เข้าสู่ระบบMy husband, Hank, is dead. On our wedding anniversary, he ventured out in the pouring rain to buy me a cake, only to be hit by a truck. His body was badly mangled in the crash. My sister-in-law, Lyra, called me a killer, claiming that I did not deserve Hank’s inheritance. My mother-in-law, Judy, kicked me out of the house. Overwhelmed by grief and guilt, I often wondered if he would still be alive had I stopped him that day. Eventually, emotions gripped me, and I was diagnosed with cancer. Judy came to visit me on my deathbed. “You’re an idiot to believe everything!” She threw a family photo in my face. The shock and anger were more than I could handle, and I breathed my last. It turned out that Hank was never dead. He had a child with his old flame. When I opened my eyes once more, I returned to the day my husband faked his death.
ดูเพิ่มเติม“Papa, ini Kak Anin! Guru les aku,” seru Elvio polos sambil menggandeng tangan ayahnya yang baru saja tiba dari perjalanan bisnis. “Dia katanya mau jadi Mama aku!”
Anindya langsung tersentak.
“Eh, El! Kak Anin cuma bercanda!” Tegurannya terdengar panik, wajahnya memanas karena malu dan bingung.
Selama setahun terakhir, Anindya terpaksa bekerja sebagai guru les privat demi bisa membayar uang kuliah yang tinggal beberapa bulan lagi. Dan Elvio Dirgantara Pradipta, bocah laki-laki cerdas berusia 6 tahun dengan mata abu-abu pucat itulah yang Anindya ajar selama ini.
“Boleh, Papa? Kak Anin jadi Mama aku?” Elvio malah semakin bersemangat, menoleh pada ayahnya dengan wajah penuh harap.
Anindya ingin menutup wajahnya saat itu juga. ‘Ya Tuhan, apa-apaan sih ini!’ batinnya.
Ini adalah kali pertama Anindya bertemu dengan ayah Elvio karena selama ini, pria itu selalu pergi dinas. Seharusnya Anindya memberikan kesan pertama yang bagus, tapi kenapa sekarang malah rasanya jadi memalukan?
Sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Sulit ditebak apakah itu senyuman atau hanya refleks. Tatapannya sama sekali tidak bergeser dari Anindya saat dia menjawab, “Boleh.”
Anindya membeku di tempat.
Boleh? Yang benar saja!
Apa dia barusan salah dengar? Tidak mungkin pria itu serius, bukan?
“P … Pak?” Anindya mencoba membuka suara, tapi yang keluar hanya gumaman tak jelas.
Arvendra Satwika Pradipta–seorang arsitek ternama di kota itu–akhirnya menatap putranya. “Elvio, selesaikan dulu tugasmu. Papa ingin bicara sebentar dengan Kak Anin.”
“Bicara apa, Pa?” Elvio memiringkan kepala, tampak penasaran.
“Tidak penting untuk anak kecil.” Arvendra berbicara datar, tapi sarat otoritas, membuat bocah itu langsung menurut meski wajahnya masih tampak kecewa.
Arvendra kembali menatap Anindya. “Bisa ikut saya ke ruang kerja? Ada yang ingin saya bicarakan.” Kalimat itu terdengar singkat, tapi jelas terasa seperti perintah, bukan permintaan.
Anindya menelan ludah dan buru-buru mengangguk. “I-iya, Pak.”
Tanpa banyak bicara, Anindya mengikuti langkah Arvendra yang sudah lebih dulu menuju tangga di tengah rumah itu.
Saat mereka mencapai belokan tangga, Anindya sedikit kehilangan keseimbangan. Runner carpet itu bergeser tipis ketika dia menginjaknya terlalu cepat. Dalam sepersekian detik, tubuhnya terhuyung ke depan.
“Ah!” seru Anindya kaget.
Dalam sekejap, tangan kokoh Arvendra meraih pinggangnya, menarik tubuh Anindya hingga menghantam dada bidang pria itu, benturan yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
“Ceroboh sekali,” tegur Arvendra dengan suara rendah. Napas hangat pria itu menyapu kulit leher Anindya, membuatnya kaku seketika. Dia sadar betul betapa eratnya lengan itu melingkari pinggangnya, terlalu erat untuk sekadar menyelamatkan.
“Ma-maaf, Pak.” Anindya buru-buru mencoba meraih pegangan tangga untuk berdiri sendiri, tapi gerakannya goyah.
Arvendra tidak langsung melepaskan gadis itu. Tangannya bertahan satu detik lebih lama dari yang seharusnya, dan tentu saja membuat kulit Anindya merinding. Baru setelah itu dia melepasnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Perhatikan langkahmu,” ucap Arvendra singkat, tapi nada suaranya membuat kata-kata itu terdengar lebih seperti perintah daripada nasihat.
Anindya hanya bisa mengangguk, wajahnya memanas karena malu sekaligus bingung. Dia menunduk, mengikuti pria itu dalam diam hingga mereka sampai di depan sebuah pintu besar dengan ukiran mewah.
Anindya berdiri kaku di dekat pintu, sementara Arvendra melangkah ke tengah ruangan setelah membuka pintu, lalu berbalik menghadapnya.
Manik matanya yang berwarna hazel menelusuri tubuh Anindya dari atas ke bawah. Kulit eksotis khas wanita Indonesia, rambut hitam pekat yang tebal dan bergelombang hingga hampir menyentuh punggung bawah, serta tubuh ramping yang tampak semakin mungil di hadapan sosok setinggi dirinya.
Tatapan itu sulit diartikan, apakah Arvendra sedang menilai, atau menikmati. Anindya merasa seolah dirinya sedang ditelanjangi tanpa sentuhan.
Arvendra menyelipkan kedua tangannya ke saku celana, berdiri santai namun mengintimidasi.
“Saya tertarik dengan kamu,” ucap Arvendra ringan, seperti komentar sambil lalu. Namun, bagi Anindya, kata-kata itu terdengar terlalu dalam, terlalu sarat makna, membuatnya membelalakkan mata.
“M-maksudnya, Pak?” tanya Anindya. Dia mencoba menjaga sikap profesional, tapi nadanya penuh kegugupan.
Arvendra tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri di sana, menatap Anindya dari ujung kepala hingga kaki lagi, kali ini lebih lambat.
Anindya menelan saliva keras-keras. Tenggorokannya terasa kering. Pikirannya mulai ke mana-mana, kacau oleh tatapan pria itu.
Semakin lama berdiri di bawah tatapan itu, semakin sulit bagi Anindya untuk bernapas normal. Ada sesuatu yang asing di balik sikap tenang Arvendra. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya terasa terlalu tajam, terlalu intens, membuat tubuh Anindya terasa seolah dipaku di tempat.
‘Nggak mungkin. Dia, ‘kan, bosku. Ayah muridku sendiri. Jangan bodoh, Anin,’ pikir Anindya, panik sendiri.
“Saya tertarik dengan cara mengajar kamu. Suster dan pelayan sering melapor. Katanya, Elvio jadi lebih disiplin dan bersemangat belajar sejak kamu yang mengajar,” jelas Arvendra akhirnya.
Ah, rupanya itu maksudnya. Sejenak Anindya merutuki dirinya sendiri karena sudah berpikir terlalu jauh. Pipi hangatnya terasa memanas karena malu.
“Oh … terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik.” Anindya mengangguk cepat, mencoba menguasai diri. Dia memaksakan senyum profesional, berharap pria itu tidak menyadari kecanggungan yang dia rasakan.
“Saya ingin tahu perkembangan anak saya,” ujar Arvendra dengan nada tenang namun berwibawa. Dia menunjuk kursi di seberang meja kayu jati yang luas, dipenuhi tumpukan blueprint dan miniatur bangunan. “Silakan duduk.”
Anindya segera menurut, duduk dengan punggung tegak. Tangannya bertaut di pangkuan, mencoba menutupi gugup yang jelas terasa dari detak jantungnya yang tak kunjung stabil.
“Bagaimana Elvio selama belajar? Saya ingin mendengar langsung dari kamu,” tanya Arvendra. Dia sudah duduk di sofa single, posturnya rileks namun sorot matanya tajam, membuat Anindya merasa seolah sedang diuji.
“Dia anak yang cerdas, Pak. Kadang sulit fokus, tapi cepat menangkap materi kalau dibimbing dengan sabar. Saya rasa, dia hanya butuh perhatian lebih,” jawab Anindya dengan suara pelan tapi berusaha tegas.
“Perhatian lebih, ya.” Gumaman Arvendra terdengar rendah, seolah lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
“Lanjutkan.” Satu kata singkat itu meluncur seperti instruksi, dan Anindya segera menambahkan penjelasan lain.
Namun, semakin lama Anindya bicara, semakin jelas perasaan aneh itu. Arvendra terlalu tenang, terlalu diam, seperti mendengar tapi tidak benar-benar menyimak. Seolah ucapannya hanya menjadi latar belakang bagi pikiran pria itu yang tengah berada di tempat lain.
‘Dia sebenarnya dengerin aku atau nggak, sih?’ batin Anindya resah.
__
Setelah kelas berakhir, Anindya langsung pulang ke kos tanpa singgah ke mana pun. Begitu masuk ke kamarnya dia meletakkan tas lalu membiarkan tubuhnya jatuh terlentang ke atas kasur.
Entah berapa lama, matanya terpejam begitu saja. Hingga tepat tengah malam, keributan dari luar mendadak membuyarkan tidurnya.
“Penggusuran!” teriak seseorang dari lorong kos. Suara panik itu disusul derap langkah penghuni yang berhamburan keluar kamar.
Anindya sontak bangkit, jantungnya berpacu. Dia berlari ke depan pintu kamar, meski kepalanya masih pening karena kantuk.
“Ada apa?” tanya Anindya terburu-buru pada Lestari, teman kosnya, yang wajahnya sudah pucat pasi.
“Lihat, Nin!” Lestari menunjuk ke arah jalanan dari jendela lorong. “Ada buldoser sama truk proyek. Mereka bawa aparat juga!”
Lutut Anindya mendadak lemas. Dia memang tahu kosan ini sudah lama terancam digusur. Namun, dia tidak pernah menyangka malam ini, tepat saat dia bahkan tak punya cukup uang untuk pindah, penggusuran itu benar-benar datang.
Claudia bit her lip, her eyes reflecting resentment. “What do you want from me?” I waved my arm. “I don’t want anything from you. I’m just pointing you a way out. The choice is yours.” As Claudia relaxed her tense facial muscles, I carried on the conversation. “Hank lost everything but you. If I can help him turn his life around five years ago, so can you.” Claudia caught on quickly. “What can I do with his spare change? I wouldn’t be coming to you if I could get the money.” “He doesn’t have anything to his name, but his mom owns a house.” An idea came to Claudia. Upon her return, Claudia proposed to Hank about a business venture, asking Judy to put up her house as collateral for a loan. Judy was reluctant at first, but Claudia asserted that she could do better than I, especially with her overseas education. Besides, Hank was eager to prove himself. He promised to pay back everything with interest within a year, finally persuading Judy to give the go-ahead. To t
Holding the medical report in disbelief, Hank grilled Judy, “What’s the meaning of this? Why don’t Lyra and I have the same father?” Judy’s eyes were shifty. “There can only be one reason.” Hank froze. It took a moment for him to regain composure. “It all makes sense now. “Though Dad was bedridden for a long time, he was always cheerful. He lost his appetite the moment he found out about your pregnancy. He was gone months later. It was because you cheated on him!” Livid, Hank slapped Judy on camera. Judy fell to the ground, whimpering. I was hooked on the screen, munching on snacks. In fact, I had known for a long time that Lyra did not share the same father as Hank. I had come across Lyra’s medical lab report by chance. Judy and her husband had type B blood, yet Lyra was type A. I kept the secret for Judy, not wanting to break Hank’s heart. On my mobile screen, Hank grabbed Lyra. “What about you? Did you know? Was that why you were reluctant to do the test with
Hank could brush off my comment, but several of the public took notice. They raised the same doubt. [That’s right. There’s no way that two people share the same birthmark. If you’re Hank, show us your birthmark!][Of all the times you could’ve shown up, why wait until now when the case garners a lot of attention? Is there some conspiracy?][I know this might sound crazy, but I’m thinking of a body double. I’m more curious about who actually died.] Due to my comment, Hank started feeling the heat from the public. I saw my chance and went live, too. The public swarmed into my live stream, requesting that I hop on his stream. I feigned surprise and took up their suggestion. The moment Hank’s face appeared on my mobile screen, I turned on the waterworks. “Babe! Babe, it’s you!” As I cried my eyes out, Hank smiled in delight. “I thought you denied ever knowing me, Rochelle.”I dried my tears and lifted my chin. “You look so much like him. “You’re the closest I’ve seen
With everything in place the next morning, I went live. I talked about how I paid off Hank’s debts, how we built RH’s Table together, our marriage, and his tragic passing on our wedding anniversary. By the end, I was inconsolable, my face pale. The public was touched by our love story. [It has been ten years since my first love got sick and passed away. I’m still not over it. It hurts when I think about it. I understand how she feels.][I can’t imagine her pain. They had been through so much together, only for her to lose him at their best.][I’ve been to RH’s. The food and service were great. Her business needs our support more than ever.]I started trending online alongside Hank, our tragic love story, and business venture. Our past intimate interactions were uncovered and reposted online. Many dropped their condolences on Hank’s social media page. Hank could not leave the house anymore. He was constantly in hiding, too scared to be seen. Claudia could not take it


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.