LOGINPada hari ibu mertuaku didiagnosis kanker rahim, dia membawa koper dan pindah ke rumahku. "Ibu nggak punya banyak waktu lagi, hampir nggak ada harapan," dia terisak, "Kalau kalian usir Ibu, kalian bukan manusia." Aku melihat suamiku yang diam tanpa kata, lalu beralih ke putraku yang selama ini kubesarkan dengan penuh kasih. "Kalian mau bilang apa?" Suamiku yang diam itu tampak muram, lalu menarik tanganku. "Soal waktu pasca melahirkan itu, mau kamu ingat sampai kapan? Ibu sudah seperti ini." Putraku juga ikut mendukung, "Nenek hampir tiada, merawatnya di masa tua itu kewajiban kita." Aku tersenyum menatap suami dan putraku. "Kalau begitu, silakan kalian yang merawat."
View More――明日の朝、私は首を落とされる。
冷たい石畳の感触が、薄布一枚の罪人服を通して肌から体温を奪っていく。カビと土埃の匂いが立ち込める牢の中で、李雨蘭(り・うらん)は膝を抱えていた。夕餉の粥に混ぜられた痺れ薬がまだ残り、足に力が入らない。ここへ運ばれてから、夜の鐘が二度鳴るのを聞いた。指先だけは、ようやく曲げ伸ばしができるようになっていた。 聖女のために調えたのは、熱を鎮める薬だった。薬師として幾度も扱ってきた処方が、なぜ毒になったのか。神殿で何度問い返しても、誰一人、薬の中身について答えなかった。代わりに昨日、死刑を言い渡された。 今夜になって突然、神殿の地下牢から連れ出された。引き渡しに来た武官が「皇帝の命だ」と告げた時、看守たちの顔色が変わったのを覚えている。だが行き先は皇城の西苑、人の気配もない古い収容牢だった。移されただけで、明朝の執行が取り消されたわけではない。 西苑の外れにあるその建物は、かつて離宮の礼拝室だったらしい。今では皇城の外縁に取り残された廃屋で、正面の回廊には見張りが立っているものの、使われなくなった裏手の窓や扉には板が打ちつけられていた。壁には剥がれかけた金の模様が残り、奥の石台の脇には、布を掛けた木箱が置かれている。雨蘭を運び入れた神殿の看守たちが、重そうに二人で運んできたものだ。「御前の検分に要る」と言い交わしていたが、何を検分するのかは教えられなかった。 看守の一人は、去り際に隅の銅香炉へ火を入れた。細い煙は今も絶えず、甘い匂いが部屋にこもっている。雨蘭は袖を鼻先へ当てた。神殿で場を清めるために焚く香に似ていたが、少し甘すぎた。 高い窓には鉄格子が嵌まっている。暗がりの中でその影を見つめていると、焼け落ちた家の梁を思い出した。 故郷を燃やした炎。冷たくなった養母の手。炎の向こうを去っていく、黄金の意匠を纏った兵たち。 村を焼いたのは皇帝の軍勢だった。紫苑帝国の頂点に立つ、紫龍翔(し・りゅうしょう)。顔も知らないその男の名を、雨蘭は幾度となく胸の中で繰り返してきた。 けれど、恨みを晴らすどころか、明日には自分が死ぬ。 膝へ顔を伏せた時、鉄扉の鍵が回った。 雨蘭は肩を強張らせた。まだ夜明けではない。迎えが早まったのかと、喉が詰まった。 扉を開けて入ってきたのは、見知らぬ男だった。 深い色の外套を羽織り、武官の徽章も、神殿の印もつけていない。それでも、廊下に控えた兵たちが一斉に頭を下げた。手燭を持つ者が背後に続こうとすると、男は振り返りもせずに言った。 「燭台を置け。お前は外で待て」 付き従う者は一礼し、廊下へ退いた。扉は閉じられたが、鍵の音はしなかった。 残された灯が、男の横顔を照らす。黒髪の間から覗く黄金の瞳に見据えられ、雨蘭は背を壁へ押しつけた。命令を下す声は低く、怒鳴らなくても人が動くことを知っているようだった。端正な顔だった。だが今は、誰も彼の身分を尋ねず、命じられた通りに扉の外へ退いたことの方が恐ろしかった。男は雨蘭が逃げられないと知っている者の足取りで近づいてきた。 扉の向こうは、兵が控えているとは思えないほど静かだった。あれほど人を従わせる男が、どうして罪人一人の顔を見に来たのだろう。雨蘭は視線を落としたが、靴音が止まると、思わず顔を上げた。 「聖女の薬を調えたという娘は、お前か」 低い声だった。男は雨蘭の前で膝を折り、折り畳まれた書付を取り出した。 「神殿は取り調べ中だと言っていた。だから、お前をここへ移した。あの日、聖女に使われた薬と香について訊く」 「……供述は、もうしました」 「この書付には、お前が罪を認めたとしかない。薬の名も、調えた量も書かれていない」 雨蘭は顔を上げた。 「認めていません」 声が掠れた。神殿でも同じことを言った。そのたびに、まだ嘘を重ねるのかと遮られた。 男はすぐには答えなかった。紙に目を落とすと、深く刻まれた眉間の皺が、ほんのわずかに動いた。 「……そうか。何があったのか、お前の口から話してくれ」 間近で聞く声は、先ほど兵に命じた時よりも静かだった。責められると思っていた雨蘭は、戸惑って男の手元を見る。書付を押さえる指は、答えを急かすことなく止まっていた。 雨蘭は口を開きかけた。何から言えばいいのか。昨日の裁きの場で、言い終えることのできなかった言葉が、いくつも喉へ押し寄せた。男は急かさずに待っていた。 やがて、男が一度、喉を鳴らした。襟元を緩め、浅く息を吸う。燭台の明かりに、額の汗が光った。 「……気分が、悪いのですか」Aku melihat Yoga mendorong ibunya dengan kuat, sambil berteriak, "Pergi!"Sementara itu, darah mengalir deras dari bagian belakang kepala Hendi, tetapi dia masih sempat melotot penuh kebencian ke arah Yoga dan neneknya, "Semua ini salah kalian, aku benci kalian sampai mati!"Meski dibenci oleh Hendi, Yoga tetap harus membawanya ke rumah sakit.Mengenai bagaimana kondisi Hendi setelah dipukul,itu sudah tidak ada hubungannya denganku.Aku menghubungi perusahaan jasa pindahan, memanfaatkan waktu mereka pergi ke rumah sakit, langsung masuk ke rumah, mengemasi barang-barang mereka bertiga, lalu membuang semuanya keluar. Aku mengosongkan rumah, dan dengan cepat menandatangani kontrak dengan pembeli.Setelah menyelesaikan semuanya, aku juga menyempatkan diri melihat rumah baruku.Aku membeli sebuah rumah baru untuk diriku sendiri.Aku sibuk sepanjang hari. Belum sempat aku beristirahat, tiba-tiba rekan kerjaku mengabarkan bahwa mantan suamiku sekeluarga sedang menggelar spanduk di depan kant
"Kamu sudah berutang tamparan ini padaku selama lebih dari sepuluh tahun."Aku tidak menunggu reaksinya.Aku kembali menampar wajahnya, "Dengan tamparan ini, kita impas. Keluar dari rumahku, kalau nggak, aku akan mengirimmu ke penjara!"Aku berbalik dan pergi.Aku baru berjalan beberapa langkah.Hendi langsung mengejar, "Bu."Aku berhenti dan menatap anakku yang sudah begitu dekat, bertanya kepadanya, "Apa lagi yang mau kamu katakan?""Bu," ekspresi Hendi penuh emosi, "Aku nggak tahu.""Aku nggak tahu kalau Nenek seperti itu," Hendi mendekatiku, "Aku malu dengan dia. Bawa aku pergi.""Aku nggak mau Nenek yang seorang penjahat, dan ayah yang bahkan nggak punya rumah. Aku tahu Ibu yang paling mencintaiku. Bawa aku pergi."Saat Hendi mengatakan ini, dia tidak menyadari Yoga yang buru-buru datang. Aku tersenyum sinis, "Jadi, kamu merendahkan ayahmu?""Aku sudah nggak suka dia sejak lama."Hendi terus mengungkapkan, "Orang yang nggak mampu membelikan konsol gim seharga 8 juta, mana pantas j
Ibu mertuaku terdiam.Aku melanjutkan, "Kalau kamu benar-benar membuatku marah, aku nggak keberatan mengirimmu ke penjara untuk menghabiskan masa tuamu.""Kalau aku jadi kamu, setiap hari aku akan rajin berdoa, dan hidup dengan rendah hati. Kalau memang nggak bisa jadi manusia, jadilah binatang, jangan ganggu aku lagi!"Ibu mertuaku berteriak, "Yana, aku akan melawanmu sampai mati!"Belum selesai ibu mertuaku memaki, aku kembali melancarkan serangan."Dulu kamu mencekik Hendi untuk mengancamku, juga mengarang cerita tentang gagal ginjal untuk menyalahkan keluargaku. Apa kamu benar-benar mau aku buka semua aib itu?"Aku belum selesai bicara.Telepon langsung ditutup.Tanpa perlu berpikir, aku tahu ibu mertuaku ketakutan.Aku tertawa.Ketika aku menoleh ke sahabatku, dia tersenyum sambil mengacungkan jempol, "Kamu luar biasa, Sayang."Aku menyibakkan rambut di dahi, "Lumayanlah."Tidak cukup hanya memblokir nomor Keluarga Kiswari, aku mengakhiri perjalanan lebih awal, langsung pergi ke k
Aku duduk di tepi jendela sambil tersenyum, memandang jembatan kecil dan aliran air, teringat saat ibu mertuaku membawa seorang pria kasar masuk ke kamarku, mencengkeram leher Hendi sambil mengancam dengan kejam."Yana, kalau kamu nggak menurutinya, akan kubunuh anakmu."Ibu mertuaku menggunakan nyawa Hendi untuk memerasku. Aku melihat anakku yang menangis keras ketakutan di pelukan ibu mertua, lalu melihat pria kasar itu tersenyum menjijikkan dan menjorok. Pada akhirnya, aku menyerah demi anakku, membuang gunting di tanganku, dan membiarkan pria kasar itu mendekatiku.Untungnya, hal itu tidak sempat terjadi karena Yoga pulang.Dia mengambil pisau dapur dari dapur, membantingnya ke pintu, dan mengusir pria kasar itu. Dari tangisan air mata buaya ibu mertuaku, dia mengetahui semuanya.Ibu mertuaku kalah berjudi, tidak bisa menutup utangnya, lalu memikirkan ide yang tidak bermoral ini. Wanita itu menangis sambil berlutut memohon maaf dan bersumpah tidak akan mengulangi perbuatannya.Baga
Sepulang kerja, begitu membuka pintu, aku melihat ibu mertuaku duduk di sofa, bersila sambil mengunyah biji bunga matahari, menyapaku sambil tersenyum."Nak, kamu sudah pulang."Ekspresiku langsung kaku.Belum sempat mencerna kenapa dia ada di sini, dia sudah bangkit dari sofa, berjalan mendekat, "K
Hendi mengucapkan kata-kata manis yang membuat ibu mertuaku tertawa terbahak-bahak.Sekeluarga terdengar begitu harmonis, hanya saja keharmonisan ini dibangun di atas penderitaanku. Mendengar tawa ibu mertua membuatku merasa tersiksa, seperti jarum halus menusuk-nusuk hatiku."Kamu juga jangan terla
Tangisan ibu mertuaku membuat Yoga kesal.Dia tetap harus bersikap baik dan menghibur ibunya. Makin dihibur, makin puas ibu mertuaku, dan tatapannya kepadaku sangat menantang, meskipun nada suaranya terdengar sangat memelas."Nak, ayahmu meninggal begitu cepat. Ibu bersusah payah membesarkanmu seora
"Yoga," aku melemparkan surat perjanjian cerai yang sudah kusiapkan kepadanya, "tandatangani saja.""Setelah itu, bagaimana caramu mengabdi pada ibumu, itu bukan urusanku lagi."Yoga melihat surat cerai di tangannya, suaranya menjadi tajam."Yana, kamu kira aku akan mengalah padamu, ya!"Dia marah b


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews