Mag-log inI spent six months and over $20,000 to plan a family vacation. However, when my mate’s childhood sweetheart Victoria heard about our trip, she begged to join us. Alexander didn't hesitate. He cancelled my spot in the protected convoy and gave it to her instead. He forced me to travel alone through deadly Shadow Pack territory - a thirty-six hour journey where three wolves had died last month. The whole family supported Alexander's decision without a thought for my safety. So I changed my travel plans. I headed north instead of south. I spent three months enjoying myself, ignoring their mindlink message. That's when the family started to panic...
view more"Tidak mungkin, Han. Kita hanya melakukannya satu kali. Mana mungkin bisa langsung hamil?" Mahendra memelankan nada bicaranya, tak mau orang yang di sekitar ikut mendengar percakapan mereka.
"Tapi itu kenyataannya, Dra."Hanami mencoba meyakinkan sang kekasih dengan merogoh tas yang ada di pangkuan, mengeluarkan test pack dan menunjukkan kepadanya. Dengan tangan sedikit bergetar, pria tampan itu pun mengambil dan menatap hasil test dengan mata membola.Awalnya, wanita bernama lengkap Hanami Ramadhani juga tidak menyangka akan mendapati kenyataan memalukan, pun tak mau hal tersebut terjadi. Namun, hasil test alat kehamilan cukup menunjukkan kalau dia benar-benar hamil. Terus, dia harus bagaimana?"Dua garis itu artinya positif?" Pria beralis tebal itu bertanya pelan, hanya ingin memastikan. Wajahnya diliputi rasa panik.Gadis itu mengangguk pelan dengan wajah meredup, lelah dan tak tahu harus bagaimana. Dia merasa tubuhnya lemas, sering mual dan muntah di pagi hari. Ditambah yang membuatnya bingung, tamu bulanan sudah tak berkunjung selama dua bulan. Di situlah awalnya dia mulai resah dan curiga kalau dia hamil setelah kejadian dua bulan yang lalu.Inisiatif membeli test pack di apotik lalu sesuai petunjuk, dia mencoba urinnya dan hasil yang ditunjukkan adalah dua garis. Iya, fix, dia hamil."Coba kamu tes lagi pakai merek yang lain, barang kali yang ini error."Pria itu masih belum bisa menerima kenyataan kalau kekasih yang dicintainya tengah hamil akibat perbuatan zina mereka di rumah kosong setelah acara pesta wisuda. Ada guratan kegelisahan yang terbit di wajah, jelas sekali terlihat dan tak sanggup disembunyikan.Mendengar itu, Hana langsung merogoh tas berwarna merah muda miliknya dan mengeluarkan tiga test pack lain lalu diletakkan ke atas meja. Alat pendeteksi dengan berbagai merek hasil yang ditunjukkan adalah sama. Dua garis merah."Aku sudah test empat kali dengan merek yang berbeda, tetapi hasilnya sama."Suaranya bergetar, ingin menangis dan menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Benar kata orang kalau penyesalan memang selalu datang belakangan.Dengan cepat tangan kokoh Mahendra meraih ketiga alat tersebut, ingin meyakinkan apa yang dikatakan Hana adalah benar. Wajah yang tenang tadi seketika berubah menjadi raut penuh putus asa dan gelisah.Ada sengatan kekhawatiran di dada, jika kedua orangtuanya mengetahui putra kebanggaan mereka telah menodai anak gadis orang. Pria itu bisa saja membu nuh papanya yang mempunyai penyakit riwayat jantung koroner. Tidak, dia belum sanggup membayangkan dan terlebih itu tidak boleh terjadi.Menarik napas dan membuangnya kasar, dia menumpukan siku ke atas meja lalu menopangkan kepala ke atas punggung tangan. Membenamkan wajah di balik tangan, ingin sekali dia menyembunyikan rasa kekhawatirannya agar gadis yang di samping tidak melihat kondisi tersebut. Frustasi pun mulai menggerogoti pikiran."Gimana, Dra? Kamu jangan diam saja. Apa yang harus kita lakukan? Aku belum berani memberitahu ibu. Aku khawatir beliau pasti akan marah dan sedih."Hana bukan tak tahu Mahendra sedang menyembunyikan kegusaran seperti yang ia rasakan. Namun, dia juga tak mau sang kekasih melipat tangan dengan apa yang sudah dia lakukan."Iya, jangan kasih tahu dulu. Kita selesaikan tanpa campur tangan siapapun."Suara itu terdengar lirih, dia belum menunjukkan wajahnya. Kini dia menopang kepala di atas tangan yang terlipat di atas meja. Aroma kopi di kafe yang seharusnya menenangkan, tetapi justru perasaan gundah yang dirasakan. Mereka bahkan tak nyaman bukan karena dengan suasana, tetapi masalah yang baru menghampiri membuat kedua hati itu tidak tenang."Kamu mau tanggung jawab, Dra? Kamu tidak akan meninggalkan aku, kan?"Hana mulai mengguncang lengannya. Dia ingin kepastian dan menagih apa yang pernah dijanjikan pria itu sebelum mereka melakukan perbuatan yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri. Matanya mulai buram ditutupi air yang masih bisa ditahan."Iya, tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu. Aku akan mencari cara. Kamu yang tenang, biarkan aku berpikir dulu."Setelah mengangkat kepala, dia melayangkan ciuman ke kening, pipi lalu ke pucuk kepala sang kekasih yang sekarang dilanda keresahan. Lalu, meletakkan kepala Hana ke ceruk lehernya. Apa yang diucapkan semuanya benar, dia sangat mencintai gadis itu. Namun, mungkin cara mengungkapkannya adalah keliru."Tidak akan meninggalkanmu. Kamu percaya padaku."Bisikan itu berhasil menurunkan satu level kecemasan Hanami. Wanita itu bisa mendengar dentuman jantung yang tak berirama di sana. Pikiran mereka berdua sama-sama dihantui rasa bersalah, berusaha mencari jalan keluar atas kasus itu.Setelah satu jam mereka berada dalam keheningan, akhirnya Mahendra membuka suara setelah dia menyesap cokelat panas yang sudah dingin. Namun, cokelat yang seharusnya terasa manis, kini terasa pahit di lidahnya."Ayo, ikut aku!"Mahendra pun menarik tangannya meninggalkan kafe tersebut lalu melajukan mobil menuju ke supermarket. Sesampai di sana, Hana yang masih belum mengerti maksud pria itu pun hanya bisa melipat dahi."Kamu tahu, kan, aku akan melanjutkan kuliah di Jepang sesuai rencana orangtuaku. Dan yang kutahu kamu mendukung aku waktu itu. Kita bisa melanjutkan hubungan LDR sesuai kesepakatan kita. Kamu ingat?"Hanami menyimak dan mengangguk dengan hati yang berkecambuk. Tentu saja dia ingat hal tersebut, tetapi sekarang kasusnya berbeda, dia hamil. Ada benih cinta di rahimnya yang diberikan pria itu."Kita masih terlalu muda untuk menjadi orangtua. Harusnya kita kejar dulu mimpi kita, cita-cita kita, setelah itu kita akan menikah dan mempunyai banyak anak. Kamu paham maksudku, Sayang?"Mahendra menggenggam kedua tangan Hana, kemudian mencium punggung tangannya. Ia memeluk harapan agar gadis delapan belas tahun itu mau mengerti keadaannya yang belum bisa menerima kehadiran seorang bayi saat itu. Dia ingin mewujudkan ambisi dan cita-cita. Jepang, itulah impiannya."Maksud kamu, Dra? Kamu tidak mau bayi ini dilahirkan?"Rasa kecewa mulai memenuhi dada, hati itu hancur ketika dia membaca gelagat aneh Mahendra yang memintanya melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya. Pria itu tidak menyahuti dan berbalik melihat jejeran buah yang terpampang di toko tersebut."Kita beli ini dan kamu harus menghabiskannya."Mahendra memilih dan mengambil beberapa jenis buah lalu hendak berjalan menuju ke kasir. Ia tak mengacuhkan raut muram yang tercetak di wajah pacarnya."Dra, jika aku makan buah-buah itu, bukankah akan membahayakan janinku?"Secepat kilat Hana menggeleng sambil mengelus perutnya yang masih rata. Wanita cantik itu mencoba menahan tangannya dan meminta penjelasan. Ia belum bisa menerima rencana sang kekasih."Justru itu yang kita inginkan, Han."Alexander returned three days later to sign the papers.The day of our severance ritual, Victoria attended.She wore the diamond necklace Alexander had bought her."Planning to complete your mate bond right after severing