LOGINBirthdays are supposed to be fun and pleasant. That has always been the case for Leilani Miller, a naive young lady, brought up in an orthodox home. On her 25th birthday, she agrees to try something new. This new adventure leaves a long lasting imprint on her. One wild night of passion leads to years of regret. Now, Leilani is a single mum. That's not all, her hot baby daddy wants her.
View More“Elara! Kenapa lantai ruang makan masih kotor?!”
Suara itu memecah pagi seperti sirene. Elara Maheswari tersentak, tangannya yang tengah mengaduk sayur hampir menjatuhkan sendok. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena sudah terlalu sering dibentak seperti itu, dan tetap saja tubuhnya belum kebal. Rahayu berdiri di ambang pintu dapur. Wajah wanita paruh baya itu masam, matanya menyapu ruangan seolah mencari celah kesalahan. “Baru saja Elara pel, Ma,” sahut Elara pelan. “Jangan banyak alasan!” potong Rahayu tajam. “Ini juga, kenapa masaknya lama? Kau mau bikin suamimu dan adik-adiknya telat ke kantor dan kampus, hah?” Elara menunduk. “S-sebentar lagi, Ma…” Tanpa diminta, tangannya langsung bergerak lebih cepat. Menyendok nasi, mengaduk tumisan, memeriksa ayam di penggorengan. Semuanya dilakukan dengan napas yang tersengal. Sejak dini hari ia belum berhenti. Menyapu, mencuci, menyiapkan sarapan. Dan sekarang, dimarahi seolah ia belum melakukan apa-apa. Usianya baru 23 Tahun, tapi rasanya seperti jiwa mudanya telah dicuri oleh hari-hari yang penuh bentakan dan perintah. Empat tahun lalu, Elara menerima perjodohan yang diatur oleh Rahayu, ibu Daris, pria yang kini sah menjadi suaminya. Saat itu, ia benar-benar sendiri. Hingga akhirnya, ada sepasang tangan mungil yang meraih jari-jarinya. Arka. Bayi kecil yang menangis dalam pelukannya seolah meminta untuk tidak ditinggalkan. Elara luluh. Ia pikir, menjadi istri Daris adalah cara untuk tetap berada di sisi anak itu, anak dari pernikahan pertama Daris yang tak lagi punya ibu. Namun, keputusannya menikah dengan Daris ternyata bukanlah penyelamat hidupnya. Justru ia seperti membuang dirinya sendiri ke dalam neraka. Pukul enam kurang lima, Elara membawa makanan ke meja makan. Wajahnya masih pucat, tangannya sedikit gemetar. Daris sudah duduk di kursinya. Tak menoleh, tak menyapa. Seolah Elara tak ada di ruangan itu. Mertua dan kedua adik iparnya juga mulai makan tanpa menunggu. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak juga sekadar lirikan peduli. Elara buru-buru masuk ke kamar, membangunkan Arka. “Arka, Sayang... bangun. Sudah pagi, waktunya sekolah,” bisiknya lembut sambil mengelus punggung anak itu. “Kalau terlambat, nanti Ayah marah.” Arka mengerang pelan, tapi akhirnya membuka mata. Dengan tenaga sisa, Elara menggendongnya ke kamar mandi. Ia bergerak cepat, membasuh, mengganti baju, menyisir rambut. Semua dilakukan dalam diam agar tidak menambah keributan. Saat mereka kembali ke meja makan, Daris sudah hampir selesai makan. Elara tak sempat duduk. Ia langsung mengambil sendok, meniup bubur agar tak terlalu panas, lalu menyuapkan pada Arka. “Kenapa lama sekali urus anak? Aku bisa telat ke kantor gara-gara kau!” bentak Daris tiba-tiba. Jantung Elara mencelos. Ia buru-buru meletakkan sendok. “Maaf, Mas...” “Sudah tahu Arka susah bangun, kenapa nggak dibangunin lebih awal?” sindir Alia ketus sambil menyambar tasnya. Elara menelan ludah, tapi tak menjawab. “Arka, cepat habiskan. Kita berangkat sekarang!” hardik Daris. Arka menatap Elara, bingung. Elara menahan napas, mencoba tersenyum. Ia menyodorkan kotak kecil berisi roti ke tangan mungil itu. "Habiskan di mobil, ya," bisiknya. Daris tidak menunggu. Ia sudah melangkah ke pintu utama tanpa menoleh sedikit pun. Elara tergopoh menuntun Arka, memastikan anak itu menyusul ayahnya dengan langkah kecilnya. Begitu mobil Daris melaju dan menghilang di ujung jalan, Elara baru berbalik masuk ke dalam rumah. “Mbak Elara! Mana baju kuliahku yang aku titip buat disetrika?!” suara Dinda menyambutnya dari ruang tengah. Nada bicaranya tinggi, seperti tengah menagih utang. “Di lemari kamar Alia,” jawab Elara pelan. “Duh! Aku tuh udah bilang, bajuku jangan dicampur sama yang lain! Masa segitu aja nggak ngerti, sih?!” Dinda mendengus kesal lalu berjalan cepat ke kamar. Elara diam. Menelan ludah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunduk dan menerima semua cercaan itu. Setiap hari di rumah ini seperti hukuman yang tak pernah usai. Mertua yang kasar. Adik-adik ipar yang selalu merasa lebih tinggi darinya. Dan suami... Daris, pria itu bahkan tak pernah melihatnya sebagai istri. Apalagi sebagai manusia. Bagi Daris, Elara tak lebih dari pembantu yang tidak digaji. Yang harus bangun paling pagi, tidur paling akhir. Yang harus mendengar omelan tanpa boleh menjawab. Yang harus bersyukur meski tak pernah diberi apa-apa. “Seorang istri tugasnya melayani suami tanpa mengeluh. Ridho suami itu surgamu.” Itu yang selalu Daris ucapkan padanya. Setiap kali ia mengeluh, setiap kali ia lelah, setiap kali ia hanya ingin didengar—kalimat itu jadi palu yang menghancurkan mulutnya agar tetap diam. *** Keesokan paginya, setelah pagi yang riuh seperti biasa. Menyiapkan sarapan, membangunkan Arka, dibentak Rahayu, pergi ke pasar. Bukan pasar dekat rumah, tapi yang lebih jauh, karena harga sayur di sana lebih murah. Hari ini, mertuanya mengadakan arisan keluarga. Elara harus masak untuk belasan orang. Sendirian. Setelah menyusuri lorong-lorong pasar dan menyelesaikan semua daftar belanja, ia memanggul kantong-kantong plastik besar ke atas motor. Beratnya membuat punggungnya pegal. Tapi ia tak mengeluh. Tak pernah mengeluh. Di tengah perjalanan pulang, saat berhenti di lampu merah, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu. Sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Jantung Elara berdegup pelan. ‘Itu… mobil Mas Daris,’ bisiknya. Ia memicingkan mata. Mencoba memastikan. Dan benar. Itu mobil suaminya. Ia hafal betul plat nomornya. Tapi bukan itu yang membuat perutnya tiba-tiba mual. Di kursi penumpang, ada sosok wanita muda. Rambutnya panjang, tertata rapi. Bahunya sedikit menyandar ke arah Daris. Keduanya tertawa, terlihat akrab. Terlalu akrab.LEILANI Here I am, seated on the sandy beach overlooking the vast water. However, instead of watching the water being pushed around by the waves like everyone else, My entire attention is on my two adorable kids, building sand castles in a corner. “Stop that, Melinda,” Miranda screams at Melinda who was so invested in destroying the sand castle she had built. “Let’s do something else, I’m tired of building sand castles every time we visit the beach,” Melinda yells and continues to kick and scatter the sand castle they had spent almost an hour building. “Melinda, stop that,” I yell, bringing their attention to me. “She doesn’t want to play with me,” Melinda complains, her eyes getting moist. “You mustn’t run around all the time,” I say, but Melinda was hearing none of it. She threw herself on the ground and began to roll herself on the floor. “Melinda, stop that,” I say, now pissed off at her unruly behaviour. She rises from the ground and grabs hold of Miranda’s swimsuit. “Th
FIVE MONTHS LATER MIRANDA “Stop that Melinda!” I screamed as she continuously banged her spoon on a stainless plate, creating a loud disturbing noise. “You never like playing!” She screams back, giggling. “I’m trying to study,” I replied, pulling my hair. But my crazy twin smiled and banged the spoon on the plate even more loudly. “Fine,” I say, slamming my book shut and rising from the bed. “What do you want to do?” I ask. “Yes!” she screams and leaps up. It’s been five months since I was taken home by my real family, five months since I discovered Aunt Isabelle’s true colours, Five months since I found people who sincerely love me and wished the best for me. Honestly, my family has become the most important part of my life. I can never stay a day without seeing them. My mum, Leilani, treats me like I'm the most precious thing on earth, and most times I wonder why Melinda never gets jealous. My dad, on the other hand, treats me like I'm the most delicate thing on earth. He
MIRANDA “Is that another me?” the little girl who looks exactly like me gasps I stood still, unable to say a word and watched as she also took steps towards me, her legs shaky and her eyes fixed on my face the entire time. Getting to me, she raises her hand to touch my face. But then, I am reminded of Aunt Isabelle's words about her being the major reason why my parents don't want me. "Don't touch me," I snarled and roughly shoved her aside. "I need to speak with Malcolm Blake and his wife," I said, older this time. "That's my mum and dad," the girl who looks exactly like me says. I glanced at her and eyed her unpleasantly. "I'm not dragging that with you," I snarled at her. "Anyone getting the duo, or I should barge in and find their suite myself?" I ask. "No, I'll call them," the lady says. Nodding my head at her answer, I stood still watching her make a phone conversation. "They'll be here soon," she says, putting down her phone. "So doppelgangers are real," the annoyi
MIRANDA I was so engrossed in the storybook Aunt Isabelle had purchased for me when I noticed someone trying to come into my room through the window. Scared, I got into the closet to hide myself. I would’ve called Aunt Isabelle, but then I recalled that she had warned me on several occasions to always keep my windows locked. Not wanting to get scolded by her, I carefully hid myself inside my closet and shut the door, heart beating erratically and waiting for the intruder to show up. However, after a long wait, no one showed up, making me look out of the closet. Then, I heard someone screaming for help. People asking for help was a normal occurrence in our neighbourhood. I’ve always watched a lot of people struggle with their captors. It was a daily occurrence that scared me. But then, I always watch to know who to look out for. Like always, I tiptoed to the window and that was when I caught sight of a familiar woman being pulled by the hair. For some reason, the way the man was tuggin
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore