LOGINMy sister was the golden child, the pride of our family, but she had a rare blood disorder that required treatments costing thousands every month. To keep her alive, I became her personal blood donor, working nonstop to pay for her care and delivering food all day and night. But one day, she nearly died from hemorrhaging after trying to abort a pregnancy. That’s when I learned the child she was carrying belonged to my boyfriend. When I confronted him, he didn’t even flinch. Instead, he dragged me to the operating table himself. “You were born to be her blood bank. Dying for her? It’s the best thing you’ll ever do.” I was left there, bleeding out, my life slipping away with every drop. But as death closed in, something changed. The people who once hoped I’d disappear—the ones who used me, betrayed me—they all began to unravel, losing their insanity.
View More“Selamat atas pernikahanmu, Amora! Calon suamimu adalah pria idaman para wanita lho. Kamu benar-benar beruntung!”
Seulas senyuman lebar melengkung di bibir Amora Lysander ketika sahabat baiknya— Chelsea Harrison memberikan ucapan selamat kepadanya. Tidak dapat dipungkiri jika hatinya terasa berbunga-bunga saat ini karena detik-detik kebahagiaannya hanya menunggu waktu.
Satu minggu lagi Amora akan menjadi istri dari Chris Walden. Setahun yang lalu ia bertemu dengan calon suaminya itu di sebuah acara tahunan perusahaan Lysander. Ia jatuh hati dengan pria itu dan beruntungnya, perasaannya terbalas. Hubungan mereka juga direstui oleh kedua keluarga.
Saat ini Amora sedang menghadiri pesta pelepasan lajangnya yang diadakan oleh para teman kampus seangkatannya. Pesta tersebut diadakan di lounge eksklusif yang tertutup di sebuah hotel mewah bintang lima.
Suara dentuman musik dan nyanyian memeriahkan pesta kecil-kecilan di dalam ruangan tersebut. Terlihat dua orang gadis muda yang telah mabuk sedang menari-nari di atas meja ruangan dan dua orang yang lain sibuk bersorak ria dan bertepuk tangan.
Amora Lysander menggeleng kecil dan tertawa melihat kehebohan para teman sebayanya itu. Ia menoleh kepada Chelsea dan mendentingkan gelas kristal berisi anggur merah di tangannya dengan gelas milik Chelsea.
“Terima kasih, Chelsea. Semoga kamu segera menyusul. Aku doakan Andrew cepat meminangmu juga,” ujar Amora dengan tulus. Ia juga berharap sahabatnya itu juga mendapatkan kebahagiaan yang sama sepertinya.
Chelsea tersenyum kecut. Ia tidak menanggapi ucapan Amora, lalu mengajak keempat wanita yang lain untuk bersulang kepada Amora.
“Cheers!”
Suara dentingan gelas yang saling bersinggungan memenuhi indera pendengaran Amora. Minuman keras berwarna merah pekat itu terus dituang ke dalam gelas gadis itu, lalu perlahan cairan itu masuk ke dalam mulutnya dan membakar tenggorokannya.
“Kalau sudah jadi Nyonya Muda Walden. Jangan lupakan kami ya!” seru Estelle Mauverick, salah satu teman satu falkutas dengan Amora dan merupakan putri pengusaha yang cukup terkemuka.
“Benar. Apalagi calon suamimu itu adalah calon penerus keluarganya, Amora. Kamu akan bisa menikmati banyak keuntungan setelah menjadi istrinya nanti,” timpal Gloria Barclay, sahabat Amora yang lain dengan nada penuh kekaguman.
Sebagai penerus keluarga, Chris Walden tentu saja merupakan sosok calon suami dan menantu idaman. Keluarga Walden merupakan salah satu keluarga terkaya di kota New York. Keluarga Lysander tentu akan sangat senang bisa menjalin hubungan kekeluargaan dengannya.
Seulas senyuman terus terukir di bibir Amora. Tidak dapat dipungkiri jika ia juga sudah tidak sabar menjadi istri Chris. Keinginannya untuk meninggalkan kediaman Lysander akan terwujud sebentar lagi.
“Berhentilah minum, Estelle. Kamu sudah mabuk,” tegur Amora ketika melihat wajah Estelle yang telah memerah.
Namun, Estelle menggeleng. Ia memperlihatkan jemarinya kepada Amora dan berkata, “Aku tidak mabuk. Lihatlah, bukankah ini dua?”
Amora tersenyum simpul. “Itu tiga,” timpalnya.
Estelle mengerucutkan bibirnya, lalu kembali mengajak Amora untuk bersulang. Begitu juga dengan ketiga wanita yang lain. Karena tidak ingin mengecewakan para sahabatnya, Amora terpaksa meladeni mereka.
Seteguk demi seteguk anggur merah lolos melalui tenggorokannya hingga membuat kepala Amora terasa semakin berat. Amora merasa dirinya sudah semakin mabuk karena minuman keras tersebut.
Namun, ia benar-benar merasa sangat bahagia bisa berkumpul bersama para sahabatnya hingga ia menjadi lupa diri. Saat ini ia sudah meneguk hampir satu botol anggur merah yang dipesan oleh Chelsea. Gadis itu terus menuangkan minuman alkohol itu ke dalam gelasnya yang kosong.
“Sudah cukup, Chelsea. Aku sudah tidak kuat lagi,” cicit Amora dengan wajah yang telah memerah. Ia meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu pamit sejenak ke kamar kecil. Produksi asam lambung di dalam perutnya mulai meronta.
“Apa mau aku temani?” tawar Chelsea dengan khawatir saat melihat langkah Amora yang sudah tidak beraturan lagi.
Namun, Amora menggeleng dan terus melangkah keluar dari lounge VIP tersebut. Chelsea menatap kepergian Amora dengan seulas senyuman sinis di wajahnya, lalu ia kembali bersulang dengan temannya yang lain di dalam ruangan itu.
Sementara itu, Amora berjalan menyusuri koridor dengan penerangan yang remang-remang. Entah kenapa ia merasa tubuhnya terasa sangat panas. Muncul suatu perasaan aneh yang merayap di dalam dirinya, tetapi ia tidak tahu bagaimana menghentikan hal tersebut.
‘Kenapa rasanya panas sekali?’
Amora mengibas-ngibaskan wajahnya dengan tangannya. Pandangannya menjadi hilang timbul. Ia merasa seluruh ruangan seperti sedang bergerak secara tidak beraturan, lalu ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Amora berpikir jika dirinya sudah terlalu mabuk saat ini. Ia pun mencari lokasi kamar kecil dengan pandangannya yang mulai mengabur hingga akhirnya ia memasuki sebuah ruangan yang dikiranya toilet wanita.
Namun, langkahnya terhenti tatkala melihat seorang pria terbujur kaku di atas lantai ruangan dengan penerangan yang minim dengan tubuh bersimbah darah.
Amora tertegun sejenak. Mengerjapkan netranya dan menggelengkan kepalanya berulang kali untuk mencerna akan hal yang terjadi di depan matanya, lalu pandangannya beralih pada punggung seorang pria yang sedang membelakanginya.
Amora pun terhenyak ketika melihat senjata api di dalam genggaman pria itu.
‘A-Apa ini pembunuhan?’ terkanya di dalam hati.
Dalam kekalutannya, hal yang terlintas dari dalam benak Amora adalah keluar dari tempat itu sebelum pembunuh itu menyadari keberadaannya!
Akan tetapi, naasnya kaki Amora sulit diajak bekerja sama. Gara-gara alkohol yang diminumnya membuat Amora menjadi sulit berjalan.
Tak sengaja ia menekan saklar lampu di sampingnya dan membuat seluruh ruangan menjadi terang benderang. Perhatian pria yang dicap sebagai pembunuh oleh Amora itu pun langsung tertuju padanya.
‘Sial!’ gerutu Amora di dalam hati.
Meskipun pandangannya sangat buram dan sulit melihat wajah pembunuh itu, tetapi ia mendengar derap langkah pria itu semakin mendekat ke arahnya.
Kaki Amora seolah terpaku di tempat. Ia sungguh tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan situasi tersebut. Perlahan ia berpaling dengan rasa takut yang bergemuruh hebat.
“Tu-Tuan, saya … saya tidak melihat apa pun,” ucap Amora dengan suara yang bergetar pelan.
Ia berharap pria itu tidak membunuhnya saat ini. Buliran bening telah menggenang di sepasang pelupuk mata indahnya.
"Kamu pikir aku percaya?" desis pria itu.
Suara pria itu terdengar berat dan dalam, tetapi anehnya Amora menyukainya.
Tiba-tiba jemari kasar yang berlumuran darah menyeka sudut mata Amora hingga membuat tubuh gadis itu bergetar hebat. Samar-samar Amora bisa melihat lekuk wajah pembunuh itu dan seringai kecil yang terbit di sudut bibir pria itu.
Rahang tegas dengan bibir maskulin yang terkatup rapat, lalu hidung bangir yang terukir dengan indah sempat membuat Amora terpana sesaat. Akan tetapi, ia tersadar saat pandangannya beralih pada manik mata tajam yang tengah menatapnya dengan intens.
Amora dapat merasakan aura dingin yang terpancar dari sorot mata pria itu. Degup jantungnya berdebar dengan sangat cepat tatkala bertatapan langsung dengannya. Netra gelap pria itu seperti seekor elang yang sedang mengintai di langit malam. Anehnya, Amora malah merasa semakin tertarik dengannya.
Ada sensasi yang membakar tubuhnya hingga membuatnya sulit mengendalikan dirinya sendiri. Deru napasnya mulai memburu dengan irama jantung yang berdegup cepat. Satu hal yang ia rasakan adalah sesuatu yang membuncah di dalam dirinya telah bergejolak hebat.
Tangan Amora pun bergerak dengan lancang memegang wajah pria itu. Jemari lentiknya mengusap lembut wajah tegas dan dingin tersebut. Tatapannya kepada pria itu mulai diliputi dengan gairah. Amora tersadar dengan tindakannya ketika pria itu meraih tangannya, lalu menepisnya dengan kasar.
Gairah di dalam mata Amora berubah menjadi sebuah ketakutan yang mendalam. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam dan tidak berani menatap langsung wajah pria itu lagi.
‘Apa yang sudah kulakukan tadi? Kenapa aku bisa ….’
Amora menggelengkan kepalanya dengan kuat. Berusaha menepis pikiran aneh yang terus menguasai dirinya untuk menuntaskan gairah yang terus membakar jiwanya. Masih di dalam kebingungannya, tiba-tiba saja pria asing itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
“Tu-Tuan, saya—”
“Diamlah dan ikuti aku.”
Suara berat dan dalam dari pria itu menyela ucapan Amora. Entah kenapa ia malah merasa suara pria itu terdengar seksi di telinganya. Amora tersentak dengan pikirannya itu.
Ketika ia hendak membuka suaranya, pria itu menyelanya kembali dan lanjut berkata dengan dingin, “Kalau kamu masih mau hidup, ikuti ucapanku!”
Extra: Shawn TuckerI once treated a young girl who regularly donated blood to save her sister’s life. She had a rare blood type, RH-negative—something hard to come by and highly sought after for transfusions.At first, I was deeply moved by her. In a time when kindness and loyalty seemed so rare, she was willing to sacrifice her own health to donate blood to her sister. When she first came to me, she was cautious, but there was a playful spark beneath her careful demeanor.She once teased me, “Dr. Tucker, you’re so young and successful—why are you still single at thirty?”I flicked her forehead lightly and said, “You’re too young to worry about grown-up matters. I just haven’t met the right person yet.”But over time, I began to notice something wasn’t right. She started coming in more and more frequently. The playful smile on her face disappeared, replaced by a frail, exhausted expression. After pressing her for answers, I finally learned the truth—she had given up her education an
I once secretly saved up money, dreaming of marrying Ronald.We’d have a cat and a dog, and the house wouldn’t need to be big—just enough to keep us warm. I imagined sunny afternoons where I’d polish his guitar strings, brew him a cup of tea, and listen to him play the guitar while dancing for him.In countless dark moments, those daydreams carried me through sleepless nights. The only light in the darkest corners of my life, I held onto it carefully, cherishing it like a treasure. All because of a promise he once made in passing.“If my Alice doesn’t have an umbrella, then I’ll be your umbrella. From now on, I’ll shield you from the storms, and no one will ever hurt you again.”I believed him.But, in the end, the man I clung to as my last lifeline was nothing more than a fleeting illusion. True love could be a steady anchor, but it was also unpredictable and fleeting.Now, I lay in the cold confines of the hospital morgue, waiting for my turn in the cremation line.Beatrice had woke
"Get out of my way, I need to see my daughter!" My father couldn’t accept the truth. He shoved the medical staff aside and stormed into the operating room.I lay there, silently, my face pale from the severe blood loss with no sound left in me.His steps faltered when he felt the dried blood beneath his feet.“Whose blood is this?” Shawn answered coldly, “It’s your daughter’s blood. Don’t you recognize it?”When my father saw my lifeless body, he reached out while trembling to feel for any breath. His pupils widened in shock.For a long moment, he was speechless. Then, in a voice hoarse with grief, tears streamed down his weathered face as he touched mine.“Alice, my Alice... please wake up.”Behind him, my mother rushed into the room. The moment she saw me, her face turned as white as mine. She let out a heart-wrenching scream. "Alice! I can’t live without you!"Even Ronald stood frozen as if he finally had to accept the grim reality of my death. His knees gave way beneath him, an
But this time, I couldn’t respond to him.Shawn, not even bothering to wipe the sweat from his brow, hurriedly pressed the defibrillator against my chest. Once. Twice. Again and again.Each shock sent my body jolting upward, my chest convulsing with every surge. But there was no response. The heart monitor stayed flat, the red light blinking steadily, without a flicker of hope.“Wake up! You can’t sleep, Alice!”He tried every life-saving measure he could, but it was too late. I had no more signs of life.Exhausted, he collapsed onto the floor beside me, his hands burying themselves into his hair, his shoulders shaking as he broke down in sobs.“I couldn’t save you… I was too late. I didn’t learn about this in time, I’m so sorry.”My soul hovered next to him, wanting so badly to comfort him, to pat his shoulder and tell him it wasn’t his fault. But my hand passed right through him.He began removing the tubes from my body, one by one, and even took away the bag of unused blood, which h












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.