Beranda / Pendekar / Pendekar Kujang Emas / 214. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

Share

214. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

Penulis: Ramdani Abdul
last update Terakhir Diperbarui: 2022-07-09 23:11:51

“Bagus, itu berarti tidak sia-sia aku menolong kalian berdua beberapa waktu lalu.” Bangasera menoleh ke arah selatan. Seekor ular tiba-tiba muncul di bahunya, berdesis beberapa kali. Setelahnya, makhluk melata itu kembali menghilang.

“Salah satu pasukan Wulung, Argaseni, Brajawesi sedang bergerak menuju wilayah selatan,” gumam Bangasera seraya memutar tubuh membelakangi Wintara dan Nilasari. “Lalu di mana pasukan Kartasura sekarang berada? Sampai saat ini aku hanya mendapati kumpulan kelelawarnya yang terus mengikuti pasukanku dan pasukan anggota Cakar Setan yang lain. Sepertinya dia ingin bertindak curang.”

Bangasera kembali berbalik, menatap Wintara dan Nilasari bergantian. “Aku sangat berharap kalian bisa menghabisi Tarusbawa dengan segera. Hanya saja, dengan keadaan kalian saat ini, kalian membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.”

“Tanpa perlu kau katakan, kami tahu apa yang harus kami lakukan, Bangasera.” Nilasari memutar bola mata. “Jangan harap karena kau menolongku, aku dan Ka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pendekar Kujang Emas   681. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Harimau putih milik Lingga menerjang dengan sangat cepat, menerkam satu per satu harimau musuh, mengisap mereka hingga menghilang.Angin berembus sangat kencang untuk ke sekian kalinya. Suara-suara aneh terdengar bersahutan dari berbagai arah.Lingga mengawasi keadaan sekeliling, mengeratkan pegangan pada kujangnya bersamaan dengan harimau miliknya yang kembali ke sisinya.“Berani sekali kau melenyapkan harimau-harimau milik kami, Manusia!” teriak sebuah suara yang bergema ke seluruh hutan.“Kami akan melenyapkanmu!” Tiga suara berkata dalam waktu bersamaan.Suara-suara itu berubah menjadi serangan-serangan berbentuk cakar harimau yang mengarah pada Lingga dari berbagai arah.Lingga dan harimaunya menghindari semua serangan dengan gesit. Dengan satu serangan kibasan kujang putih dan auman miliknya, serangan-serangan terpental ke sekeliling dan mengenai pohon-pohon yang akan menyerang.Tiga titik cahaya tiba-tiba muncul, menjelma menjadi tiga pendekar muda dengan tangan dan kaki berbul

  • Pendekar Kujang Emas   680. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga mundur selangkah, mengawasi keadaan sekeliling. Suara-suara itu sangat jelas, tetapi ia tidak bisa merasakan kehadiran seorang pun di dekatnya.“Suara-suara itu berasal dari bangsa siluman harimau putih,” gumam Lingga sembari bersiaga. “Aku harus tetap tenang.”“Manusia!” teriak suara yang paling terakhir berbicara. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan kami? Apa tujuanmu datang ke wilayah kekuasaan siluman harimau putih?”“Kami tidak menerima manusia pun di wilayah ini!” Suara yang muncul pertama kali kembali terdengar bersamaan dengan embusan angin kencang.“Pergilah sekarang juga! Jika tidak, kami akan menghancurkanmu hingga tulang-tulangmu remuk dan hancur!”“Pergi!” Ketiga suara itu berkata di waktu yang bersamaan hingga menciptakan angin kencang ke arah Lingga.Lingga bergegas melompat, menepis serangan dari akar dan sulur tanaman. Angin yang sempat melewatinya kembali mengarah padanya, berubah menjadi sabit-sabit kecil.Lingga menghindari semua serangan, mendarat di tana

  • Pendekar Kujang Emas   679. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga bergegas bersiap setelah membersihkan diri di sungai. Pemuda itu mengambil sebuah tas berisi berbagai ramuan dan senjata. Setelah memastikan semuanya siap, ia keluar dari gubuk, melompat ke arah tanah lapang di mana Tarusbawa dan Limbur Kancana.“Kau terlihat sangat siap, Lingga,” ujar Limbur Kancana.“Siap tidak siap, aku harus siap, Paman.” Lingga memeriksa keadaannya sebentar, mengencangkan ikat kepala. “Ya, meski aku cukup gugup dan takut.”“Itu perasaan yang wajar, Lingga. Kau belum pernah pergi ke Sela Awi, dan bertemu dengan bangsa siluman harimau putih,” ujar Tarusbawa.Limbur Kancana menyahut, “Mereka adalah bangsa siluman yang sangat kuat. Jika kau tidak berhati-hati, kau mungkin akan gagal dalam ujian ini. Kau harus ingat jika aku dan Raka Tarusbawa tidak bisa membantumu.”Lingga mengepalkan tangan erat-erat. “Aku tidak akan gagal, Paman. Aku tidak akan menyerah hingga akhir.”“Baiklah, aku akan mengantarmu ke batas terdekat Sela Awi.”“Apakah Guru Ganawirya tidak da

  • Pendekar Kujang Emas   678. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Kemunculan Lingga dengan pusaka Kujang Emasnya sudah mengubah kehidupan di Tanah Pasundan yang semulai sunyi, senyap, penuh kegelapan.Golongan putih yang sempat tercerai berai akhirnya memilih bersatu. Di bawah arahan Tarusbawa, Limbur Kancana, Ganawirya, dan para pemimpin tertinggi golongan putih, golongan putih dan warga mulai bersatu padu untuk mendukung Lingga.Para pendekar muda terpilih dilatih sangat keras di Gunung Padaherang di bawah bimbingan Wirayuda dan anggota lain. Tak hanya itu, padepokan-padepokan baru didirikan untuk melatih para pendekar muda dan tabib-tabib baru.Perkampungan-perkampungan baru juga dibangun di bawah perlindungan pasukan golongan putih. Anak-anak dididik untuk menjadi pendekar dan tabib, dan orang tua yang tidak bisa lagi menjadi pendekar dan tabib, berupaya membantu dengan menyiapkan beragam perlengkapan senjata seperti anak panah, tombak, busur, dan lain-lainnya.Di waktu yang sama pula, golongan hitam berkumpul di bawah kendali Nyi Genit. Siluman

  • Pendekar Kujang Emas   677. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Langit sore berubah gelap, pertanda malam yang panjang akan tiba. Terlihat titik kecil yang terhampar luas di atas, ditambah bulan yang nyaris sempurna. Angin berembus kencang, menggoyangkan daun ke kiri dan kanan. Beberapa buah berjatuhan dari tangkai, menjadi makan malam untuk beberapa hewan. Para murid mulai keluar dari gubuk masing-masing, berjalan menuju ruangan makan, bergerombol. Mereka saling berbincang dan tertawa.Lingga keluar dari gubuk, tersenyum saat angin berembus. “Semua persiapanku sudah selesai. Aku harus menikmati malam ini dengan baik karena malam besok adalah hari ujianku. Aku merasa sangat tegang sekarang.”Panji Laksana muncul dari pintu yang terbuka, menutup pintu. Ia melihat para murid yang berjalan beriringan menuju ruangan makan. “Pemandangan ini sangat luar biasa untukku. Sejak dahulu, aku ingin merasakan menjadi murid padepokan.”Lingga menoleh sesaat, menuruni tangga. “Padepokan ini adalah tempat yang menyenangkan. Selain belajar untuk menjadi seorang pe

  • Pendekar Kujang Emas   676. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Panji Laksana dan Saraswati seketika berdiri dan membungkuk hormat ketika melihat kemunculan Tarusbawa. Lingga berdiri di belakang Tarusbawa, mengamati Ganawirya, Limbur Kancana, Sekar Sari, dan dua sosok asing yang membungkuk hormat pada Tarusbawa. “Siapa mereka? Aku baru pertama kali bertemu dengan mereka. Mereka terlihat kuat.” Panji Laksana dan Saraswati kembali berdiri tegak, menoleh pada Lingga. Keduanya saling melirik sesaat, memberi salam penghormatan untuk Lingga. “Aku Panji Laksana. Aku merasa bangga bisa bertemu dengan pemuda pewaris kujang emas,” ujar Panji Laksana. Saraswati menunduk malu, menyembunyikan pipinya yang memerah. “Pemuda itu memang sangat tampan sesuai dengan perkataan orang-orang,” gumamnya. Saraswati berdeham saat Panji Laksana menyikutnya. “Aku Saraswati. Aku juga merasa bangga bisa bertemu denganmu.” Lingga membalas salam dua saudara kembar itu. “Namaku Lingga. Senang bertemu dengan kalian. Aku harap kita bisa berteman dengan baik.” Sekar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status