بيت / Romance / Pacar Kontrak Sang CEO / Berdasarkan Kontrak

مشاركة

Pacar Kontrak Sang CEO
Pacar Kontrak Sang CEO
مؤلف: Envy

Berdasarkan Kontrak

مؤلف: Envy
last update تاريخ النشر: 2026-04-28 19:40:14

"Poin pertama: respons cepat itu harga mati. Saya tidak mau mendengar alasan baterai habis atau sedang berada di wilayah susah sinyal. Kedua, setiap skenario yang saya susun adalah perintah, bukan saran. Dan yang paling penting, poin ketiga: no skinship. Jangan sentuh saya kecuali saya memberikan kode terlebih dahulu. Paham?"

Alana menyesap iced americano-nya perlahan. Di balik jendela kaca kafe yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk SCBD, ia tampak seperti penguasa tunggal gedung-gedung pencakar langit tersebut. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, kontras dengan gaun biru muda yang dikenakannya. Ia cantik—tipe kecantikan formal yang membuat orang segan untuk sekadar mencuri pandang.

Di depannya, Adrian hanya bersandar santai di kursi kayu. Penampilannya benar-benar "bertabrakan" dengan Alana. Kemeja garis-garisnya tampak kusut seperti sangat butuh disetrika, dan sandal jepit yang ia sembunyikan di bawah meja jelas bukan tipe yang lolos kode busana pesta Alana. Namun anehnya, tatapan Adrian sangat tenang, seolah sama sekali tidak terintimidasi oleh aura CEO di hadapannya.

Adrian hanya mengangguk kecil setiap kali Alana menyebutkan satu syarat.

"Penandatanganan kontrak: Alana Putri sebagai Pihak Pertama, dan Adrian Bagaskara sebagai Pihak Kedua. Durasi kontrak: tiga bulan."

Alana menutup tabletnya dengan bunyi klik yang tajam dan tegas. Ia mengamati pria di depannya. Sejujurnya, dari hasil kurasi daringnya kemarin, Adrian adalah pilihan yang paling 'aman'. Wajahnya maskulin, tidak neko-neko, dan berdasarkan portofolionya, dia tipe orang yang akan patuh pada perintah asalkan harganya cocok. Dengan sedikit bantuan penata busana, Alana yakin bisa menyulap pria ini menjadi kekasih yang layak dipamerkan ke kolega bisnisnya.

"Itu garis besarnya. Saya butuh kamu untuk sandiwara ini selama tiga bulan ke depan. Kita lihat bagaimana performamu berjalan. Ada pertanyaan sebelum kita sahkan ini di sistem?" Alana menggeser tabletnya ke tengah meja.

Adrian meraih tablet tersebut, membacanya sejenak dengan dahi sedikit berkerut. Di halaman terakhir, ia mendongak, menatap langsung ke manik mata Alana.

"Miss Alana, ada satu poin teknis yang sepertinya harus kita perjelas di awal agar kerja sama kita tidak berantakan di tengah jalan," ujar Adrian dengan nada sopan tapi tegas.

Alana melipat kedua tangan di dada, sedikit tertarik. "Silakan. Bagian mana yang membuatmu ragu?"

"Begini, ada satu kendala," Adrian mengetuk jarinya di meja. "Bagaimana kalau saat Anda butuh saya, saya sedang di tengah-tengah sesi penanganan klien? Saya bukan tipe orang yang bisa kabur begitu saja kalau tugas saya belum selesai."

Alana menyandarkan punggungnya, sedikit terkesan dengan idealisme pria di depannya. "Kamu cukup berdedikasi ternyata. Memangnya, penanganan apa yang biasanya memakan waktu intensif seperti itu?"

"Biasanya pemulihan sistem yang down, Miss. Saya harus melakukan monitoring ketat agar tim saya tidak kehilangan aset penting di lapangan," jawab Adrian tenang.

(Catatan: Maksud Adrian adalah dia sedang menggendong/push rank akun game kliennya agar tidak kehilangan poin dan turun tier).

Alana mengangguk-angguk paham. Di dalam kepalanya, Alana langsung melakukan kalkulasi mental. Pemulihan sistem? Monitoring aset? Logis jika pria ini memiliki latar belakang pendidikan IT atau analisis data. Kemampuan berpikir taktis seperti itu sangat bagus; setidaknya Adrian tidak akan terlihat bodoh atau kagok saat diajak mengobrol oleh rekan-rekan bisnis Alana nanti.

"Jangan khawatir. Saya tidak seegois itu sampai harus merusak jadwal profesional orang lain," sahut Alana tenang. "Kita akan mencocokkan kalender masing-masing setiap awal pekan. Saya pastikan jadwal 'tampil' kita tidak akan bentrok dengan proyek analisis sistemmu."

"Oh, kalau begitu bagus. Ternyata Miss Alana orang yang bisa diajak berkompromi," ucap Adrian lega, lalu langsung membubuhkan tanda tangan digitalnya di layar tablet.

Setelah urusan administrasi selesai, Alana pamit lebih dulu karena ada rapat internal perusahaan. Tidak lama kemudian, raungan mesin Maserati mewah milik Alana memecah keheningan sore, melesat membelah jalanan SCBD dan meninggalkan kepulan debu tipis di belakangnya.

Begitu mobil itu hilang dari pandangan, Adrian mengembuskan napas panjang. Ia melonggarkan kancing teratas kemejanya yang terasa mencekik, lalu merogoh kantong celana. Sebuah ponsel lawas dengan layar penuh goresan langsung bergetar hebat di tangannya. Nama Mumu berkedip di sana.

Adrian menggeser tombol hijau. "Halo, Bil. Apaan? Gue baru kelar urusan."

"Bang Adrian! Darurat nasional!" Suara gadis di seberang telepon terdengar histeris. "Gara-gara semalam Abang absen, akun gue dibantai beruntun! Gue turun pangkat ke Platinum lagi! Tim gue ampas semua kayak bot, tolongin hiks..."

Adrian memijat pangkal hidungnya, menurunkan volume suara agar tidak terdengar seperti joki game profesional di tempat umum. "Gue baru dapat proyek gede tiga bulan ke depan. Mulai besok jadwal gue padat. Malam ini doang gue bantu stabilin winrate lo, sisanya lo main aman."

"Serius, Bang? Asyik! Emang Abang joki terbaik se-kecamatan! Makasih, Bang Adrian ganteng!" Suara Billa langsung berubah ceria sebelum menutup telepon.

Adrian terkekeh pelan. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu berjalan santai keluar dari area kafe menuju jembatan penyeberangan ke arah stasiun MRT mengambil motor tua milik nya. Ia sengaja tidak membawa kendaraan ke SCBD karena malas berurusan dengan tarif parkir yang mencekik dompetnya.

Sambil melangkah membaur dengan para pekerja kantoran yang mulai memadati stasiun, Adrian melirik jam tangannya yang menunjukkan hari mulai beranjak senja.

"Waduh, hampir jam lima," gumam Adrian mempercepat langkahnya naik ke gerbong kereta. "Gue harus buru-buru ke lantai dua ruko Mang Jaka. Kalau telat, bisa-bisa komputer rakitan buat server kantor sebelah sengaja dilempar ke orang lain. Lumayan itu duit jasanya buat nambahin bayaran kosan bulan depan."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Ruang Isolasi dan Berkas Hitam

    Adrian sempat tersentak kecil, matanya melirik ke arah Alana dengan ketertarikan yang baru. *Arsitek Algoritma Kuantum pertahanan negara?* batinnya menganalisis. Fakta baru ini seketika mengurai banyak teka-teki mengenai tabiat kaku wanita tersebut. Berdasarkan literatur psikologi taktis yang Adrian pahami, individu yang menghabiskan masa mudanya di dalam laboratorium enkripsi kuantum tingkat tinggi cenderung mengunci emosi sosial mereka di titik terendah. Mereka terbiasa melihat dunia sebagai barisan kode biner yang mutlak—benar atau salah, untung atau rugi. Hal ini menjelaskan mengapa Alana memiliki pembawaan yang sangat dingin, menjaga jarak dari interaksi emosional, mengalami keretakan hubungan internal dengan keluarga besarnya yang penuh intrik, dan memiliki area kosong tanpa riak dalam sejarah asmaranya. Wanita ini mengisolasi dirinya di dalam menara gading algoritma demi melindungi kewarasannya dari kekejaman dunia luar. "Arissa, hentikan bahasan yang tidak fungsional itu,"

