LOGINARC 1 : Bangkitnya Pusaka Kujang Emas (1-168) TAMAT ARC 2 : Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar (169 - 591) ARC 3 : Petaka di Gunung Sereh Awi ************** Lingga tumbuh dan besar di sebuah padepokan kecil yang terletak di pedalaman Hutan Ledok Beurit. Meski setiap hari bersinggungan dengan silat dan hal berbau pendekar, ia sama sekali tidak diizinkan untuk belajar silat oleh Ki Petot. Setiap kali ia mengintip atau menonton para murid padepokan berlatih, ia pasti akan langsung digetok tongkat milik kakek tua itu. Kesehariannya hanya disibukkan dengan melayani dan mengurus padepokan. Namun, hidup Lingga berubah setelah sebuah peristiwa terjadi di padepokan. Ia harus dihadapkan dengan takdirnya sebagai seorang pewaris kujang emas, sebuah senjata yang menjadi incaran para pendekar di seluruh Tatar Pasundan. Suratan nasib itulah yang membawa Lingga pada petualangan-petualangan panjang yang harus dilaluinya. "Seorang pendekar hebat lahir dari ketulusan hati yang ingin membantu sesama, bukan lahir dari perasaan yang ingin unggul dibandingkan orang lain, terlebih menyerahkan jiwanya pada iblis.” - Lingga IG : @ramdani.abdul
View MorePadepokan Maung Bodas
Langit sudah bersolek lembayung ketika seorang anak laki-laki baru tiba di depan sebuah padepokan. Tampak halaman bangunan itu dipenuhi murid-murid persilatan yang tengah berlatih secara berpasang-pasangan. Ketika mentari sudah sepenuhnya terlelap di ufuk barat, obor yang mengelilingi area sekitar menyala secara bersamaan.
Anak laki-laki bernama Lingga itu memilih jalan samping untuk sampai ke belakang bangunan. Pandangannya bermuara pada kumpulan murid yang masih berlatih, merekam dan mencatat dalam otak semua gerakan yang ditampilkan.
“Kuda-kudanya masih salah, pukulannya kurang bertenaga, gerakannya masih kaku,” gumam Lingga seperti guru yang tengah mengamati perkembangan muridnya. Beban berat yang anak itu pikul mendadak ringan, padahal ia tengah membawa tiga ikat kayu bakar di punggung, juga dua kantong besar berisi buah dan sayuran liar yang ia dapat di sekitar hutan.
Lingga terus bergumam dengan pandangan yang tetap tertuju pada pekarangan. “Jangan sekarang, Ki,” ujarnya seraya menahan tongkat pria tua di depannya dengan tangan kanan.
“Sedang apa kau, Lingga?” tanya Ki Petot. Kakek tua itu tengah berdiri dengan satu kaki di atas bambu runcing yang sengaja dibuat menjadi pagar.
“Aku hanya sedang menonton mereka latihan, Ki.” Lingga beralasan.
“Aku sudah bilang kalau kau—”
“Tidak boleh belajar silat karena kau tidak cocok jadi pendekar. Kau payah, bodoh dan tidak memiliki bakat,” sela Lingga dengan menirukan suara dan gestur Ki Petot saat menceramahinya. Anak laki-laki berusia 13 tahun itu sudah hafal ke mana arah pembicaraan kakek tua itu. Meski sudah sejak kecil tinggal di padepokan ini, tetapi nyatanya Ki Petot sama sekali tak mengizinkannya belajar silat, bahkan untuk sekadar menonton pun masih sering kena omel.
“Kurang ajar!” Ki Petot mendaratkan tongkat ke kepala Lingga hingga terdengar suara ketukan cukup keras.
“Aduh!” Lingga langsung memekik sembari melompat-lompat kecil. Satu kantong besar di tangannya langsung terjatuh ke tanah, sedang yang satunya sengaja ia daratkan di kaki Ki Petot sebagai balasan. Kedua tangannya kini beralih pada bagian kepala yang baru saja digetok.
Ki Petot langsung menendang kantong besar itu dengan cukup keras. Benda itu berhasil mendarat di perut Lingga.
“Aduh!” Lingga terdorong beberapa langkah hingga akhirnya terjatuh dengan posisi terduduk. Kedua tangannya kini beralih mengelus perut. Tiga ikat kayu bakar tampak berserakan di sekelilingnya.
Para murid yang berada di halaman seketika mengalihkan pandangan, menghentikan latihan. Mereka menoleh ke arah bocah laki-laki itu dengan senyum lebar, dan tak lama kemudian terbahak saat melihat Lingga kembali jadi bulan-bulanan sang guru.
“Diam!” pekik Ki Petot. Suaranya yang menggelegar menimbulkan terjangan angin yang cukup kencang hingga api obor dan dedauan di pohon bergoyang ke kiri dan kanan. Padepokan yang ramai dengan tawa mendadak hening seperti kuburan.
Sementara itu, Lingga mengintip Ki Petot dari bawah. Dengan gerakan sesenyap mungkin, ia mulai mengumpulkan kayu bakar, memasukkannya kembali ke keranjang. Bocah itu harus segera kabur sebelum Ki Petot menggetok kepalanya lagi.
“Kalian segera bersiap untuk kegiatan tengah malam nanti,” pinta Ki Petot pada kumpulan murid.
“Baik, Ki,” jawab para murid serempak, setengah membungkuk. Tak lama setelahnya, mereka mulai meninggalkan halaman, memasuki bangunan.
Lingga sudah bersiap kabur, berjalan mengendap-endap agar tak menghasilkan suara. Di rasa cukup aman, ia segera berlari menuju belakang bangunan.
“Dan kau Lingga.” Ki Petot segera memindai keadaan sekitar. Matanya membulat ketika menyadari jika bocah nakal itu sudah tak ada lagi di tempat. Tangannya mulai mengelus jenggot, kemudian berkata dengan nada heran, “Dari mana bocah itu tahu soal kekurangan murid-murid tadi?”
***
Para murid tengah menikmati hidangan makan malam. Lingga tampak sibuk mengambil lauk dan nasi, mondar-mandir dari dapur dan ruang makan. Sudah menjadi kesehariannya menjadi pembantu sekaligus pelayan di padepokan ini. Semua yang berkenaan dengan kebersihan dan kebutuhan seisi padepokan menjadi tanggung jawabnya.
“Kau masih saja cocok jadi pelayan di sini, Lingga,” ujar salah satu murid sembari tertawa.
“Mungkin saja kau akan jadi pelayan selamanya di padepokan ini,” sahut remaja laki-laki di sudut ruangan.
“Aki saja sampai tidak mau mengajarimu silat. Itu sudah pasti karena kau bodoh dan tak memiliki kemampuan. Mengajarimu persis seperti mengajari bagaimana kura-kura terbang.”
“Sebentar lagi kami akan mendapatkan senjata kami masing-masing. Setelah itu, kami akan berpetualang di rimba persilatan untuk menjadi yang terkuat,” timpal yang lain, “sepertinya kau memang ditakdirkan berkutat dengan sapu dan kayu bakar.”
Ruangan makan seketika ramai dengan gelak tawa. Lingga hanya diam sembari menghela napas panjang. Selain menjadi pelayan, anak itu juga terbiasa menjadi bahan olok-olokan para murid. Entah apa alasannya, tetapi setiap kali protes dan meminta diajari ilmu silat pada Ki Petot, ia akan langsung digetok dengan tongkat dan juga mendapat pelototan.
Ruang makan berangsur-angsur sepi. Tampak sampah berserakan di atas dan bawah meja. Lingga bergegas mengumpulkan sisa makanan, memasukkannya ke dalam keranjang bambu, menyapu ruangan hingga kembali bersih.
“Kau baik-baik saja, Lingga?” tanya seorang pemuda dengan ikat kepala hitam.
“Aku baik-baik saja, Kakang,” jawab Lingga dengan senyum tipis.
“Aku harap kau tidak memasukkan perkataan mereka ke dalam hati.” Wira menggaruk belakang tengkuk, mengamati keadaan sekeliling, lalu kembali melirik Lingga sekilas. “Aku harus segera bersiap.”
Wira bergegas keluar ruangan, bergabung bersama rekan-rekannya di pekarangan. Di antara dua puluh murid padepokan, hanya dirinya saja yang bersikap baik pada Lingga. Tak jarang ia menceritakan dan memeragakan gerakan silat pada anak itu.
“Kakang Wira baik sekali padaku. Beda sekali dengan murid lain, padahal Kakang Wira yang paling kuat di antara mereka,” ucap Lingga sembari menatap pintu di mana Wira pergi. “Sebaiknya aku juga bersiap.”
“Bersiap untuk apa?” tanya Ki Petot yang baru masuk dari pintu dapur. Tatapannya menghunus tajam ke Lingga.
“Tentu saja bersiap tidur, Ki.” Lingga keluar dari ruang makan dengan raut sedikit jengkel.
“Bagus. Jangan pernah kau datang ke kegiatan nanti malam,” ujar Ki Petot.
“Aku tahu.”
Ki Petot mengamati Lingga dari celah pintu dapur. Tampak anak itu berjalan ke arah tempat tinggalnya yang berada di belakang bangunan utama. “Dari mana bocah itu tahu kalau Wira yang paling terkuat di antara para murid?”
Meninggalkan keramaian di padepokan, di pinggiran hutan Ledok Beurik, tampak seekor kelelawar terbang ke bawah, melewati pepohonan, menerobos dedaunan. Ketika akan mendekat ke arah tanah, makhluk itu tiba-tiba berubah wujud menjadi seorang pria dewasa berikat kepala hitam.
Pria itu tersenyum dengan mata berkilap merah. Satu tangannya kemudian menghantam ruang kosong di depan dengan kuat. Sebuah kubah tiba-tiba terlihat dengan kondisi bergetar, menipis, dan tak lama kemudian menghilang.
“Aji Panday, jadi di hutan ini kau menyembunyikan kujang emas itu. Bersiaplah.”
Dua ratus tumbal yang terdiri dari pria, wanita, tua, dewasa, anak-anak, hingga bayi terbaring tidak sadarkan diri di atas papan batu yang memanjang.Api merah seketika menyala di sekeliling ruangan. Sepuluh patung muncul dari bawah, lima berada di sisi kiri dan lima lagi di sisi kanan.Setelah kemunculan sepuluh patung setinggi pria dewasa itu, tanah mendadak berguncang hebat. Beberapa pecahan batu berjatuhan dari atap gua.Sebuah patung berukuran raksasa setinggi Jurig Lolong muncul di tengah-tengah ke sepuluh patung. Patung itu menunjukkan raut kemarahan yang begitu jelas. Terdapat empat tanduk besar di kepalanya, dua sayap kelelawar yang membentang luas hingga menutupi ke sepuluh patung, memiliki empat tangan di mana kedua tangan kanan memegang pedang dan dua tangan kiri memegang perisai berduri, tak lupa dengan ekor besar serupa ekor buaya.Nyi Genit melompat dan mendarat di sebuah lingkaran batu di depan patung batu siluman Tangkurak Hideung. Ia segera berlutut dengan senyuman
“Aku memang mencium aroma Gusti Totok Surya dari dalam tubuhmu,” sahut suara seseorang yang menggema di seluruh tuangan.Batu-batu tajam mulai tertarik ke dalam tanah dan atap kembali, memberi ruang cukup untuk Nyi Genit kembali bergerak.Sekelompok kelelawar mendadak muncul dari dalam tanah, berkumpul dan menyatu hingga akhirnya berubah wujud menjadi serang siluman hitam.“Ikuti aku sekarang. Aku akan menunjukkan tempat di mana kau bisa berjumpa dengan tubuh asliku. Kau harus memberiku tumbal berupa dua ratus manusia.”Nyi Genit dengan cepat menyahut, “Aku sudah menyiapkan tumbal sebanyak itu sesuai dengan keinginanmu. Sekarang, tunjukkan aku tempatnya sebelum orang-orang golongan putih itu berhasil memasuki ruangan ini dan menghentikanku.”“Jangan berani memerintahku!” teriak sosok itu menggelegar hingga mengguncang atap, dinding, dan tanah gua.“Mengertilah keadaanku sekarang. Jika kau terus membuang waktu, orang-orang itu akan menangkapku dan kau tidak akan bisa bangkit lagi selam
Pertarungan Tarusbawa dan Limbur Kancana dengan Nyi Genit terus berlangsung di dekat pintu gerbang utama.Tarusbawa terus berusaha menarik Nyi Genit dengan kendinya, sedangkan Limbur Kancana melayangkan serangan jarak jauh bertubi-tubi pada siluman wanita itu.Nyi Genit berlindung di dekat pintu gerbang. Empat ikat selendangnya mencengkeram pintu gerbang dengan kuat, empat ikat lain menerobos masuk ke dalam tanah, empat ikat lain menempel di langit-langit gua, dan empat selendang lain berusaha menangkis serangan para tiruan Limbur Kancana. Tarikan angin kencang terus menari Nyi Genit ke arah kendi. Meski begitu, siluman wanita itu tidak menyerah begitu saja. Ia bertahan sekuat tenang meski beberapa serangan Limbur Kancana berhasil melukainya.Nyi Genit meringis kesakitan saat sedikit demi sedikit tertarik ke arah kendi. “Terkutuk! Kenapa tarikan kendi itu sangat kuat? Aku bahkan ....”Nyi Genit mulai muntah darah hingga terbatuk berkali-kali. “Aku tidak boleh gagal menjalankan tugas
Lingga dan Maung Jaya segera melesat cepat menuju pintu gerbang tengkorak. Ketika Jurig Lolong menyerbu dari depan, Lingga dan Maung Jaya mengeluarkan satu harimau mereka untuk menarik si Jurig Lolong ke belakang.Bersamaan dengan si Jurig Lolong yang terseret ke laut, Lingga dan Maung Jaya berhasil memasuki gerbang tengkorak.“Terkutuk!” Jatna dan Ratih Ningsih terpental hingga menabrak batu karang. Keduanya segera mengeluarkan jurus untuk menjauh dua harimau milik Maung Jaya.Danuseka dan Darmasena segera menghampiri Jatna dan Ratih Ningsih.“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Danuseka, “Lingga dan siluman harimau itu berhasil memasuki gerbang tengkorak. Nyi Genit pasti berada dalam bahaya.”“Pasukan pendekar golongan putih semakin mendekati Batu Nangkarak. Mereka dalam waktu dekat akan tiba di tempat kita. Kita tidak mungkin bisa menahan mereka, apalagi mereka memiliki kendi pengisap itu,” ujar Darmasena.Jatna mendengkus kesal, menepis kasar tangan Danuseka. “Kalian berd
Bulan masih menggantung gagah di langit.Kedua belah pasukan masih berada dalam pertarungan yang sangat sengit, baik di alam siluman maupun di wilayah Batu Nangkarak. Ledakan terjadi di berbagai tempat, disusul oleh teriakan dan suara-suara benda jatuh.Di tengah malam yang semakin dingin dan menus
Bayangan-bayangan hitam terus berputar-putar di sekeliling tempat pertarungan. Kemunculan mereka mengundang angin kencang dan ombak ganas.Para pendekar golongan putih terpaksa mundur hingga ke pantai. Ombak semakin mengganas, mengguncang jembatan sulur tanaman yang terhubung dengan Batu Nangkarak.
Nyi Genit menghimpun kekuatan hingga tubuhnya diselimuti oleh cahaya kuning kemerahan. Selendang-selendang kuningnya bergerak sangat cepat, melesat menuju Wira, Danuseka, Darmasena, setengah dari pendekar golongan hitam, dan juga bangsa siluman.Saat cahaya kuning kemerahan itu bersinar semakin ter
Bulan purnama menggantung gagah di langit dengan hamparan bintang yang tampak berkilauan. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan ke kiri dan kanan. Awan-awan bergerak pelan mengikuti angin.Malam terasa lebih sunyi dibandingkan malam-malam sebelumnya. Beberapa burung bertengger di sarang, men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore