Owned by a Ruthless General

Owned by a Ruthless General

last updateLast Updated : 2021-07-05
By:  Khay2626Completed
Language: English_tagalog
goodnovel16goodnovel
10
6 ratings. 6 reviews
46Chapters
23.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

With the desire to find her own home and have a good life, Harieth Zarie Fedencio never thought she would thread a path to a chaotic life. Everything would have been easier if only the named Monterealez hadn't been the antagonist. Ryker Luis Monterealez, a Ruthless General, is the person claiming her and the person she is fleeing from. Will Zarie be able to escape Ryker for her older brother's safety and despite bearing the fruit of her to Ryker? Or will she continue to be confined in his arms? _________________________________________________ Photo cover isn't mine, credits to the rightful owner.

View More

Chapter 1

WARNING!

"Buka kakimu, kalau begitu terus nggak akan bisa masuk."

Amara Atmaja berbaring di atas ranjang periksa, napasnya agak terengah-engah.

Roknya sudah disingkap sampai pangkal paha, memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih bersih. Ini pertama kalinya Amara berada dalam posisi seperti ini di depan lawan jenis, sehingga membuatnya merasa begitu malu hingga tidak sanggup mengangkat kepala.

Namun, dokter pria di hadapannya yang mengenakan masker itu, terlihat acuh tak acuh, seakan menganggap Amara tidak lebih dari sebuah benda mati.

Sebelum datang, Amara tidak pernah menyangka jika pemeriksaan ginekologi juga bisa dilakukan oleh dokter pria ….

Terlebih lagi, pria itu sedang memegang sebuah tang logam bergagang lengkung di tangannya, sehingga membuat Amara tanpa sadar mencengkeram seprai dengan erat.

Seberapa sakitkah jika benda itu dimasukkan?

Melihat sedikit rasa tidak sabar melintas di mata di balik kacamata bingkai emas itu, Amara pun memberanikan diri untuk bertanya, "Ini … apa bisa merobeknya?"

Dokter itu langsung mengerutkan kening. "Kamu belum pernah berhubungan seksual? Lalu untuk apa kamu melakukan skrining penyakit menular seksual?"

Amara menggigit bibirnya, membuat rasa darah di mulutnya menjadi makin pekat.

Amara tidak mungkin memberi tahu dokter itu jika dia melakukan pemeriksaan untuk menjual keperawanannya, 'kan?

"Dokter lakukan saja pemeriksaannya, ini privasiku."

Amara memalingkan wajah, tidak berani menatap matanya. Amara hanya merasa malu dan takut di dalam hati.

Dokter itu menatapnya sejenak. Lalu, tanpa berkata apa pun, dia mengambil cotton bud yang ada di sampingnya.

Tangan yang panjang itu mendarat di kaki Amara. Tekstur sarung tangan karetnya terasa halus sekaligus dingin.

Beberapa batang cotton bud menjelajah di dalam sana, terasa agak gatal sekaligus kering yang tidak nyaman.

Posisi dokter itu sangat dekat dengannya. Tangannya yang satunya lagi diletakkan begitu saja di perut bagian bawah Amara. Namun, aroma disinfektan samar-samar yang menguar dari tubuh pria itu terasa begitu segar sekaligus dingin, sama seperti tatapan matanya.

Yang membuat Amara merasa jauh lebih malu adalah, sentuhan dingin di kakinya serta aroma tubuh pria itu malah membuatnya terangsang.

Oleh karena itu, saat ujung jari dokter itu tanpa sengaja menyentuh bagian itu, Amara pun hampir secara spontan ingin merapatkan kedua kakinya.

Aryan Devara berhenti sesaat. Tatapannya menyapu wajah yang tampak agak kekanak-kanakan itu. "Kalau ada yang nggak nyaman, bilang saja."

Mana mungkin Amara berani mengatakannya. Dia pun hanya bisa menjawab dengan kaku, "Nggak ada. Silakan Dokter lanjutkan saja."

Namun, seiring dengan gerakan cotton bud, dada Amara naik turun makin hebat. Dia sampai harus menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah agar bisa menahan desakan untuk mendesah.

Sedikit hasrat yang tersembunyi melintas di mata Aryan. Aryan tidak tahan untuk tidak melirik sekilas ke arah sepasang kaki yang seputih dan semulus mutiara itu. Aryan pun segera menarik kembali cotton bud tersebut dan memasukkannya ke dalam cairan reagen di sampingnya. "Berapa umurmu?"

Suara Amara terdengar sedikit gemetar, "Sembilan belas tahun."

Aryan mencatat informasi itu di bukunya begitu saja, lalu tangannya yang masih mengenakan sarung tangan karet itu menyusup masuk ke balik lipatan baju Amara.

Amara tidak bisa menahan diri untuk tidak gemetar. Namun, saat menatap mata yang tenang itu, entah mengapa Amara malah tidak berani berontak.

Tangan yang besar itu melakukan pemeriksaan raba di dada Amara dengan tekanan yang pas. Akan tetapi, hal itu justru membuat detak jantung Amara berdegap lebih cepat. "Ada yang sakit atau nggak nyaman?"

Sambil sekuat tenaga menahan rasa malunya, Amara menggelengkan kepala.

Tangan yang besar itu meluncur turun, lalu menekan-nekan perut bagian bawah Amara. "Kalau begini?"

Tangan itu benar-benar terasa agak dingin, ditambah dengan AC yang menyala di ruang periksa, membuat Amara tidak bisa menahan diri untuk tidak merapatkan kakinya. "Itu juga nggak sakit."

Aryan membuat catatan, lalu melepas sarung tangannya begitu saja. "Pakai kembali bajumu."

Sepasang tangan dengan tulang-tulangnya yang menonjol, terpampang di depan mata Amara. Sendi-sendinya yang terlihat kemerahan yang memesona itu, entah mengapa membuat detak jantung Amara berdebar lebih kencang.

"Tunggu saja di rumah, besok pagi hasilnya sudah bisa keluar."

Amara tertegun. "Apa nggak bisa sekarang? Bukankah katanya hasil pemeriksaan ini bisa keluar dengan cepat?"

Aryan menengadah. Jari telunjuknya menurunkan maskernya begitu saja, memperlihatkan wajahnya yang tampan tiada tara.

Amara kembali terpana.

"Pemeriksaannya memang bisa keluar cepat. Tapi, departemen kami sudah mau jam pulang kerja. Hasil laporannya baru bisa keluar besok pagi."

Suara Aryan terdengar tenang, matanya menatap lurus ke arah Amara. Namun, entah mengapa hal itu membuat jantung Amara berdebar kencang. "Cuma laporan saja, kenapa buru-buru?"

Amara merasa bersalah karena ditatap seperti itu. Dia pun tanpa sadar menundukkan kepalanya. "Nggak apa-apa."

Operasi ibunya dijadwalkan besok siang. Pria itu mengatakan, asal Amara membawa hasil pemeriksaannya, pria itu bisa langsung mengaturnya untuknya. Jadi, besok pagi seharusnya masih sempat, 'kan?

Amara menyambar pakaiannya, lalu mengenakannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada dokter itu dengan suara lirih, kemudian berbalik dan keluar dari ruang periksa.

Amara tahu bahwa menjual diri adalah hal yang sangat kotor. Namun, saat ini dia sudah tidak punya pilihan lain.

Seminggu yang lalu, ibunya tiba-tiba pingsan saat sedang berjualan di kiosnya. Setelah dibawa ke rumah sakit, barulah diketahui bahwa ibunya ternyata terkena serangan jantung.

Meski kondisi ibunya sempat stabil setelah dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa perlu dilakukan operasi drainase pada ibunya. Jika tidak, nyawa ibunya akan tetap terancam.

Biaya operasinya 200 juta. Amara tidak punya jalan lain, selain menjual diri.

Saat kembali ke sekolah, ponsel Amara tiba-tiba berdering. Itu telepon dari nomor yang tidak dikenal.

Amara mengangkatnya dengan ragu-ragu. "Halo?"

Suara yang jernih dan dingin terdengar dari ujung telepon, "Amara?"

Amara merasa suara itu sangat familier. Namun, dia tidak bisa mengingat dengan pasti di mana dia pernah mendengarnya, sehingga dia merasa ragu-ragu untuk angkat bicara.

"Aku dokter yang memeriksamu hari ini, Aryan Devara."

Suara dingin itu kembali terdengar, "Tasmu ketinggalan."

Amara langsung menunduk. Dia baru menyadari jika dirinya tadi pergi terlalu terburu-buru. Amara hanya fokus mengenakan pakaian dan mengambil ponsel, sampai benar-benar melupakan tasnya.

Sekarang sudah jam tujuh malam, bus kota sudah berhenti beroperasi, sehingga dia tidak bisa kembali ke sana.

Amara hanya bisa bertanya dengan suara lirih. "Aku sekarang ada di kampus dan agak sulit untuk ke sana. Apa boleh aku ambil besok pagi?"

Aryan terdiam untuk sesaat. "Boleh."

Amara mengucapkan terima kasih. Saat Amara hendak menutup telepon, suara Aryan kembali terdengar, "Kamu sangat butuh uang?"

Tubuh Amara langsung kaku.

Di ujung telepon, Aryan memegang selebaran bertuliskan "Gadis Kencan Berbayar". Suaranya terdengar agak dingin, "Aku melihat selebaran ini waktu mencari kontakmu. Mungkin kamu menganggapku terlalu ikut campur. Tapi, sebagai seorang dokter, aku ingin mengingatkanmu kalau hal semacam ini sangat berbahaya."

Wajah Amara langsung memerah.

Amara melihat selebaran klub malam itu saat sedang bekerja paruh waktu di sebuah bar. Wanita-wanita yang mengenakan pakaian dalam seksi di selebaran itu berpose dengan sangat berani, sehingga bisa langsung diketahui apa yang mereka lakukan.

Namun, Amara tidak menyangka jika benda seperti itu malah terlihat oleh dokter itu.

Untuk sesaat, Amara tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya yang memegang ponsel juga ikut sedikit gemetar.

Di ujung telepon, Aryan yang mendengar Amara tidak mengatakan apa-apa, mulai mengerutkan kening dengan gusar. Suaranya juga terdengar agak dingin, "Kamu mendengarku?"

Amara pun tersadar. Buku-buku jarinya memutih karena terlalu erat mencengkeram ponselnya. "Aku mengerti, terima kasih sudah mengingatkan."

Amara sama sekali tidak ingin menerima perhatian seperti ini dari seorang lawan jenis, meskipun itu didasari oleh niat baik …. Selain membuatnya merasa lebih hina, hal itu tidak ada gunanya.

Amara menjauhkan ponsel dari telinganya dan berniat untuk menutup telepon.

Akan tetapi, tepat di saat itu, Aryan kembali berbicara, "Mengerti, tapi tetap akan melakukannya, begitu kan maksudmu?"

Amara menggigit bibirnya kuat-kuat, membuat rasa karat besi kembali menyeruak di dalam mulutnya. "Urusan pribadiku nggak perlu Anda urusi. Terima kasih atas kebaikan Anda."

Di ujung telepon, tangan Aryan yang memegang selebaran itu menjadi makin mengencang.

Sejujurnya, dia sama sekali tidak ingin ikut campur.

Namun, saat memikirkan gadis sekecil ini akan melangkah ke jalan yang sesat, entah mengapa Aryan mendadak ingin menjadi penyelamat.

Seakan dirasuki sesuatu, Aryan tiba-tiba saja berkata, "Kalau kamu memang begitu ingin menjual diri, kamu bisa menyerahkan dirimu kepadaku. Harganya nggak akan lebih rendah dari orang yang kamu kencani sekarang."

Tangan Amara langsung kaku.

Apa maksudnya ini ….

Apa Aryan ingin membayarnya untuk melakukan hal seperti itu dengannya?

Mengingat sentuhan Aryan di atas ranjang periksa hari ini, entah mengapa Amara merasa tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa bergerak.

Namun, sebelum Amara bisa bicara, telepon tiba-tiba saja ditutup.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

reviewsMore

Mary Joy Cañamaque
Mary Joy Cañamaque
M.exclusive island po
2025-03-03 12:26:26
0
0
Khay2626
Khay2626
Maraming salamat po sa inyong lahat. Sana po tapusin niyo hanggang dulo ang story.
2024-03-20 13:07:07
1
0
Alexa Visca
Alexa Visca
Its a very nice story hope to read ace and miera story
2023-08-02 10:27:34
2
1
JHAZPHER
JHAZPHER
Must Read!
2022-06-29 07:49:02
5
0
isza jean sarmiento
isza jean sarmiento
I'm starting to love this story.
2021-07-14 11:45:58
4
0
46 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status