LOGINWhat happens when the wrong twin touches you exactly the right way? Ciara has spent years craving passion her husband never gives. One night, in the dark, she gets it—fingers, lips, release so intense she sees stars. Only it wasn’t Simon. It was Cain. The twin she never knew existed. The one who’s rougher and hungrier. For seven years, Cain watched Ciara from the shadows—his brother’s perfect wife, the woman he could never have until the night she mistook him for Simon… and begged for more. Now he’s moved in and the mansion feels smaller every day. She tells herself it’s wrong, she tells herself to stop but when the lights go out and the house is quiet… …her body remembers who made her cum alive.
View MoreLantai lobi Arthesia Capital terbuat dari marmer hitam yang sangat mengilap. Tepat di tengahnya, huruf ‘V’ emas raksasa terukir angkuh, menyeringai tajam di bawah lampu kristal, siap menginjak siapa saja yang berani menantang kekuasaannya.
Di layar raksasa, Vandella sedang wawancara. Blazer sutra merah marunnya sengaja dipotong begitu rendah hingga hampir tak ada lagi yang tersembunyi. Tanpa bra, tanpa dalaman, dua gunung dadanya yang putih kencang dan montok bergoyang pelan setiap kali ia mencondongkan tubuh ke kamera. Belahan dadanya dalam, gelap, dan menggoda. Putingnya yang menonjol samar-samar terlihat menekan kain tipis, keras dan menantang—seolah mengundang setiap pria di ruangan itu untuk membayangkan lidahnya menjilat di antara keduanya. "Arthesia Capital tidak butuh keberuntungan," suara Vandella terdengar rendah, serak, dan basah, lebih mirip desahan daripada pernyataan bisnis. "Di dunia ini hanya ada satu aturan: kau pemangsa, atau kau menjadi mangsa." Di bawah layar yang memancarkan aura erotisme kelas atas itu, Jovian Althair berdiri membeku. Kemeja putih tipisnya basah oleh keringat dingin, menempel ketat memperlihatkan setiap lekuk dada bidang dan otot perutnya yang berdenyut kaku oleh adrenalin yang memuncak. Heh… lihat dirimu. Jovian menyeringai dalam hati, matanya menyala penuh nafsu gelap. Mulutmu boleh saja bicara seperti seorang pemangsa di depan kamera, tapi sebentar lagi aku akan menyumpal tenggorokanmu yang angkuh itu dengan kejantananku yang besar dan keras, memaksamu menelan setiap inci harga dirimu sampai air matamu meleleh, dan mengguncang tubuhmu hingga lubang basahmu berdenyut minta ampun, aku akan membuatmu merangkak untuk memohon tidak berhenti. Dan saat kau sudah tergila-gila dan menjadi budak nafsuku… saat itulah aku akan merebut kembali setiap sen dan harga diri keluargaku yang sudah dirampas oleh ibumu. Dua pelamar di samping Jovian — lulusan Ivy League dengan Rolex emas mengkilap — berbisik sinis, suara mereka nyaris tenggelam di antara degup jantungnya yang kencang. “Kau lihat wawancaranya? Wanita itu bukan manusia. Dia hiu betina haus darah,” bisik salah satunya dengan nada penuh intrik gelap. “Aku dengar tunangannya dulu kabur ke luar negeri karena trauma seksual berat. Madam tidak pernah puas. Katanya dia bisa menghabisi pria dalam satu malam saja.” Temannya tertawa pelan, penuh ejekan, matanya melirik Jovian dengan hina. “Dia benci pria lemah dan sok pintar. Dia ingin seseorang yang jantan, yang bisa dia 'makan' pelan-pelan sampai tidak tersisa. Lihat anak ini… heh, dia pasti langsung gemetar dan pingsan hanya dalam sekali tatapan.” Tiba-tiba suhu lobi seolah turun beberapa derajat. Semua kepala langsung menoleh ke lift privat yang berdenting halus. Aroma Black Opium yang berat, manis, dan memabukkan langsung menyebar, menguasai seluruh ruangan seperti feromon predator. Pintu lift terbuka. Vandella Arthesia melangkah keluar dengan langkah yang penuh kuasa dan godaan mematikan. Blazer sutra merah marunnya melekat ketat di tubuhnya yang sempurna, belahan dadanya yang dalam dan montok hampir meluap setiap kali ia bernapas. Tanpa bra, dua puncak putingnya yang mengeras samar-samar menekan kain tipis, bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya. Rok mini ketatnya hanya menutupi separuh paha jenjang yang mulus dan kencang, memperlihatkan lekuk pinggul lebar serta bokongnya yang bulat sempurna. Stiletto hitamnya menghantam lantai marmer dengan suara tajam dan ritmis. Rambut hitam bergelombangnya jatuh sempurna di bahu, bibirnya yang dipulas lipstik merah gelap tampak basah dan menggoda, seolah baru saja menjilat sesuatu yang manis. Di belakangnya, sekelompok staf berlari kecil berusaha menyamai langkah sang ratu. Vandella melangkah menuju ruang rapat eksekutif. Namun saat melewati barisan pelamar, langkahnya melambat drastis. Tanpa menolehkan kepala sepenuhnya, ujung matanya yang tajam dan dingin menyapu langsung ke arah Jovian. Pandangannya menelanjangi tubuh pemuda itu dari atas ke bawah dalam sekejap — seolah sedang membayangkan berapa lama ia bisa bertahan di bawah tubuhnya. Jemari Jovian meremas map dokumen hingga buku jarinya memutih. Sebuah seringai kecil yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibir Vandella sebelum ia melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu kaca ruang rapat yang menutup kedap suara. Kepergian Vandella menyisakan ketegangan yang menyesakkan. Jovian menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Tak lama kemudian, perhatiannya teralih oleh pintu ruangan fotokopi yang terletak di sudut area tunggu. Di sana, seorang gadis dengan gaya rambut bobcut yang segar dan kacamata berbingkai bulat tampak sedang sibuk dengan tumpukan kertas. Gadis itu adalah Binar. Saat para staf lain sibuk memperhatikan pintu ruang rapat, Binar mencuri kesempatan untuk mengintip dari balik tumpukan dokumen. Wajahnya yang ceria tampak sangat menggemaskan saat ia mengerucutkan bibirnya sedikit, memberi isyarat kecil dengan tangan agar Jovian mendekat ke arahnya. Jovian segera beranjak, berpura-pura hendak mencari toilet, lalu dengan langkah cepat menyelinap masuk ke ruangan fotokopi. Begitu pintu tertutup rapat dengan suara klik halus, Jovian langsung menyambar pinggang kecil Binar, membawanya ke balik mesin fotokopi yang terasa hangat karena baru saja digunakan. Suhu di ruangan sempit itu seketika terasa nyaman, tercampur aroma kertas panas dan parfum stroberi yang manis dari tubuh Binar. "Jovian...Ian sayang, jangan di sini... nanti ada yang lihat… " bisik Binar saat Jovian memeluknya erat. Suaranya terdengar manja, serak, dan penuh kekhawatiran yang menggemaskan. Ia mencoba sedikit mendorong dada Jovian dengan kepalan tangan kecilnya, namun gerakan itu justru berakhir dengan jemarinya yang meremas kemeja Jovian karena rindu yang sama besarnya. "Tapi Bi, aku butuh kamu... cuma kamu yang bisa bikin aku tenang sekarang," bisik Jovian pelan, menatap mata Binar yang bulat di balik kacamata. Binar kemudian merogoh sebuah kotak makan kecil bermotif beruang dari balik tumpukan kertas. "Tunggu! Aku buatkan nasi beruang! Kali ini matanya pakai nori yang kupotong pelan-pelan biar mirip kamu kalau lagi ngantuk," bisiknya sambil tertawa kecil, suara tawa yang begitu murni hingga membuat hati Jovian berdesir. Binar sedikit menjinjit, menggosokkan hidung kecilnya ke hidung Jovian dengan manja. "Dimakan ya, sayang." Jovian tersenyum lembut, tangannya mengusap pipi Binar yang halus. "Boleh aku minta satu hal lagi biar aku makin semangat?" tanya Jovian dengan tatapan polos namun penuh harap. Binar memiringkan kepalanya. "Apa?" "Cium... boleh?" Jovian mendekatkan wajahnya, menatap bibir tipis Binar yang dipulas lipbalm merah muda. Binar tersentak pelan, pipinya langsung merona merah padam. "Ih, jangan sekarang! Nanti ada yang masuk... lagian bibir aku nanti berantakan, ketahuan Mbak-mbak HRD kalau kita habis 'anu'..." Binar menolak dengan gaya yang sangat menggemaskan, menutup mulutnya dengan tangan mungilnya sembari mengerucutkan matanya. Jovian terkekeh, namun ia tidak menyerah. Ia memegang lembut pergelangan tangan Binar, menariknya perlahan. "Sebentar saja, Bi. Please..." Melihat wajah "memohon" Jovian yang tampak begitu lugu, pertahanan Binar runtuh. Ia perlahan menurunkan tangannya, meskipun matanya masih melirik cemas ke arah pintu. "Sebentar saja ya? Janji?" Jovian mengangguk pasti. Ia kemudian merunduk, melumat lembut bibir Binar. Ciuman itu terasa manis, hangat, dan penuh dengan rasa sayang yang tulus. Binar yang tadinya ragu, perlahan memejamkan mata, tangannya melingkar di leher Jovian, menikmati momen singkat di tengah ketegangan gedung Arthesia Capital. Aroma stroberi dan napas hangat Binar seolah menjadi penawar racun bagi kegelisahan Jovian. Namun, tepat saat tautan bibir mereka semakin dalam sebuah suara bariton yang otoriter bergema dari pengeras suara plafon, membelah suasana manis di ruangan itu seperti pisau es. "Panggilan untuk kandidat nomor urut 07... Jovian Althair... Segera menuju lift eksekutif. Madam Vandella sudah menunggu di lantai 50. Sekarang." Jovian mematung seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat, sebelum kembali berdegup dua kali lebih kencang. Ia melepaskan ciumannya, napasnya sedikit tersengal. Binar yang kini tampak sangat berantakan; kacamatanya miring, rambut bobcut-nya sedikit acak-acakan, dan bibirnya bengkak kemerahan akibat ciuman Jovian. Gadis itu menatapnya dengan senyum bangga, tak tahu bahwa di lantai lima puluh sana, ada wanita iblis sedang menunggu untuk menelan kekasihnya bulat-bulat.Ciara's POV Seraphine’s hand slipped from mine. I kept walking toward the lobby even though every step felt like stepping off a cliff. Simon waited in the middle of the chaos in his perfect suit, with his perfect smile. I shook my head. Oh, what a perfect liar.The second he saw me he held out his hand. “Come here,” he said.I didn’t take it.The cameras caught every second. Whispers rippled through the reporters. A few phones angled higher.Simon laughed softly, low enough that only I could hear the edge in it. “Nervous?”“No.”“You look nervous.”“You look desperate.” I spat back.His smile flickered. Then it snapped back into place. He moved behind me instead, pressing a hand against the small of my back, guiding me forward into the cluster of microphones. I hated how easily my body still registered the touch. My nipples tightened against my bra, still so sensitive from the pregnancy that even the fabric felt like too much.The reporters exploded the moment we stopped.“Mr. Hale!
Ciara's Pov I dialed the number again. Still no response, then a few seconds later, a follow-up text popped up. Alice: I'm okay. I would call later. I sighed and threw my phone back on bed. Her text didn't make me feel any better coupled with the stress from the hospital. I barely slept. Every time I closed my eyes the doctor’s voice looped in my head. Six weeks. Six weeks. Six weeks. Cain’s baby growing inside me while the world outside the mansion kept trying to tear itself apart. I turned the alarm off before it could wake Simon, then stood in front of the mirror in the dressing room. The woman staring back looked like a stranger. Pale. Eyes too wide. Breasts fuller and heavier, nipples dark and tight against the thin robe. My hand drifted to my stomach, pressing lightly. Still flat. But I felt the change everywhere. The reporters were already screaming outside the windows. My name mixed with Cain’s, with Simon’s, with questions about the motel and the gun and the lies.
CIARA'S POV I didn’t drive straight back to the mansion. I couldn’t face those gates yet. Instead I pulled into the small café Seraphine and I used to hit years ago when everything felt simpler. I slid into a back booth, the doctor’s envelope burning a hole in my handbag. Coffee sounded good until the waitress brought it and the smell hit my stomach. I switched to tea. That wasn’t much better either. My phone buzzed on the table. Seraphine is calling again. I guessed I can't turn down my best friend for now. I picked up. “I’m outside.” Seraphine said. I looked up. She was already pushing through the door with a folder tucked under her arm. Her eyes scanned the cafe until they landed on me. She dropped into the seat across from me and took one long look. “You’ve been crying.” “I know.” “You look awful.” “Thanks,” I muttered, rubbing my eyes. “I mean it affectionately.” She reached over and squeezed my wrist. Her touch was warm and steady. The kind of steady I needed
CIARA'S POV The phone stayed glued to my ear while I stood on the sidewalk outside the pharmacy, the paper bag with the tests digging into my palm. My nipples rubbed painfully tight against my bra with every small shift of my body. “Sera?” I whispered. “Are you alone?” “…Yeah.” “Good.” Seraphine’s voice dropped low. “I found Natalia.” I glanced around, my pulse hammering. “You what?” Seraphine laid it all out. Days of digging through clinics, mismatched dates, doctors who didn’t exist on paper. One place swore they’d never treated Natalia. Another had paperwork that looked straight-up forged. The stories kept changing every time Seraphine pushed. “I think she’s lying,” she said. “…About what?” “The pregnancy.” A truck rumbled past and I pressed my back tighter to the wall. “You sure?” My voice came out hoarse. “Not a hundred, but I'm ninety percent sure.” “Ninety isn’t enough.” “I know.” She sighed. “I’ll dig deeper. You should get rest.” Natalia wasn’t
Ciara's POV Simon pulls me upstairs, his fingers tightening around my wrist like he already knew I’d done something unforgivable. I whimper, struggling to free myself, but he doesn't let go until we are finally in the room with the door shut. He gently places me on a stool and kneels before me.
Ciara's POV I shouldn’t have slept, not after what almost happened in that kitchen but I forced myself to sleep as soon as I made it back to bed without getting caught. And the next day,I woke up to an empty bed. Simon is already up. I sigh and rub my hands over my face. I hope he doesn't brin
CIARA'S POV I totally forget what I came here for. All I can see is a tattoo, sweaty abs and a V-shaped that was lost somewhere beneath his waistband— "My face is up here." He snaps his fingers. Oh! I lift my head to meet his face. "Can you turn down the noise? I need to get work done ups
Ciara's POV That touch meant nothing. So why do I still feel it? I rush out and lean against the wall in the hallway trying to steady my breathing. Cain’s follows me, striding forward and only stopping when he's very close to me. Standing in a tight hallway, we hold each other breath, neithe






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore