu mencengkramnya kasar.
Brakk!
"Auchhh! Mas ...." Kiandra menjerit sakit, tapi bukannya perduli, Alsen malah semakin mendorongnya sampai benar-benar terjerembab. Sangat hina, sampai pria itu dengan tanpa hatinya mengunakan kakinya.
"Awalnya Aku pikir Kau ini adalah gadis baik, sampai hal itu membuatku sangat bersyukur mendapatkanmu. Aku bersumpah mulai hari itu untuk belajar mencintaimu dan memberimu janji pernikahan Kita, tapi sekarang Aku jijik melihatmu. Kau dan Kakakmu memang sangat berbeda, antara berlian dan sampah kotor!"
Air mata Kiandra yang sejak tadi masih bertahan, karena Dia tak mau memperlihatkan kelemahannya. Kini luruh begitu saja tanpa bisa ditahan lagi. Wanita itu menangis dan sangat tertekan dengan ucapan dan juga perlakuan suaminya.
"Tolong jelaskan, apa kesalahan yang sudah Aku lakukan? Katakan Mas, kenapa Kamu sampai bisa sampai hati melakukan ini kepadaku? Katakan!!" tuntut Kiandra dengan histeris.
"Masih berani bicara Kamu jala-ng, pura-pura tidak tahu. Baiklah, biar Aku jelaskan padamu apa yang sudah terjadi. Aku sudah mengetahui niat busukmu. Kau menikah denganku demi harta, tapi selain itu Kau juga berkhianat dan sekarang Kau sedang mengandung anak dari pria lain!"
Kiandra segera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sedang hamil Mas! Percayalah ...."
"Oh, baiklah. Anggap saja itu tidak benar, lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan dokter itu? Katakan apakah Kalian punya hubungan?"
Kiandra tertegun, Dia terdiam tak tahu harus menjelaskan apa. Sesungguhnya Vano memang kekasihnya, masih atau tepatnya Dia lebih dahulu menjalin kasih dengan pria itu. Namun, jika sampai sekarang mereka belum putus, itu bukanlah karena Kiandra yang ingin berkhianat, tapi Dia belum siap mengakhiri hubungannya dengan menyakiti Vano yang sudah teramat baik kepadanya.
"Maa--maaf, Ak-aku belu--"
"Cukup!" bentak Alsen dengan keras membuat Kiandra kaget dan juga syok. "Aku sudah muak denganmu, pergi dari sini dan jangan pernah tunjukkan wajahmu dihadapanku. Pergi!!"
Dunia Kiandra seketika hancur. Dadaanya sesak dan bibirnya gemetar. Perlahan Dia bangkit dan mencoba untuk berdiri. Kemudian berbalik saat sudah tak menemukan kepercayaan di mata suaminya. Mungkin memang harusnya mereka berpisah.
"Tunggu!" tahan Alsen dengan bicara keras, membuat Kiandra berhenti, tapi tak lagi menoleh untuk melihat suaminya. "Tidak kembali ke sini, bukan berarti Aku menceraikanmu, karena Aku bersumpah untuk tidak membiarkan jalanmu dan selingkuhanmu itu bisa bersatu. Sampai kapanpun Kau akan menjadi istriku, selamanya Kau hanya bisa menikah denganku. Camkan itu Jala-ng!!" tukas Alsen tegas dan kejam.
Kiandra bagai tersambar petir mendengar hal itu. Tubuhnya reflek terdiam kaku. Jangan tanyanya bagaimana air matanya jatuh, karena bahkan untuk berhenti menangis wanita itu kesulitan. Sayangnya Alsen tidak perduli, dan memilih masuk meninggalkan istrinya di luar rumah.
Brukk!
Beberapa menit kemudian koper terlempar kehadapan Kiandra. Hampir saja mengenainya, tapi mungkin itulah satu-satunya nasib baiknya. Dia tak harus terluka akibat lemparan koper yang sengaja ke arahnya.
"Pergi dari sini dan bawa semua sampahmu dari sini!" teriak Alsen yang ternyata kembali untuk mengeluarkan pakaian Kiandra. "Ayo, apalagi yang Kau tunggu. Bawa barang-barang murah-an itu dari sini! Tapi ingat, jangan coba-coba membuat masalah denganku lagi. Mulai sekarang hanya statusmu yang selamanya menjadi istriku, tapi kedepannya Kita adalah orang asing!"
"Mas ... tolong bisakah Kamu mendengarkan penjelasanku?" ujar Kiandra dengan gemetar. Ini harapan satu-satunya, meski mungkin itu hal mustahil, sebab Alsen terlalu marah.
