INICIAR SESIÓN*There was one rule: No dating each other's brothers.* For Layla, this rule was difficult to follow. She had secretly crushed on her best friend's brother, Asher Creed, for years. When Layla tries to pull her attention away from Asher and onto a new guy, she ends up sleeping with the off-limits brother. This amazingly, horrible event pushes them into a secret affair that neither of them can break off. Layla knew hiding behind her best friend's back was horrible, but her feelings for Asher were stronger than the ones gnawing at her. But the deeper Layla gets into her web of lies, the more difficult it becomes to let him go when he disappears from her life completely. Being left confused and heartbroken was all on her, and all because she couldn't follow one simple rule. Trying and failing to move on from him, she comes face-to-face with Asher Creed seven years later and she's still mad over the guy. Will she be able to forgive and forget? Or, will her broken heart and matured thoughts keep him away this time? ONE NIGHT OF SIN SHORT SEX STORIES COLLECTION.
Ver másKedisiplinan adalah sebuah standar yang susah dimiliki.
“Jadi, tidak ada lagi yang ingin ditanyakan?” tanya Yusuf kepada semua asisten yang hadir saat itu. Sebenarnya ada topik wisuda, namun mengingat dua wisudawan sedang hadir di lab, akan merusak kejutan jika dibocorkan sekarang.
“Aku rasa itu cukup, Yusuf,” komentarku. Asisten lainnya tidak ada yang membantahku, dan sebagai moderator, Yusuf mengakhiri rapat malam itu.
“Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, kita akhiri dengan do’a,” ucap Yusuf. Do’a kafaratul majelis menutup rapat malam itu. Para asisten pun kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Aku sendiri masih berkutat dengan skripsi milikku yang berhubungan dengan perekaman data besar untuk permainan dan melakukan adjustment dari data tersebut.
“Skripsimu masih lanjut?” tanya Yusuf tidak percaya melihatku yang sibuk dengan angka-angka itu. Oke. Kalau aku mengetahui bahwasanya mengembangkan sistem perekapan seperti ini hingga selesai adalah satu semester, aku sudah mencicil ini dari semester 6.
“Iya. Prof Hari bilang minggu depan kalau bisa sudah mulai pengambilan datanya. Ini sudah semester kedua soalnya. Kalau telat, bakal hangus,” jawabku tanpa mengalihkan perhatianku. Yusuf memang cukup menyebalkan karena suka bertanya terus-menerus. Tapi, itu masih tidak seberapa dengan Mas Arrow, seorang senior sekitar 7 tahun di atasku, kala aku masih numpang di lab ini sebagai freeloader.
“Semangat ya. Aku juga mulai kerjakan milikku. Baru tahu kalo data bisa ngeselin seperti ini,” komentarnya. Aku berdecih, siapa suruh mengambil pengumpulan data hasil wabah untuk analisis dan simulasi prediksi penyebaran wabah serupa usulan Prof Murfid. Topik Prof Murfid notabene menyusahkan semua siswanya, dan aku pastikan bukan sesuatu yang bisa selesai dalam satu semester dengan mudah. Lagipula, topikku ini usulan beliau juga.
“Kamu kan ahlinya sekarang di bidang analisis data. Jadi ya kalau struggle kamu bakal kesulitan. Mulai dikerjakan aja. Fauzan di 206 mungkin bisa bantu dikit-dikit,” balasku.
“Makasih,” komentarnya, “aku ngurus skripsiku dulu,” lanjutnya. Akhirnya, dia berhenti menggangguku. Aku memegang kembali laptopku dan mengerjakan sisa komponen skripsiku yang belum tuntas.
“Kakak yakin ambil penelitian itu?” tanya Rahima.
“Dilihat dari kebermanfaatannya kelak, aku yakin,” jawabku.
Kalau tahu bakal sesusah ini- lupakan. Sudah terjadi. Aku hanya melanjutkan pekerjaanku. Salah satu calon wisuda, Mas Yahya, mendekati tempat aku duduk.
“Pak Ketua, saya pulang dulu,” pesannya. Aku menganggukkan kepalaku, tanpa memberikan pesan maupun balasan. Jam menunjukkan angka 10 malam. Rapat yang mulai semenjak jam 8 itu sudah memakan total 2 jam penuh.
“Mas Faux gak pulang?” tanyaku melihat ke senior calon wisudawan yang lain. Dia menggelengkan kepala.
“Lagi mau nyolong wifi. Kosan gak wifi ya gini. Gak kek Shad yang udah nikah,” komentar sang calong wisudawan. Aku terkekeh kecil sebelum kembali mengerjakan tugas akhirku.
“Rahima gak datang?” tanya Mas Faux lagi. Aku menggelengkan kepala. Perempuan itu pasti menghindari senior bernama Mas Yahya tadi, apalagi setelah pernikahan Mas Yahya dengan maba tahun ini, Zihan Azizah.
“Kenapa emangnya Mas?” tanyaku. Mas Faux tidak memberikan penjelasan. Dia mengalihkan pembicaraan. Sayang, aku menangkap jernih apa alasannya.
“Kurang apa lagi penelitianmu?” tanya Mas Faux. Aku menghela nafas.
“Tinggal sedikit sih. Kalau sudah selesai, bisa sidang semester ini,” jawabku seraya melihat ke laptopku. Sebuah notifikasi dari klien proyekan muncul di laptop.
Aristy: Mohon maaf Kak, untuk aplikasinya kira-kira bagaimana ya kak? Kami perlu buat demonstrasi kepada dosen minggu depan.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Belum tugas akhir, mana proyekan juga dikejar. Seharusnya aku lempar saja ke si Dekker ini proyek. Ah sudahlah, terlanjur basah.
Affa: Bisa selesai senin depan.
Ya. Artinya hanya tiga hari untuk menyelesaikan sisa tetek bengek kemarin. Mungkin aku harus benar-benar menawarkan Dekker.
Aristy: Terima kasih Kak. Bayaran dari kelompok kami akan seperti kesepakatan kemarin.
Affa: Oke. 400 ribu.
Aristy: Benar Kak.
400 ribu untuk pekerjaan seperti ini? Kepala perusahaan dimana Rahima bekerja akan tertawa mendengarnya. Kalau pekerjaannya untuk sistem data seperti sistem wabah atau analisis, mungkin lebih mudah bagiku.
“Ah sudahlah,” keluhku kesal. Aku melanjutkan pekerjaanku lagi. Ini semua menyebalkan.
“Kalau Kak Hamid bakal gimana ya?” gumamku seraya terus mengetik. Malam ini akan panjang, sangat panjang. Sebuah notifikasi masuk ke laptopku.
Aini: Kak Affa!
Aku menghembuskan nafas berat.
“Bocah ini lagi,” celetukku kesal. Aku menutup notifikasi itu.
“Legend, kamu kapan bimbingan?” tanya salah satu asisten dengan nama laboratorium Life_Bond. Aku menoleh ke arah laki-laki itu.
“Dengan Prof Hari atau Prof Murfid, Zul?” tanyaku balik.
“Prof Hari. Kan gue ogah sama Prof Murfid. Susahnya kek cari bola sakti,” jawabnya seraya menggibahkan professor legendaris di kampus kami. Sudah rahasia umum mahasiswa bimbingan Prof Murfid bahwa harus ada ‘anak ajaib’ supaya beliau mudah ditemui.
“Kalau Prof Hari rencananya selasa ini,” balasku. Dia melanjutkan pertanyaannya.
“Sudah janjian?” tanyanya.
“Sudah. Bukannya Prof Hari gak susah toh diajak janjian?” tanyaku balik. Zul menggelengkan kepala. Eh?
“Kalau kamu atau Rahima, gampang. Kalau yang lain, centang biru gan. CENTANG BIRU!” teriak Zul tidak terima. Itu mengejutkanku. Mungkin karena selama ini selalu aku yang menjadi komting kelas Prof Hari, aku tidak terpikir itu yang sebenarnya terjadi. Rumor soal Prof Hari saja tidak pernah masuk telingaku.
“Kok aku baru tahu?” tanyaku heran.
“Anak-anak biasanya pasti nunggu depan ruangan beliau. Cuma lama-lama ogah juga sekarang, apalagi Prof Hari makin sering keluar kota dadakan. Itu medsos update bilang lagi di luar negeri pas hari rencana bimbingan tiba-tiba njir,” jawab Zul kesal. Oke, ini sepenuhnya baru. Mungkin aku harus lebih aware dengan sekitarku. Aku kira, hanya Prof Murfid yang susah, karena rumornya sudah mendarah daging dari tujuh tahun lalu. Aku meletakkan tanganku di atas dagu.
“Begitu ya... anyway, sudah aku pinta ke beliau. Jadi, bilang ke yang lain,” komentarku. Zul menganggukkan kepalanya, lalu dia mulai berbalik namun berhenti.
“Oh ya,” ucapnya seraya kebali menghadap ke arahku, “kamu harusnya di grup anak bimbingan Prof Hari,” lanjutnya. Aku menganggukkan kepala.
“Undang saja. Aku tidak terlalu peduli dengan grup-grup. Kamu tahu sendiri semenjak maba aku dan Rahima sangat terisolir?” tanyaku balik. Zul hanya menganggukkan kepala. Dua orang yang dikecualikan dari sistem regenerasi kampus. Itu pun atas permintaan dosen laboratorium, karena waktu itu aku dan Rahima memegang beberapa proyek krusial di kampus. Bahkan, angkatanku sendiri banyak yang memusuhiku, seperti contohnya-
“Oh ya, Legend!” teriak Yusuf. Baru akan disebut namanya, dasar. Yusuf termasuk yang paling vokal tidak suka dengan special privilege yang aku dan Rahima miliki, terutama kepadaku. Oh ayolah, itu privilege lebih seperti penderitaan. Situ mending diteriakin ama senior, aku gagal bisa kena puluhan juta pertanggungjawaban.
“Kamu ada rencana konsul sama Prof Murfid?” tanya Yusuf. Zul tampak terganggu Yusuf tiba-tiba nyemplung masuk.
“Rabu,” jawabku datar. Aku kembali melihat ke laptop. Sebuah notifikasi masuk, bahwa aku diundang ke grup bimbingan Prof Hari. Undangan itu diterima otomatis.
“Oh ya, kamu sudah masuk grup anak Prof Murfid?” tanya Yusuf. Aku menggelengkan kepala.
“Pantesan selama ini kek neraka. Gak kepikir selama ini loe belum ada,” jawab Yusuf seakan menyadari kebodohannya. Ya. Pada akhirnya, aku juga diundang.
Mungkin bukan hanya Mas Yahya yang merasa dimanfaatkan dulu. Mungkin, itu yang juga Rahima rasakan. Dan tentunya, itu adalah yang aku rasakan.
The house was pumping when I arrived at Harper's. I had to park all the way down the street and walk in these now painful heels and it sucked. Guess I should have arrived earlier if I wanted my spot.When I reached the porch, Tate and Harper were there flirting up a storm with each other. Then she saw me and nearly fell from the porch railing."Yay!! You came!" She ran down the steps and hugged me.I laughed as I hugged her back. Tate's brows rose when I looked in his direction and felt a bit self-conscious."Jake is going to lose his shit when he sees you," he chuckled as he shook his head. "Are you trying to kill that boy?"I shrugged with a laugh.This outfit was obviously for him and to secretly shove in Asher's face, but we'll keep that little bit of information to ourselves."Where can I get something to drink?" I asked as I looked around at all the familiar faces. I waved at several of them I knew from school as they waved back. I may not be popular by any means, but everyone k
I seriously could not think straight today, but who could blame me? Asher Creed had totally hit on me last night and there wasn't a single thing that I could do about it. Except maybe continue to have wet dreams about him and secretly touch myself in the bath while I thought about him.I knew I was a horrible friend for having these thoughts, but I wasn't breaking the rule, right? We said we couldn't date each other's brothers; there was no rule that said we couldn't fantasize about them.Ugh. I was going to hell, wasn't I?"Hey, my parents' anniversary is today so they're going away for the night and Asher just texted me saying that he's throwing a party tonight. You're still coming over right?" Harper asked as we finished our final class of the day.Shit. Their parents were going out of town and he's throwing a party. There would be alcohol there and I sometimes couldn't handle myself around that crap. I was also still fantasizing over a guy I couldn't have and when I mixed alcohol
"Hey, relax," Jake rasped as he lowered his face to my neck and bit me. I squirmed but he held me tight before he sucked on my neck next. His free hand slid over my body beneath the water and I held my breath in fear."Jake, let me go," I hissed. I tried to get away again as I twisted and bucked in his arms. "Get off!""That's what I'm trying to do," he laughed as his arm tightened around me. I could feel his half erection on my backside and I froze.There was zero desire that ran through my body. Jake was always doing shit like this to me. Always. It was as if he felt like he could do whatever he wanted to me and get away with it."Jake," Asher warned as his eyes turned dark and menacing, "let her go.""What?!" Jake protested as he bit my neck again and tried to grab my breast.I cried out and dug my nails into his arm. I felt totally violated and right there in front of him."I said let her go!" Asher barked as he swam toward us. Jake immediately released me, but not before his arm
CHAPTER TWOAfter school, I followed Harper back to her place as I parked in my normal spot along the curb."Do you want to swim before dinner?" Harper asked as she unlocked the front door.It was a surprisingly hot day for Portland today and I could use a cool down after another run-in with Asher. He'd be home later and God only knew what he'd do to piss me off again. A cool down was just what I needed."Yes, definitely."We went up to Harper's room and changed into our bikinis. I basically had my own dresser of clothes here and she had a dresser at my place too. We were inseparable and always together, so it only made sense that we had our own spot for clothes at each other's houses.The house was still quiet when we left her room and headed for the pool outback. I was glad that Asher wasn't home yet and prayed like hell that he wouldn't show up until later. I seriously didn't want to have another run-in with him so soon after the first one.Harper threw on some upbeat music and the












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.