Pleasured By My Husband's Twin Brother

Pleasured By My Husband's Twin Brother

last updateLast Updated : 2026-06-19
By:  Ashley WrightUpdated just now
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
15 ratings. 15 reviews
148Chapters
7.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

What happens when the wrong twin touches you exactly the right way? Ciara has spent years craving passion her husband never gives. One night, in the dark, she gets it—fingers, lips, release so intense she sees stars. Only it wasn’t Simon. It was Cain. The twin she never knew existed. The one who’s rougher and hungrier. For seven years, Cain watched Ciara from the shadows—his brother’s perfect wife, the woman he could never have until the night she mistook him for Simon… and begged for more. Now he’s moved in and the mansion feels smaller every day. She tells herself it’s wrong, she tells herself to stop but when the lights go out and the house is quiet… …her body remembers who made her cum alive.

View More

Chapter 1

001: MISTAKEN HUNGER.

Lantai lobi Arthesia Capital terbuat dari marmer hitam yang sangat mengilap. Tepat di tengahnya, huruf ‘V’ emas raksasa terukir angkuh, menyeringai tajam di bawah lampu kristal, siap menginjak siapa saja yang berani menantang kekuasaannya.

Di layar raksasa, Vandella sedang wawancara.

Blazer sutra merah marunnya sengaja dipotong begitu rendah hingga hampir tak ada lagi yang tersembunyi. Tanpa bra, tanpa dalaman, dua gunung dadanya yang putih kencang dan montok bergoyang pelan setiap kali ia mencondongkan tubuh ke kamera. Belahan dadanya dalam, gelap, dan menggoda. Putingnya yang menonjol samar-samar terlihat menekan kain tipis, keras dan menantang—seolah mengundang setiap pria di ruangan itu untuk membayangkan lidahnya menjilat di antara keduanya.

"Arthesia Capital tidak butuh keberuntungan," suara Vandella terdengar rendah, serak, dan basah, lebih mirip desahan daripada pernyataan bisnis. "Di dunia ini hanya ada satu aturan: kau pemangsa, atau kau menjadi mangsa."

Di bawah layar yang memancarkan aura erotisme kelas atas itu, Jovian Althair berdiri membeku. Kemeja putih tipisnya basah oleh keringat dingin, menempel ketat memperlihatkan setiap lekuk dada bidang dan otot perutnya yang berdenyut kaku oleh adrenalin yang memuncak.

Heh… lihat dirimu.

Jovian menyeringai dalam hati, matanya menyala penuh nafsu gelap.

Mulutmu boleh saja bicara seperti seorang pemangsa di depan kamera, tapi sebentar lagi aku akan menyumpal tenggorokanmu yang angkuh itu dengan kejantananku yang besar dan keras, memaksamu menelan setiap inci harga dirimu sampai air matamu meleleh, dan mengguncang tubuhmu hingga lubang basahmu berdenyut minta ampun, aku akan membuatmu merangkak untuk memohon tidak berhenti.

Dan saat kau sudah tergila-gila dan menjadi budak nafsuku… saat itulah aku akan merebut kembali setiap sen dan harga diri keluargaku yang sudah dirampas oleh ibumu.

Dua pelamar di samping Jovian — lulusan Ivy League dengan Rolex emas mengkilap — berbisik sinis, suara mereka nyaris tenggelam di antara degup jantungnya yang kencang.

“Kau lihat wawancaranya? Wanita itu bukan manusia. Dia hiu betina haus darah,” bisik salah satunya dengan nada penuh intrik gelap. “Aku dengar tunangannya dulu kabur ke luar negeri karena trauma seksual berat. Madam tidak pernah puas. Katanya dia bisa menghabisi pria dalam satu malam saja.”

Temannya tertawa pelan, penuh ejekan, matanya melirik Jovian dengan hina. “Dia benci pria lemah dan sok pintar. Dia ingin seseorang yang jantan, yang bisa dia 'makan' pelan-pelan sampai tidak tersisa. Lihat anak ini… heh, dia pasti langsung gemetar dan pingsan hanya dalam sekali tatapan.”

Tiba-tiba suhu lobi seolah turun beberapa derajat. Semua kepala langsung menoleh ke lift privat yang berdenting halus.

Aroma Black Opium yang berat, manis, dan memabukkan langsung menyebar, menguasai seluruh ruangan seperti feromon predator.

Pintu lift terbuka.

Vandella Arthesia melangkah keluar dengan langkah yang penuh kuasa dan godaan mematikan.

Blazer sutra merah marunnya melekat ketat di tubuhnya yang sempurna, belahan dadanya yang dalam dan montok hampir meluap setiap kali ia bernapas. Tanpa bra, dua puncak putingnya yang mengeras samar-samar menekan kain tipis, bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya. Rok mini ketatnya hanya menutupi separuh paha jenjang yang mulus dan kencang, memperlihatkan lekuk pinggul lebar serta bokongnya yang bulat sempurna. Stiletto hitamnya menghantam lantai marmer dengan suara tajam dan ritmis.

Rambut hitam bergelombangnya jatuh sempurna di bahu, bibirnya yang dipulas lipstik merah gelap tampak basah dan menggoda, seolah baru saja menjilat sesuatu yang manis.

Di belakangnya, sekelompok staf berlari kecil berusaha menyamai langkah sang ratu.

Vandella melangkah menuju ruang rapat eksekutif. Namun saat melewati barisan pelamar, langkahnya melambat drastis.

Tanpa menolehkan kepala sepenuhnya, ujung matanya yang tajam dan dingin menyapu langsung ke arah Jovian. Pandangannya menelanjangi tubuh pemuda itu dari atas ke bawah dalam sekejap — seolah sedang membayangkan berapa lama ia bisa bertahan di bawah tubuhnya.

Jemari Jovian meremas map dokumen hingga buku jarinya memutih.

Sebuah seringai kecil yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibir Vandella sebelum ia melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu kaca ruang rapat yang menutup kedap suara.

Kepergian Vandella menyisakan ketegangan yang menyesakkan. Jovian menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Tak lama kemudian, perhatiannya teralih oleh pintu ruangan fotokopi yang terletak di sudut area tunggu. Di sana, seorang gadis dengan gaya rambut bobcut yang segar dan kacamata berbingkai bulat tampak sedang sibuk dengan tumpukan kertas.

Gadis itu adalah Binar. Saat para staf lain sibuk memperhatikan pintu ruang rapat, Binar mencuri kesempatan untuk mengintip dari balik tumpukan dokumen. Wajahnya yang ceria tampak sangat menggemaskan saat ia mengerucutkan bibirnya sedikit, memberi isyarat kecil dengan tangan agar Jovian mendekat ke arahnya.

Jovian segera beranjak, berpura-pura hendak mencari toilet, lalu dengan langkah cepat menyelinap masuk ke ruangan fotokopi. Begitu pintu tertutup rapat dengan suara klik halus, Jovian langsung menyambar pinggang kecil Binar, membawanya ke balik mesin fotokopi yang terasa hangat karena baru saja digunakan. Suhu di ruangan sempit itu seketika terasa nyaman, tercampur aroma kertas panas dan parfum stroberi yang manis dari tubuh Binar.

"Jovian...Ian sayang, jangan di sini... nanti ada yang lihat… " bisik Binar saat Jovian memeluknya erat. Suaranya terdengar manja, serak, dan penuh kekhawatiran yang menggemaskan. Ia mencoba sedikit mendorong dada Jovian dengan kepalan tangan kecilnya, namun gerakan itu justru berakhir dengan jemarinya yang meremas kemeja Jovian karena rindu yang sama besarnya.

"Tapi Bi, aku butuh kamu... cuma kamu yang bisa bikin aku tenang sekarang," bisik Jovian pelan, menatap mata Binar yang bulat di balik kacamata.

Binar kemudian merogoh sebuah kotak makan kecil bermotif beruang dari balik tumpukan kertas. "Tunggu! Aku buatkan nasi beruang! Kali ini matanya pakai nori yang kupotong pelan-pelan biar mirip kamu kalau lagi ngantuk," bisiknya sambil tertawa kecil, suara tawa yang begitu murni hingga membuat hati Jovian berdesir. Binar sedikit menjinjit, menggosokkan hidung kecilnya ke hidung Jovian dengan manja. "Dimakan ya, sayang."

Jovian tersenyum lembut, tangannya mengusap pipi Binar yang halus. "Boleh aku minta satu hal lagi biar aku makin semangat?" tanya Jovian dengan tatapan polos namun penuh harap.

Binar memiringkan kepalanya. "Apa?"

"Cium... boleh?" Jovian mendekatkan wajahnya, menatap bibir tipis Binar yang dipulas lipbalm merah muda.

Binar tersentak pelan, pipinya langsung merona merah padam. "Ih, jangan sekarang! Nanti ada yang masuk... lagian bibir aku nanti berantakan, ketahuan Mbak-mbak HRD kalau kita habis 'anu'..." Binar menolak dengan gaya yang sangat menggemaskan, menutup mulutnya dengan tangan mungilnya sembari mengerucutkan matanya.

Jovian terkekeh, namun ia tidak menyerah. Ia memegang lembut pergelangan tangan Binar, menariknya perlahan. "Sebentar saja, Bi. Please..."

Melihat wajah "memohon" Jovian yang tampak begitu lugu, pertahanan Binar runtuh. Ia perlahan menurunkan tangannya, meskipun matanya masih melirik cemas ke arah pintu. "Sebentar saja ya? Janji?"

Jovian mengangguk pasti. Ia kemudian merunduk, melumat lembut bibir Binar. Ciuman itu terasa manis, hangat, dan penuh dengan rasa sayang yang tulus. Binar yang tadinya ragu, perlahan memejamkan mata, tangannya melingkar di leher Jovian, menikmati momen singkat di tengah ketegangan gedung Arthesia Capital. Aroma stroberi dan napas hangat Binar seolah menjadi penawar racun bagi kegelisahan Jovian.

Namun, tepat saat tautan bibir mereka semakin dalam sebuah suara bariton yang otoriter bergema dari pengeras suara plafon, membelah suasana manis di ruangan itu seperti pisau es.

"Panggilan untuk kandidat nomor urut 07... Jovian Althair... Segera menuju lift eksekutif. Madam Vandella sudah menunggu di lantai 50. Sekarang."

Jovian mematung seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat, sebelum kembali berdegup dua kali lebih kencang. Ia melepaskan ciumannya, napasnya sedikit tersengal.

Binar yang kini tampak sangat berantakan; kacamatanya miring, rambut bobcut-nya sedikit acak-acakan, dan bibirnya bengkak kemerahan akibat ciuman Jovian. Gadis itu menatapnya dengan senyum bangga, tak tahu bahwa di lantai lima puluh sana, ada wanita iblis sedang menunggu untuk menelan kekasihnya bulat-bulat.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviewsMore

Queensly Novels
Queensly Novels
I'm rooting for Cain...
2026-06-11 18:32:42
2
0
Stephanie
Stephanie
please, when does Simon realize he's the third wheel and leave?
2026-06-10 01:29:47
0
0
Stephanie
Stephanie
The plot and steamy scenes are fire, literally. I get burn down there reading chapters daily...
2026-06-10 01:29:04
0
0
Stephanie
Stephanie
please, please, dear author, where can I order a man like Cain?......
2026-06-10 01:27:52
1
0
Stephanie
Stephanie
Cain is amazing
2026-06-10 01:27:43
0
0
148 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status