MasukOn my 18th birthday, my triplet brothers adopted a fifteen-year-old orphan girl. To make their newly adopted sister happy, Matthew gave her my coming-of-age gift, Daniel sent away the dog that had grown up with me because she was allergic, and William coldly told me to get out of the house and stop making their little sister upset. I didn't say another word. I just packed my bags and left. They all thought I was just throwing a tantrum and would be back in a few days. My three brothers canceled their busy work schedules to take the orphan girl abroad to relax her nerves. They went to see the Northern Lights in Alaska – the place I had always dreamed of visiting. Many days later, when they returned from their vacation, they suddenly learned that I had volunteered for a twenty-year medical research mission in a remote frontier. I would never be coming home again. That night, they fell apart.
Lihat lebih banyakSuasana duka tampak menyelimuti sebuah keluarga yang baru saja kehilangan orang tercinta. Tampak seorang pria yang beberapa kali mengusap wajahnya dengan raut sendu. Guna menghalau air mata yang terus mendesak ingin keluar dari peraduannya.
Basuki Triyono, pria berusia 35 tahun itu baru saja kehilangan istrinya, untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya, pria itu telah menyandang status duda selama hampir tiga tahun.Lalu di tahun ke-empat sepeninggal istri pertamanya, Basuki memutuskan untuk menikah dengan janda anak satu bernama Ranti Yulia. Wanita yang lebih tua lima tahun darinya, yang berhasil memikat hati Basuki ketika sama-sama menjadi buruh pabrik di kota.Singkat cerita, keduanya akhirnya memutuskan untuk menikah setelah hampir setahun menjalani masa pengenalan. Basuki yang saat itu sudah sering didesak keluarganya, memutuskan segera mempersunting Ranti untuk dijadikan istri keduanya.Ranti adalah wanita kedua yang hadir di dalam hidup Basuki. Wanita berparas manis dengan lesung pipi yang selalu menghiasi saat tersenyum, membuat dirinya terlihat begitu menarik di mata Basuki.Selama setahun mengenal Ranti, Basuki menjadi banyak tahu mengenai kehidupan wanita itu. Dimana dia harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya bersama anak gadisnya bernama Asmaranti.Asmaranti adalah anak perempuan Ranti bersama suami pertamanya, Asman. Nama gadis itu merupakan singkatan dari mereka berdua. Dan orang-orang terdekatnya banyak yang memanggilnya dengan panggilan Asma.Kembali pada kisah asmara Basuki, pria itu masih tidak menyangka jika kebahagiaannya akan berakhir secepat ini. Baru dua tahun dirinya menikah bersama Ranti. Namun harus kembali menyandang status duda untuk yang kedua kalinya.Jika di pernikahan pertamanya dia tidak ambil pusing dengan semua itu, lain cerita dengan pernikahannya yang kedua ini. Ranti meninggal tepat setelah melahirkan putra pertama mereka yang diberi nama Dika Prameswara. Membuat perasaan Basuki bercampur aduk.Di satu sisi dia sangat bahagia karena akhirnya memiliki seorang anak. Namun di sisi lain, dia juga harus kehilangan istri tercinta.Kini yang membuat Basuki merasa kebingungan adalah bagaimana cara dia merawat Dika ke depannya. Apalagi dengan statusnya yang tidak beristri. Membuat Basuki dilanda kegelisahan dan kesedihan yang mendalam.Basuki merasa sedih karena putra kecilnya harus mengalami cobaan yang begitu berat sesaat setelah baru lahir ke dunia ini. Dimana dia tidak dapat merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya."Pak.. " panggil seorang gadis yang kini telah berada di depannya. Duduk bersimpuh dengan mata sembab yang sangat kentara.Basuki yang sempat melamun seketika tersadar. Netranya menatap anak sambungnya yang juga tengah menatapnya dengan pandangan sedih."Sekarang Asma udah nggak punya siapa-siapa lagi, Pak, hiks.. " ujar gadis itu kembali terisak.Hati Basuki kembali terenyuh melihat wajah rapuh Asma. Pria itu tak kuasa menahan kesedihannya. Lalu merengkuh tubuh mungil Asma ke dalam pelukannya."Jangan bicara seperti itu, Ma. Kamu tetap anak Bapak." kata Basuki dengan suara parau.Asma yang mendengarnya semakin terisak. Merasa bersyukur karena Basuki mengakui jika dirinya adalah bagian dari keluarganya. Betapa senangnya hati Asma mendengar itu.Setelah dirasa mulai tenang, Basuki akhirnya mengurai pelukannya. Mengusap jejak air mata yang membasahi wajah putih Asma."Walaupun Ibukmu sudah tiada. Kamu akan tetap jadi bagian dari keluarga Bapak. Jadi jangan pernah merasa berkecil hati, Nduk." Basuki mengatakan itu semata untuk menenangkan Asma. Rasanya dia tidak tega melihat wajah sedih gadis itu.Asma menggigit bibirnya untuk menahan tangis. Dia menatap bapak sambungnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca."Asma janji, akan bantu Bapak ngerawat Dika. Apapun akan Asma lakuin buat Dika, Pak." kata Asma penuh keyakinan.|•|Setelah acara berkabung selesai, Basuki meminta Asma untuk membantunya membersihkan rumah. Kursi-kursi yang sempat berjejer di teras rumahnya, kini telah menumpuk rapi. Begitu juga dengan ruang tamu yang tadinya dipenuhi dengan bunga-bunga, kini tengah dibersihkan oleh Asma.Di tengah kegiatannya membersihkan rumah, terdengar suara tangis bayi yang berada di salah satu bilik rumah. Asma yang pertama kali mendengarnya, dengan tergesa menghampiri Basuki yang berada agak jauh darinya."Pak.. " panggil Asma berjalan mendekati bapak sambungnya.Basuki yang tadinya tengah memunguti sampah tampak menghentikan kegiatannya. Menoleh ke arah dimana Asma berada."Asma dengar suara Dika nangis, Pak. Apa Asma boleh ijin masuk ke kamar Bapak buat gendong Dika?" tanya Asma dengan raut cemas.Basuki tersenyum tipis menghadapi sikap sopan Asma. Gadis itu tidak hanya cantik. Namun juga memiliki tutur bahasa yang baik dan santun."Masuk saja, Ma. Tidak perlu sungkan." jawab Basuki memberi ijin.Setelah mendapatkan ijin dari bapak sambungnya, Asma bergegas menuju ke kamar pria itu setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.Gadis itu dengan tergesa mendekati tempat Dika berada. Berbaring di atas ranjang bapak sambungnya dengan dua guling kecil yang ada di kanan kirinya. Tidak lupa sebuah sapu lidi yang diletakkan di atas kepalanya.Dengan hati-hati Asma mencoba untuk menggendong adik tirinya. Sebelumnya, dia belum pernah menggendong seorang bayi. Apalagi di usianya yang masih sangat belia.Dika baru berusia 1 minggu. Usia yang masih sangat kecil untuk menghadapi kepelikan hidup. Apalagi bayi mungil itu masih sangat membutuhkan asupan susu dari seorang ibu."Cup cup cup.. tenang ya, Dek. Mbak Asma ada di sini." lirih Asma sembari menimang-nimang adiknya.Lama Asma mencoba menenangkan Dika, bayi mungil itu tak kunjung berhenti menangis. Membuat Asma dibuat kalang kabut.Di tengah kekalutan itu, Basuki datang bersama seorang wanita. Yang Asma kenal sebagai tetangganya, Mbak Marni. Wanita muda yang baru beberapa minggu lalu melahirkan seorang bayi perempuan."Dika sepertinya haus, Ma." ujar Mbak Marni mengambil alih Dika ke dalam gendongannya.Asma yang memang belum paham dengan semua itu hanya dapat mengangguk. Dia lalu ikut keluar bersama bapaknya selagi Murni menyusui adik kecilnya.Kini netra bulatnya bergulir menatap bapak sambungnya yang terlihat gelisah. Membuat dirinya merasa terusik."Ada apa, Pak? Kenapa Bapak keliatan gelisah gitu?" tanya Asma yang memang tidak pernah bisa untuk tidak menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran."Bapak bingung harus mencari orang yang mau menyusui Dika dimana. Dua hari lagi Marni akan pindah ke kota." jawab Basuki menyuarakan kegelisahannya.Mendengar hal itu tentu saja membuat Asma ikut merasa gelisah. Adiknya masih sangat membutuhkan ASI. Dan untuk mendapatkan wanita yang mau menyusui tidaklah gampang."Apa nggak ada tetangga yang mau bantu, Pak? Dika masih sangat butuh ASI, Pak." ujar Asma dengan raut sedih.Basuki menghela napas berat sebelum kemudian menggeleng lirih. Membuat Asma mengulum bibirnya dengan wajah kecewa.Keduanya sempat berada di dalam situasi hening selama beberapa saat. Sampai kemudian Asma mengucapkan sesuatu yang membuat Basuki kehilangan kata-katanya."Biar Asma yang gantiin Mbak Marni, Pak." ujar Asma mantap dengan wajah penuh keyakinan.***The heart rate monitor gradually flattened into a long, endless straight line. The steady beep became one continuous tone that filled the room.Daniel doubled over, his forehead touching his knees. William reached out and gripped the bed rail so hard his knuckles turned white.The nurse stepped forward, checked the monitors, and quietly noted the time of death: 2:17 AM.I gently placed Matthew's hand back on the bed and stood up. I straightened my jacket, brushed a strand of hair from my face."I'll give you some time," the nurse said softly, stepping out of the room.For a moment, nobody moved. Then Daniel looked up at me, his face raw with grief."He never stopped regretting what happened," he said hoarsely. "None of us did."I nodded once, acknowledging his words without accepting or rejecting them."Would you like a moment alone with him?" William asked, his voice barely audible."No," I said. "I've said what I needed to say."I walked to the door, paused, and looked back at Matthe
The hospital corridors were eerily quiet as the nurse led me to Matthew's room. Each footstep echoed against the sterile walls, counting down the moments to our final meeting.All these years, Matthew had similarly devoted himself to medical research, giving it everything he had. As both a mentor and a researcher, he'd thrown himself into work after I left. According to what I'd heard, he regularly stayed in the lab for 72-hour stretches, forgetting to eat or sleep.Now, not yet sixty, his body was already ravaged by numerous ailments. Liver failure. Kidney problems. Heart complications. His body had simply given up after years of neglect.I entered the hospital room and sat beside him. The antiseptic smell mixed with the unmistakable scent of approaching death.I suddenly remembered my daughter's birthday party yesterday. The colorful balloons, the laughter, the cake with three candles—and then seeing them standing there in the shadows, watching from a distance.He had come to see me
His voice broke on the word "sorry," and he had to clear his throat twice before continuing."I made it for you. Back then. I just... I never gave it to you."I suddenly remembered the image of William sitting by the window in a dim bedroom, staying up late to knit me a scarf.All because I had seen classmates showing off scarves their mothers had knitted for them.I remembered coming home from school in tears because Lisa Miller had laughed at me for not having a mother who could knit.My mother couldn't spare the time, Matthew was too busy with academics, and Daniel was too carefree to notice such details.So William had secretly asked one of his admirers who had given him a scarf to teach him how to knit.He'd pricked his fingers countless times, unraveled and restarted the project whenever he made a mistake.To me, it had never been just a scarf.And now, it wasn't a scarf that could make amends.Twenty-three years had passed. No piece of knitted wool could bridge that gap.But I s
When I was forty-three, Jake and I got married.It was a small ceremony at the research institute where we both worked. No fancy church, no elaborate decorations—just a simple exchange of vows in front of our closest colleagues.Jake held my hands tightly as we said "I do," his eyes crinkling at the corners with happiness. At our age, we'd both given up on finding someone to share our lives with."Never thought I'd be lucky enough to marry the brilliant Dr. Emma Matthews," he whispered as we signed the marriage certificate.I smiled at him. "It's just Emma now. Emma Carter."I had abandoned the Matthews name years ago. It was easier that way.Because of our age, Jake didn't want me to risk childbirth, so we adopted a daughter."Emma," Jake had said one evening as we sat in our living room reviewing research papers, "I've been thinking. Our house feels too empty sometimes."When he suggested adoption, I found myself agreeing immediately. There was an empty space in my life that research












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan