공유

Logika Korporat

작가: Envy
last update 게시일: 2026-05-22 15:27:13

"Saudara perempuan? Tidak ada, Den. Ibu kandung Non Alana berpulang saat Non Alana masih berusia tujuh tahun. Setelah itu, Non Alana bahkan sempat dititipkan di sebuah yayasan pengasuhan anak hingga usia sepuluh tahun, sebelum akhirnya dijemput kembali ke kediaman utama oleh kakeknya. Sepengetahuan Bibi, beliau adalah anak tunggal dari istri pertama," jelas Bibi Sarah.

Adrian mengembuskan napas pendek, merasa spekulasi di kepalanya meleset. ‘Mungkin aku saja yang terlalu sensitif, kemiripan w
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Sisi Rapuh di Balik Senyuman

    ​Di bawah pendaran cahaya rembulan yang temaram, aliran air sungai yang membelah pusat kota tampak berkilauan indah, bergerak lambat menembus keheningan malam sebelum akhirnya bermuara jauh menuju lautan lepas. ​Setelah membeli beberapa kaleng minuman dingin dari mesin penjual otomatis yang berada di sudut jalan, mereka berdua berjalan menuju area rerumputan di tepi sungai yang agak tinggi. Mereka duduk beralaskan rumput liar, membiarkan pandangan mereka lurus menatap kerlap-kerlip lampu dari gedung pencakar langit yang memantul di atas permukaan air. ​Melalui untaian kalimat yang meluncur perlahan dari bibir Vera di antara deru angin malam, Adrian akhirnya memahami akar dari dendam mendalam antara wanita itu dan keluarga Mahendra. ​"Obsesi Bastian pada saya sudah dimulai sejak dua tahun yang lalu saat kami tidak sengaja bertemu di sebuah acara korporat. Karena saya tahu reputasinya yang buruk sebagai pria hidung belang, saya selalu memutus semua akses komunikasi dengannya. Sa

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Amarah di Dalam Bar

    ​Tepat sebelum Vera sempat mengucapkan kata setuju yang akan menghancurkan hidupnya, sebuah pergerakan secepat kilat terjadi di luar jangkauan pandangan mata. Adrian melesat maju bagaikan bayangan hitam. Tanpa memberikan peringatan apa pun, tinju kanannya meluncur lurus, menghantam telak ulu hati Bastian dengan presisi yang mematikan. ​BUGH! ​Bastian langsung menekuk tubuhnya, matanya melotot keluar akibat rasa sakit yang luar biasa hebat di area perutnya. Seluruh organ dalamnya terasa seperti diremas dengan kejam, membuatnya tidak mampu menahan cairan lambungnya yang seketika tumpah mengotori lantai bar. ​Adrian tidak memberikan jeda barang sedetik pun. Ia mencengkeram kerah kemeja mahal Bastian, memutar tubuhnya setengah lingkaran, lalu melayangkan tendangan sapuan samping yang mengincar rusuk pria borjuis tersebut. Hantaman itu begitu kuat hingga tubuh jangkung Bastian melayang sejauh dua meter sebelum akhirnya mendarat darurat di atas meja kayu di belakangnya hingga hancur

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Konfrontasi di The Velvet Room

    Adrian tidak bergeser satu sentimeter pun dari kursinya. Ia justru menumpukan kedua sikunya di atas meja, menatap Bastian dengan pandangan geli yang merendahkan. Jemarinya mengetuk-ngetuk dinding gelas wiski, menciptakan bunyi berdenting yang konstan di tengah ketegangan. "Bicara besar tidak akan membuat sofa ini berpindah kepemilikan, Tuan Muda. Kalau memang merasa punya kuasa, silakan seret saya sendiri dari sini." ​"Brengsek! Kamu benar-benar tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, ya?!" Bastian menyeringai, otot-otot di rahangnya mengencang menahan rona merah kemarahan. "Di kawasan ini, orang-orang yang berani menatap mata saya dengan lagak seperti itu biasanya berakhir di ruang ICU dengan tulang yang tidak utuh lagi!" ​"Oh, ya? Menarik juga dong ceritanya," sahut Adrian acuh tak acuh. Ia mengangkat gelas wiskinya, menyesap cairan pekat itu hingga tandas, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan ketukan pelan yang terasa seperti ejekan instan. ​Merasa gertakannya han

  • Pacar Kontrak Sang CEO   The Velvet Room

    ​Adrian menoleh dan mendapati wajah cantik Vera yang tampak terkejut. Kepala departemen itu tidak mengenakan pakaian kantornya yang kaku; ia hanya memakai gaun rajut kasual berwarna krem yang melekat pas di tubuhnya yang proporsional. Pipinya sudah merona kemerahan, pertanda ia sudah menghabiskan beberapa gelas sebelum ini. ​Melihat wajah yang familier dan senyuman ramah yang tulus dari Vera, gemuruh di dada Adrian perlahan mereda. "Eh, Kak Vera. Kebetulan lagi lewat daerah sini, jadi mampir buat cari angin segar," jawab Adrian bohong sambil tersenyum hangat. ​"Wah, kebetulan banget! Ayo gabung di meja kami saja, daripada kamu bengong sendirian seperti orang patah hati di sini," ajak Vera tanpa ragu, langsung menarik lengan jaket Adrian menuju sebuah sofa melingkar di sudut ruangan yang agak privat. ​Di meja itu, tiga wanita dengan pakaian semi-formal langsung menghentikan obrolan mereka dan menatap Adrian dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. ​"Wah, Bu Vera... pantesan

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Dunia yang Berbeda

    ​Adrian mengetuk pintu dua kali sebelum melangkah masuk. Desain interior ruangan itu mencerminkan kepribadian pemiliknya secara sempurna: minimalis, dingin, dan kaku. Dua baris rak buku besar menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh literatur tebal tentang hukum korporasi, analisis makroekonomi, dan manajemen risiko. Hebatnya, tidak ada satu pun buku yang miring; semuanya berbaris tegak, dikategorikan berdasarkan warna sampul dan urutan abjad yang presisi. Di atas meja kerja marmer yang luas, beberapa pulpen diletakkan sejajar dengan sudut penggaris. Tidak ada setitik debu pun yang diizinkan singgah di sana. Alana adalah definisi hidup dari seorang perfeksionis yang menderita kecemasan akan ketidaksempurnaan. ​Saat ini, wanita itu sedang duduk tegak di balik meja kebesarannya. Alana tidak mengenakan blazer formalnya lagi, melainkan kemeja sutra putih yang kancing teratasnya dibiarkan terbuka, menampilkan leher jenjangnya yang indah. Jemarinya dengan ritme konstan mengetuk-

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Logika Korporat

    "Saudara perempuan? Tidak ada, Den. Ibu kandung Non Alana berpulang saat Non Alana masih berusia tujuh tahun. Setelah itu, Non Alana bahkan sempat dititipkan di sebuah yayasan pengasuhan anak hingga usia sepuluh tahun, sebelum akhirnya dijemput kembali ke kediaman utama oleh kakeknya. Sepengetahuan Bibi, beliau adalah anak tunggal dari istri pertama," jelas Bibi Sarah. Adrian mengembuskan napas pendek, merasa spekulasi di kepalanya meleset. ‘Mungkin aku saja yang terlalu sensitif, kemiripan wajah wanita waktu itu pasti hanya kebetulan belaka,’ batinnya. Bibi Sarah melanjutkan dengan nada getir, "Sejak kepemimpinan perusahaan jatuh ke tangan Non Alana, gesekan di keluarga ini tidak pernah selesai. Bibi terkadang sedih melihat Non Alana harus menanggung beban seberat ini sendirian..." Tepat di saat Bibi Sarah sedang menghela napas meratapi nasib majikannya, sebuah lengkingan suara yang terdengar sangat dongkol mendadak menggema dari arah koridor lantai dua... "Adrian!! Singkirka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status