LOGINMy husband, Xylo Green, fell in love with the locust tree in our yard. At night, he would wrap his arms around it and kiss it. One day, my dad decided to plant vegetables in the yard, so he cut the tree down. The tree died in the morning, and by midnight, our whole family was gone. Suddenly, I was reincarnated to the day when Xylo was passionately chasing after me. He looked at me lovingly and said, “Olivia, can I be yours?” I smiled flatly. I did not want him anymore, but I would definitely take his life!
View More"Tapi ... jika aku sampai hamil bagaimana?"
Pertanyaan yang dilontarkan cukup serius. Namun sang pendengar yang baru saja meletakkan secangkir teh hangat, nampak tertawa kecil. Tawa yang masih terdengar jelas, meski suara televisi mengisi ruangan."Aruna," mulut itu mulai menyebut namanya."Sayang, kita baru sekali melakukannya. Hamil? Itu hal yang mustahil."Jari jemari Aruna meremas dress. Mata yang semula penuh dengan keraguan, mulai menatap sosok pria tercinta bernama Adrian. Pria yang dua hari lalu merilis album baru juga mendapat penghargaan sebagai aktor pendatang baru terbaik."Aku tanya jika, lantas kita harus bagaimana?" Di antara sofa yang lebar dan tersebar itu, pria terkenal ini lebih memilih duduk di sebelahnya. Tangan yang biasa menulis lagu, mulai menggenggam jemari Aruna."Menikah?" tanya Adrian membuat matanya menatap lebih lekat, "karirku sedang melambung tinggi, tak mungkin aku melanggar kontrak yang sudah ditanda tangani dengan agensi.""Bukankah ada dokter ilegal di negara ini, apa gunanya mereka kalau anak di luar nikah tetap lahir kan?" lanjut Adrian memberi tahu dengan serius.Mata yang saling menatap tapi sibuk dengan pemikiran masing-masing. Perlahan mengundang Adrian untuk mendekatkan wajah pada Aruna. Bibir yang punya tujuan untuk mencium itu, membuat kepala Aruna terburu melengos."Kenapa Sayang?" tanya Adrian terlihat heran."Aku ingin pulang." Matanya mulai memanas.Adrian menatap lekat. "Di luar ada reporter yang berkeliaran, kau mau pulang malam begini?""Ibuku akan mencariku kalau sampai jam 10 belum pulang," tegasnya.Adrian menarik napas. "Meski begitu, tapi aku tidak bisa mengantarmu kalau jam segini. Aku baru bisa melakukannya saat tengah malam.""Dan saat tengah malam, kau akan beralasan sudah malam. Aku harus menginap, begitu kan?" tebak Aruna dengan mata menyorot dingin.Sama seperti malam itu. Ketika rayuan yang manis serta sentuhan yang membuat bergetar, Aruna terperangkap oleh kenikmatan sesaat yang merusak segalanya. Rencana masa depan tepatnya.Bibir Adrian tersenyum. "Jadi, tidak ingin menginap?"Aruna langsung berdiri. "Malam seperti itu, aku tidak ingin mengulanginya lagi."Ucapan yang Aruna lontarkan berhasil membuat senyum di bibir Adrian langsung hilang. Kemudian tubuh ikut berdiri dan mulai membukakan pintu untuknya. Apartemen yang setengah tahun lalu baru dibeli dan ditempati sekiranya dua bulan, tepat saat malam itu terjadi kesalahan terbesar dalam hidup Aruna."Tapi Sayang, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu," ujar Adrian begitu tubuhnya diambang pintu dan kekasihnya ini sibuk menutupi wajah.Aruna memunggungi Adrian. "Tidak usah mengantar."Sepanjang kaki Aruna melangkah. Air mata terus saja mengalir dan Aruna sama sekali tidak merasa malu jika bertemu orang. Karena sudah ada hal yang sangat memalukan dalam hidupnya.Jari-jemari Aruna bergetar. Ini bukan persoalan menyembunyikan uang yang sekali remas akan menghilang dari pandangan. Bukan sama sekali. Tapi, sebuah aib yang akan tumbuh semakin besar dan mengundang perhatian.Aruna mengandung anak dari Adrian, seorang aktor sekaligus penyanyi terkenal.Di sudut halte bus yang cukup sepi itu. Aruna berjongkok dan sibuk muntah, meski hasilnya tak ada satu pun sisa makanan yang keluar dari mulutnya."Perutku sangat mual," keluh Aruna sembari mengusap perutnya.Rasa ingin mual kembali singgah dan Aruna kali ini benar-benar muntah di sana. Di antara banyaknya pengendara yang sedang ditahan oleh lampu merah, penghuni mobil berwarna silver langsung berdecak kesal saat menurunkan kaca."Sial sekali, ingin mencari udara segar