ours, Alexander?"Victoria wrapped herself around his arm. "Of course. Once he's free of you, he's marking me immediately."She touched her stomach. "I already carry his pup. We'll be a happy family of three."I laughed at Alexander. "We were mated five years with no pups. I passed all fertility tests but you refused them. Now Victoria's suddenly carrying? Impressive."Victoria shrieked. "What are you suggesting? This pup is definitely Alexander's!""If you say so. Why so defensive?"The Pack Council members performing the ritual exchanged knowing looks.They'd all been my therapy clients. They knew Victoria's pattern of lying about pregnancies to trap males.After our bond was severed, Alexander immediately took Victoria for their bonding ceremony.They saw me waitin
After two months of peace, I returned to my villa.Opening the door, I found the family still squatting in my home.Sarah rushed over. "Scarlett! You're back! Was your journey tiring? Are you hungry? I could prepare some fresh meat?"Her unprecedented warmth made my skin crawl."No need, Elder.""What are you calling me? I'm your Sarah!""Alexander and I are severing our bond. Elder is appropriate."Sarah looked desperately at Alexander, who reluctantly approached."Scarlett, stop being difficult. See how Sarah cares for you? Why ruin a good pack life?""Weren't you the one demanding severance? Saying whoever backed down was a coward? Have you signed the ritual papers?"Alexander pressed his lips together, then grabbed my hand. "Enough. You cancelled our hotels, destroyed our clothes - I've forgiven it all. Let's never mention severance again. See how good I am to you?"I pulled away. "Skip the nonsense. Sign the papers. Let's end this cleanly."Sarah prompted him. "Show her the gift y
I was one of the highest-earning pack members. Everyone knew Alexander's family lived off my income.Now they'd see him for what he really was - a weak warrior who couldn't even provide for his mate.I checked my therapy practice's schedule. Even on vacation, I had wolves willing to pay $1,000 per session.I'd do video consultations from my luxury suite. Why waste prime billing hours?After two therapy sessions, I got a call from the pack's Beta."Scarlett, Alexander's family is causing a scene at pack headquarters. They're demanding emergency funds.""Not my problem anymore.""Sarah's telling everyone you abandoned them. Victoria's crying about a stolen necklace.""That necklace Alexander bought her with MY money?"The Beta sighed. "This is getting messy. Alexander's reputation is in shreds.""Good. Maybe he'll learn to live within his means."I got a text from my bank. Alexander had tried to access my personal accounts.He'd also attempted to transfer ownership of my therapy office b
The moment they left, I contacted the pack's disposal service.They arrived quickly in their truck."Take all eight suitcases. I don't want any of it."The worker was shocked. "Are you sure? These are quality bags.""Just clothes and supplies - nothing worth salvaging. Keep what you can use, dispose of the rest."After paying the $200 disposal fee, I watched the suitcases disappear.Money well spent for my peace of mind.Then I contacted our pack's Beta about preparing a mate bond severance ritual.Next, I arranged safe passage through the Northern Mountain territory - a private, first-class journey just for me.I'd barely settled into my luxury SUV when Alexander mind-linked me."Scarlett, why can't I find our hotel reservations? Send me the booking details.""Oh right, I cancelled all the hotel bookings."Alexander's mental voice spiked with anger. "What? Where are we supposed to stay tonight?""That's your problem now.""Are you insane? Why would you cancel our rooms? You did this o












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Mga Ratings
RebyuMore