LOGINMy husband, Hank, is dead. On our wedding anniversary, he ventured out in the pouring rain to buy me a cake, only to be hit by a truck. His body was badly mangled in the crash. My sister-in-law, Lyra, called me a killer, claiming that I did not deserve Hank’s inheritance. My mother-in-law, Judy, kicked me out of the house. Overwhelmed by grief and guilt, I often wondered if he would still be alive had I stopped him that day. Eventually, emotions gripped me, and I was diagnosed with cancer. Judy came to visit me on my deathbed. “You’re an idiot to believe everything!” She threw a family photo in my face. The shock and anger were more than I could handle, and I breathed my last. It turned out that Hank was never dead. He had a child with his old flame. When I opened my eyes once more, I returned to the day my husband faked his death.
View MoreGudang terpencil di pinggiran kota Millbrook. Aroma besi karat memenuhi udara dingin. Di tengah ruangan, Ryan Wayne terikat di kursi kayu tua, pergelangan tangannya berdarah karena tali tambang yang kasar.
"Lepaskan aku!" Ryan meronta garang, mata cokelat gelapnya masih memancarkan arogansi. "Kalian tahu siapa aku? Aku Ryan Wayne! Keluarga Wayne akan menghancurkan kalian!"
Langkah kaki bergema dari kegelapan. Seorang pria tinggi besar muncul, topeng perak menutupi seluruh wajahnya, berkilau jahat di bawah cahaya lampu.
"Ryan Wayne..." Pria bertopeng itu tertawa, suara seperti logam bergesekan. "Masih berlagak seperti tuan muda kaya? Sungguh menyedihkan."
"Apa maksudmu?!" Ryan membentak. "Lepaskan aku sekarang juga, atau keluargaku akan—"
"Keluarga Wayne yang sudah hancur itu?" Pria itu memotong dengan tawa keras.
Ryan terdiam sejenak, kebingungan mulai menggantikan arogansi di wajahnya. "Apa maksudmu hancur? Wayne Pharmaceutical Group masih—"
“Masih apa?” Sang pria topeng tertawa lantang. “Ayahmu saja dipenjara dan ibumu mati kecelakaan, bagaimana mungkin mereka bisa menghancurkan kami?"
Wajah Ryan memucat. "Apa …?" Dia tidak pernah mendengar soal ini!
"Dan lagi … itu semua adalah hasil kerja kami." Pria itu tertawa puas.
Ryan terduduk lemas di kursi, semua arogansinya lenyap seketika. "Kenapa... kenapa kalian melakukan ini? Apa salah keluarga Wayne?!"
"Salah keluarga Wayne?" Mata di balik topeng perak itu berkilat penuh kebencian. "Keluarga Wayne sudah terlalu lama berkuasa, terlalu lama memonopoli industri farmasi di Dragonpolis. Saatnya untuk jatuh."
Pria itu mengangkat tangan, memberi aba-aba. "Bawa wanita itu ke sini!"
Seorang anak buah menyeret wanita berpakaian gaun biru muda yang robek. Rambutnya berantakan, wajah cantiknya penuh memar.
Ryan terperanjat. “Eleanor?!”
Wanita itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Ryan ….”
Eleanor Bennett Wayne. Istri sah Ryan selama tiga tahun terakhir—wanita yang paling ia benci. Pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan keputusan keluarga yang memaksa Ryan meninggalkan ibu kota dan hidup terasing di kota kecil.
Sejak hari pertama, Ryan mencari cara untuk menghancurkan pernikahan itu. Ia berselingkuh dengan banyak wanita lain, pulang mabuk setiap malam, bahkan berlaku kasar hingga Eleanor menangis.
Semua dilakukan dengan satu tujuan: membuat Eleanor menyerah dan menceraikannya, sehingga Ryan bisa kembali ke ibu kota dan tinggal bersama orang tuanya.
Namun, semua usahanya sia-sia. Eleanor tidak pernah melawan, tidak pernah pergi. Ia hanya diam, menerima perlakuan buruk itu dengan kesabaran yang bagi Ryan terasa seperti penghinaan, sesuatu yang membuatnya semakin membenci wanita itu.
Hanya saja kini, melihat Eleanor dalam keadaan babak belur di hadapannya, Ryan merasakan sesuatu yang aneh menyelinap di dadanya—campuran marah, bingung, dan perasaan yang tak bisa ia sebut.
"Kenapa kau bawa wanita itu kemari?!" seru Ryan.
Eleanor diikat di tiang di seberang Ryan. Air mata mengalir di pipinya, tapi dia tidak bersuara.
"Eleanor Wayne," pria bertopeng berdiri di antara mereka. "Aku beri kau pilihan. Pertama, bunuh suamimu dengan tanganmu sendiri, lalu kami bebaskan kau. Kedua, kau melayani nafsu semua anak buahku, sebagai gantinya kami bebaskan suamimu."
Keheningan mencekam. Ryan menatap Eleanor dengan mata melebar.
Mengingat segala yang pernah Ryan lakukan kepada wanita itu, bukankah jelas istrinya tersebut akan—
"Aku... aku pilih yang kedua," Eleanor berkata lirih tapi tegas.
Sontak, mata Ryan membola. “Apa!?”
Pria itu tidak percaya. Selama tiga tahun Ryan merendahkannya, menghinanya, bahkan berbuat kasar padanya, tapi Eleanor memilih untuk menyelamatkannya!?
Ryan mengepalkan tangan kuat dan berseru lantang, "Wanita bodoh! Kenapa kau pilih yang kedua!? Kenapa tidak selamatkan dirimu sendiri!? Apa kau kira itu akan membuatku berubah mencintaimu, hah!?”
Eleanor mengangkat pandangan dan menatap Ryan dengan senyuman tipis. "Karena kau suamiku, Ryan. Jika pengorbananku bisa menyelamatkanmu, aku rela melakukannya."
Tiba-tiba suara tepuk tangan bergema dari pintu masuk gudang. Seorang pria muda berpakaian jas mahal melangkah masuk dengan senyum meremehkan.
"Drama yang menyentuh," kata pria itu dengan nada mengejek. Rambut pirangnya tersisir rapi, mata birunya memancarkan arogansi tinggi. "Tapi membosankan."
"William Langdon!" Ryan mengenali wajah itu dengan mata melotot. "Kau... kau yang ada di balik ini semua?"
"Sayangnya, Ryan, bukan aku dalang yang merancang kehancuran keluargamu. Aku hanya meminta untuk... ikut menikmati pertunjukan akhir ini. Lagi pula…"
Mata William beralih ke Eleanor yang terikat. Tatapannya penuh nafsu.
"Wanita cantik seperti Eleanor tidak boleh disia-siakan hanya untuk kelima orang itu. Aku ingin bagian juga."
"JANGAN SENTUH ISTRIKU!" Ryan mengamuk, berusaha melepaskan ikatan hingga pergelangan berdarah.
Namun, William malah tertawa. “Istrimu? Kau bahkan tidak pernah memperlakukannya sebagai istri.” Dia berjongkok di hadapan Eleanor, yang tampak begitu takut. “Tidak perlu khawatir, Eleanor. Aku yang akan menunjukkan padamu bagaimana seharusnya seorang istri diperlakukan!”
SRAAK!
Suara pakaian dirobek terdengar, dan kulit putih mulus Eleanor pun menjadi tontonan semua orang.
“Ahhh!”
“TIDAK!! ELEANOR!!” Ryan berteriak, berharap William akan berhenti.
Namun, sia-sia.
Teriakan nyaring Eleanor bergema di gudang tersebut seiring dirinya dilecehkan dan digilir dengan tidak manusiawi oleh William dan lima pria lainnya.
Ryan yang dipaksa menyaksikan penderitaan Eleanor nyaris menggila. Dia berteriak dan meronta, bahkan kursi yang dia tempati sampai terbalik, membuat kepalanya membentur lantai dan berdarah.
Tapi orang-orang itu terus melanjutkan aksi biadab mereka.
Air mata Ryan mengalir deras. Penyesalan dan kemarahan mendalam menyelimuti hatinya. Dia baru menyadari betapa mulia hati Eleanor, betapa tulus cintanya.
Tapi … terlambat.
Saat semuanya selesai, Ryan hanya bisa menatap istrinya yang terkulai lemah. Tubuh malang Eleanor penuh memar, napasnya tersengal dan terputus-putus.
“Eleanor…” Ryan berbisik serak.
Mata Eleanor yang basah oleh air mata menatap Ryan sesaat, lalu berpaling pada pria bertopeng. “Bebaskan… suamiku…”
Pria bertopeng tertawa rendah. “Bebas? Aku tidak ingat pernah berjanji membebaskan siapa pun.”
“Kau—” Eleanor tersedak, darah segar mengalir dari mulutnya akibat luka dalam yang tak tertahankan. Tubuhnya bergetar lemah.
“Eleanor!” Ryan berteriak putus asa.
Dengan sisa tenaga, Eleanor menoleh padanya, senyum samar terukir di bibir yang berlumuran darah. “Maafkan aku… aku tidak bisa menyelamatkanmu…”
“Tidak, jangan katakan itu! Bertahanlah, Eleanor!” Ryan menjerit, namun tubuh istrinya sudah kehilangan tenaga. Kelopak matanya menutup perlahan, napasnya terhenti.
“ELEANOR!” Jeritan Ryan terdengar seperti binatang terluka. “JANGAN TINGGALKAN AKU!”
Tapi tak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menegaskan kepergiannya.
Amarah menelan Ryan. Ia menatap pria bertopeng dan William dengan tatapan penuh kebencian. “AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUA!” Ryan meronta dengan gila di kursinya. Darah mengalir dari luka-luka baru yang mulai terbentuk.
Pria bertopeng hanya tersenyum remeh sambil memainkan pisaunya, melangkah mendekat pada Ryan yang masih terikat. “Dirimu sendiri saja tidak bisa kau selamatkan, masih berani membual?” Ia mengedikkan bahu. “Yah, karena istrimu sudah mati, sekarang giliranmu.”
Tanpa basa-basi, pisau itu menghujam dada Ryan tepat di jantung. “Selamat tinggal, Tuan Muda Sampah Wayne.”
"Kalau mau menyalahkan seseorang atas kematianmu dan istrimu ini, salahkan nasibmu karena telah menyinggung Tuan Muda. Dia yang menginginkanmu mati."
Saat pisaunya dicabut, darah muncrat deras, tubuh Ryan bergetar hebat. Kesadarannya meredup, pandangannya hanya tertuju pada wajah Eleanor yang kini tak bernyawa.
“Maafkan aku, Eleanor… Jika ada kesempatan kedua, aku akan menjadi suami yang layak bagimu…”
Lalu, kegelapan menyelimuti segalanya.
**
“Kuhuk… kuhuk!”
Batuk keras mengguncang tubuh pria berjubah emas, disusul semburan darah segar.
Tangan pria itu mencengkeram dada, tubuhnya bergetar hebat, dan senyum pahit terukir di wajahnya.
“Eleanor… bahkan hingga akhir, aku tidak bisa melupakanmu…”
Dialah Ryan Wayne—bukan lagi tuan muda sampah, melainkan Kaisar Langit yang menaklukkan galaksi setelah seratus ribu tahun kultivasi.
Sejak kematiannya yang tragis di kehidupan lalu, Ryan bersumpah tidak akan lagi menjadi pria lemah di kehidupan barunya ini. Ia mendaki puncak, menundukkan sekte-sekte besar, membangun kekaisaran abadi, dan menguasai hukum bintang.
Kini, di puncak segalanya, ia menghadapi ujian surgawi.
Langit kosmis bergemuruh, sembilan petir emas berputar di atasnya, menentukan apakah ia layak menembus ranah Overgod. Dengan fondasi sempurna, seharusnya ini mudah. Namun saat petir ketujuh menyambar, ingatan mengenai Eleanor membuat fokusnya buyar.
Petir kedelapan menghantam, pertahanan yang ia bangun selama seratus ribu tahun retak, tubuh emasnya terhuyung lalu berlutut. Penyesalan menyelimuti Ryan, membuat air mata mengalir menuruni wajahnya.
“Eleanor… maafkan aku. Jika ada jalan kembali, aku bersumpah akan menebus semua kesalahanku…”
Lalu petir kesembilan, naga emas raksasa, jatuh dari langit. Cahaya kosmis meledak. Pertahanan terakhir Ryan runtuh, dan seketika tubuh spiritual yang dibangun Ryan selama seratus ribu tahun hancur berkeping-keping.
Kaisar Langit yang tak terkalahkan roboh, bukan karena kekuatan lawan, melainkan karena cinta dan penyesalan yang tak pernah ia lepaskan.
Namun—
“AGHH!” Ryan terbangun. Pandangannya kabur, lalu perlahan jelas. Ia tidak lagi berada di antara bintang, melainkan di ruangan serba putih dengan bau obat menusuk hidungnya.
“Rumah sakit…?” gumamnya serak. “Tapi… di dunia kultivasi tidak ada rumah sakit…”
Ia menatap sekeliling, kebingungan.
Di saat itu, pintu terbuka. Seorang wanita masuk, mata indahnya membulat penuh syukur.
“Ryan, kau sudah bangun?”
Ryan membeku, jantungnya berdegup keras melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
“Eleanor…?”
Benar. Tengah berdiri di hadapannya adalah Eleanor Bennet Wayne, istri Ryan yang seharusnya sudah mati di kehidupan lamanya.
Lalu, bagaimana bisa wanita yang seharusnya sudah mati itu kembali berdiri di hadapan Ryan sekarang!?
Claudia bit her lip, her eyes reflecting resentment. “What do you want from me?” I waved my arm. “I don’t want anything from you. I’m just pointing you a way out. The choice is yours.” As Claudia relaxed her tense facial muscles, I carried on the conversation. “Hank lost everything but you. If I can help him turn his life around five years ago, so can you.” Claudia caught on quickly. “What can I do with his spare change? I wouldn’t be coming to you if I could get the money.” “He doesn’t have anything to his name, but his mom owns a house.” An idea came to Claudia. Upon her return, Claudia proposed to Hank about a business venture, asking Judy to put up her house as collateral for a loan. Judy was reluctant at first, but Claudia asserted that she could do better than I, especially with her overseas education. Besides, Hank was eager to prove himself. He promised to pay back everything with interest within a year, finally persuading Judy to give the go-ahead. To t
Holding the medical report in disbelief, Hank grilled Judy, “What’s the meaning of this? Why don’t Lyra and I have the same father?” Judy’s eyes were shifty. “There can only be one reason.” Hank froze. It took a moment for him to regain composure. “It all makes sense now. “Though Dad was bedridden for a long time, he was always cheerful. He lost his appetite the moment he found out about your pregnancy. He was gone months later. It was because you cheated on him!” Livid, Hank slapped Judy on camera. Judy fell to the ground, whimpering. I was hooked on the screen, munching on snacks. In fact, I had known for a long time that Lyra did not share the same father as Hank. I had come across Lyra’s medical lab report by chance. Judy and her husband had type B blood, yet Lyra was type A. I kept the secret for Judy, not wanting to break Hank’s heart. On my mobile screen, Hank grabbed Lyra. “What about you? Did you know? Was that why you were reluctant to do the test with
Hank could brush off my comment, but several of the public took notice. They raised the same doubt. [That’s right. There’s no way that two people share the same birthmark. If you’re Hank, show us your birthmark!][Of all the times you could’ve shown up, why wait until now when the case garners a lot of attention? Is there some conspiracy?][I know this might sound crazy, but I’m thinking of a body double. I’m more curious about who actually died.] Due to my comment, Hank started feeling the heat from the public. I saw my chance and went live, too. The public swarmed into my live stream, requesting that I hop on his stream. I feigned surprise and took up their suggestion. The moment Hank’s face appeared on my mobile screen, I turned on the waterworks. “Babe! Babe, it’s you!” As I cried my eyes out, Hank smiled in delight. “I thought you denied ever knowing me, Rochelle.”I dried my tears and lifted my chin. “You look so much like him. “You’re the closest I’ve seen
With everything in place the next morning, I went live. I talked about how I paid off Hank’s debts, how we built RH’s Table together, our marriage, and his tragic passing on our wedding anniversary. By the end, I was inconsolable, my face pale. The public was touched by our love story. [It has been ten years since my first love got sick and passed away. I’m still not over it. It hurts when I think about it. I understand how she feels.][I can’t imagine her pain. They had been through so much together, only for her to lose him at their best.][I’ve been to RH’s. The food and service were great. Her business needs our support more than ever.]I started trending online alongside Hank, our tragic love story, and business venture. Our past intimate interactions were uncovered and reposted online. Many dropped their condolences on Hank’s social media page. Hank could not leave the house anymore. He was constantly in hiding, too scared to be seen. Claudia could not take it












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.