malah menemukan orang muntah," gumam pria itu, pria yang mengenakan stelan jas dan nampak sangat rapi.Sang sopir pun ikut melirik. "Apakah dia mabuk? Di kota ini masih saja ada yang mabuk secara terang-terangan, tidak takut ditangkap polisi?"Mata pria itu masih menatap. Wajah yang tetap cantik meski sehabis muntah, hingga tangan yang mengelus perut itu membuat pria tersebut menyeringai."Sepertinya sedang ngidam," gumam pria itu lebih pelan dari sebelumnya."Sungguh kita akan ke rumah itu, Tuan Yuksel?"Mata pria itu mulai menatap lurus, ke arah jalanan. "Ditolak sekali, aku akan menggunakan seribu alasan untuk datang."Mobil silver itu mulai melaju, membawa pria tampan yang terlihat arogan itu semakin menjauh.***Lama menghabiskan isi perut di luar. Aruna memutuskan untuk pulang dengan menaiki taksi. Tapi, begitu sampai di depan rumah. Mata menemukan sebuah mobil silver terparkir di depan pekarangan."Sepertinya pak tua itu datang lagi dan berusaha membujuk ibu," ujarnya pelan.Semakin memasuki pekarangan rumah. Aruna bisa mendengar suara ibunya yang berteriak memaki seseorang di dalam. Aruna memutuskan untuk membuka pintu.Biasanya, ibu Aruna begitu melihatnya akan langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukannya sembari menangis. Namun, hari ini ada yang berbeda. Ibunya, menatap sengit begitu melihatnya."Ibu, siapa ini?" tanya Aruna sembari melirik seorang pria tampan dengan stelan jas warna hitam, dia adalah Yuksel.Aruna mengira kalau yang datang adalah pria tua, setiap hari akan datang meski selalu diusir. Tapi, hari ini yang berkunjung rupanya orang lain. Mata Yuksel melirik ke arahnya dengan raut sedikit terkejut, karena mengenali Aruna yang muntah di pinggir halte."Lebih baik kau pergi! Aku tidak ingin membicarakan masalah pria bejat itu yang sudah tiada!" seru ibunya marah.Di mata Aruna, ayahnya adalah pria yang baik dan sederhana. Namun, nyatanya Aruna terlalu naif. Ayahnya cukup kaya hingga memiliki warisan 500 juta.Jika saja itu uang halal, maka ibunya akan menerima dan hidup dengan mewah. Sayangnya ... uang itu berasal dari penjualan organ secara ilegal."Aku tidak akan menerimanya, jadi pergilah!" Dan ibunya selalu menolak mentah-mentah warisan itu.Aruna melihat amarah ibunya semakin parah hari ini, tidak seperti biasanya. Namun, mata Aruna melotot saat menemukan alasan kemarahan ibunya yang berapi-api. Tes kehamilan yang tergenggam pada tangan ibunya, itu adalah pemicunya."Kenapa terkejut begitu? Padahal kau sendiri yang mengetesnya," sindir ibunya dengan tatapan marah besar."Ibu, aku bisa jelaskan," ujar Aruna sembari ingin menangis.Namun, ibunya malah mendorong Yuksel untuk segera pergi. "Jangan datang lagi!"Pintu rumah tertutup rapat dan kini giliran Aruna yang menerima kemarahan dari ibunya. Mata ibunya sudah dipenuhi oleh amarah, apalagi ketika tangan mengangkat tes kehamilan."Katakan, pria mana yang sudah menghamilimu? Kau tak punya kekasih, apa kau diperkosa?" pertanyaan ini terdengar lebih pelan, mungkin takut tetangga mendengar.Aruna menelan ludah dengan air mata sudah terjatuh. "Bu ... aku ...."Tubuh Aruna bergetar. Harusnya ia katakan anak ini adalah hasil buah cintanya dengan aktor ternama yang tidak ingin menikah karena karir."Katakan!" seru ibunya mulai tak sabar.Aruna benar-benar tak sanggup mengungkap siapa ayah dari bayi di kandungannya. Apakah pria itu akan tanggung jawab? Itulah yang Aruna takutkan. Meski bicara pun, pada akhirnya semuanya akan menjadi sia-sia.Sebuah tamparan melayang di pipi Aruna, hingga tubuhnya tersungkur. Aruna hanya bisa menangis, kesalahan ini telah melukai lubuk hati ibunya."Gugurkan," ujar ibunya ditengah amarah serta tangisan.Aruna tertegun dan langsung mendongak. "Bu, bagaimana bisa seorang Ibu mengatakan hal buruk seperti ini?"Jari ibunya menunjuk sengit. "Lantas kau mau melahirkannya? Di usiamu yang muda dan masih mahasiswi ini?"Jemari Aruna mengepal. Jika sampai universitasnya tahu kehamilan ini, maka Aruna langsung didepak dan akan kesulitan mengejar cita-cita.Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka, pria yang tadi diusir oleh ibunya rupanya menguping dan langsung bersimpuh di sebelahnya tanpa ragu."Bu Diana, Aku yang menghamilinya, dan aku berjanji akan bertanggung jawab."I said to Xylo, “Technology is advanced now. We can easily tell what’s under the locust tree. Xylo, you’ve done something wrong, and now you need to face the consequences.” He stared at me in confusion. “When did you find out about this?” I did not answer him and let him guess. Two strong men from the construction team roughly pulled Xylo away from the locust tree. The other workers started cutting it down. When Xylo saw one of them bring out an axe, saw, and ropes, he lost his cool and shouted, “Don’t touch Locust! Don’t cut her down! If anyone touches her, I’ll kill you!” He cried like he had lost the most important person in his life. The workers said mockingly, “He must be crazy. It’s just a tree. Why is he crying like he lost his parents?” “If he were normal, would he treat a tree like his wife?” “He looks fine, but how did he become so messed up?” Xylo did not care what they thought. He screamed, “Don’t hurt Locust! Don’t hurt her! She’s terrified of pain! If
The crane operator’s shout made all the workers on the ground rush up to the second floor to watch Xylo in the embarrassing situation. Xylo quickly grabbed some clothes and tried to put them on. A group of men laughed at him, and some even pulled out their phones to record him. “Mr. Green, what’s it like to be with a tree? Tell us about it.” “You’d be better off with a dog. Why a tree? This isn’t something a normal person would do.” “Wow, this is the weirdest thing I’ve ever seen. Did you ask the tree for its consent?” Xylo felt embarrassed by the mocking comments and silently put on his clothes. Later that night, he secretly prepared an axe, a machete, black clothes, gloves, and a mask. He planned to go out to kill people. I had a feeling he was going to hurt the workers who had made fun of him earlier. So, I called the police anonymously and told them that he might harm someone. The next day, the police brought him back. He did not succeed in whatever he was plan
Xylo pretended to go along with the police, but after they left, he cursed, “Idiots, you don’t understand anything!” Because of the incident, he rarely left the house and was dependent on food delivery for his meals. But most delivery drivers refused to deliver to him because the neighborhood was being demolished. Nearly everyone had moved out except for him. Another reason was that I posted more of his creepy videos online. I hid my IP address and uploaded them to international sites first. I wanted to embarrass him globally. The videos quickly spread on local platforms without me needing to do anything. Xylo became a constant trending topic. Eventually, his law firm called and told him he was fired. Xylo did not even try to defend himself. After hanging up, he laughed at himself. “What’s so wrong about loving a tree? I didn’t hurt anyone! Why are you all hurting us?” Since no one would deliver food to him, he had to go to the supermarket to buy groceries. Even
“Thirteen years ago, I couldn’t protect you, and now, I still can’t. Locust, I’m so sorry! I’m useless!” As Xylo said that, he slapped himself hard, again and again. He did not hold back. He kept crying and saying, “Locust, trust me! Whoever hurts you, I won’t let them get away with it. I miss you. Please talk to me, okay?” The next day, the boy next door, Patrick, suddenly died. They said he fell into the river while playing. I knew Xylo had done it. I could not wait anymore. If I did, more innocent people would die, so I decided to act. I made a fake account and hid my IP address so Xylo could not find me. Then, I uploaded a video. It showed Xylo hugging the locust tree, kissing it, and saying gross things. The video went viral fast because Xylo was a good-looking lawyer, and the video itself was very weird. Soon, the news reached Xylo’s law firm. He was told to take a leave of absence and could not go back to work. Through the camera, I saw Xylo staring at his












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews