Short
The Moonlight of Betrayal

The Moonlight of Betrayal

By:  Sylva.GCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
11Chapters
14.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

My family was attacked by rogue wolves when we entered their territory. My wolf was gravely injured, and in the end, I was the one who saved everyone.
As I collapsed, exhausted, no one came to me—they all ran to my adopted sister, Fiona, fussing over a few shallow scratches.
By the time pack members carried me to the infirmary, the healer delivered the cruel news: my wolf had been struck by a silver dagger, and the one-month-old pup in my womb wouldn’t survive.
Yet my mate, Luke, had given the only life-saving treatment to Fiona. With no other choice, I refused the healer’s remedies and numbed my wolf’s pain with crude herbs—knowing it would only buy us three days before death.
In those last days, I let everything go. I gave Fiona all my possessions and insurance money while my parents smiled in approval. I signed the bond-severing agreement Luke slid across the table without a second thought. Luke was satisfied, believing I was considerate. Kane, my brother, nodded his head when I told him to give my room to Fiona.
Even my son, Jim, squealed with joy when I asked him to call her “mom.” No one questioned why I gave all my belongings to Fiona, and their approving gazes said it all: “Good. The old Emma is back. But as the clock ticked down, one thought haunted me:
When they find our bodies—my wolf and my unborn pup—will that satisfaction turn to regret?

View More

Chapter 1

Chapter 1

Aroma rumah sakit biasanya membuat Ariana mual, namun pemandangan di lorong depan poli penyakit dalam jauh lebih menyakitkan daripada asam lambung yang tengah menyiksa perutnya.

Di sana, Nicholas, pria yang statusnya masih suaminya, berdiri membelakanginya. Kemeja birunya tertekuk rapi di siku, tangannya yang biasanya dingin kini tampak begitu protektif saat merangkul bahu Katrina yang duduk di kursi roda.

Ariana terpaku. Dia melihat Nicholas tersenyum, sebuah binar yang belum pernah ia lihat selama dua tahun mereka tinggal di bawah atap yang sama. Tanpa sadar, Ariana mundur perlahan, mengabaikan nomor antreannya yang hampir dipanggil. Obat maag tidak lagi penting, luka di hatinya jauh lebih mendesak.

Malam itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ariana duduk di meja makan yang dingin, menunggu suara mesin mobil Nicholas di halaman. Saat pria itu akhirnya pulang, dia melintas begitu saja, aroma parfum maskulin khas pria itu menusuk indra penciuman Ariana. Tidak ada sapaan, bahkan tidak ada lirikan.

Ariana mengepalkan tangan, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya. Ia mengikuti Nicholas ke lantai dua dan berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka.

"Aku melihatmu di rumah sakit tadi pagi. Bersama Katrina," suara Ariana sedikit bergetar, meski ia mencoba terdengar datar.

Nicholas yang sedang melepas jam tangannya hanya berhenti sejenak. "Oh," jawabnya singkat tanpa menoleh. Dia kemudian meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Seperti keberadaan Ariana hanyalah gangguan angin lalu bagi pria itu.

Dada Ariana sesak. Ia menunggu hingga Nicholas keluar, lalu mengikutinya sampai ke ruang kerja. Sebelum pria itu sempat duduk di depan komputernya, Ariana memotong, ​"Aku ingin bicara serius, Nick,"

​Nicholas tetap diam. Jemarinya langsung menari di atas keyboard laptopnya.

​"Nick... mari kita bercerai saja," ucap Ariana lebih keras, kali ini dengan nada yang menuntut perhatian

Kali ini jemari Nicholas berhenti sesaat. Namun, dia tetap tidak menatap Ariana. Jarinya mulai menari kembali di atas keyboard. "Jangan konyol. Aku sedang banyak pekerjaan."

"Nicholas Nathan! Aku serius!" suara Ariana meninggi, air mata mulai menggenang.

Nicholas menghela napas panjang, sebuah suara yang menandakan bahwa dia sangat terganggu. "Lakukan sesukamu," ucapnya dingin. "Keluarlah, jika kau sudah selesai bicara."

Jawaban itu adalah pukulan terakhir bagi Ariana. Pria ini bahkan tidak merasa perlu mempertahankan hubungan mereka, atau setidaknya bertanya mengapa.

Bagi Ariana, dirinya mungkin hanyalah bagian dari dekorasi rumah yang tidak terlalu penting.

​"Baik," desis Ariana pedih. Ia mengira Nicholas setuju karena ingin kembali pada Katrina. "Aku akan pergi."

​Namun, saat kakinya mencapai ambang pintu, ia teringat janji lain. "Ibu memintaku menemuinya besok siang. Aku akan sekalian memberitahunya tentang rencana perceraian kita."

"Terserah," sahut Nicholas tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

***

Keesokan harinya, Ariana melajukan mobilnya menuju kawasan elite, tempat kediaman mewah ibu mertuanya, Rachel, berada. Begitu masuk, Rachel menyambutnya dengan pelukan hangat yang terasa begitu tulus.

​"Ariana, manis! Ayo masuk, Ibu sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu," ujar Rachel ramah. Mereka duduk di sofa.

​"Kau pucat sekali hari ini, sayang," lanjut Rachel lembut sembari menatap wajah menantunya.

Namun, keramahan itu terasa seperti lapisan gula tipis di atas empedu. Setelah beberapa saat berbasa-basi di ruang tamu itu, Ariana memberanikan diri.

"Ibu... maafkan aku. Pernikahanku dengan Nicholas... sepertinya tidak bisa lagi dilanjutkan."

Suasana hangat di ruang tamu itu tiba-tiba berubah dingin. Senyum di wajah Rachel luruh, digantikan oleh gurat tajam yang menyeramkan.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Ariana, tanpa ia bisa menghindar, meninggalkan rasa panas yang berdenyut di sudut bibirnya.

​"Beraninya kau bicara soal cerai!" bentak Rachel, suaranya kini melengking marah. "Kau lupa posisi keluargamu? Kau lupa siapa yang membayar semua utang judi pamanmu agar ayahmu tidak membusuk di penjara?"

Ariana berlutut, air matanya tumpah. "Tapi Nicholas tidak mencintaiku, Bu. Dia masih bersama Katrina..."

"Aku tidak peduli Nicholas mencintaimu atau tidak!" bentak Rachel, ia berdiri tegak menghina Ariana yang bersimpuh. "Aku membelimu bukan untuk dicintai. Aku memilihmu karena kau sehat, dan punya gen yang bagus untuk meneruskan garis keturunanku. Tugasmu hanya memberikan cucu sesuai kontrak!"

Ingatan Ariana terlempar ke dua tahun lalu. Rachel, yang merupakan atasan ayahnya, menawarkan solusi untuk melunasi seluruh hutang ayahnya, asalkan Ariana menikah dengan Nicholas dan memberikan cucu.

Rachel semula meremehkan status sosial Ariana yang miskin, namun berubah pikiran setelah melihat catatan akademis Ariana yang cemerlang.

Rachel kemudian berjalan ke arah meja kecil dan mengambil sebuah bungkusan kecil. Ia melemparkannya ke pangkuan Ariana.

"Pastikan Nicholas meminumnya malam ini. Jangan mencoba melarikan diri dari kewajibanmu. Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada keluargamu jika kau gagal lagi," ancam Rachel.

Ariana menatap bungkusan itu dengan tangan gemetar. Ia terjebak di antara suami yang menganggapnya tak kasat mata dan ibu mertua yang menganggapnya sekadar mesin pencetak pewaris.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status