Home / Pendekar / Pendekar Kujang Emas / 521. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

Share

521. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

Author: Ramdani Abdul
last update Last Updated: 2023-05-07 22:44:03

Baktijaya bergerak memutar seraya mengayunkan tombaknya dengan cepat. Ular-ular beracun yang menyerangnya seketika terpental ke sekeliling. Ia kemudian melempar tomboknya ke arah Bangasera yang terus-menerus mengeluarkan ular beracun.

“Kau tidak akan bisa mengalahkanku!” Bangasera menangkis serangan tombak dengan dua ular besar yang mendadak muncul dari tangannya. Saat akan menendang tombak, tanpa diduga tombak tiba-tiba berubah menjadi Baktijaya yang sudah bersiap dengan dua serangan di tangan.

“Berhentilah mengoceh, ular sawah!” Baktijaya melesatkan serangan kuat dengan kedua tangan setelah menyingkirkan dua ular Bangasera dengan tendangan.

“Kau yang harusnya berhenti mengoceh!” Bangasera dengan cepat menghimpun kekuatan untuk menahan serangan Baktijaya dengan kedua tangan. Dua ekor ular besar tiba-tiba muncul dari balik punggung dan langsung menyerang Baktijaya.

Baktijaya segera memanggil kembali tombaknya, memutar-mutar sesaat, lalu menyerang dua ular itu dengan ujung atas dan uju
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Kujang Emas   679. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga bergegas bersiap setelah membersihkan diri di sungai. Pemuda itu mengambil sebuah tas berisi berbagai ramuan dan senjata. Setelah memastikan semuanya siap, ia keluar dari gubuk, melompat ke arah tanah lapang di mana Tarusbawa dan Limbur Kancana.“Kau terlihat sangat siap, Lingga,” ujar Limbur Kancana.“Siap tidak siap, aku harus siap, Paman.” Lingga memeriksa keadaannya sebentar, mengencangkan ikat kepala. “Ya, meski aku cukup gugup dan takut.”“Itu perasaan yang wajar, Lingga. Kau belum pernah pergi ke Sela Awi, dan bertemu dengan bangsa siluman harimau putih,” ujar Tarusbawa.Limbur Kancana menyahut, “Mereka adalah bangsa siluman yang sangat kuat. Jika kau tidak berhati-hati, kau mungkin akan gagal dalam ujian ini. Kau harus ingat jika aku dan Raka Tarusbawa tidak bisa membantumu.”Lingga mengepalkan tangan erat-erat. “Aku tidak akan gagal, Paman. Aku tidak akan menyerah hingga akhir.”“Baiklah, aku akan mengantarmu ke batas terdekat Sela Awi.”“Apakah Guru Ganawirya tidak da

  • Pendekar Kujang Emas   678. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Kemunculan Lingga dengan pusaka Kujang Emasnya sudah mengubah kehidupan di Tanah Pasundan yang semulai sunyi, senyap, penuh kegelapan.Golongan putih yang sempat tercerai berai akhirnya memilih bersatu. Di bawah arahan Tarusbawa, Limbur Kancana, Ganawirya, dan para pemimpin tertinggi golongan putih, golongan putih dan warga mulai bersatu padu untuk mendukung Lingga.Para pendekar muda terpilih dilatih sangat keras di Gunung Padaherang di bawah bimbingan Wirayuda dan anggota lain. Tak hanya itu, padepokan-padepokan baru didirikan untuk melatih para pendekar muda dan tabib-tabib baru.Perkampungan-perkampungan baru juga dibangun di bawah perlindungan pasukan golongan putih. Anak-anak dididik untuk menjadi pendekar dan tabib, dan orang tua yang tidak bisa lagi menjadi pendekar dan tabib, berupaya membantu dengan menyiapkan beragam perlengkapan senjata seperti anak panah, tombak, busur, dan lain-lainnya.Di waktu yang sama pula, golongan hitam berkumpul di bawah kendali Nyi Genit. Siluman

  • Pendekar Kujang Emas   677. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Langit sore berubah gelap, pertanda malam yang panjang akan tiba. Terlihat titik kecil yang terhampar luas di atas, ditambah bulan yang nyaris sempurna. Angin berembus kencang, menggoyangkan daun ke kiri dan kanan. Beberapa buah berjatuhan dari tangkai, menjadi makan malam untuk beberapa hewan. Para murid mulai keluar dari gubuk masing-masing, berjalan menuju ruangan makan, bergerombol. Mereka saling berbincang dan tertawa.Lingga keluar dari gubuk, tersenyum saat angin berembus. “Semua persiapanku sudah selesai. Aku harus menikmati malam ini dengan baik karena malam besok adalah hari ujianku. Aku merasa sangat tegang sekarang.”Panji Laksana muncul dari pintu yang terbuka, menutup pintu. Ia melihat para murid yang berjalan beriringan menuju ruangan makan. “Pemandangan ini sangat luar biasa untukku. Sejak dahulu, aku ingin merasakan menjadi murid padepokan.”Lingga menoleh sesaat, menuruni tangga. “Padepokan ini adalah tempat yang menyenangkan. Selain belajar untuk menjadi seorang pe

  • Pendekar Kujang Emas   676. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Panji Laksana dan Saraswati seketika berdiri dan membungkuk hormat ketika melihat kemunculan Tarusbawa. Lingga berdiri di belakang Tarusbawa, mengamati Ganawirya, Limbur Kancana, Sekar Sari, dan dua sosok asing yang membungkuk hormat pada Tarusbawa. “Siapa mereka? Aku baru pertama kali bertemu dengan mereka. Mereka terlihat kuat.” Panji Laksana dan Saraswati kembali berdiri tegak, menoleh pada Lingga. Keduanya saling melirik sesaat, memberi salam penghormatan untuk Lingga. “Aku Panji Laksana. Aku merasa bangga bisa bertemu dengan pemuda pewaris kujang emas,” ujar Panji Laksana. Saraswati menunduk malu, menyembunyikan pipinya yang memerah. “Pemuda itu memang sangat tampan sesuai dengan perkataan orang-orang,” gumamnya. Saraswati berdeham saat Panji Laksana menyikutnya. “Aku Saraswati. Aku juga merasa bangga bisa bertemu denganmu.” Lingga membalas salam dua saudara kembar itu. “Namaku Lingga. Senang bertemu dengan kalian. Aku harap kita bisa berteman dengan baik.” Sekar

  • Pendekar Kujang Emas   675. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga segera mendekati Tarusbawa. “Guru, apa kau baik-baik saja?” Tarusbawa seketika berjongkok, menahan rasa panas dan sesak yang semakin menjalar di dadanya. Ia sontak terdiam saat mendengarkan ucapan seseorang. Sebuah cahaya merah seketika terlihat di dada Tarusbawa, bergerak beberapa kali. “Guru.” Lingga mengamati cahaya itu saksama, melompat mundur saat cahaya itu keluar dari dada Tarusbawa. “Cahaya merah apa itu?” Cahaya itu mengelilingi Lingga selama beberapa kali, terbang ke langit, kemudian perlahan turun hingga berhadapan dengan Lingga. Tak lama setelahnya, cahaya itu berubah menjadi sosok Prabu Nilakendra. “Prabu.” Lingga segera memberikan salam penghormatan. “Kau sudah menunjukkan perjuangan hingga sampai di titik ini. Dengan munculnya mustika merah ini dari Tarusbawa, maka waktu ujianmu akan segera dimulai,” ujar Prabu Nilakendra sembari menunjukkan sebuah benda bulat bercahaya merah di tangannya. “Waktu ujianku sudah dimulai?” “Aku ingin mengingatkanm

  • Pendekar Kujang Emas   674. Petaka di Gunung Sereh Awi

    “Baik, Guru.” Sekar Sari mengangguk.“Indra, antarkan Panji Laksana ke ruangan kalian. Dia juga akan tinggal bersamamu dan yang lain mulai sekarang,” ujar Ganawirya.Panji Laksana mengikuti Indra. Kedua pemuda itu menghilang saat melewati beberapa gubuk. Suasana masih terasa canggung, apalagi bagi Sekar Sari dan Saraswati yang saling mengamati satu sama lain.Sekar Sari dan Saraswati berjalan menuju gubuk para wanita, sedangkan Meswara, Jaka, dan Arya masih berada di depan gubuk saat Ganawirya memberi perintah pada mereka.Sekar Sari melirik Saraswati berkali-kali. Kepalanya penuh dengan pertanyaan saat ini. “Hanya dengan melihat matanya saja, dia pastilah gadis yang sangat cantik. Aku melihat Kakang Indra dan yang lain juga terpana saat melihatnya.”Saraswati mengamati keadaan sekeliling. “Padepokan ini sangat tenang dan menyenangkan. Aku menyukai tempat ini.”Sekar Sari berhenti di depan sebuah gubuk, menaiki undakan tangga kecil, membuka pintu. “Ini adalah gubuk tempat tinggalku. A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status