"Mendengarkan apa perempuan brengs*k? Ceritamu tidur dengan selingkuhanmu, lalu hamil hah?!" sarkas Alsen membuat perasaan Kiandra seperti terbanting keras.
"Pergi atau Kau mau Aku menyeretmu dari sini?!"
Kiandra menggelengkan kepala, lalu menarik kopernya yang sedikit tergores karena dilempar keras. Dia memungutnya lalu membawanya berjalan menjauh dari tempat tinggal suaminya. Dengan hati yang patah dan kecewa, Kiandra terus berjalan, tanpa perduli terik begitu menyengat dan terasa membakar tubuhnya.
Wanita itu tak perduli terus berjalan ke tempat satu-satunya yang bisa Dia jadikan untuk berteduh. Tidak menggunakan angkutan umum meskipun kakinya letih. Rasa sakit membuatnya menyiksa diri.
Kiandra menggigit bibirnya kasar, teringat kejadian pagi hari saat bertemu dengan kekasihnya Vano. Mereka memang sempat bertemu, tapi bukan untuk berselingkuh melainkan untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Kamu tahu sendiri Van, Aku yakin Kamu tak buta ataupun tuli. Satu bulan lalu Aku sudah menikah dan Kamu pasti sudah mendengarnya," jelas Kiandra pagi itu saat bertemu Vano. Dia tak mau berbohong ataupun pura-pura lagi dihadapan pacarnya.
"Aku sudah mengkhianatimu, menyakitimu dan Aku mungkin bukan lagi wanita yang pantas untukmu. Jadi Kita akhiri saja hubungan Kita. Kamu boleh membenciku setelah ini, tapi berbahagialah, cari perempuan lain yang jauh lebih baik dari Aku!"
Vano menggelengkan kepalanya. "Aku tahu Kamu tidak seburuk itu Kiandra. Aku mencintaimu dan Aku sangat mengenal baik dirimu. Awalnya saat mengetahui Kamu menikah dengan laki-laki lain, Aku memang sangat marah, tapi sesaat kemudian Aku pikir Kamu pasti terpaksa melakukannya."
"Jangan mempersulit keadaan Van, Aku tidak mau melukaimu lebih dalam lagi. Kamu laki-laki yang baik, tolong mengertilah ...."
"Aku sudah cukup mengerti dirimu Kiandra dan tidak perduli dengan statusmu. Jika ada yang harus berakhir maka itu bukanlah hubungan Kita, tapi hubunganmu dengan suamimu. Aku akan menunggumu, sampai kalian bercerai!" tegas Vano dengan serius.
Seketika Kiandra mulai meremas telapak tangannya sendiri. Vano terlalu baik dan bahkan setelah tahu dia tak marah sama sekali. "Selama ini Aku sengaja diam dan berpura-pura tidak tahu, Aku yakin padamu dan sekarang lihatlah Kamu akhirnya jujur padaku. Ini memang sulit, tapi Aku percaya penuh kepadamu Kiandra. Aku mencintaimu tolong jangan berpikir untuk mengakhiri hubungan Kita!"
"Tidak Vano. Aku tidak pantas untukmu lagi, sejak Aku menikah Aku sudah berkhianat dan Aku bahkan sudah menjadi milik suamiku Vano!" jelas Kiandra mencoba menyadarkan pacarnya, atau mungkin calon mantan pacarnya.
Lelaki itu segera terlihat mengeras, mengepalkan tangan. Marah dengan kenyataan itu, meskipun Dia masih saja tak bisa marah pada Kiandra. Mungkin ini yang dinamakan cinta buta, secinta itu sampai tak bisa menyalahkan orang tercinta.
"Aku tidak perduli. Aku tulus padamu Kiandra dan Aku bersumpah akan menunggu status jandamu!" tegas Vano yakin.
Kiandra segera menggelengkan kepalanya, mencari akal supaya Vano berhenti berharap dan menyakiti diri sendiri dengan hubungan mereka yang sekarang menjadi salah itu. "Aku tidak mungkin bisa bercerai dengan suamiku, karena sekarang Aku hamil!"
Ingatan itu berakhir, dan kini Kiandra sudah di apartemen miliknya. Sebenarnya apartemennya hanya sesekali ditempati, hampir tak terpakai, karena sebelum menikah Dia tinggal dengan orang tuanya dan setelah menikah dengan suaminya. Dulu Dia membelinya dari hasil tabungannya bermaksud untuk menjadikannya aset pribadi, tapi sekarang mungkin inilah tempat tinggalnya.
Tanpa merapihkan apapun dan tanpa berberes, wanita itu segera masuk ke kamar mandi. Tanpa membuka pakaian, Dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Harusnya hari ini Dia hanya berakhir dengan pacarnya, lalu memulai hidupnya dengan suaminya, tapi sekarang semuanya benar-benar berakhir. Mungkinkah ini akibat keserakahannya. Kiandra hanya bisa meratapi nasibnya untuk sekarang.
*****
Bersambung
A call interrupted my train of thought.I picked up. My dad, George, started in on me before I had the phone to my ear."The Harringtons have been calling the house nonstop, they're saying you offended your manager, they're saying you're going to lose your job! You're alone in Manhattan, what are you supposed to do about rent and groceries? If you lose your job, Chloe, what then?""I haven't been able to reach you in days! Are you trying to give me a heart attack?"I didn't have the patience to explain everything right now. I softened my voice."Dad. I'm safe. I have not lost my job. Give me another week, I'll walk you through everything. Tell Mom to stop worrying."I hung up.For the next few days I worked remotely from a hotel room near Midtown.Core data was no longer my weak link. I had the time to go back and optimize the backend architecture for the entire project.Clients. Models. Market data.I shipped, clean, line after line.By the time I came back to the city, a month had pa
During every project meeting, I looked half-asleep and listened harder than anyone.They still didn't trust me. They were afraid I would figure out the core model they were hoarding.Stephanie made up an excuse to move to the desk next to mine.She started in with the harassment. Shuffling my papers during a meeting. Rebooting my monitor while I was in the restroom. "Accidentally" knocking over my cold brew while I was processing data.She called it "staying in character."Coworkers started calling her out. The louder they got, the more she enjoyed it.No mystery — Jared was feeding her lines.So I stayed late. After the floor went dark and everyone had gone home, I'd dig into the numbers alone.On the surface, their surveillance was working.Underneath, I was learning more than I ever had. I could feel my command over the full project deepening every week.In my previous life, the System had a hidden rule: whoever initiated the partnership was automatically the "lead," and the lead ha
When I looked up again, I was clear-eyed in a way I hadn't been in two lifetimes."Here's the deal. You help me gather evidence on Jared's off-registry operations. I help you get dirt on your department's old fox. Call it an intel-share alliance."A few days of surveillance had made one thing obvious to me: alone, evidence-gathering was too slow.Chris copied my shrug, his hair flopping forward."Fine. Knew you wouldn't trust me straight off. Silent alliance it is. You'll see — with my tech stack behind you, you're unstoppable."I gave him a flat look. "We'll see who's behind whom."In the office I was publicly done with Jared, Stephanie, and anyone associated.So after work, Chris and I would meet at the Blue Bottle in the Summit Tower lobby."So wait — you're actually paired with them, behind the scenes?""Like hell I am. The data lives on my machine."Chris caught on instantly."Damn, cold-blooded. You left yourself the back door.""Whether any of this works depends on whether Profe
The System popped a confirmation."Confirm dissolution of partnership? Upon dissolution, performance will be assessed on individual contribution only, and the partner channel will close permanently."Without hesitating, I hit Confirm.The world went quiet.In my previous life, the partner channel had been a riot from the second the review started. Stephanie had been machine-gun-messaging me."Chloe, what were the first client's numbers, I need them.""Chloe, the key parameters for this model, send them now.""Chloe, just the conclusion section of the final report — your thinking — so I can pre-build."Jared too. He'd said he only needed my "thought process" as a reference. In practice he'd pasted my report into his, word for word. All he hadn't done was make me format his slides for him.This time, the channel was black. Closed. Dead.Back when the System first launched, the internal Slack was full of bravado about secret pairings. In practice, very few people actually risked their car
The next day, I went to Jared."Running to building management, sabotaging a coworker's housing — when did you get this cheap, Jared?"He didn't even flinch at being called out."Sorry, Chloe. You forced the issue. If you won't pair, I had to use what I had."What a performer.Yesterday he was icing
"If you're here to talk me into partnering with him, I've already made it crystal clear to Jared. That's not happening."The smile on Stephanie's face stalled out. Her voice went soft and high."Chloe, don't be so absolute about it — Jared and I really do want to work with you. He thinks so highly o
"The year-end bonus cycle is a zero-sum game. The moment we pair-bind, we're allies — and also the two people who know each other's work best. Potentially the most dangerous enemies.""I'd rather trust myself than the uncertainty of depending on someone else."I didn't leave him any room to counter.
"Chloe. You'd consider pair-binding with me, right?"Jared was standing next to my desk. His voice had a question in it. His face didn't. He was sure I'd say yes.I'd been yanked back out of my own death by only a few hours.A synthesized chime had gone off inside my head a moment earlier, and that'


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.