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Anatomi Intuitif

    Alana mematikan layar laptopnya dengan ketukan pelan, beralih menatap Adrian dengan sepasang mata yang menyipit tipis, memancarkan intonasi yang sarat akan ujian taktis. "Kamu memecahkan enkripsi *Viper-7* itu dalam waktu kurang dari delapan menit, Adrian. Tapi sebuah sistem keamanan tidak akan berjalan hanya dengan modal jari yang cepat. Apakah kamu memiliki kapasitas otak yang cukup untuk memahami mengapa saya sengaja memotong dana talangan untuk pabrik manufaktur di sektor barat pagi ini?" Adrian menyandarkan punggungnya di sofa kulit, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang kokoh. "Pola pikir seorang tiran korporasi biasanya terlalu berbelit-belit untuk konsumsi logika masyarakat awam, nona CEO. Tapi jika Anda menuntut sebuah jawaban, saya tidak keberatan untuk membaca polanya." "Saya memberikanmu waktu tiga puluh menit untuk membedah draf data audit operasional dari *Konsorsium Barat* ini melalui tablet di tanganmu," tantang Alana, sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Batasan di Balik Menara Kaca

    "Saya hanya kurang tidur karena harus memproses peta jaringan distrik ini semalaman, nona CEO. Menguap adalah reaksi biologis yang lurus, bukan tanda saya sedang kehilangan fokus," kilah Adrian, wajahnya kembali tenang dan datar, menetralisir sisa rasa canggung akibat ketahuan mengintip lewat cermin kabin tadi. Alana menarik pandangannya dari laptop dengan gerakan ketus, sepasang matanya memancarkan penilaian yang sangat tajam dan dingin. "Pria manipulatif yang berlindung di balik pembenaran biologis. Adrian, dari seluruh elemen pria taktis yang pernah direkomendasikan kepada keluarga saya, kamu adalah spesimen yang paling membingungkan. Kamu serakah terhadap nominal kontrak, bermulut tajam, namun di saat yang sama, kamu menolak membuang kotak instrumen berkarat yang hampir membuat pos keamanan rumah saya melakukan siaga satu kemarin sore." Adrian mengulas senyum tipis, tangan kanannya dengan tenang memutar kemudi Lexus LX 570 memutari ramp spiral menuju area parkir bawah tanah

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Hari Pertama di Jalur Protokol

    Adrian menarik napas panjang, sudut mulutnya berkedut menahan jengkel. "Dan kamu memanfaatkan kepolosan serta loyalitas Vera untuk memercayai skenario fiktif itu?" "Vera mungkin sangat jeli dalam urusan strategi pemasaran makro, tetapi untuk urusan operasi taktis dan sejarah keluarga besar mu, dia selalu menaruh kepercayaan mutlak pada keputusan saya," Alana akhirnya menghentikan ketikannya. Ia mendongak, sepasang mata beningnya menatap Adrian dengan kilatan dingin yang menuntut patuh. "Daripada kamu sibuk berlagak seperti pahlawan moralitas yang mencemaskan perasaan bawahanku, lebih baik kamu tanda tangani kontrak kerja sekunder ini." Sebuah draf dokumen formal bermaterai disorongkan ke depan dada Adrian. Pria itu memungutnya, membaca judul besarnya: *Kontrak Kerja Sama Eksklusif Penanggulangan Risiko Domestik dan Korporasi.* "Kamu benar-benar ingin mengikat saya di dalam kantormu?" tanya Adrian, matanya menyipit. "Mengingat betapa ogah-ogahannya kamu saat menerima panggila

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Hukum Karma Pengusaha Muda

    . "Mas Adrian, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati sikap dingin Nona Alana tadi. Anak itu sebenarnya memiliki kepedulian yang besar, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Jika dia benar-benar membencimu, dia tidak akan membiarkan saya menceritakan masa lalumu, dan dia tidak akan mencoba menghubungimu subuh tadi." Adrian menurunkan gelas es kosonnya, bibirnya mengulas senyum tipis yang asimetris. "Dia hanya cemas saya memicu keributan yang bisa mencoreng nama baik bisnis keluarganya, Bibi. Wanita secerdas Alana selalu menghitung segala sesuatu berdasarkan untung dan rugi." "Kamu salah menilai dia, Mas," sanggah Bibi Sarah lembut namun tegas. "Setelah mendengar bahwa kamu tumbuh tanpa figur pelindung sejak kecil, sorot matanya langsung berubah. Nona Alana mungkin dibesarkan di lingkungan menara gading yang beku, tapi dia bukan wanita tanpa hati. Dia hanya... tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kehangatan." Adrian terdiam sejenak, menatap sisa butiran es yang

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Benang Merah yang Bertemu

    Melihat bagaimana Adrian dengan patuh mundur demi menghormati prinsip prinsipilnya, rasa kagum Vera pada pria ini justru melonjak tajam. Ia tahu, pria dengan kekuatan seperti Adrian bisa saja memaksakan kehendak, namun pria ini memilih untuk menundukkan egonya di hadapan harga diri seorang wanita. Vera tersenyum manis—sebuah senyuman paling menawan yang pernah ia perlihatkan. Ia tiba-tiba memajukan tubuhnya, memberikan satu kecupan hangat yang cepat di rahang tegas Adrian, sebelum berbisik pelan di dekat telinganya, "Jika kamu bisa terus mempertahankan ketulusan dan rasa hormat ini... waktu akan memberikan seluruh jawaban yang kamu inginkan dari tubuh dan hatiku, Adrian. Bersabarlah sedikit lagi." Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya sendiri sedikit goyah akibat serangan balik yang tidak terduga dari wanita dewasa ini. *Benar-benar berbahaya,* batin Adrian berseloroh. *Wanita berwawasan luas seperti dia ternyata jauh lebih mematikan saat mulai menggunakan p

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Tarikan Lembut di Pinggangnya

    Seluruh argumen dan rasa kesal di kepala Vera seketika menguap. Sepasang matanya sempat membelalak tidak percaya menatap wajah Adrian yang berada sangat dekat, sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan menutup, menyerahkan seluruh kendali tubuhnya pada kehangatan yang ditawarkan oleh pria itu. Tubu

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Keheningan yang Menggoda

    Adrian bukanlah pria yang mudah dilingkupi oleh rasa ragu. Langkah kakinya tetap tenang saat mengikuti Vera memasuki lobi menara residensial mewah di kawasan Crescent Bay. Kompleks apartemen komersial ini terkenal sebagai salah satu kawasan lingkar dalam kota yang memiliki pengamanan super ketat, t

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Lepaskan Pakaianmu

    ​"Mau ke mana? Cepat sekali. Memangnya mengobrol sebentar denganku semenakutkan itu?" Mbak Retno mencebikkan bibir, terlihat tidak senang karena suasananya baru saja menghangat. "Kamu tahu sendiri, Selasar Retno ini terasa sangat sunyi kalau tidak ada teman bicara yang sepadan." ​Adrian tertawa, s

  • Pacar Kontrak Sang CEO   Seduhan Kedua

    ​"Menurutmu... untuk apa aku melakukan semua ini?" ​Adrian tertegun sesaat, napasnya tertahan. Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada sekadar godaan biasa. Ia sadar betul betapa mempesonanya sosok di depannya, namun ada tembok tak kasatmata yang harus tetap ia jaga. Sekali saja ia melangkah me

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status