INICIAR SESIÓNAku dan adikku adalah anak kembar, tetapi aku lebih berat 800 gram darinya. Sejak kecil, adikku lemah dan sering sakit, sedangkan aku aktif dan lincah. Saat berusia empat tahun, dia didiagnosis penyakit darah. Ibu menyalahkanku. Dia mengatakan aku merebut nutrisi milik adikku saat di kandungan, jadi aku harus mengembalikannya. Saat pertama kali diambil darah, jarumnya sangat besar, aku sangat ketakutan. Ibu menyuruhku tidak perlu takut. Dia memberiku sebuah pena ajaib. Katanya, keinginan yang ditulis dengan pena itu akan menjadi kenyataan. Aku menulis "tidak sakit". Saat jarum kembali ditusukkan, Ibu membelikanku permen lolipop yang manis dan sepertinya benar-benar tidak terasa sakit. Namun kemudian, saat berusia lima tahun, aku menggambar kue stroberi dengan pena itu. Alhasil, darahku malah diambil satu liter. Minggu itu, adikku pun sudah bisa duduk dan bermain. Usia tujuh tahun, aku menulis ingin pergi berlibur. Keesokan harinya, aku malah didorong ke ruang operasi untuk diambil sel pembentuk darah, sementara pipi adikku untuk pertama kalinya tampak merona. Saat berusia delapan tahun, aku menulis ingin tetap menjadi peringkat satu tahun depan, tetapi sehari sebelum ujian, sumsum tulangku diambil. Di sisi lain, adikku akhirnya keluar dari rumah sakit, mengenakan gaun baru yang belum pernah kumiliki. Pada usia sembilan tahun, tubuhku sudah sangat terkuras. Dengan tangan gemetar, aku menulis satu kalimat yang miring dan tidak rapi. [ Semoga di kehidupan berikutnya, aku tidak menjadi anak Ibu. ]
Ver másDokter forensik menerima buku itu, lalu meneliti tulisan tangannya dengan saksama di bawah cahaya terang.Setelah waktu yang lama, dia mengangkat kepala. Tatapan di balik lensa itu tampak rumit. Dia berkata, "Di kehidupan berikutnya, aku tidak ingin lagi menjadi anak Ibu."Ibu membeku, seolah-olah membatu di tempat."Selain itu ...." Suara dokter forensik tetap tenang, tetapi setiap kata menusuk. "Sisa tulisan di telapak tangan korban sesuai dengan kalimat ini. Arti dari kata 'tidak' sudah sangat jelas."Aku melayang di samping, menghela napas pelan. Cahaya di mata Ibu benar-benar padam. Ayah datang, mengurus sendiri semua urusan pemakaman.Kupikir ini adalah akhir dari cerita. Namun, aku masih terus melayang di dalam rumah. Hingga hari pemakaman itu, Ibu perlahan berjongkok. Dari tenggorokannya, keluar suara serak yang kacau.Dengan mata merah, Ayah mendekat, ingin merangkul bahunya yang gemetar."Jangan sentuh aku!" Ibu berteriak dan melepaskan diri. Kilatan dingin melintas di tangan
Beberapa hari berikutnya, Ibu tidak lagi histeris seperti sebelumnya.Seolah-olah telah menghabiskan seluruh tenaga untuk berteriak dan menangis, dia menjadi diam, seperti sudah menerima nasib.Aku memperhatikan, di pelipisnya, dalam beberapa hari saja, muncul banyak uban yang mencolok.Kondisi tubuh adikku pulih sedikit demi sedikit setiap hari.Hari itu, mereka pulang ke rumah. Setelah minum teh yang diberikan Ibu, Ayah tertidur di sofa.Setelah membuang teh yang sudah dingin, Ibu masuk ke kamar adikku. "Maaf ... Ibu salah."Adikku terbangun kaget, melihat mata Ibu yang merah. Kemudian, dia bertanya pelan, "Ibu masih akan menyayangiku seperti dulu, 'kan?"Ibu mengangguk kuat, menggenggam tangannya. "Tentu saja, Zayna."Rona wajah adikku seketika memudar. "Ibu, aku Aisyah ...."Aku melihat Ibu berlutut. Dia memegang wajah adikku. Tatapannya hampa, tetapi juga membara. "Nggak, kamu Zayna. Zayna-ku sudah kembali."Air matanya jatuh deras. "Maaf ... Ibu membuatmu menderita selama sembila
"Aku seharusnya sudah melakukan ini sejak lama! Seharusnya sejak dulu aku membiarkanmu mati! Kalau bukan karena kamu ... kalau bukan karena kamu ... mana mungkin anakku bisa mati!"Jarinya mencengkeram lengan adikku, kukunya hampir menancap ke dalam daging. Adikku ketakutan hingga matanya membesar, bahkan lupa menangis."Ibu? Apa yang Ibu katakan? Aku nggak ngerti ...."Ayah dan perawat akhirnya tersadar. Mereka menerjang dan menarik Ibu dengan kuat.Ayah berusaha membuka cengkeraman tangan Ibu. "Kamu sudah gila!""Aku gila? Ya, aku memang gila!" Mata Ibu yang merah menatap adikku di ranjang, seperti menatap musuh yang tak bisa hidup bersama.Dia tiba-tiba menoleh, menatap Ayah. "Sekarang kamu malu padaku? Malu karena aku membuat keributan di sini?""Dulu aku takut, aku ingin menggugurkan kandungan! Kamu! Kamu yang berlutut memohon agar aku melahirkannya!""Kamu bilang anak itu nggak bersalah, kamu akan membesarkannya seperti anak kandung! Waktu itu kenapa kamu nggak merasa malu, hah?"
Dia seperti dicekik, matanya membelalak. Kemudian, dia tiba-tiba menabrak pintu ruang operasi.Perawat dan dokter menahannya, tetapi dia meronta. Kukunya menggores kusen pintu hingga menimbulkan suara yang menusuk telinga."Nggak mungkin!"Saat melihat tubuh kecil di atas meja operasi yang tertutup kain putih, dia tetap runtuh. Akhirnya, dia berlutut. Suara lutut menghantam lantai terdengar jelas, bahkan olehku yang melayang di atas."Tolong ... tolong selamatkan dia ...." Suaranya hancur total, bercampur tangisan dan isakan."Kembalikan ginjal itu padanya! Kumohon!" Dia seperti wanita gila, terus-menerus membenturkan kepala. Dahinya menghantam lantai ubin yang dingin berulang kali.Dokter menghela napas. "Sebelum menandatangani surat persetujuan operasi, semua risiko sudah kami jelaskan dengan baik. Waktu itu kamu bilang apa?"Gerakan kepala Ibu yang membentur lantai tiba-tiba terhenti. Dia membeku di sana. Dahi menempel di lantai, bahunya mulai gemetar hebat.Kondisi tubuh berada di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.