Beberapa hari berikutnya, Ibu tidak lagi histeris seperti sebelumnya.Seolah-olah telah menghabiskan seluruh tenaga untuk berteriak dan menangis, dia menjadi diam, seperti sudah menerima nasib.Aku memperhatikan, di pelipisnya, dalam beberapa hari saja, muncul banyak uban yang mencolok.Kondisi tubuh adikku pulih sedikit demi sedikit setiap hari.Hari itu, mereka pulang ke rumah. Setelah minum teh yang diberikan Ibu, Ayah tertidur di sofa.Setelah membuang teh yang sudah dingin, Ibu masuk ke kamar adikku. "Maaf ... Ibu salah."Adikku terbangun kaget, melihat mata Ibu yang merah. Kemudian, dia bertanya pelan, "Ibu masih akan menyayangiku seperti dulu, 'kan?"Ibu mengangguk kuat, menggenggam tangannya. "Tentu saja, Zayna."Rona wajah adikku seketika memudar. "Ibu, aku Aisyah ...."Aku melihat Ibu berlutut. Dia memegang wajah adikku. Tatapannya hampa, tetapi juga membara. "Nggak, kamu Zayna. Zayna-ku sudah kembali."Air matanya jatuh deras. "Maaf ... Ibu membuatmu menderita selama sembila
اقرأ المزيد