INICIAR SESIÓNAdrian harus pura-pura menjadi Pacar seorang CEO yang dingin. Tugasnya sederhana, setidaknya di atas kertas. Adrian hanya perlu mendampingi Alana di acara-acara sosial kelas atas dan bersandiwara di depan media untuk menjaga reputasi sang CEO. Namun, begitu masuk ke lingkaran elit, hidup Adrian yang tenang berubah menjadi kekacauan total. Ia harus berhadapan dengan kilatan kamera paparazzi, persaingan bisnis yang licin, hingga tekanan dari keluarga Alana yang menuntut kesempurnaan. Di tengah hiruk-pikuk kepalsuan itu, tembok es yang dibangun Alana perlahan mulai retak. Garis antara profesionalitas dan perasaan pribadi menjadi kabur saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesif yang tidak ada dalam kontrak. Saat masa kontrak hampir berakhir dan Adrian bersiap kembali ke hidupnya yang sederhana, Alana justru mengajukan revisi kontrak yang paling berbahaya bagi jantung Adrian. Di bawah gemerlap lampu kota, ia memberikan tawaran terakhir: “Kalau aku minta kamu tetap di sisiku… kali ini tanpa kontrak, apa kamu masih mau?”
Ver másDi bawah pendaran cahaya rembulan yang temaram, aliran air sungai yang membelah pusat kota tampak berkilauan indah, bergerak lambat menembus keheningan malam sebelum akhirnya bermuara jauh menuju lautan lepas. Setelah membeli beberapa kaleng minuman dingin dari mesin penjual otomatis yang berada di sudut jalan, mereka berdua berjalan menuju area rerumputan di tepi sungai yang agak tinggi. Mereka duduk beralaskan rumput liar, membiarkan pandangan mereka lurus menatap kerlap-kerlip lampu dari gedung pencakar langit yang memantul di atas permukaan air. Melalui untaian kalimat yang meluncur perlahan dari bibir Vera di antara deru angin malam, Adrian akhirnya memahami akar dari dendam mendalam antara wanita itu dan keluarga Mahendra. "Obsesi Bastian pada saya sudah dimulai sejak dua tahun yang lalu saat kami tidak sengaja bertemu di sebuah acara korporat. Karena saya tahu reputasinya yang buruk sebagai pria hidung belang, saya selalu memutus semua akses komunikasi dengannya. Sa
Tepat sebelum Vera sempat mengucapkan kata setuju yang akan menghancurkan hidupnya, sebuah pergerakan secepat kilat terjadi di luar jangkauan pandangan mata. Adrian melesat maju bagaikan bayangan hitam. Tanpa memberikan peringatan apa pun, tinju kanannya meluncur lurus, menghantam telak ulu hati Bastian dengan presisi yang mematikan. BUGH! Bastian langsung menekuk tubuhnya, matanya melotot keluar akibat rasa sakit yang luar biasa hebat di area perutnya. Seluruh organ dalamnya terasa seperti diremas dengan kejam, membuatnya tidak mampu menahan cairan lambungnya yang seketika tumpah mengotori lantai bar. Adrian tidak memberikan jeda barang sedetik pun. Ia mencengkeram kerah kemeja mahal Bastian, memutar tubuhnya setengah lingkaran, lalu melayangkan tendangan sapuan samping yang mengincar rusuk pria borjuis tersebut. Hantaman itu begitu kuat hingga tubuh jangkung Bastian melayang sejauh dua meter sebelum akhirnya mendarat darurat di atas meja kayu di belakangnya hingga hancur
Adrian tidak bergeser satu sentimeter pun dari kursinya. Ia justru menumpukan kedua sikunya di atas meja, menatap Bastian dengan pandangan geli yang merendahkan. Jemarinya mengetuk-ngetuk dinding gelas wiski, menciptakan bunyi berdenting yang konstan di tengah ketegangan. "Bicara besar tidak akan membuat sofa ini berpindah kepemilikan, Tuan Muda. Kalau memang merasa punya kuasa, silakan seret saya sendiri dari sini." "Brengsek! Kamu benar-benar tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, ya?!" Bastian menyeringai, otot-otot di rahangnya mengencang menahan rona merah kemarahan. "Di kawasan ini, orang-orang yang berani menatap mata saya dengan lagak seperti itu biasanya berakhir di ruang ICU dengan tulang yang tidak utuh lagi!" "Oh, ya? Menarik juga dong ceritanya," sahut Adrian acuh tak acuh. Ia mengangkat gelas wiskinya, menyesap cairan pekat itu hingga tandas, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan ketukan pelan yang terasa seperti ejekan instan. Merasa gertakannya han
Adrian menoleh dan mendapati wajah cantik Vera yang tampak terkejut. Kepala departemen itu tidak mengenakan pakaian kantornya yang kaku; ia hanya memakai gaun rajut kasual berwarna krem yang melekat pas di tubuhnya yang proporsional. Pipinya sudah merona kemerahan, pertanda ia sudah menghabiskan beberapa gelas sebelum ini. Melihat wajah yang familier dan senyuman ramah yang tulus dari Vera, gemuruh di dada Adrian perlahan mereda. "Eh, Kak Vera. Kebetulan lagi lewat daerah sini, jadi mampir buat cari angin segar," jawab Adrian bohong sambil tersenyum hangat. "Wah, kebetulan banget! Ayo gabung di meja kami saja, daripada kamu bengong sendirian seperti orang patah hati di sini," ajak Vera tanpa ragu, langsung menarik lengan jaket Adrian menuju sebuah sofa melingkar di sudut ruangan yang agak privat. Di meja itu, tiga wanita dengan pakaian semi-formal langsung menghentikan obrolan mereka dan menatap Adrian dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. "Wah, Bu Vera... pantesan
![The Second Marriage Chance [English]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)











Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.